MERIAHKAN HARI RAYA KUNINGAN DENGAN TRADISI “MASURYAK”

masuryak

Ritual unik di laksanakan setiap enam bulan (210 hari) sekali di Banjar Bongan Gede, Desa Bongan, Tabanan. Warga di sana memiliki tradisi berbeda dalam merayakan hari raya Kuningan. Mereka menggelar ritual masuryak usai persembahyangan bersama. Ritual ini adalah menyebarkan lembaran uang kepada warga di tengah jalan. Tradisi ini menjadi simbol suka cita melepas serta membekali para leluhur, dengan sarana uang dan sesajen. Selain itu tradisi ini juga untuk menghantarkan para leluhur kembali ke alam surga, setelah pada hari raya Galungan dan Kuningan turun ke bumi.

Ritual turun-temurun ini dimulai dengan bersembahyang di merajan keluarga masing-masing. Lalu dilanjutkan menghaturkan bebantenan di depan pintu gerbang rumah. Sekitar pukul 10.00 wita, ritual masuryak dimulai. Usai menghaturkan bebantenan, seluruh anggota keluarga melempar uang ke atas. Uang yang dilempar tesebut disisihkan dari hasil pekerjaan di masing-masing keluarga, kemudian pada tradisi ini, dilemparkan dan diperebutkan oleh masyarakat. Dalam tradisi masuryak, tidak ada batasan nominal uang yang akan dilemparkan, mulai dari uang ribuan, puluhan ribu bahkan ratusan ribu rupiah. Kegembiraan masyarakat pun terpancar, saat memperebutkan uang dalam tradisi mesuryak. Bagi mereka yang tidak mendapatkan uang pun, mengaku tidak kecewa, karena mengikuti tradisi ini dengan senang hati.

Tradisi lempar uang ini dibuat bergiliran. Tujuannya, warga bisa berebut uang secara adil. Masuryak diawali dari deretan rumah paling ujung, lalu diakhiri di perumahan di dekat perbatasan banjar. Mereka yang berebut uang rata-rata kalangan pemuda. Jumlahnya mencapai lebih dari 100 orang.

Klian Adat Bongan Gege, Made Wardana, menjelaskan, tradisi masuryak merupakan puncak dari perayaan hari raya Galungan dan Kuningan di kampungnya. Tradisi melempar uang ini tujuannya untuk mengantarkan para leluhur setelah sepuluh hari turun dari surga selama perayaan Galungan. “Kami meyakini leluhur pulang ketika Tumpek Kuningan. Karena itu, kami mengantarkanya dengan bersorak-sorai sambil melemparkan uang”, katanya.

Melempar uang itu, juga simbol dari kemakmuran. Lembaran uang dimaksudkan ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widi. Jumlah uang yang disebarkan ini tergantung kemampuan keluarga masing-masing. Bahkan bagi yang mampu bisa mencapai jutaan rupiah. Tradisi mengantar leluhur ini juga dikenal dengan istilah ngulihang. “Tentunya, leluhur kami akan senang melihat kami bersorak dan memiliki uang banyak”,  tegasnya.

Zaman dahulu, kata Wardana, tradisi masuryak menggunakan pecahan uang kepeng. Seiring perkembangan zaman, tradisi ini berubah memakai lembaran rupiah. Karena itu, ritual selalu ditunggu warga untuk mengais rezeki. Meski ada yang terluka karena terjatuh, warga tetap bersemangat mengikuti masuryak. Warga yang berebut uang biasanya mendapatkan hasil lumayan. Mereka bisa mengumpulkan lembaran uang hingga Rp 200.000. Uang hasil masuryak biasanya digunakan makan bersama. Selain warga setempat, masuryak juga menarik warga dari luar daerah. Namun, mereka hanya menonton ritual unik tersebut. Dari sebelas Banjar di Desa Bongan, kemeriahan masuryak paling terasa di Banjar Bongan Gede.

Perihal blijul
Orang yang simpel dan sederhana. Suka tantangan dan suka menulis dari berbagi tulisan yang sekiranya menarik. Saya orang yang apa adanya. Lebih suka menggali diri sendiri dan keyakinan sendiri, tanpa bermaksud melukai orang lain. Jangan tersinggung dengan apa yang saya buat. Jika tak berkenan, jangan mampir ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

Sang Widy

Just For Love In Your's Life

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

%d blogger menyukai ini: