HINDU MEMBERI TEMPAT KEPADA MAKNA ATAU NILAI PADA PERAYAAN HARI RAYA DAN KURBAN

Agama Hindu memiliki banyak sekali hari raya, baik itu yang datangnya setiap tahun sekali (berdasarkan sasih), enam bulan sekali (berdasarkan pawukon), dan ada yang 14 atau 15 hari sekali (Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon). Hari raya Hindu yang besar, yang dirayakan bersama contohnya seperti Hari Raya Suci Nyepi, Siwaratri, Galungan, Kuningan, Saraswati, dan Pagerwesi.

Begitu banyak Hari Raya Suci Agama Hindu, di mana makna dari perayaan berbagai hari raya ini berbeda-beda, dengan tujuan yang sama memuja keagungan Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Seperti contoh, Hari Raya Galungan dan Kuningan dimaknai sebagai hari kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan). Hari Raya Nyepi, dimaknai sebagai hari tahun baru saka, tahun dimulainya kedamaian itu dijunjung tinggi. Hari Raya Saraswati dimaknai dengan hari turunnya ilmu pengetahuan ke bumi. Tidak mudah untuk menjelaskan makna ini kepada orang non-Hindu, bahkan kita yang Hindu saja mungkin memiliki pemahaman yang samar tentangnya.

Ngakan Putu Putra dalam Media Hindu edisi 97 Maret 2012-hal.3 menerangkan, Hindu bukanlah agama berpusat sejarah (history centric), yang merayakan suatu peristiwa sejarah tertentu dari pendirinya, seperti kelahiran, kematian, kebangkitan kembali, pencapaian pencerahan atau perjalanan ke langit ke tujuh. Hindu adalah agama yang berpusat pada Tuhan (God centric), atau lebih tepat berpusat pada ajaran. Hari Raya Hindu, baik di India maupun di Indonesia, memiliki dasar “peristiwa”, apakah itu sejarah atau mitologi, tetapi unsur peristiwa ini dikesampingkan untuk memberi tempat kepada makna atau nilai. Peristiwa sejarah yang mungkin mengandung dendam disuling menjadi nilai-nilai yang bersifat metafisik. Perang antara Raja Bedulu (Mayadanawa) dengan Dewa Indra (Sejarah Hari Raya Galungan) barang kali suatu cara untuk menyampaikan konsep perang kosmik antara kebaikan melawan kejahatan yang terasa abstrak bagi masyarakat umum. Galungan memiliki persamaan dengan Divali (Deepavali) dalam hal makna dan Vijaya Dasami (digabungkan dengan Navaratri) dalam lamanya perayaan, di India.

Dalam pelaksanaan/perayaan Hari Raya Suci Agama Hindu kita sering melaksanakan kurban atau Yadnya. Kurban dalam Agama Hindu tidak sama dengan kurban yang dilaksanakan agama lain. Seperti yang saya petik dari perkataan Sikha S.V. dalam Media Hindu edisi 95 Januari 2012 hal. 38-39, “Kurban dalam agama lain ya upacara kurban potong hewan. Berkurban itu binatang yang dikurbankan. Materi, hal-hal luaran yang sungguh bersifat fisik dan di luar diri penyelenggara kurban. Dalam arti pengurbanan itu yang walaupun selalu dilaksanakan besar-besaran, tetap tidak memberi pengaruh positif apalagi spiritual kepada pelaksana kurban. Entah apa sebenarnya maksud dari upacara itu.”

Dalam Hindu, upacara kurban itu disebut Yadnya, yaitu sebuah ritual pengorbanan dengan makna yang luas meliputi: pemujaan, doa, pujian, persembahan, pengorbanan. Yadnya adalah melakukan pekerjaan tanpa  mengikatkan diri dengan hasil, tulus suci hanya untuk Tuhan. Tergantung tujuan dan caranya, yadnya juga diartikan sebagai murni persembahan saja. Kurban/Yadnya dalam Hindu adalah juga pemberian untuk menyatakan bakti (kepada Tuhan), tetapi yang dikurbankan sudah diarahkan ke dalam. Kurban/Yadnya tidak hanya korban materi, benda atau binatang, tetapi juga segala tindakan atau kerja yang membawa kesejahteraan bagi semua (lokasamgraha). Dalam hal ini yang dikurbankan adalah internal diri kita sendiri, berupa keakuan, keangkuhan, keserakahan dan sifat buruk lainnya, karena untuk bisa melakukan tindakan yang hasilnya mensejahterakan semua, hanya dapat dilakukan apabila tidak ada kepentingan diri sendiri di sana.

Perihal blijul
Orang yang simpel dan sederhana. Suka tantangan dan suka menulis dari berbagi tulisan yang sekiranya menarik. Saya orang yang apa adanya. Lebih suka menggali diri sendiri dan keyakinan sendiri, tanpa bermaksud melukai orang lain. Jangan tersinggung dengan apa yang saya buat. Jika tak berkenan, jangan mampir ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

Sang Widy

Just For Love In Your's Life

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

%d blogger menyukai ini: