RSS

Menuju Kesempurnaan Melalui Cinta Kasih

27 Jul

Oleh : Bripda I Putu Eka Putra Gunawan

Pendharma Wacana Utusan Provinsi Sulawesi Tenggara UDG XI 2011 Bali 

 Om Swastyastu,  

Mengawali dharma wacana ini, saya mempersembahkan sebait puisi, tanpa judul dan tanpa penulis yang saya kutip dari intisari Bhagawad Gita oleh Sri Sathya Sai Baba.

Tuhan, engkau memenuhi alam semesta ini, 

bagaimana aku dapat membuat pura Untuk-Mu? 

Engkau bersinar cemerlang bagaikan jutaan matahari,   

bagaimana aku mempersembahkan nyala lilin kecil ini Kepada-Mu? 

Yang dapat kupersembahkan kepada-Mu hanyalah cinta kasih,                             

dan kuserahkan diriku kepada-Mu

karena engkau adalah samudra cinta kasih itu.

Segala sesuatu di dunia ini berasal dari Tuhan, bila semuanya berasal dari Tuhan, apakah yang mungkin kita persembahkan kepada-Nya? Satu-satunya yang dapat kita persembahkan adalah Cinta Kasih. Hanya itulah yang diharapkan-Nya dari kita. Demi kepuasan manusiawi, kita memberi nama dan wujud kepada Tuhan, tetapi sesungguhnya ia sama sekali tidak berwujud. Namun, ia mengambil suatu wujud sehingga kita dapat memuja dan mengagumi-Nya, berbakti dan mencintai-Nya. Dengan demikian cita rasa spiritual kita akan terpenuhi. Untuk kepuasan sendirilah kita memberi nama dan wujud kepada Tuhan dan menggunakan hal itu untuk memuja-Nya. Apapun wujud Tuhan yang kita pilih dan kita ikuti, asal kita memuja-nya dengan Cinta Kasih, maka Beliau akan mengenang kita selamanya dan memberikan anugrah-Nya.

Anugrah Tuhan kepada pencinta-Nya tidak dibedakan atas kasta, kepercayaan, jenis kelamin, atau perbedaan perbedaan lain. Dalam Bg. IX 29. Sri Krisna bersabda :

Samo ‘ham Sarva-Bhutesu                          

Na me dvesya ‘Sti Na Priya.h

Ye Bhajanti Tu Mam Bhaktya

Mayite Tesu Capy Aham

 “Aku tidak iri hati pada siapapun, dan aku juga tidak berat sebelah pada siapapun. Aku bersikap yang sama terhadap semuanya. Tetapi siapapun yang mengabdikan diri kepada-Ku dalam Bhakti, adalah kawan, dia berada didalam diri-Ku dan akupun kawan baginya”.

Seorang perampok seperti Ratnakara menjadi Walmiki yang agung karena cintanya kepada Tuhan. Prahlada adalah putra raja raksasa, namun ia menjadi mansyur dan suci, karena cinta kasuhnya kepada Tuhan. Dengan menyebut nama Sri Rama, Hanuman yang hanya seekor kera dapat mencapai kesempurnaan. Jatayu adalah seekor burung, tetapi karena cinta kasihnya kepada Sri Rama, ketika meninggal, ia mencapai kesempurnaan menunggal dengan Tuhan. Demikian pula halnya dengan Ramakrishna Paramahamsa seorang yang buta huruf, tetapi fikiran dan perasaannya selalu tenggelam dalam pemujaannya kepada ibu dewi dengan hati yang senantiasa penuh cinta kasih. Ia tidak berminat dengan pendidikan lain, ia mengabdikan seluruh hidupnya dengan memuja Tuhan sebagai Ibu Dewata dan hidup hanya dengan lima rupee sebulan, itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Walau ia tidak berpendidikan tinggi dalam pengetahuan duniawi, tetapi kini seluruh dunia menghormatinya dan dimana-mana kita akan menjumpai misi Ramakrishna.

Karena cinta kasih, Tuhan membiarkan diri-Nya terkurung dihati pemuja-Nya. Ada satu ilustrasi yang dikutip dari wejangan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba : Pada suatu hari, Rsi Narada menghadap Tuhan. Tuhan bertanya kepadanya, “Narada, dalam penjelajahanmu dialam ini, apakah engkau menemukan rahasia Ciptaan? Mengertikah engkau rahasia yang ada dibalik Alam ini? Dari segala ciptaan itu, manakah yang paling penting? Kemanapun engkau memandang, engkau akan menemukan lima unsur, yaitu; Tanah, Air, Api, Udara, dan Ether. Dari kelima unsur itu, manakah yang memiliki tempat utama? Narada berpikir sejenak kemudian menjawab, “ya, Tuhanku, unsur yang paling padat besar dan paling penting tentunya tanah. Tuhan bertanya lagi, “Bagaimana mungkin tanah yang terhebat, jika ¾ bumi ini adalah air? Tanah yang sebesar itu tertelan oleh air, Mana yang lebih hebat, yang tertela atau yang menelan? “Narada mengatakan air pastilah yang lebih besar karena telah menelan tanah bumi.

Tuhan melanjutkan pertanyaan-Nya. Beliau berkata, “Tetapi Narada, cerita kuno mengatakan, ketika setan-setan bersembunyi di air, Rsi Agastya datang untuk mencari mereka dan ia menalan seluruh samudra dengan sekali teguk saja. Manakah yang kau anggap paling besar, Agastya atau samudra? “Narada setuju bahwa Agastyalah yang paling besar. “Tetapi kata Tuhan lagi, “Ketika Agastya meninggalkan raganya, ia menjadi bintang kutub diangkasa. Tokoh seagung Agastya kini hanya tampak sebagai bintang kecil dilangit yang amat luas. Lalu, manakah yang kau anggap lebih besar Agastya atau Langit? Narada menjawab, “Tentu langitlah yang paling besar dibandingkan Agastya”. Kemudian Tuhan bertanya, Namun, ketika Yang Maha Kuasa menjelma sebagai Wamana Awatara, beliau menginjakkan satu kaki diatas langit dan bumi, Menurut pendapatmu, manakah yang lebih besar kaki Tuhan atau langit? “oh, tentu kaki Tuhan yang lebih besar”, jawab Narada. Lalu Tuhan bertanya kembali, “jika kaki-Nya saja begitu besar, bagaimana wujud-Nya yang tak terhingga?” Sekarang Narada merasa bahwa ia sudah sampai pada satu Kesimpulan. “ya, katanya dengan riang, Tuhanlah yang paling besar. Ia maha besar tak terhingga. Dalam alam semesta ini tak ada yang lebih besar. Tetapi, Tuhan masih mempunyai satu pertanyaan, Bagaimana dengan bhakta yang penuh cinta kasih yang mampu “mengurung Tuhan dalam hatinya”, Narada harus mengakui bahwa Bhakta yang penuh cinta kasih itu harus diutamakan diatas segala-galanya, bahkan melebihi Yang Maha Kuasa.

Kekuatan yang demikian besar, bahkan yang mampu mengikat Tuhan ada pada setiap orang yang memiliki cinta kasih kepada Tuhan. Bagaimanapun hebat dan besarnya suatu kemampuan, betapapun mulia dan dahsyatnya, bila dapat diikat oleh kemampuan lain, maka kemampuan yang mengikat itu harus dianggap lebih utama. Kekuatan Tuhan yang mengagumkan, kekuatan Tuhan yang menggatarkan dapat diikat oleh Bhakta yang penuh cinta kasih. Demikianlah keutamaan cinta kasih.

Mencintai dan mengasihi Tuhan memang tidak mudah, Beliau tidak langsung bisa kita sentuh dengan Tangan material ini (Memperlihatkan Tangan). Berbeda dengan Tokoh-Tokoh yang saya sebutkat diatas, yang sudah bertangan spiritual. Walaupun kita tidak serta merta memiliki cinta kasih seperti yang di contohkan diatas, tetapi kita bisa belajar untuk mencintai dan mengasihi Tuhan mulai sekarang, Bagaimana caranya? Cintailah dan kasihilah makhluk hidup ciptaan-Nya. Ingatlah bahwa setiap makhluk pasti ada unsure Ketuhanan. Dengan mencintai dan mengasihi ciptaan-Nya, berarti kita sudah mencintai dan mengasihi Beliau sendiri. Semoga kita bisa menjalani kehidupan material dan spiritual dengan penuh cinta kasih. Dalam bhagawad Gita II. 40 Menyebutkan;

Ne ha bhikrama naso s’ti

pratyavayo na vidyate,

svalpam apy asya dharmasya  

trayate mahato bhayat.

 

Tak ada pengorbanan yang sia-sia,  

tak ada rintangan yang tak bisa diatasi,  

walaupun sedikit dharma ini,

akan melindungi seseorang dari ketakutan yang besar.

Om Santih, Santih, Santih Om.

About these ads
 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 27, 2013 in AGAMA, Dharma Wacana

 

Tag: , , , ,

4 responses to “Menuju Kesempurnaan Melalui Cinta Kasih

  1. Adi

    September 16, 2013 at 11:28 am

    Kutipan dr artikel datas,

    ” Sekarang Narada merasa bahwa ia sudah sampai pada satu Kesimpulan. “ya, katanya dengan riang, Tuhanlah yang paling besar. Ia maha besar tak terhingga. Dalam alam semesta ini tak ada yang lebih besar. Tetapi, Tuhan masih mempunyai satu pertanyaan, Bagaimana dengan bhakta yang penuh cinta kasih yang mampu“mengurung Tuhan dalam hatinya”, Narada harus mengakui bahwa Bhakta yang penuh cinta kasih itu harus diutamakan diatas segala-galanya, bahkan melebihi Yang Maha Kuasa.”

    Apakah bhakta? siapakah org yg disebut bhakta? bagaimana seorg bhakta hars diutamakan diatas segala2nya meiebihi Tuhan sekalipun yang katanya Maha Kuasa? siapa lebih agung si bhakta apa Tuhan Yang Maha Kuasa???

    Ya Tuhan ku Yang Maha Pengasih..Tunjukanlah mereka yang benar adalah benar, yang salah adalah salah. Engkau Maha Kuasa Atas Segalanya dan Engkaulah Utama diatas segalanya.

     
    • pande juliana

      November 25, 2013 at 3:56 am

      cobalah di baca ulang secara utuh percakapan Narada dg Tuhan di atas… jangan dipenggal sebagian2, mungkin akan bisa lebih di mengerti maksud dr penulis artikel ini… Tuhan tetap yg utama, tetapi cinta kasih seorang bhakta (umat.red) kepada Tuhan yg mampu mengurung Tuhan dalam dirinya (Raja yoga.red), harus diutamakan berati mendapatkan tempat spesial…

       
  2. Adi

    Oktober 10, 2013 at 6:03 pm

    Kutipan artikel diatas :

    Kekuatan yang demikian besar, bahkan yang mampu mengikat Tuhan ada pada setiap orang yang memiliki cinta kasih kepada Tuhan. Bagaimanapun hebat dan besarnya
    suatu kemampuan, betapapun mulia dan dahsyatnya, bila dapat diikat oleh kemampuan lain, maka kemampuan yang mengikat itu harus dianggap lebih utama. Kekuatan Tuhan yang mengagumkan, kekuatan Tuhan yang menggatarkan dapat diikat oleh Bhakta yang penuh cinta kasih. Demikianlah keutamaan cinta kasih.

    Apakah bhakta itu dan siapakah bhakta shg bisa mengikat Tuhan shg kemampuan yg mengikat tsb harus dianggap lbh utama dari Tuhan? Bagaimana mungkin Tuhan Yang Maha Besar diikat/dibelenggu oleh bhakta?
    Apapun selain Sang Maha Pencipta (TUhan), adalah makhluk. Baik berupa materi ataupun imateril. Pikiran,kemauan, rasa cinta, rasa rindu, rasa sakit dsb juga makhluk krn dia sesuatu yg dirancang, dibuat, didesain oleh Sang Maha Pencipta dan Maha Kuasa. Jika bhakta (klo boleh sy artikan sbg cinta kasih atau bhakti atau org yg berbakti dgn cinta kasih kpd Tuhan), lebih hebat, lebih mulia, lebih utama, bukankah bisa diartikan makhluk lbh mulia drpd Tuhan? Suatu yg tercipta lbh hebat/lbh mulia dr Pencipta nya? Kasarnya/bahasa sederhananya, sebuah pesawat terbang (analogi dgn bhakta), lebih hebat daripada insinyur yg merancang dan membuatnya (sbg analogi Pencipta/Tuhan)???

    Bhagavad-gita 9.5
    Namun segala sesuatu yang diciptakan tidak bersandar di dalam diri-Ku. Lihatlah kehebatan batin-Ku! Walaupun Aku memelihara semua makhluk hidup dan walaupun Aku berada di mana-mana, namun Aku bukan bagian dari manifestasi alam semesta ini, sebab Diri-Ku adalah asal mula ciptaan.

    Bhagavad-gita 11.37
    Yang Mahabesar, lebih tinggi daripada Brahma, Anda adalah pencipta yang asli. Karena itu, bukankah seyogyanya mereka bersujud dengan hormat kepada Anda? O kepribadian yang tidak terhingga, Tuhan yang disembah oleh semua dewa, pelindung alam semesta! Anda adalah sumber yang tidak dapat dikalahkan, sebab segala sebab, yang melampaui manifestasi alam material ini.

    Baimana pula tentang hakikat Ketuhanan, menurut :

    Yajurveda Chapter. 32 Verse 3 : menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan, Dia tidak pernah dilahirkan (“God is formless and bodiless”).

    Yajurveda Chapter. 40 Verse 8 : menyatakan bahwa Tuhan tidak berbentuk dan dia suci.

    Chandogya Upanishad, 6: 2: 1 : Dia hanya satu, tidak ada yang kedua.

    Bhagavad-gita 9.4
    Aku berada di mana-mana di seluruh alam semesta dalam bentuk-Ku yang tidak terwujud. Semua makhluk hidup berada dalam diri-Ku, tetapi Aku tidak berada di dalam mereka.

    Sementara byk dlm ritual yg memanifestasikan Tuhan dlm bentuk2 entah dewa hanoman, dewa indra. dewi sri, dewi sarasvati, dewa whisnu, dewa syiwa, dewa khrisna dsb. Bukankah hal ini bertolak belakang dgn sloka dlm Veda dan Bhagavad-gita dan Upanishad tsb, bahwa hanya satu Tuhan? Kenapa kita hrs merepotkan diri memanifestasi dan membuat sesembahan berbilang2 jumlahnya menurut kehendak kita dan keperluan kita yg bertentangan dgn sloka2 diatas?
    Tuhan sendiri menyatakan bahwa beliau tdk memiliki bentuk dan wujudnya tak terjangkau oleh akal budi manusia (makhluk), knp org hrs membuat manifestasi wujudnya bahkan dlm bentuk yg tak pantas sbg wujud manifestasi Tuhan (lihatlah wujud dewa ganesha atau dewa hanoman)? Layakkah kita manusia memanifestasikan Tuhan Yang Maha Suci dan Maha Mulia dlm wujud2 sekehendak imajinasi hati dan pikiran kita sbg makhluk?
    Apakah hanya krn alasan kita tak dpt menjangkau wujud Tuhan yg sejati dan utk memudahkan kita dlm menyembah dan berbakti lalu kita sekehendak hati memanifestasikan wujud Tuhan dlm aneka bentuk dan rupa bahkan serupa dgn makhluknya dalam perwujudan aneka dewa dewi???

    Mohon maaf jika keingin mengertian saya mengganggu dan membuat ketidaknyamanan demikian juga jika ada kalimat yg kurang berkenan. Terimakasih.

     
    • pande juliana

      November 25, 2013 at 4:01 am

      :) Mungkin anda lupa, di dalam tubuh manusia terdapat atman. Atman adalah percikan kecil dari Brahman (Tuhan/Hyang Widhi), tentu akan ada ikatan antara penciptaan dengan sumber penciptanya… :)

      Cobalah di dalami hal itu, mungkin itu yg dimaksud penulis (red.)

       

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
ST. kawula wisuda banjar adat kulub

ST. Kawula Wisuda (Sekaa Teruna-Teruni) Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar, Bali

Sang Widy

Just For Love In Your's Life

Butterflychaser

An odyssey of chasing butterfly

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebenaran & Kebajikan

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

Different kind of Mahabharata

Another stories behind the epic

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: