RSS

MENCARI SOLUSI IDIAL DALAM MENYIKAPI KONFLIK AGAMA DAN ETNIS DI INDONESIA

04 Mar

Oleh :

Drs I Ketut Wiana.M.Ag.

(Ketua Pengurus Harian PHDI Pusat, Bidang Agama dan Antar Iman)

“Pemeluk agama yang bersikap exclusive itu mempromosikan agamanya pada masyarakat luas  bagaikan para pengusaha mempromosikan produknya  sebagai produk  unggul yang paling wah dalam segala hal. Sikap yang demikian itu menimbulkan upaya beragama lebih banyak diexpresikan keluar diri dari pada  kedalam diri sendiri. Karena sibuk memperomosikan Agama untuk orang lain lalu lupa mengexpresikan ajaran Agama itu pada diri”.

PENDAHULUAN

Agama mendapat kedudukan yang amat penting,terhormat dan  suci di  Negara Kesatuan  Republik Indonesia ini. Karena itu para penganutnya terutama para pemuka Agama di Indonesia ini mampu mendaya gunakan Agama yang dianutnya sebagai kekuatan untuk hidup terhormat. Agama seyogianya dapat dijadikan pendorong paling utama untuk mengeksistensikan nilai-nilai kemanusiaan yang ada pada diri manusia itu sendiri, bahkan  aspek kemanusiaan itulah unsur yang terpenting dalam diri manusia. Bung Karno sering menyatakan bahwa  “Homo homini sosius”. Artinya manusia adalah sahabatnya manusia. Bukan ”Homo homini lupus”, Artinya: Manusia  bukan srigala bagi manusia”. Dalam Subha  Sita  Weda  ada  dinyatakan: “Wasu dewa kutumbakam” Artinya  : semua umat manusia  penghuni bumi  ini adalah bersaudara. Karena kita bersaudara seyogianya  juga bersahabat. Dewasa ini memang ada  yang berkembang suatu kenyataan  bahawa bersaudara tetapi tidak bersahabat.

Manusia adalah makhluk hidup  yang memiliki persamaan dan sekaligus perbedaan. Alam semesta dengan segala isinya adalah ciptaan Tuhan. Karena itu semua manusia apapun agamanya adalah ciptaan Tuhan. Meskipun berbeda Agama yang dianut lahir dalam  suku yang berbeda, ras yang berbeda, tetapi  tetap sama-sama manusia. Janganlah karena alasan berbeda agama, manusia tidak diperlakukan sebagai  manusia. Justru sebaliknya karena alasan agamalah  manusia  harus diperlakukan lebih  manusiawi. Karena agama berasal dari  sabda Tuhan Yang Maha Pengasih  dan Maha Penyayang.

MAKNA HARMONI DAN KONFLIK

Kehidupan bersama dalam masyarkat selalu berhadapan dengan dua kondisi sosial. Kondisi sosial yang selalu dihadapi  itu adalah hidup dalam suasana  harmoni dan  hidup dalam suasana konflik. Kondisi harmoni dan konflik silih berganti menghadiri kehidupan bersama itu. Kedua kondisi sosial  tersebut  masing-masing memiiki dimensi positif dan negatif. Ia akan berdimensi positif apabila harmoni dan konflik tersebut didasarkan pada proses penegakan kebenaran. Ini artinya harmoni itu sebagai kondisi  yang positif kalau ia sebagai  perwujudan kebenaran sejati. Demikian juga konflik itu akan berdimensi positif kalau dilandasi untuk menegakan kebenaran. Harmoni tanpa kebenaran  dapat menumpulkan dan melemahkan makna nilai-nilai kehidupan. Tegaknya nilai-niai kehidupan tersebut  sangat dibutuhkan untuk dapat memberikan makna untuk memajukan hidup ini mewujudkan ketentraman untuk mencapai kesejahtraan bersama yang adil dan beradab. Harmoni dalam hidup bersama memang merupakan suatu keadaan yang didambakan oleh setiap manusia normal di dunia ini. Cuma kalau harmoni itu sebagai perwujudan kebenaran.

Kondisi konflik betapapun kecilnya suatu kondisi yang tidak diharapakn oleh setiap orang. Namun konflik dalam kehidupan bersama merupakan suatu kenyataan yang hampir tidak pernah dapat dihindari. Untuk dapat mengambill makna positif dari setiap konflik yang terjadi, konflik itu harus dimanagement menuju rekonsiliasi. Untuk mencapai rekonsiliasi itu setiap konflik harus diarahkan sesuai dengan sistem-sistem yang terdapat dalam ilmu management  konflik. Konflik yang paling berat adalah konflik yang dipicu dengan alasan perbedaan pemahaman agama  dan perbedaan etnis. Kondisi konflik harus sesegera mungkin dimanagement dari  kondisi yang Fight ke Flight terus menuju Flow sampai ke Agreement dan terakhir menuju Rekonsiliasi. Dalam suasana Rekonsiliasi inilah kehidupan bersama dapat bergerak menuju kehidupan yang aman dan damai. Kehidupan yang aman dan damai ini dapat menumbuhkan nilai-nilai spiritual dan nilai material secara seimbang dan kontinue.

Nilai spiritual dan nilai material yang tumbuh seimbang  dan kontinue itu sangat dibutuhkan dalam kehidupan untuk membangun manusia dan masyarakat yang  harmonis dinamis dan produktif. Hanya dalam masyarakat yang harmonis, dinamis dan produktif itulah dapat menjadi wadah kehidupan untuk mewujudkan  apa yang disebut hidup aman damai dan bahagia lahir batin.

PERMASALAHAN

Terjadinya  suasana tegang yang mengarah pada konflik dalam kehidupan beragama bukanlah disebabkan oleh ajaran Agama yang dianut oleh umat beragama. Konflik itu terjadi karena cara  pemahaman Agama yang keliru.  Ada dua cara pemahaman Agama yang keliru yaitu:

PERTAMA: CARA PEMAHAMAN YANG BERSIFAT EXCLUSIVE NEGATIF

Yang dimaksud dengan sikap exclusive itu  adalah suatu sikap yang demikian mengangungkan Agama yang dianutnya yang melebihi Agama  lain dengan menganggap Agama lain yang tidak dianutnya adalah Agama yang lebih rendah. Agama lain yang tidak dianutnya itu adalah Agama yang tidak benar. Sikap exclusive yang negatif itu dapat menumbuhkan benih-benih sikap untuk anti pada Agama lain yang dianut oleh orang lain. Sedikit saja ada persandingan antar umat beragama yang berbeda dapat menimbulkan kondisi  konflik. Karena dalam persndingan antar umat beragama yang berbeda itu, mereka merasa Agama yang dianutnyalah yang paling exclusive. Kelebihan-kelebihan  yang ada pada Agama yang dianutnya sangat diyakini akan dapat  menyelesaikan segala persoalan hidup dan kehidupan di dunia ini. Karena itu semua orang harus ikut Agama yang dianutnya.

Dari sini timbulah upaya untuk menarik orang yang belum seagama dengannya supaya ikut memeluk Agama yang dianutnya. Hal ini dianggap tugas yang sangat suci dan sebagai perintah dari Tuhan. Agama lain adalah Agama yang tidak sempurna. Karena ia tidak sempurna harus dipinggirkan. Demikianlah  salah satu ciri sikap exclusive yang banyak ditampilkan oleh para penganut Agama. Oknum-oknum  yang bersikap exclusive negatif  seperti itu ada  pada setiap kumunitas pemeluk Agama. Sikap itulah yang menjadi sumber paling rawan menimbulkan konflik. Pemeluk Agama yang bersikap exclusive itu mempromosikan Agamanya pada masyarakat luas  bagaikan para pengusaha mempromosikan produknya  sebagai produk  unggul yang paling wah dalam segala hal. Sikap yang demikian itu menimbulkan upaya beragama lebih banyak diexpresikan keluar diri dari pada  kedalam diri sendiri. Karena sibuk memperomosikan Agama untuk orang lain lalu lupa mengexpresikan ajaran Agama itu pada diri. Sebagai akibatnya terjadilah ketimpangan antara perbuatan dan wacana yang dipromosikan  itu. Demikianlah permasalahan yang dapat memicu timbulnya konflik umat baik intern umat seagama  maupun antar umat yang berbeda Agama.

KEDUA: SIKAP BERAGAMA YANG MUNAFIK

Dalam ajaran Agama Hindu ada dua bentuk penampilan tradisi beragama. Ada yang disebut Maksika Nyaya yaitu kebiasaan  lalat.  Ada yang beragama seperti kebiasaan Madukara Nyaya yaitu beragama seperti kebiasaan kumbang. Sikap beragama seperti lalat (Maksika Nyaya) itulah sikap yang munafik. Kebiasaan  lalat adalah; sekarang hinggap di makanan yang enak sebentar lagi hinggap di bangkai yang busuk. Sebentar lagi hinggap  ditempat yang kotor kemudian hinggap di lauk-pauk yang bersih. Demikian seterusnya silih berganti. Ada orang demikian khusuk melakukan ibadah Agamanya setelah itu ia melakukan korupsi. Habis melakukan ceramah Agama mengajak orang berbuat baik dan mulia, setelah itu diam-diam berselingkuh.

Kebiasaan lalat itu saangat berbeda dengan kebiasaan Madukara atau  lebah madu. Lebah Madu selalu hinggap di bunga-bunga yang indah dan wangi. Ia hanya mengisap sari-sari bunga itu untuk dijadikan madu. Setelah jadi madu ia relakan  untuk dinikmati oleh makhluk lain terutama manusia. Kemunafikan beragama itu menimbulkan krisis moral dan krisis kepercayaan. Dari krisis tersebutlah menjadi sumber konflik baik vertikal maupun horisontal. Ada pejabat yang menampilkan diri sangat taat pada Agamanya. Hal itu dilakukan semata-mata untuk menutupi maksud-maksud jahatnya untuk menggunakan jabatanya itu untuk memperkaya diri dengan merugikan orang lain atau uang rakyat. Karena rakyat kehilangan kepercayaan kepada pejabat. Hal ini menyebabkan pejabat yang jujur dan baik ikut kena getahnya. Dari sinilah awalnya timbul konflik vertikal antara rakyat dengan pemerintahnya. Padahal tidak semua pejabat beragama munafik seperti itu.

Konflik karena perbedaan etnis  juga disebabkan oleh sikap exclusive dari sementara oknum. Setiap etnik memiliki sifat dasar yang ada kelebihan dan kekurangan. Semua Agama sudah mengajarkan kita bahwa hanya Tuhan Yang Maha Esa itulah yang  maha sempurna. Ada oknum tertentu hanya melihat kelebihan etnisnya sendiri dan hanya melihat kekurangan etnis lain. Kalau ada tokoh, apakah itu pejabat, pengusaha, politisi dan tokoh-tokoh lainya berbuat salah sering kesalahan pribadi itu duhubung-hubungkan dengan etnis bahkan Agama yang bersangkutan. Demikianlah secara umum analisa singkat ini. Kami melihat adanya konflik antar umat bergama dan konflik karena alasan perbedaan etnis.

MEMBANGUN  BANGSA  DAN AGAMA  

Membangun Bangsa Demi Agama dan Membangun Agama Demi Bangsa. Kalimat  tersebut kami  kutip  dari  refleksi hasil Kongkres Nasional I agama-agama di Indonesia dari  tgl 11  s/d 12 Oktober 1993 di Jogyakarta. Kongkres I agama-agama di Indonesia ini diselenggrakan oleh sebuah panitia yang terdiri dari berbagai unsur semua agama yang ada Indonesia.  Kongres tersebut didukung sepenuhnya oleh Pemerintah RI melalui Departemen Agama RI. Kongres tersebut diadakan dalam rangka memperingati 100 Tahun Parlemen Agama-Agama Sedunia yang diadakan pada Th 1893 di Chicago Amerika Serikat.

Kami sebagai salah seorang Pimpinan PHDI Pusat saat itu juga ikut hadir sebagai pemakalah. Di samping menghasilkan sebuah refleksi, kongkres tersebut juga telah mengeluarkan sebuah deklarasi. Salah satu poin dari deklarasi tersebut ada beberapa tugas yang ditetapkan untuk dikerjakan oleh Lembaga tersebut yang sangat patut kita ingat kembali. Misalnya, melakukan kegiatan sosial antar umat  beragama untuk meningkatkan partisipasi umat beragama dalam pembangunan nasional dan memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh bangsa dan negara Indonesia.

Ternyata hasil Kongres tersebut masih belum nampak hasilnya. Terbukti dalam menghadapi krisis ini, justru diberbagai tempat di Indonesia terjadi konflik yang bernuansa perbedaan Agama. Ini berarti kita belum berhasil membangun Agama-Agama yang dianut di Indonesia sebagai kekuatan untuk membangun persatuan dan kesatuan bangsa. Tanpa persatuan dan kesataun bangsa,  berbagai potensi bangsa sulit didayagunakan untuk membesarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang adil dan makmur atau sejahtera lahir batin dalam rangka membangun  masyarakat dunia yang aman dan damai.

Hasil Kongres I agama-agama di Indonesia itu masih sangat relevan untuk dijadikan landasan kebijakan untuk mengarahkan pikiran kita dalam memecahkan persoalah konflik pemeluk agama, baik pemeluk umat se-agama maupun pemeluk umat yang berbeda agama di Indonesia.

Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, Guru Besar Universitas Udayana  menyatakan, “Letak harga diri kita sejauh mana kita mampu menghargai orang lain, kalau kita tidak dapat menghargai orang lain berarti kita juga orang yang  tidak punya haraga diri”. Kalau kita menganggap orang itu seperti tidak ada atau tidak ada artinya, jangan heran kalau suatu saat kita juga dianggap tidak ada artinya. Pemikiran Mantan Gubernur Bali dan mantan Dubes Indonesia di India ini masih sangat relevan untuk dijadikan acuan dalam mencari solusi konflik antar Agama dan Etnis. Dalam kitab Bhagawad Gita ada disebutkan istilah “Cakra Yadnya“, yang artinya suatu pengabdian yang timbal balik. Kalau kita ingin mendapatkan pengabdian dari alam lingkungan maka mengabdilah kita pada upaya untuk melestarikan lingkungan alam tersebut. Kalau kita ingin mendapat pengabdian dari orang lain, maka mengabdilah juga pada kepentingan orang lain. Kalau kita ingin mendapatkan karunia Tuhan maka lakukan Sradha dan Bhakti (iman dan taqwa) kepada Tuhan dalam bentuk pikiran, perkataan dan perbuatan. Demikjan juga sebaliknya kalau pemeintah ingin mendapatkan pajak yang benar dari para pengusaha, ciptakanlah iklim berusaha yang  sehat dan kondusive. Janganlah mereka diperas dengan berbagai pungutan liar, saham kosong dan berbagai peraturan yang sangat birokratis. Sebaliknya kalau pengusaha ingin produknya mendapatkan tempat di hati rakyat, berikanlah mereka produk yang baik dengan harga yang pantas.

Konsep Cakra yadnya dalam kitab Bhagawa Gita salah satu kitab suci Hindu itu menyatakan bahwa tidak mungkin kita bisa hidup bersama di dunia ini dengan baik tanpa saling mengabdi, saling menghargai, saling memahami, dan saling tolong menolong. Istilah Cakra Yadnya yang terdapat dalam kitab Bhagawad Gita III.16 merupakan kelanjutan dari Bhagawad Gita III.10. Dalam Sloka ini dinyatakan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dengan segala isinya adalah berdasarkan Yadnya. Ini artinya Tuhan tidak meiliki pamerih apa-apa dalam karya agungNya itu.

