RSS

Mantram (Pengertian dan Fungsi)

13 Okt

Om Swastyastu

A.     Pengertian Mantram

Apakah setiap kita sembahyang mesti menggunakan mantram? Bagaimana bila kita tidak mengetahui tentang mantram? Apakah boleh menggunakan bahasa hati, bahasa yang paling kita pahami?

Berbagai pertanyaan muncul berhubungan dengan penggunaan mantram dalam acara persembahyangan. Dalam melaksanakan Tri Sandhya, sembahyang dan berdoa setiap umat Hindu sepatutnya menggunakan mantram, namun bila tidak memahami makna mantram, maka sebaiknya menggunakan bahasa hati atau bahasa ibu, bahasa yang paling dipahami oleh seseorang yang dalam tradisi Bali disebut “Sehe” atau “ujuk-ujuk” dalam bahasa Jawa.

Mengapa penggunaan mantram sangat diperlukan dalam sembahyang? Terhadap pertanyaan ini dapat dijelaskan bahwa sesuai dengan makna kata mantram, yakni alat untuk mengikatkan pikiran kepada obyek yang dipuja. Pernyataan ini tidak berarti bahwa setiap orang harus mampu mengucapkan mantram sebanyak-banyaknya, melainkan ada mantra-mantra yang merupakan ciri atau identitas seseorang penganut Hindu yang taat, yakni setiap umat Hindu paling tidak mampu mengucapkan mantra sembahyang Tri Sandhya, Kramaning Sembah dan doa-doa tertentu, misalnya mantram sebelum makan, sebelum bepergian, mohon kesembuhan dan lain-lain. Umumnya umat Hindu di seluruh dunia mengenal Gayatri mantram, mantram-mantram Subhasita (yang memberikan rasa bahagia dan kegembiraan) termasuk Mahamrtyunjaya (doa kesembuhan/mengatasi kematian), Santipatha (mohon ketenangan dan kedamaian) dan lain-lain.

Sebelum lebih jauh menguraikan tentang fungsi atau manfaat pengucapan mantram, maka sangat baik pula dipahami perbedaan pengertian antara mantram, stuti, stava, puja, atau stotra, sutra dan sloka.

Mantram pada umumnya adalah untuk menyebutkan syair-syair yang merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa, yang disebut dengan Sruti. Dalam pengertian ini yang termasuk dalam pengertian mantram adalah seluruh syair dalam kitab-kitab Samhita (Rgveda, Yajurveda, Samaveda, Atharvaveda), Brahmana (Sathapatha, Gopatha dan lain-lain), Aranyaka (Taittiriya, Brhadaranyaka, dan lain-lain) dan seluruh Upanisad (Chandogya, Isa, Kena, dan lain-lain).

Di samping pengertian mantram seperti tersebut di atas, syair-syair untuk pemujaan yang tidak diambil dari kitab Sruti, sebagian diambil dari kitab-kitab Itihasa, Purana, kitab-kitab Agama dan Tantra juga disebut mantra, termasuk pula mantram para Pandita Hindu di Bali. Mantram-mantram ini digolongkan ke dalam kelompok stuti, stava, stotra dan puja. Selanjutnya yang dimaksud dengan sutra adalah kalimat-kalimat singkat yang mengandung makna yang dalam seperti kitab Yogasutra oleh Maharsi Patanjali, Brahmasutra oleh Badarayana dan lain-lain, sedangkan Sloka adalah syair-syair yang dipakai dalam kitab-kitab Itihasa dan Purana, termasuk seluruh kitab-kitab sastra agama setelah kitab-kitab Itihasa dan Purana.

B.     Fungsi Mantram

Kini marilah kita bahas fungsi atau manfaat penggunaan mantram. Seperti telah diuraikan di atas, maka mantram-mantram berfungsi sebagai stuti, stava, stotra atau puja yang bermakna untuk mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, para dewata manifestasi-Nya, para leluhur dan guru-guru suci, dalam pengertian ini termasuk pula untuk memohon keselamatan, kerahayuan, ketenangan dan kebahagiaan. Dalam fungsinya untuk memohon perlindungan diri, maka mantram berfungsi sebagai Kavaca (baju gaib yang melindungi tubuh dan pikiran kita dari kekuatan-kekuatan negatif atau jahat) dan Panjara (membentengi keluarga dari berbagai halangan atau kejahatan).

Perlu pula ditambahkan, bila mengucapkan mantram-mantram, hendaknya dipahami benar-benar arti dan makna sebuah mantram yang hendak dirapalkan. Mengucapkan mantram tanpa mengerti makna, kitab Nirukta (1.13) menyatakan: Seorang yang mengucapkan mantram dan tidak memahami makna yang terkandung dalam mantram itu, tidak pernah memperoleh penerangan (kurang berhasil) seperti halnya sepotong kayu bakar, walaupun disiram dengan minyak tanah, tidak akan terbakar bila tidak disulut dengan korek api. Demikian pula halnya orang yang hanya mengucapkan mantram tidak pernah memperoleh cahaya pengetahuan yang sejati.

Pertanyaan yang sering diajukan oleh sebagian masyarakat adalah bagaimanakah caranya mengucapkan sebuah mantram, apakah perlu keras-keras, berbisik-bisik atau diam saja, atau cukup di dalam hati? Menurut berbagai informasi dinyatakan bahwa terdapat tiga macam cara pengucapan mantram, yaitu:

1)     Vaikari  (ucapan mantram terdengar oleh orang lain).

2)     Upamsu (berbisik-bisik, bibir bergerak, namun suara tidak terdengar).

3)     Manasika (terucap hanya di dalam hati, mulut tertutup rapat).

Dari ketiga jenis atau cara pengucapan mantram di atas, Manasika yang diyakini paling tinggi nilainya dan menurut hemat kami, yang penting adalah kesujudan, kekusukan dan kesungguhan yang dilandasi oleh kesucian hati. Memang tidak semua orang berhasil mengucapkan mantram dengan baik dan mantram atau doanya itu terkabulkan. Untuk menunjang keberhasilan pengucapan mantram (mantram akan siddhi-mandi), hal yang sangat perlu dilakukan antara lain: sebelum mengucapkan mantram hendaknya seseorang menyucikan dirinya baik jasmani maupun rohani (asuci laksana) dan bagi seorang rohaniawan melakukan berbagai brata (janji atau tekad bulat tertentu melaksanakan ajaran agama/berdisiplin), upavasa (mengendalikan makanan) dan japa (pengucapan mantram-mantram berulang-ulang), mendukung keberhasilan dalam mengucapkan mantram.

~~puput~~

Om Santih, Santih, Santih, Om.

Sumber : Titib, I Made. 2003. Tri Sandhya, Sembahyang dan Berdoa. Surabaya-Paramita (hal. 26-30).

Bacaan lainnya :

  1. Mantram (Pengertian dan Fungsi);
  2. Puja Tri Sandhya (Pengertian dan Sikap Tri Sandhya);
  3. Puja Tri Sandhya (Tempat, Saat yang Tepat dan Sarana yang Digunakan);
  4. Puja Tri Sandhya (Sumber Teks, Terjemahan dan Pemahamannya).
About these ads
 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 13, 2012 in AGAMA, MANTRA, PENDIDIKAN

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

4 responses to “Mantram (Pengertian dan Fungsi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
ST. kawula wisuda banjar adat kulub

ST. Kawula Wisuda (Sekaa Teruna-Teruni) Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar, Bali

Sang Widy

Just For Love In Your's Life

Butterflychaser

An odyssey of chasing butterfly

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebenaran & Kebajikan

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

Different kind of Mahabharata

Another stories behind the epic

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: