RSS

Arsip Kategori: Dharma Wacana

MEWUJUDKAN JAGADHITA DENGAN KEPEMIMPINAN HINDU

Oleh : Eka Saputra

*Materi Utsawa Dharma Wacana Dewasa Putra Provinsi Sulawesi Tenggara dalam Utsawa Dharma Gita Tk. Nasional XII Tahun 2014 di Jakarta.

“Om Swastyastu”

Cita-cita ataupun Visi dan Misi dari ajaran Agama Hindu adalah seperti ucap sastra “Moksartham jagadhitaya ca iti dharmah artinya; “Tujuan Dharma adalah untuk mendapatkan Moksa dan Jagadhita”. Kemudian “Atmanam moksartham jagadhitaya ca” artinya; “Tujuan Atman (roh) adalah untuk mencapai Jagadhita dan Moksa”. Untuk mencapai Jagadhita dan Moksa ini bukan suatu hal yang mudah, tetapi bukan juga sesuatu yang tidak bisa diwujudkan. Mengapa demikian? Bukan hal yang mudah apabila manusia tidak kuat secara fisik dan rohani, tetapi sesuatu yang diyakini dapat diwujudkan/dicapai sepanjang manusia itu kuat secara fisik dan rohani tentunya juga dengan membekali diri dengan sastra-sastra/ ajaran-ajaran kebenaran/dharma.

Adanya kesadaran akan ketidak mampuan manusia secara fisik dan rohani untuk memimpin dirinya, dalam Brhad Aranyaka Upanisad dijumpai lantunan mantra suci untuk memohon tuntunan dari Hyang Parama Wisesa :

            Om Asato masad gamaya,

            Tamaso ma jyotir gamaya,

            Mrtyor ma amrtam gamaya” (Brhad Aranyaka Upanisad I.3.28)

 

Terjemahannya:

            “Om Hyang Widhi bimbinglah kami dari ketidak benaran menuju kebenaran yang sejati. Bimbinglah kami dari kegelapan menuju jalan yang terang benderang, Bimbinglah kami dari kematian rohani menuju kehidupan yang kekal abadi”.

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 10, 2014 in Dharma Wacana

 

Tag: , , , ,

MENCOCOKAN BUDAYA HIDUP PALING SULIT (Renungan)

pedanda gunung

Ida Pedanda Gede Made Gunung

OM SWASTIASTU, OM AWIGNAMASTU.

Cerita ini adalah sebuah fakta di lapangan, walaupun yang dimaksud dengan fakta di sini tidak merupakan hasil dari penelitian, namun hanya berdasarkan pengamatan saja. Sekalipun demikian kenyataannya hal seperti ini sering terjadi. Bila hal ini tidak di ketahui secara dini, kemungkinan besar bisa akan terjadi hal-hal yang sangat kita tidak harapkan di dalam menjaga keharmonisan berumah tangga. Untuk itulah harapan saya semoga apa yang mampu saya tuwangkan di dalam tulisan ini semoga dapat membantu didalam mewujudkan rumah tangga yang harmonis dan rumah tangga yang bahagia seukuran manusia. Maka dari itu Tulisan ini didahului dengan sebuah cerita nyata namun tanpa menuliskan identitas yang sebenarnya.

Cerita;
Pada suatu hari ada sepasang remaja sedang memaduh kasih, disaat itu bayangan yang ada di hati mereka berdua tidak lain adalah gambaran kebahagiaan, keindahan, bermanja-manja. Bila si Pemudi kakinya tersandung sedikit, maka si pemuda akan bertanya dengan kalimat yang indah dan intonasi bahasa yang amat sopan: ” Bagaimana sayaaaang……!!!! Sakit sayaaaaang…! Hati-hati sayaaaaang….!!!. Sambil mengusap-ngusap kaki si perempuan yang dikatakan tersandung “. Disaat itu kelihatan mereka berdua tak ubahnya berperilaku seperti Dewa dan Dewi.

Si Pemuda setiap hari menawarkan diri untuk mengantar pacarnya kemana saja maunya, dengan tulus dan ikhlas. Siapapun melihat peristiwa itu pasti turut merasakan kebahagiaan yang mereka sedang lakukan, dan turut mendoakan agar situasi dan kondisi seperti itu bisa dipertahankan sampai mereka menyusun rumah tangga nantinya.

Namun sangat berbeda kondisinya setelah mereka melakoni perkawinan, kadang-kadang berubah 180 derajat. Bila istrinya yang nota bena mantan pancarnya itu lagi kesandung kakinya, kalimat yang keluar dari bibir suaminya, Rasa bahasanya dan intonasinya sangat berubah; keras, kadang-kadang bernada marah. Tidak lagi mau atau jarang-jarang mau mengantar istrinya ke pasar membeli bahan makanan untuk keperluan mereka. Pokoknya ada perubahan.

Kalau kita lihat secara nyata, yang pacaran dulu adalah mereka, yang kawin juga mereka, dan secara fisik tidak ada perubahan, kenapa sikap bisa terjadi perubahan???? Perlu saya tekankan disini, memang tidak semua pasangan suami istri yang seperti itu, masih banyak pula yang sadar dapat memelihara hubungan harmonis mereka seperti saat mereka pacaran. Namun dalam tulisan ini yang disorot adalah mereka yang kurang mampu mempertahankan keharmonisan itu. Disamping itu untuk menghindari terjadinya rumah tangga yang berantakan. Tolong renungkan hal ini bagi saudara yang belum berumah tangga maupun saudara yang telah berumah tangga.

Masing-masing punya kelemahan;
Kaum laki dan kaum perempuan masing-masing punya kelemahan, maka dari itu didalam berumah tangga hal ini perlu diketahui dan pun bisa digunakan sebagai alat untuk menuju hal-hal yang positif (keluarga yang harmonis). Kaum laki kelemahannya di mata, dan kaum perempuan kelemahannya di telinga. Walaupun hal ini tidak berdasarkan penelitian maka kenyataannya dilapangan sudah seperti itu.

Misalnya;
Kalau kita bersuami istri, bila si suami sedang marah atau sedikit tersinggung, bila kita berpegang pada teori diatas, “Laki punya kelemahan di mata”. Istri jangan ikut berbicara (melawan), kalau ikut melawan akan terjadi hal yang lebih rumit lagi. Lalu berprilakulah yang dapat menarik perhatiannya, misalnya; masuk ke kamar hias, berhiaslah yang dengan sempurna dan pakain sedikit menarik perhatiannnya (yang disenangi oleh mereka), setelah itu berjalanlah, usahakan dapat melintas minimal 2X lewat didepannya. Sudah pasti marahnya sedikit turun bahkan seketika mereda. Sebaliknya bila si istri marah atau ngomel, si laki jangan ikut melawan dengan bahasa yang keras, jangan digertak sebab disaat seperti itu si Istri akan tidak mau mundur (hindari KDRT ). lalu si laki harus menurunkan nada bahasanya, menghaluskan intonasi bahasanya saat menyaut, sebab kelemahan perempuan ada di telinga. Pasti marah istri itu akan mereda.

Mencocokan budaya hidup.
Yang paling sulit di dalam perkawinan adalah mencocokan budaya hidup, sebab budaya seseorang sangat sulit untuk dirubah, walaupun bisa akan memakan waktu sangat lama.

Misalnya:
Pada waktu pacaran sebelum nikah semua gambaran hidup yang bahagia, gembira, indah yang keluar, namun kebiasaan yang kurang baik jarang diutarakan bahkan tidak pernah dimunculkan, seperti misalnya salah satu dari mereka setiap tidur mendengkur, atau setiap tidur ngorok, lalu pasangannya tidak bisa tidur lelap bila tidur bersama dengan orang yang biasa mendengkur/biasa ngorok. ini akan menjadi masalah yang kemungkinan akan terjadi hal yang tidak diharapkan. Itu salah satu contoh, mungkin banyak lagi contoh yang bisa diambil.

Lalu bagaimana caranya supaya hal seperti itu tidak menjadi latar blakang pertengkaran. Solusinya begini;

1. Syukurilah apa yang kita dapati memang itu merupakan bagian dari hidup kita, sebab kitalah yang memilihnya sehingga terjadi pernikahan.

2. Disaat pacaran bila perlu utarakan hal-hal atau kebiasaan yang kita miliki, agar lawan jenis (calon pasangan) kita atau calon kita jauh sebelumnya sudah menyadarinya.

Demikianlah sekilas tulisan ini semoga ada manfaatnya demi keutuhan keluarga kita. Bila ada hal-hal yang tidak atau kurang berkenan di dalam tulisan ini mari kita mohonkan ampun kehadapan yang Maha Kuasa dengan ucapan parama santi;

OM SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM.

-Ida Pedanda Gede Made Gunung-

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 12, 2014 in AGAMA, BIMAS HINDU, Dharma Wacana

 

Tag: , , , , , ,

Melakukan Dana Punia Adalah Merupakan Salah Satu Kegiatan Dharma

DHARMA WACANA

Melakukan Dana Punia Adalah Merupakan Salah Satu Kegiatan Dharma

Oleh : Ida Ayu Ketut Andriyogi Pradnyaswari (NTB)

‘Om Awignam Astu Namo Namah Swaha’

‘Om swatyastu’

Rasa syukur yang paling dalam, yang muncul dari dalam lubuk hati saya atas perkenan dan anugerahNya, sehingga saya dapat berdiri disini untuk menyampaikan sekelumit Dharma Wacana , dengan pengharapan semoga tuntutan Sang Hyang Parama Kawi, dharma wacana saya ini dapat bermanfaat bagi kita sekalian dalam menjalankan dharma kita sebagai umat Hindu.

Umat sedharma yang saya hormati .

Pada kesempatan yang sangat baik ini , saya akan menyampaikan dharma wacana dengan tema Dana Punia .

Tema ini saya sampaikan di forum ini karena dalam kehidupan umat Hindu ajaran dana punia , mempunyai kedudukan yang sangat penting , baik di dalam kehidupan di dunia ini maupun di dalam alam kehidupan yang lain yaitu kehidupan sesudah di dunia ini.  Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 6, 2014 in Dharma Wacana

 

Tag: , , , , ,

Tenggelam Dalam Terang Cahaya Kasih (Dharma Wacana)

NASKAH DHARMA WACANA REMAJA PUTRA

UDG XI Tingkat Nasional di Bali 2011 – UTUSAN NTB

Om Avighnam Astu Namo Siddham

Om Swastyastu

Bapak-bapak, ibu-ibu, umat se-Dharma yang berbahagia. Ijinkan sejenak saya memanjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat berlimpah dari beliau hari ini saya bisa berada disini untuk membawakan Dharma Wacana yang mengangkat tema tentang Cinta Kasih, dan lebih khusus saya beri judul yaitu “Tenggelam Dalam Terang Cahaya Kasih”.

“Om Gurur Brahma, Gurur Wishnu, Gurur Devo Maheswarah, Gurur Saksat Param Brahma Tasmae Shri Guruve Namaha”.

“Engkau adalah Brahma, Engkau adalah Wishnu, dan Engkau adalah yang Maha Agung  Maheswarah, Engkau Guru Sejati dan Utama yang selalu meberi bimbingan”.

Hadirin yang berbahagia, Read the rest of this entry »

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 25, 2013 in Dharma Wacana

 

Tag: , , , , , , ,

Menuju Kesempurnaan Melalui Cinta Kasih

Oleh : Bripda I Putu Eka Putra Gunawan

Pendharma Wacana Utusan Provinsi Sulawesi Tenggara UDG XI 2011 Bali 

 Om Swastyastu,  

Mengawali dharma wacana ini, saya mempersembahkan sebait puisi, tanpa judul dan tanpa penulis yang saya kutip dari intisari Bhagawad Gita oleh Sri Sathya Sai Baba.

Tuhan, engkau memenuhi alam semesta ini, 

bagaimana aku dapat membuat pura Untuk-Mu? 

Engkau bersinar cemerlang bagaikan jutaan matahari,   

bagaimana aku mempersembahkan nyala lilin kecil ini Kepada-Mu? 

Yang dapat kupersembahkan kepada-Mu hanyalah cinta kasih,                             

dan kuserahkan diriku kepada-Mu

karena engkau adalah samudra cinta kasih itu. Read the rest of this entry »

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 27, 2013 in AGAMA, Dharma Wacana

 

Tag: , , , ,

 
ST. kawula wisuda banjar adat kulub

ST. Kawula Wisuda (Sekaa Teruna-Teruni) Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar, Bali

Sang Widy

Just For Love In Your's Life

Butterflychaser

An odyssey of chasing butterfly

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebenaran & Kebajikan

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

Different kind of Mahabharata

Another stories behind the epic

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.