Tuhan pun menciptakan Yadnya untuk kehidupan semua ciptaanNya. Semua ciptaanNya di ciptakan berbeda-beda agar mereka hidup untuk saling membutuhkan. Kalau mereka menganggap dirinya sudah paling baik dan sempurna mereka akan jadikan perbedaan itu untuk saling membentur satu sama lainya. Perbedaan yang diciptakan oleh Tuhan itu agar manusia itu mau saling membutuhkan satu sama lainya berdasarkan Yadnya ini, artinya kalau  manusia itu ingin hidup yang bahagia lakukanlah yadnya kepada Tuhan dalam bentuk Sradha dan Bhakti. Lakukanlah upaya untuk aktif menjaga kelestarian lingkungan. Kalau kita mengabdikan diri untuk kelestarian lingkungan, lingkungan itupun akan menjadi sumber penghidupan umat manusia. Kalau kita ingin mendapatkan pengabdian dari sesama manusia maka mengabdilah kita kepada sesama manusia sesuai dengan fungsi, profesi dan bakat kita masing-masing. Inilah yang di dalam istilah sekarang disebut Tri Hita Karana. Tri Hita Karana ini artinya setiap umat Hindu diajarkan untuk membangun sikap yang seimbang antara memuja Tuhan melalau Sradha dan Bhakti, dengan mengabdi pada  sesama manusia dan  aktif menjaga kelestarian lingkungan alam. Dari sini kami dapat memetik suatu makna bahwa  sikap beragama yang benar adalah  mengutamakan membangun diri untuk menjadi aktif mengatasi krisis alam, krisis ekonomi, politik, sosial, krisis kepercayaan atau apa yang disebut krisis Nasional.

MENCARI MAKNA KONFLIK YANG BERWAJAH  GANDA

Konflik terjadi karena manusia menyalahgunakan perbedaan yang dikaruniai oleh Tuhan. Meskipun demikian, konflik itu tidaklah selalu berdimensi negatif. Semua ciptaan Tuhan ini memiliki dua sisi. Ada yang berdimensi negatif ada juga yang berdimensi positif. Konflik  berarti bahaya dan kesempatan.

Konflik adalah suatu bahaya. Entah berapa  penderitaan dan nyawa yang menjadi korban karena terjadi konflik diberbagai belahan dunia ini. Itulah wajah bahaya yang sangat mengerikan dari konflik. Namun demikian dalam pengalaman sejarah hidup manusia konflik itu tidaklah selalu berwajah seram membahayakan. dan bersifat merusak. Konflik juga berarti suatu kesempatan untuk melakukan sesuatu yang lebih benar dan lebih adil. Banyak konflik menjadi suatu kesempatan untuk mampu menghadirkan sesuatu yang baru yang membawa kehidupan bersama ini menjadi lebih baik dan lebih benar. Konflik juga banyak yang menimbulkan kesadaran baru, pertumbuhan kepribadian dan juga sebagai peluang untuk menegakan kebenaran dan keadilan.

Dari jaman Kerajaan sampai jaman kehidupan demokrasi ini banyak dicatat oleh sejarah peristiwa yang menggunakan konflik sampai dalam bentuk perang untuk menegakan kebenaran dan keadilan. Hal itu karena  buntunya jalan damai dalam menegakan suatu kebenaran dan keadilan. Oleh karena konflik itu suatu kenyataan hidup, tentunya manusia tidak dapat menghindar begitu saja pada kenyataan konflik. Mereka harus berupaya untuk menggunakan akal sehatnya untuk mengatasi konflik dengan cara-cara yang tidak sampai memakan korban jiwa dan penderitaan apa lagi sampai  menenggelamkan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Jadinya manusia dalam menghadapi konflik jangan lari dari konflik. Terjunilah konflik itu untuk mencari makna-makna positifnya sehingga kehidupan ini menjadi semakin maju lahir batin.

MERUBAH ORIENTASI ILMU PERBANDINGAN AGAMA

Sebelum era tahun delapan puluhan, Ilmu Perbandingan Agama (Comparatif Religion Study) selalu membanding-bandingkan agama yang satu dengan agama yang lainya. Hal itu sangat tergantung pada yang menjelaskan perbandingan agama tersebut. Kalau ia beragama A maka Agama B, C ,D dan seterusnya dianggap lebih jelek. Karena tolak ukurnya agama A dipakai mengukur agama B, C dan D. Demikian juga sebaliknya. Kalau yang menjelaskan Ilmu Perbandingan Agama itu menganut  agama B, maka agama A, C, D dan seterusnya akan dianggap lebih jelek, karena yang digunakan sebagai tolok ukurnya adalah agama B. Demikian seterusnya.

Akibatnya kehidupan antar umat beragama semakin runcing dan semakin tidak membawa kerukunan dalam masyarakat. Era setelah tahun delapan puluhan mulailah ada perubahan orientasi Ilmu Perbandingan Agama. Tujuan ilmu perbandingan Agama tidak lagi untuk saling mejelekkan agama yang tidak dianut dan mengagung-agungkan agama yang dianut agar kelihatan agama orang lain itu lebih jelek dari agama yang dianut. Tujuan Ilmu Perbandingan Agama menjadi berubah, yaitu untuk mendalami agama orang lain yang tidak dianut agar lebih memudahkan dan melancarkan pergaulan dengan umat yang berbeda agama. Hal ini dikemukakan oleh  Hendro Puspito dalam Bukunya berjudul “Sosiologi Agama”. Perubahan orientasi inilah yang banyak mendorong timbulnya dialog-dialog antar umat  yang berbeda Agama. Namun dialog tersebut baru menyentuh dialog Sosiologis belum menyentuh pada dialog keimanan. Dialog Sosiologis itu baru mencari “musuh bersama” umat beragama, sehingga seluruh umat beragama ada pada satu barisan menghadapi berbagai persoalan bersama sebagai musuh bersama umat beragama. Musuh bersama itu adalah keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan lahir dan batin, arogansi dan kesenjangan. Banyak pihak yang berpendapat bahwa dialog itu hendaknya ditingkatkan sampai menyentuh dialog keimanan sehingga persatuan dan kesatuan umat yang berbeda agama akan semakin erat, untuk menghadapi musuh bersama berupa berbagai persoalan bersama itu.

Bentuk dialog keimanan itu masih belum ada kesamaan persepsi dan visi diantara para tokoh-tokoh umat beragama dari semua agama yang ada, namun dialog yang bersifat sosiologis sudah banyak dirasakan halis-hasilnya, meskipun belum seperti yang diharapkan. Dengan cara dialog itu seseorang akan semakin paham pada keberadaan agama orang lain untuk tujuan positif. Di sinilah baru muncul apa yang disebut oleh Aloys Budi Pramono sebagai “Riligious Leteracy”, dalam harian Kompas, 9 Nopember 2001.

Religious Leteracy ini adalah sikap melek Agama lain. Sikap ini sebagai syarat yang semakin dibutuhkan oleh dunia modern yang semakin mengglobal ini. Ciri masyarakat modern semakin cendrung munculnya pluralistik dalam berbagai kehidupan. Pluralisme yang paling peka adalah pluralisme di bidang Agama. Kalau hal ini tidak dimanagement dengan baik maka pluralisme itu akan mendatangkan berbagai kesukaran sosiologis dalam kehidupan bersama itu. Seperti berbagai konflik yang merebak di tanah air seperti konflik Ambon dan Poso.

RELIGIOUS LETERACY MEMBANGUN KERUKUNAN

Rukun adalah sebagai terminal sosial untuk mengantarkan kehidupan yang aman dan damai. Hidup yang aman dan damai sebagai iklim sosial yang dibutuhkan untuk menumbuhkan nilai-nilai spiritual dan nilai material secara seimbang dan kontinue. Nilai-nilai spiritual dan nilai meterial yang seimbang dan kontinue itu dibutuhkan untuk membangun manusia yang utuh dan berkwalitas. Salah satu aspek yang dapat menimbulkan gangguan kerukunan sosial adalah pluralisme dibidang Agama. Dengan mengembangkan sikap Religious Literacy kesalah pahaman akan pluralisme Agama akan semakin dapat diatasi.

Religious Leteracy itu akan semakin menampakan hasilnya apabila hal itu dilakukan secara jujur oleh semua pihak terutama para pemuka-pemuka semua agama. Gerakan ke arah Religious Leteracy sudah semakin nampak. Penulis sendiri sebagai umat Hindu terutama sebelum reformasi sering diundang ke Gereja dan beberapa perguruan tinggi yang bernafaskan agama seperti ke Institut Agama Islam Negeri, ke Universitas Atma Jaya untuk berceramah tentang Agama Hindu. Tujuan ceramah itu adalah untuk meningkatkan pemahaman umat Islam dan Kristen tentang ajaran Agama Hindu. Yang paling sering dilakukan ditingkat Nasional adalah Dialog antar Umat beragama baik yang dilakukan oleh Litbang Departemen Agama RI, maupun yang disponsori oleh masing-masing lembaga agama yang ada.

Salah satu tujuan dialog umumnya mencarikan solusi berbagai permasyalahan yang timbul di lapangan menyangkut gesekan yang sering terjadi dalam kehidupan antara umat  yang berbeda agama. Melek agama lain tidak saja diupayakan dalam dialog-dialog antara umat yang berbeda agama, namun hendaknya juga ditumbuhkan sendiri oleh masing-masing umat beragama terutama oleh tokoh-tokohnya. Toleransi itu hendaknya ditumbuhkan dari dalam diri sendiri sebagai suatu kebutuhan hidup dalam masyarakat yang pluralistis itu. Jadinya dengan melek Agama lain, toleransi itu terjadi tidak atas tekanan dari luar diri sendiri.

KALAU “KAMI” MENGALAHKAN “KITA”

Eksistensi individu dan kelompok semakin kuat dalam proses modernisasi yang konon sudah berada pada  kondisi post modern. Nilai-nilai spiritual agama memang mendorong untuk memajukan eksistensi individu dan sosial yang berkualitas. Tetapi karena beragama lebih mengutamakan aspek institusi formal maka hal itu memunculkan sikap exclusivisme agama yang berlebihan. Eksistensi individu dan kelompok yang kuat itu menyebabkan “eksistensi kami mengalahkan kita“. Kami sebagai partai A lebih diutamakan dari pada kita sebagai bangsa Indonesia. Kami sebagai penganut Agama B lebih dieksistensikan dari pada kita sebagai umat manusia. Hal ini menyebabkan semakin sulitnya membangun persaudaraan sejati dalam kehidupan bersama dalam masyarakat. Persuadraan sejati itu adalah kuatnya sikap bersauidara sesama manusia. Apakah saudara seayah seibu, seagama, separtai, sesuku, sebangsa, senegara dst. Dalam persaudaraan yang sejati eksistensi kami dan kita sama-sama salaing memperkuat. Meskipun menganut aliran politik yang berbeda tetapi tetap merasa besaudara senegara.

Menganut Agama yang berbeda tetapi tidak merasa karena perbedaan Agama yang dianut itu sebagai sesuatu yang berhadap-hadapan dalam kondisi bermusuhan. Rasa bermusuhan antara umat yang berbeda agama atau antara masyarakat yang berbeda partai politik akan terjadi apabila adanya sikap untuk saling meniadakan antara satu dengan yang lain. Sikap itu muncul karena tidak adanya sikap integritas yang murni dalam masing-masing individu dan kelompok. Kepentingan individu dan kelompok itu seharusnya tidak dibuat berdikotomi dengan kepentingan bersama yang lebih luas.

Kami dan kita jangan dibuat berdikotomi. Kalau “kami mengalahkan kita“, maka persatuan dan kesatuan bangsa tidak akan terjadi. Karena berbagai kelompok sosial yang membangun bangsa asyik dan mengexclusivekan kelompoknya masing-masing. Kalau dalam satu bangsa tidak ada persahabatan yang sejati bagaimana mungkin terjadi persahabatan dalam persaudaraan dunia yang aman dan damai. Sebaliknya kalau “kita mengalahkan kami“, maka akan terjadi penekanan negara pada berbagai kelompok sosial  dalam suatu negara. Rasa tertekan yang bersifat struktural akan menghantui kehidupan masyarakat.

Dalam kondisi masyarakat yang tertekan tidak mungkin mampu produktif menumbuhkan nilai-nilai spiritual maupun material secara seimbang dan kontinue. Kehidupan yang aman dan sejahtera akan terwujud kalau kondisi sosial itu mendorong tumbuhnya nilai-nilai spiritual dan material secara seimbang dan kontinue. Pelanggaran hukum dan HAM akan menjadi-jadi kalau “kita tidak memberikan peluang hidup pada kami“. Kalau demikian halnya setiap orang harus mampu membangun sikap yang seimbang terhadap “kami dan kita” dalam dirinya.

Kehidupan beragama harusnya dapat memberi kontribusi dalam menumbuhkan sikap hidup yang seimbang terhadap “kami dan kita”. Agama Hindu sangat yakin bahwa semua manusia yang hidup di kolong langit ini tercipta karena Kemaha Kuasaan Tuhan Yang Esa. Dari sudut pandangan ini semua manusia adalah bersaudara. Namun demikian, tidak berarti tidak boleh ada keanekaragaman hidup di dunia ini. Hakekat manusia multi dimensi. Manusia itu sama dan sekaligus berbeda. Setiap manusia memiliki jasmani dan rokhani. Cuma struktur jasmani dan rokhaninya itu yang berbeda-beda. Persamaan dan perbedaan dalam diri manusia itu sebagai media untuk menuju yang satu. Yang satu itu adalah untuk memuliakan hidup di dunia ini. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak ingin memuliakan hidupnya di dunia ini. Karena itu dalam mengeksistensikan sikap “kami“ jangan sampai mengabaikan aspek “kita“. Karena hal itu akan mengganggu hakekat manusia dalam memuliakan hidupnya.

Kalau prinsip “kami“ yang terlalu eksis maka akan dapat mengganggu eksistensi “kami“ yang lainya. Kalau terjadi proses saling mengganggu antara prinsip “kami“ yang satu dengan prinsip “kami“ yang lain maka hal itu akan menjadi hambatan bagi manusia untuk memuliakan hidupnya. Agar prinsip “kami“ yang satu tidak saling mengganggu dengan prinsip “kami“ yang lainya dalam hal inilah diperlukan prinsip “kita“. Prinsip “kita“ inilah yang akan menjadi benang merah berbagai perbedaan antara “kami“ yang satu dengan “kami“ yang lainya. Apa yang disebut Sama Beda dalam ajaran Hindu akan dipertemukan secara terpadu.

Kondisi Indonesia saat ini sepertinya mengarah pada “kami semakin mengalahkan kita“. Untuk mencegah dinamika yang mengarah pada kalahnya “kita oleh kami“ perlu diingatkan agar semua pihak membangkitkan paradigma keseimbangan. Kehidupan beragama semestinya yang paling dikedepankan untuk memberi contoh bersinerginya antara  “kami dengan kita“ dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kehidupan beragama dapat dibangun “kami yang kuat”, tetapi juga menguatkan “kita“. Membangun kehidupan beragama yang kuat demi bangsa. Membangun bangsa yang kuat demi melindungi kehidupan beragama. Demikianlah ”kami” saling memperkuat dengan “kita”.

FANATISME BERAGAMA YANG SALAH ARAH

Fanatisme beragama di Indonesia pernah mendapat perhatian dari Ibu Megawati Sukarno Putri saat menjabat Presiden. Fanatisme beragama perlu ditafsir ulang. Penafsiran ulang Fanatisme beragama itu dirasakan sangat penting untuk menjaga citra positif kehidupan beragama di Indonesia. Kalau kehidupan beragama sampai menimbulkan kerawanan sosial yang dapat membuat ambruknya suatu negara tentunya bukan salahnya agama yang disabdakan oleh Tuhan. Manusialah yang menyalah gunakan agama yang dianutnya untuk berbuat yang dapat mengganggu keamanan hidup bersama itu.

Fanatisme dalam bahasa Inggris artinya mengekpresikan kepercayaan secara berlebihan. Mengekspresikan kepercayaan kepada agama yang dianut tentunya sesuatu yang wajib dilakukan sebagai penganut suatu agama. Cuma arah eksrepresi itu perlu dilakukan dengan kesadaran Budhi bukan dengan ekspresi emosi tanpa kendali. Fanatisme beragama itu bisa diarahkan kepada arah yang positif dan bisa juga kearah yang negatif. Kalau fanatisme beragama diarahkan untuk membangun sikap hidup yang positif tentunya kita tidak perlu khawatir pada bentuk fanatisme kehidupan beragama yang dilakukan. Misalnya, agama mengajarkan tidak boleh berjudi. Meskipun rayuan lingkungan untuk berjudi demikian kuat, tetaplah fanatik tidak mau ikut berjudi. Apa lagi dilingkungan tempat pemujaan seperti Pura misalnya. Demikian juga agama mengajarkan janganlah mengkonsumsi minuman keras. Lakukanlah hal itu secara fanatik. Meskipun banyak pihak mempengaruhi agar kita ikut menegak minuman keras. Kuatkanlah keyakinan kita pada ajaran agama yang kita anut bahwa minuman keras itu dilarang oleh agama yang kita anut. Apa lagi dalam rangka Upacara Yadnya, suguhkanlah minuman keras itu saat metabuh untuk Upacara Bhuta Yadnya. Janganlah kita sebagai manusia justru yang meminumnya.

Kitab suci Agama Hindu mengajarkan bahwa untuk menentukan seseorang itu Brahmana, Ksatria, Waisya maupun Sudra bukanlah Wangsa atau keturunannya. Yang menentukan adalah Guna dan Karmanya. Janganlah kita ngotot bahwa hal itu berdasarkan Wangsa. Itu namanya bukan fanatik agama, tetapi fanatik adat yang sesat. Karena adat itu ada yang adi luhung ada juga yang sesat. Tujuan yang paling utama Upacara Yadnya adalah sebagai media sakral mendekatkan manusia pada alam lingkungannya (Sarwa Prani), kepada sesama manusia dan yang tertinggi kepada Tuhan. Marilah kita fanatik untuk mewujudkan Upacara Yadnya agar tiga tujuan berupacara Yadnya itu semakin terwujud dalam setiap kita melangsungkan Upacara Yadnya. Janganlah justru Upacara Yadnya dijadikan media untuk memprovokasi perpecahan umat dan merusak sistim hidup yang lainya. Semuanya itu justru bertentangan ajaran Agama.

Yang diingatkan oleh Presiden Megawati adalah pendidikan Agama di Indonesia janganlah membentuk insan fanatik dan militan menuju arah yang negatif. Fanatisme beragama yang negatif muncul karena sikap beragama yang lebih mendahulukan “to have” dari pada “to be”. Maksudnya, banyak orang merasa lebih memiliki agama yang dianutnya dari pada berupaya menjadikan dirinya seperti apa yang diajarkan oleh agama yang dianutnya. Karena agama itu sabda Tuhan, tentunya sangat suci, kebenaran yang sejati, luhur dan sangat mulia. Banyak orang menjadi mabuk karena merasa memiliki agama yang baik dan mulia itu. Meskipun ia sendiri belum menjadikan dirinya seperti apa yang diajarkan oleh Agama yang dianutnya. Semua penganut agama meyakini agamanya suci, mulia dan ciptaan Tuhan. Sedangkan agama yang tidak dianutnya diangggapnya bukan ciptaan Tuhan dan bukan Agama yang baik.

Karena salah caranya memahami agama yang suci itulah timbulnya sikap mabuk dan  fanatisme agama yang negatif. Seperti orang mabuk karena kaya, karena pintar, karena cakep, muda, bangsawan karena sakti dan juga karena minuman keras. Demikian juga setiap agama memberikan banyak jalan dan banyak cara untuk mengamalkan ajaran agama bersangkutan. Karena itulah, di intern umat seagamapun banyak terjadi berbagai perbedaan. Banyak juga umat penganut suatu agama tidak begitu paham akan berbagai perbedaan yang dimiliki oleh agama yang dianutnya.

Adanya berbagai perbedaan di intern suatu agama karena tidak dipahami dengan baik dapat juga menjadi sumber fanatisme kelompok di intern suatu agama. Apa lagi ada elit penganut agama yang tidak arif dalam memanagement suatu perbedaan. Keadaan ini sangat mudah memicu fanatisme beragama yang negatif.

Semestinya kehidupan beragama mampu memberikan kontribusi pada pembentukan insan beragama yang siap hidup dalam masyarakat yang semakin pluralitis dan heterogin. Dunia di era post modern ini akan menjadi semakin pluralistis heterogin dalam berbagai bidang kehidupan. Orang tidak selalu akan bermukim ditempat kelahiranya saja. Dengan pesatnya kemajuan tehnologi transportasi, telekomunikasi, trade (perdagangan) dan tourisme, maka orang boleh bermukim di mana saja.

Kehidupan beragama harus mampu menyiapkan insan-insan yang semakin tangguh menghadapi fluralisme dan heteroginitas sosial dalam berbagai bidang kehidupan. Setiap orang harus siap hidup berdampingan dalam berbagai perbedaan dengan tidak usah kehilangan kepribadianya masing-masing. Agama seyogianya dapat memberikan kontribusi keindahan dalam fluralisme dan heteroginitas sosial budaya dalam masyarakat post modern ini.

Jor-joran dalam memunculkan identitas simbol keagamaan sebaiknya dikurangi dan lebih diutamakan untuk menunjukan prilaku yang mulia sesuai dengan profesi masing-masing sebagai wujud pengamalan Agama yang kita anut. Persaingan menunjukan identitas simbol lebih banyak negatifnya.

MENCARI SOLUSI MENGATASI KONFLIK

1.     Konflik Itu Harus di Management Menuju Rekonsiliasi

Konflik memang bukan sesuatu yang diharapkan oleh setiap orang yang hidup di dunia ini. Apa lagi konflik yang bernuansa karena perbedaan agama yang dianut dan pebedaan etnis. Konflik yang demikian itu memang suatu konflik yang sangat serius. Untuk meredam wajah bahaya dari konflik itu, maka konflik itu harus dimanagement agar ia berproses ke arah yang positif. Dr. Judo Poerwowidagdo, MA. Dosen Senior di Universitas Duta Wacana Yogyakarta menyatakan bahwa proses konflik menuju arah yang positif itu adalah sbb: Dari kondisi yang “Fight” harus diupayakan agar menuju Flight. Dari kondisi Flight diupaykan lagi agar dapat menciptakan kondisi yang Flaw. Dari Flaw inilah baru diarahkan menuju kondisi Agreement, terus ke Rekonsiliasi. Karena itu, masyarakat terutama para pemuka agama dan  etnis haruslah dibekali ilmu Management Konflik setidak-tidaknya untuk  tingkat dasar.

2.     Merobah Sistem Pemahaman Agama.

Konflik  yang bernuansa agama bukanlah karena agama yang dianutnya itu mengajarkan untuk  konflik. Karena cara umat memahami ajaran agamanyalah yang menyebabkan mereka menjadi termotivasi untuk melakukan konflik. Keluhuran  ajaran agama masing-masing hendaknya tidak di retorikakan secara berlebihan. Retorika yang berlebihan dalam mengajarkan agama kepada umat masing-masing menyebabkan umat akan merasa dirinya lebih superior dari pemeluk agama lain. Arahkanlah pembinaan kehidupan beragma untuk menampilkan nilai-nilai universal dari ajaran agama yang dianut. Misalnya, semua agama mengajarkan umatnya untuk hidup sabar menghadapi proses kehidupan ini. Menjadi lebih tabah menghadapi berbagai AGHT (ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan) dalam menghadapi hidup ini. Rela berkorban demi kepentingan yang lebih mulia. Tidak mudah putus asa memperjuangkan sesuatu yang benar dan adil. Tidak mudah mabuk atau lupa diri kalau mencapai sukses. Orang yang sukses seperti menjadi kaya, pintar, menjadi penguasa, cantik, cakep, memiliki suatu power, merasa diri bangsawan. Semuanya itu dapat menyebabkan orang menjadi mabuk kalau kurang waspada membawa diri. Hal-hal yang seperti itulah yang sesungguhnya lebih dipentingkan oleh masyarakat bangsa kita dewasa ini.

3.     Mengurangi Penampilan Berhura-Hura dalam Kehidupan Beragama.

Kegiatan beragama seperti perayaan hari raya agama, umat hendaknya mengurangi bentuk perayaan dengan penampilan yang berhura-hura. Seperti menunjukan existensi diri secara berlebihan, bahwa saya adalah umat yang hebat dan besar banyak pengikut  dll. Hal ini sangat mudah juga memancing konflik. Karena umat lain juga dapat terpancing untuk menunjukan existensi dirinya bahwa ia juga menganut agama yang sangat hebat dan luhur.

4.     Jangan Menyalah Gunakan Jabatan  Demi Agama.

Banyak oknum Pejabat kadang-kadang menjadikan jabatanya itu sebagai kesempatan untuk berbuat tidak adil demi  membantu pengembangan agama yang dianut oleh pejabat bersangkutan. Dan menjadikan jabatanya itu sebagai media melakukan hal-hal yang hanya menguntungkan umat agama yang dianutnya.

5.     Redam Nafsu Distinksi Untuk Menghindari Konflik Etnis.

Setiap manusia memiliki nafsu atau dorongan hidup dari dalam dirinya. Salah satu nafsu itu ada yang disebut nafsu Distinksi. Nafsu Distinksi ini mendorong seseorang untuk menjadi lebih dari yang lainya. Kalau nafsu ini dikelola dengan baik justru akan membawa manusia menjadi siap hidup bersaing. Tidak ada kemajuan tanpa persaingan. Namun, persaingan itu adalah persaingan yang sehat. Persaingan yang sehat itu adalah persaingan yang berdasarkan noram-norma Agama, norma Hukum dan norma-norma kemanusiaan yang lainya. Namun, sering nafsu Distinksi ini menjadi dasar untuk mendorong suatu etnis bahwa mereka  adalah memiliki berbagai kelebihan dari etnis yang lainya. Nafsu Distinksi ini sering membuat orang buta akan berbagai kekuranganya. Hal inilah banyak orang menjadi  bersikap sombong  dan exlusive karena merasa memiliki kelebihan etnisnya.

Untuk membangun kebersamaan  yang setara, bersaudara  dan  merdeka mengembangkkan fungsi, profesi dan posisi, maka dalam hubungan dengan sesama dalam suatu masyarakat ada baiknya kami sampaikan pandangan Swami Satya Narayana sbb: “Agar hubungan sesama manusia menjadi harmonis, seriuslah melihat kelebihan pihak lain dan remehkan kekuarangannya. Seriuslah melihat kekurangan diri sendiri dan remehkan kelebiihan diri”.

Dengan  demikian semua pihak akan mendapatkan  manfaat dari hubungan sosial tersebut. Di samping mendapatkan sahabat yang semakin erat, juga mendapatkan  tambahan pengalaman positif dari sesama dalam pergaulan sosial. Dengan melihat kelebiihan sesama maka akan semakin  tumbuh rasa persahabatan yang semakin kekal. Kalau kita lihat kekurangannya maka kita akan terus merasa jauh  dengan  sesama dalam hubungan sosial  tersebut.

Demikiian sumbangan pikiran ini semoga ada gunaya.

Makalah  ini  dibawakan dalam dialog Pemuda bersama Pemuka Agama dengan Thema “Mencari Solusi Idial dalam Menyikapi/ Merespon Konflik Agama dan Etnis di Indonesia”. Dialog ini diadakan di Jakarta dari tgl 27 s/d 30 Agustus 2000 oleh DPP KNPI.


About these ads
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 4, 2012 in AGAMA

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

One response to “MENCARI SOLUSI IDIAL DALAM MENYIKAPI KONFLIK AGAMA DAN ETNIS DI INDONESIA

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST. kawula wisuda banjar adat kulub

ST. Kawula Wisuda (Sekaa Teruna-Teruni) Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar, Bali

Sang Widy

Just For Love In Your's Life

Butterflychaser

An odyssey of chasing butterfly

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebenaran & Kebajikan

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: