WANITA MADUNYA MANTRA DAN YADNYA

Merupakan kesia-siaan seorang suami melakukan upacara agama tanpa keikutsertaan istri tercinta disampingnya. Sehingga, suami yang bijaksana tidak akan melakukan upacara tanpa kehadiran istrinya.

Kutipan Markandya purana diatas, tentunya, akan dapat termaknai, bahwa tidak hanya masalah kehadiran wanita yang menjadi fokus perhatian, namun ada makna yang lebih dalam, artinya “wanita harus dilindungi oleh suami agar senantiasa berada didalam lindungannya”. Hanya dengan prilaku demikian, puncak kebahagiaan, atau candi niknmatnya suami – istri, akan tercapai. Upacara yang merupakan tali pengikat dari pada purusa (suami) dengan prakreti (istri), keberadaannya harus menyatu, sehingga upacara itu dapat terlaksana.

Kutara Manawa, menjelaskan bahwa, suami istri merupakan cikal bakal terbentuknya hukum kehidupan, baik sebagai panutan, dibidang spiritual, ia juga sebagai panutan tata kehidupan bermasyaraklat maupun bernegara, disamping merupakan dasar utama, terjadinya tata hubungan pewarisan bagi anak – anaknya. Lebih Lanjut Kutara Manawa, buku kesembilan, Atha Nawano’Dhyayah sloka 1 menguraikan sebagai berikut :

Purusasya Striyaccaiwa dharma wartmani tisthatoh,

samyoge wiprayoge ca dharman waksyami cacwatan.

Artinya :

Sekarang akan kutetapkan dharma (hukum yang abadi) bagi suami dan istri yang akan mengatur pada jalan kewajibn, apakah mereka bersatu atau bercerai.

Sehingga, suami istri merupakan hukum dalam hubungannya melaksanakan kewajiban – kewajiban, sesuai dengan aturan yang berlaku. Dalam hubungan ini, pada penjelasan lebih lanjut, karena sebagai hukum, maka pasangan suami istri selalu mengusahakan, agar hubungan mereka selalu terjalin dalam benang emas, sampai akhir hayat menjemputnya. Kutara Manawa tidak mengenal talak rujuk dalam perceraian, hal ini dimaksudkan, untuk menghindari terjadinya unsur permainan dalam perkawinan, yang justru dominan merugikan pihak wanita. Bila terjadi perceraian, maka hubungan tidak dapat disambung lagi, hal ini untuk menjaga makna perkawinan adalah suci dan sakral. Karena merupakan bangunan suci yang terbentuk dari aksara candi aksara atau mantra. Dalam makna mantra juga ada unsur purusa dan prakreti. Pada setiap insan manusia entah itu wanita maupun laki – laki, kedua unsur ini selalu barsama – sama, sehingga terjadi suatu kehidupan.

Purusa adalah Atma sedangkan prakrti adalah badan wadah. Dalam tubuh laki – laki Atma  yang bersemayam didalamnya adalah purusa, sedangkan badan wadagnya adalah prakrti, demikian halnya wanita, atmanya adalah purusa sedangkan badan wadahnya prakrti. Atma adalah percikan Brahman/Tuhan Yang Maha Esa, Brahman dalam aksara dilambangkan dengan OM dengan demikian setiap mantra diawali dengan kata OM. Dalam Brahmavaivarta Purana menjelaskan, bahwa setiap mantra diakhiri dengan kata swaha (prakrti). Manakala, mantra tanpa berisi kata swaha, maka mantra itu diibaratkan pohon tanpa buah.

Swaha adalah seorang wanita cantik, yang pada awal penciptaan merupakan perubahan dari prakrti. Kehadiran swaha, agar setiap persembahan atau ritual bisa sampai pada tujuan. Ketika persembahan, walaupun persembahan tersebut dari WisNu, maka persembahan yang dilakukan oleh para Brahmana tidak akan pernah sampai pada tujuan manakala tanpa kata swaha. Mantra dimaksud

Om Dewa Amukti, Sukham Bhawantu, Purnam Bhawantu, Sriyam Bhawantu Namo Namah Swaha”.

Lebih lanjut Brahmavivarta purana menjelaskan, sehubungan persembahan kepada para leluhur, maka setiap pemimpin upacara harus mengucapkan kata swadha sebagai bagian dalam mantra, seperti:

Om Buktiantu Pitara Dewam, Bukti Mukti Wara Swadah, Ang Ah”…

bila tidak demikian, maka persembahan tersebut tidak akan pernah sampai kepada para leluhur. Swadha merupakan seorang dewi cantik yang diciptakan oleh Brahma.dengan demikian dalam upacara dinyatakan dengan dhaksina adalah istri dari pada yadnya. Sehingga orang yang melakukan upacara yadnya, harus membayar dhaksina kepada para brahmana yang melakukan upacara.

Manakala kita kaitkan dengan Rg Veda Samhita, wanita ditempatkan dengan berbagai perumpamaan oleh para bhakta dengan berbagai aksesoris keindahan dan kemanjaannya yang anggun terhadap suami tercinta, dalam hubungannya melakukan yadnya,

Hal ini terurai dalam Mandala IV sukta 2 Sloka 2 sebagai berikut :

Ayam Yonis Cakrma Yam Vayam Te

Jayeva patya Usati Suvasah

Arvacinah Parivito ni sidema u te

Svapaka praticih

Artinya :

Ini adalah altar, telah hias untukmu seperti seorang istri menarik suaminya dengan pakaian anggun. Wahai pelaku kegiatan yang baik, semoga engkau duduk pada kehadiran kami, yang diselimuti dengan pancaran sinar, sementara nyala ini cenderung mengarah padamu.

Pada upacara yadnya, altar yang telah berdiri kokoh dengan berbagai hiasan Warna – warni, dengan setianya seorang istri terhadap suaminya, untuk melakukan doa dengan persembahan yadnya sebagai proses bhakti. Didepan altar suami istri duduk berdampingan, menenangkan pikiran dengan sikap amusti karana, serta mata terpejam, konsentrasi pada selaning lelata (diantara alis) seraya mengucap mantra penuh spiritual magis, yang menimbulkan cahaya kecemerlangan, serta mengalirkan madu yang demikian manis melalui ubun – ubun dan menyatu didalam hati, demi keharmonisan bagi kehidupan mereka berdua. Didepan altar kesetiaan terpatri menyatu padu sebagai sumpah setia, guna kehidupan yang hakiki serta kemurnian dan kesucian anak keturunan yang dilahirkan.

Mantra dan yadnya memberikan makna dan cerminan bagi wanita, bahwa wanita merupakan penuntun jalan maupun kesempurnaan mantra serta yadnya, untuk merncapi suatu tujuan mantra dan yadnya yaitu Brahman / Tuhan Yang Maha Esa. Istri yang setia, akan menuntun suami menuju perapian yadnya untuk sebuah kesucian melalui keheningan mantra sehingga wanita adalah madunya mantra dan yadnya.

 

OLEH

IDA BAGUS SUBALI P, DENPASAR

Editing

Created penulisan

By : I Nyoman Dharma Aprisandy 

Perihal blijul
Orang yang simpel dan sederhana. Suka tantangan dan suka menulis dari berbagi tulisan yang sekiranya menarik. Saya orang yang apa adanya. Lebih suka menggali diri sendiri dan keyakinan sendiri, tanpa bermaksud melukai orang lain. Jangan tersinggung dengan apa yang saya buat. Jika tak berkenan, jangan mampir ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

Sang Widy

Just For Love In Your's Life

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

%d blogger menyukai ini: