KEWAJIBAN SEORANG GURU MENURUT HINDU

Om Swastyastu,

Dalam ajaran agama Hindu kita mengenal ajaran Catur Guru. Ajaran yang kita dapatkan selama ini selalu mengupas tentang bagaimana dan mengapa seseorang itu wajib menghormati keempat guru yang ada. Hampir tidak pernah dibahas bagaimana seharusnya seorang guru mengajarkan pengetahuan atau bagaimana seorang guru seharusnya membimbing anak didiknya.

Sesuai dengan arti katanya, Catur Guru merupakan empat guru yang harus kita hormati. Keempat guru tersebut adalah: (i) Guru Swadhyaya; (ii) Guru Rupaka; (iii) Guru Pengajian, dan (iv) Guru Wisesa.

Guru Swadhyaya adalah Sang Hynag Widhi, Sang Pencipta dunia beserta segala isinya, termasuk manusia. Kita wajib selalu hormat kepada Sang Hyang Widhi karena tanpa Beliau kita tidak mungkin ada, bahkan dunia ini pun tidak bakalan ada. Di samping hormat, kita juga diajarkan untuk senantiasa memuja kebesaran-Nya.

Kita juga diajarkan untuk selalu hormat kepada kedua orang tua kita. Kedua orang inilah (ayah dan ibu) yang melahirkan, membesarkan, dan medidik kita hingga menjadi seperti sekarang ini. Kedua orang tua kita yang disebut Guru Rupaka inilah yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan bagi kita. Sudah sepatutnya kita senantiasa hormat kepada mereka.

Memasuki usia sekolah, kita mulai berkenalan dengan guru-guru di sekolah. Mereka inilah yang mengajarkan berbagai pengetahuan kepada kita. Mulai dari belajar membaca, menulis, berhitung, pengetahuan sosial, pengetahuan alam, bahkan juga pengetahuan agama. Tanpa keberadaan guru-guru di sekolah yang kita juluki Guru Pengajian, rasanya tidak mungkin kita saat ini berada pada posisi masing-masing. Oleh karena itu, kita patut hormat dan respek kepada mereka.

Kita hidup dalam satu wadah negara kesatuan. Agar kehidupan suatu negara bisa berjalan aman dan teratur, maka diperlukan adanya pemerintahan. Pemerintah inilah dalam ajaran Hindu disebut Guru Wisesa. Sebagai anggota masyarakat, sudah sewajarnya kita patuh dan hormat kepada Guru Wisesa ini.

Semua uraian di atas masih dalam persepektif bagaiamana seharusnya kita bersikap terhadap para guru yang dikenal dalam ajaran Hindu. Selanjutnya, marilah kita bahas dari perspektif guru itu sendiri. Bagaiamana seharusnya perbuatan kita kalau seandainya kita yang menjadi guru?

Pertama, kalau kita menjadi Guru Rupaka. Sebagai orang tua, kita sejatinya adalah guru bagi anak-anak kita. Sebagai guru, orang yang patut digugu dan ditiru, orang tua seharusnya menjadi panutan bagi anak-anaknya. Orang tua harus bisa menjadi role model dalam kehidupan sehari-hari. Setiap perbuatan yang dilakukan dihadapan anak-anaknya akan menjadi contoh bagi mereka.

Pada saat kita menyuruh anak agar tidak nonton TV, apakah kita sudah bisa mengendalikan diri untuk juga tidak nonton TV? Kita menyuruh anak untuk rajin membaca buku, sementara kita sendiri jarang, bahkan tidak pernah terlihat membaca buku di hadapan anak-anak. Bagaiamana kita bisa mengharapkan anak-anak bisa dengan serta merta menjadi rajin membaca buku?

Yang dibutuhkan anak-anak dari orang tuanya adalah panutan, bukan sekadar ucapan.Mereka membutuhkan figur yang bisa dijadikan suri tauladan bagi kehidupannya sehari-hari. Kalau kita mengharapkan anak-anak mau mempelajari ajaran-ajaran Hindu di rumah, maka sebagai orang tua, kita juga harus memberi contoh dengan ikut mempelajari buku-buku keagamaan. Dalam urusan pendidikan agama kita tidak boleh hanya menyerahkan kepada guru di sekolah atau pun guru-guru di sekolah agama (minggu) di Pura. Kita sebenarnya bisa berperan sebagai guru agama bagi mereka.

Kedua, kalau kita sebagai guru di sekolah. Peran guru di sekolah ataupun dosen di kampus sangatlah besar dalam mendidik putera-puteri bangsa Indonesia. Di tangan para guru yang disebut Guru Pengajian inilah nasib bangsa Indonesia ke depan ditumpukan. Semua anak didik sejatinya mempunyai potensi diri yang luar biasa dahsyat, tanpa batas. Batas-batas yang ada dalam diri mereka sebenarnya diciptakan sendiri oleh mereka melalui system keyakinan yang dianutnya sejak kecil. Guru di sekolah diharapkan jangan menambah batas-batas ini lagi, melainkan membantu untuk mengikis batas-batas tersebut.

Seorang guru harus bisa merangsang tumbuhnya kreativitas anak didik. Di samping itu, guru juga harus bisa mengembangkan kreativitas yang sudah dimiliki anak didik. Sikap guru haruslah ramah. Sudah tidak jamannya lagi, seorang guru ditakuti muridnya. Sebaliknya, guru harus bisa menjadi sosok yang dirindukan murid. Sosok yang dicintai muridnya.

Untuk bisa menjadi pribadi yang demikian, seorang guru pertama-tama harus mencintai pekerjaannya sebagai guru. Dengan demikian, dia bekerja secara totalitas, penuh pengabdian, bahkan bisa mencintai sepenuhnya anak didik sebagaimana dia mencintai anak kandungnya di rumah. Seorang guru hendaknya senantiasa bisa mendoakan keberhasilan murud-muridnya.

Terakhir, pemerintah sebagai Guru Wisesa sebaiknya adalah orang yang benar-benar bisa memerintah rakyatnya dengan baik. Pemerintah seyogyanya dapat menjadi inspirator, serta bisa menjadi tauladan bagi rakyatnya. Segala gerak-gerik harus mencerminkan sikap yang bisa digugu dan ditiru masyarakatnya. Pemerintah juga harus bisa menjadi sosok yang dicintai dan sekaligus mencintai rakyatnya.

Om Santih, Santih, Santih.

original post by :  I Nyoman Widia

Perihal blijul
Orang yang simpel dan sederhana. Suka tantangan dan suka menulis dari berbagi tulisan yang sekiranya menarik. Saya orang yang apa adanya. Lebih suka menggali diri sendiri dan keyakinan sendiri, tanpa bermaksud melukai orang lain. Jangan tersinggung dengan apa yang saya buat. Jika tak berkenan, jangan mampir ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

Sang Widy

Just For Love In Your's Life

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

%d blogger menyukai ini: