HINDU DAN DESA PAKRAMAN MENATAP EKSISTENSI HINDU DI BALI

(Kritik Majalah Raditya Edisi 139, Februari 2009)

Oleh :  Ida Bagus Wika Krishna

Penyuluh Agama Hindu Kandepag Klaten
Dosen STHD Klaten, Jawa Tengah

(Kini (2012) Pembimas Hindu di Provinsi DI Yogyakarta)

Hindu adalah Sanatana Dharma merupakan agama abadi yang selalu tumbuh subur di hati penganutnya. Karakter yang luwes dan toleran namun bersikap tegas terhadap hal-hal yang menjadi dasar dan inti ajaran Wedanta, membuatnya selalu hidup berdampingan dengan budaya setempat, sifatnya mencerahkan dan memberi jiwa.

Di Bali desa Pakraman merupakan wadahnya, sedangkan jiwanya adalah Hindu. Dalam menghadapi deraan globalisasi dan gerakan konversi agama, keduanya harus bersinergi menjadi satu kesatuan yang kuat. Perkembangan tidak akan dapat diraih dengan proses pembusukan salah satunya.

Dalam majalah Raditya edisi 139, bulan Februari 2009 tampaknya mengangkat tema sentral mengenai eksistensi Desa Pakraman (Adat), di sampulnya secara jelas bertuliskan judul “Desa Adat di Bali: Memperkuat atau Memperlemah Hindu”. Dari tema yang disodorkan maka pembaca sudah digiring pada proses mempertanyakan dan mengkritisi tentang eksistensi Desa Pakraman apakah memperkuat atau memperlemah Hindu sebagai sebuah agama. Secara berkesinambungan kemudian satu-persatu artikel didalamnya mencoba mengupasnya, namun entah atas landasan pencerahan, strategi penjualan, atau memang menggiring opini pembaca bahwa sebenarnya Desa Pakraman telah menghambat perkembangan Hindu, sehingga pilihan-pilihan judulnya cenderung bersifat provokasi penghujatan terhadap eksistensi Desa Pakraman dan melepaskan dari identitas kehinduannya. Beberapa artikel diantaranya berjudul :1. Adat Justru Menghancurkan Agama Hindu (Oleh : Agus Muliana)
2. Desa Adat : Bukan Benteng Hindu ( Oleh : Agus S. Mantik)
3. Walau Tidak Ada Desa Pakraman, Hindu Ada Sepanjang Zaman (Oleh : Ida Ayu Tary Puspa)
4. (Maaf) Hindu Tak Perlu Desa Adat ( Oleh : I Wayan Artika)

Judul-Judul ini dipertegas dengan sebuah karikatur yang menggambarkan seorang Sulinggih Hindu yang duduk diatas kursi denga dipayungi tedung agung (menunjukkan posisinya yang sangat terhormat) melihat aktifitas masyarakat Hindu di Bali sedang bersembahyang, melakukan Tari Kecak. Sang pendeta seraya menunjuk dan beropini “Semua Adat, Hindunya mana?”. Karikatur ini tampak memulai membuka wacana tuduhan seolah-olah apa yang dilaksanakan oleh masyarakat Bali semuanya hanyalah adat tidak ada nuansa Hindunya.

Benarkah semua tuduhan yang ditujukan kepada Desa Pakraman?
Benarkah budaya Bali tidak mengedepankan nilai-nilai Hindu ?

• Gambaran Karikatur : Benarkah Opini Sang Sulinggih ?

Sulinggih dalam tradisi Hindu merupakan orang yang sangat dihormati, beliau adalah orang yang dianggap terlahir untuk yang kedua kalinya (Dwijati), setelah kelahiran dari orang tuanya, maka secara simbolis beliau dianggap lahir untuk yang keduakalinya melalui rahim Weda. Kata sulinggih sendiri berarti tempat duduk yang baik dan terhormat, jadi seorang sulinggih adalah beliau yang memang selayaknya diberikan tempat terhormat karena kesucian dan pemahamannya terhadap sastra-sastra suci. Itu pula sebabnya dalam kitab Sarasamusccaya beliau diberi predikat :

– Satya Wadi : selalu menyuarakan kebenara
– Sang Apta : beliau yang patut dihormati dan diteladani
– Sang Patirthan : sebagai tempat umat mendapatkan penyucian
– Sang Penadahan Upadesa : beliau yang memberikan penerangan spiritual kepada umatnya yang berada dalam kegelapan.

Secara realitas kualitas seorang sulinggih tentunya beragam, namun kesuciannya tentu tidak pantas dinilai dari kacamata umat awam, karena kesucian merupakan sesuatu yang melekat didalam esensi dirinya dalam melaksanakan swadharma kepanditaan. Namun setidaknya seorang sulinggih hendaknya benar-benar memahami esensi dari ajaran Hindu. Hindu yang mencerahkan dan menjiwai setiap gerak kehidupan dalam berbagai wujud budaya.

Karikatur seorang sulinggih yang beropini ‘semua adat, Hindunya mana ? secara inflisit menyatakan bahwa Hindu di Bali hanyalah adat belaka, tanpa sentuhan ajaran-ajaran Hindu. Hal ini tentunya membuat pertanyaan, Benarkah ia mewakili pemahaman Sulinggih Hindu ? ataukah sulinggih tersebut merupakan gambaran seorang sulinggih yang hanya terkungkung dalam salah satu doktrin tanpa pemahaman tentang bagaimana agama Hindu itu mawujud dalam berbagai bentuk budaya ?

Di India atau diberbagai belahan dunia, Hindu itu hidup dengan beraneka ragam wujud budayanya, demikian pula di Indonesia. Evolusi tempat suci Hindu, dari mandir-mandir di India, kemudian Candi-candi di Jawa, dan Pura-pura di Bali tentunya mengalami perubahan bentuk, namun esensinya adalah sama, yaitu sebagai tempat menghaturkan bhakti kepada Hyang Widhi. Sarana Ritual Dayak Kaharingan, umat Hindu di Jawa, dan di Bali tentunya wujudnya berbeda, namun esensinya adalah wujud persembahan Bhakti umat kepada Sang Pencipta. Demikian pula cara pendekatan diri, Kirtan di India, laku tapa di Jawa, atau ritual di Bali berbeda, namun tetap terakomodasi dan terintegrasi dalam agama Hindu. Hal tersebut terjadi karena Hindu memberikan ruang terhadap berbagai wujud budaya, sedangkan Hindu merupakan jiwa yang menggerakkan dan mengarahkan semua prilaku umat untuk selalu dekat dan berbakti kepada Hyang Widhi. Apabila kita mengambil Panca Sradha sebagai esensi identitas Hindu, maka berbagai cara mengekspresikan ajaran Panca Sraddha tersebut layak untuk di Identifikasi sebagai Hindu. Kesimpulannya, gambaran sulinggih dalam karikatur tersebut tidaklah mewakili seorang Sulinggih Hindu, karena ia tidak mampu melihat esensi ajaran Hindu dalam berbagai ekspresi budaya khususnya pada aktifitas masyarakat Hindu di Bali, atau paling tidak ia seorang sulinggih Hindu yang terjebak hanya pada satu kultus budaya agama tertentu.

• Mengurai opini dalam Artikel Majalah Raditya

Dalam beberapa artikel majalah raditya tampak wacana keberimbangan, isinya mencoba mengurai berbagai opini yang berkembang pada masyarakat Hindu, Pro Desa Pakraman dan Kontra Desa Pakraman. Apabila di identifikasi maka ada beberapa poin tentang sisi negatif dan positif Desa Pakraman, antara lain :

Sisi Positif Desa Pakraman :
1. Desa Pakraman adalah penopang keajegan Hindu.
2. Desa Pakraman mengikat warga dalam satu komunitas yang kuat.
3. Peran Aktif Desa Pakraman dalam penjagaan tempat suci (kahyangan Tiga)

Sisi Negatif Desa Pakraman :
1. Tidak pernah memilih pengurus dari bawah
2. Membelenggu umatnya dalam bekerja
3. Awig-awig hanya membelenggu Umat Hindu sedangkan non hindu tidak
4. Sangsi kesepekang yang tidak manusiawi
5. Kepengurusan hanya terisi orang-orang fanatik dengan adat
6. Terjadinya konflik antar desa adat

Wacana keberimbangan dalam informasi memang menjadi syarat mutlak dalam memberikan informasi terhadap masyarakat. Namun dalam beberapa artikel cenderung mengajak dan menggiring pemahaman umat hindu, betapa kolot dan kotornya desa Pakraman. Pada awal artikel walau dalam proporsi yang lebih sedikit, sisi positif mengenai Desa Pakraman diungkap dan dilanjutkan dengan uraian yang panjang tentang sisi negatifnya, baik sekitar feodalisme, kekolotan, sangsi adat yang tidak manusiawi, dan tidak adanya usaha pencerahan dari desa Pakraman kepada warganya mengenai filsafat agama yang hanya mengedepankan ritual belaka. Namun beberapa tulisan cenderung menggiring opini pembaca mengenai betapa tidak layaknya eksistensi Desa pakraman. Antara lain :

“Desa Pakraman dengan konsep yang seperti ini akan melemahkan Hindu, bukan mendukung Hindu. Kecuali ada reformasi konsep Desa Pakraman, dan itu agaknya sulit karena majelis Desa Pakraman berisi orang-orang yang fanatik dengan adat. Tidak seperti majelis yang mengurusi agama Hindu, yakni Parisada yang lebih terbuka dengan perubahan zaman. Kalau kita mau jujur, kita lihat saja fakta yang ada. Umat Hindu di Bali terus berkurang jumlahnya. Baik berkurang secara angka, maupun secara prosentase karena arus pendatang yang bisa dibendung. Tempat ibadah non Hindu bertebaran sampai ke desa-desa. Pimpinan puncak di bidang ekonomi, politik dan sebagainya, kebanyakan diisi orang-orang non Hindu” (Raditya 2009 ; 7).

“Demikian pula dengan masalah kesepekang, rebutan setra dan tapal batas yang marak beberapa waktu lalu belakangan ini yang tidak manusiawi, masalah tersebut malah menjadikan umat Hindu ngeri terhadap desa Pakramannya sendiri. Umat Hindu di Bali seolah beragama lebih karena ketakutannya terhadap adat, bukan karena Sraddha dan Bhaktinya kepada Tuhan. Bisa saja orang yang bersembahyang tersebut karena takut terkena sangsi adat seperti kesepekang. Adat juga kerap menyebabkan orang menjadi berat menjadi beragama Hindu. Adat yang kaku umumnya mengharuskan orang untuk melakukan upacara-upacara yang besar” (Raditya, 2009; 10)

“Adalah sangat miris jika desa Pakraman malah di cap sebagai sebuah hal yang selalu menjujung tinggi dan melindungi serta memuliakan penganut Hindu di Bali. Padahal konflik dan kasus kekerasan justru banyak terjadi di desa Pakraman yang mengatas namakan Hindu sebagai jiwa dan nafasnya. PHDI juga sudah mengeluarkan Bhisama, bahwa sangsi kesepekang yang acapkali dilakukan di desa Pakraman sudah dihapuskan, karena tidak sesuai dengan HAM. Namun nyatanya masih saja ada desa Pakraman tetap mempertahankan tradisi yang aneh ini. Datanglah para Missionaris agama lain dan mengkonversi umat Hindu Bali yang kena sepekang Banjar, tidak kuat membayar denda atau dedosan, hidupnya susah tapi tidak diperhatikan malah terus dituntut kewajiban. Maka dengan ramah orang tersebut memeluk agama misionaris tersebut, orang bali hanya bisa enggang teken enggep dogen (ternganga dan terkatup mulutnya secara bergantian)” (Raditya, 2009; 12-13).

“Di tengah desa adat, Hindu hanya sebagai ritual menggantikan banyak ritual kuno. Jika kita mau bereksperimen, saya yakin hal ini pasti bisa. Maka eksperimen tidak lagi berciri Hindu tetapi berciri agama yang bersangkutan. Hal ini menandakan bahwa desa adat tidak mutlak bagi Hindu. Desa adat hanya wadah atau sistem sosial belaka. Apa saja bisa dimasukkan kedalammnya jika mau tunduk terhadap hegemoni. Orang yang berbeda pendapat dengan yang komunal mesti dikeluarkan dari sistem adat. Mengapa bentuk-bentu hindu yang lain tidak berkembang ditengah desa adat kita? Karena cara berhindu tersebut (sebut saja Sai Baba, Hare Krisna, Ananda Marga) tidak mau tunduk dibawah hegemoni desa adat, sebaliknya melawan sistem adat” (Raditya, 2009; 18-19).

Opini-opini yang dibangun dalam beberapa artikel tersebut cenderung tendensius pada penghujatan sistem yang ada pada Desa Pakraman. Mendudukkan desa Pakraman secara proporsional tentu sangat penting dalam menjernihkan pemikiran dan penilaian. Dari ribuan jumlah desa Pakraman, maka tidak etis mengambil beberapa sempel untuk mengeneralisr eksistensi desa Pakraman. lebih-lebih dalam beberapa statemen mencoba membandingkan Desa Pakraman dan PHDI, bahwa desa Pakraman sifatnya sangat tertutup berbeda dengan PHDI yang lebih terbuka, dalam konteks ini penulis tidak akan memberikan penilaian terhadap kedua lembaga tersebut, karena dengan penilaian tentunya ada plus minusnya. Plus dan minus terhadap kinerja keduanya akan cendrung memisahkannya sebagai dua lembaga yang harus bersinergi. Desa Pakraman mempersiapkan wadahnya, dan PHDI memberikan isi ajaran Hindu.

Tuduhan pertama bahwa eksistensi desa Pakraman sebagai penyebab berkurangnya umat Hindu di Bali, cenderung bersifat mencari kambing Hitam atas kondisi yang ada dewasa ini. Semakin banyaknya penduduk pendatang, tempat suci non Hindu, hingga pada terjadinya beberapa konversi umat Hindu ke agama lain, hal ini tentu sangat penting untuk dijadikan kajian secara holistik, bukan dengan mencari kambing hitam. Karena apabila tuduhan bahwa semuanya terjadi karena desa pakraman yang kaku, tertutup, dan mengedepankan ritual menjadi penyebab berkurangnya umat Hindu. Lalu apa jadinya bila dibalikan dengan tuduhan bahwa PHDI tidak menjalankan fungsinya dalam menguatkan Sraddha (keyakinan) umat, sehingga banyak yang terkonversi. Tentunya hal tersebut akan menjadi ajang saling tuduh, kondisi ini tentunya menjadi tidak sehat dalam membawa Hindu ke depan.

Dalam beberapa kasus misalnya, di Klaten Jawa Tengah (tempat kerja penulis) Hindu di beberapa desa pernah menjadi mayoritas, bahkan semua perangkat desanyapun memeluk agama Hindu. Namun perkembangannya dewasa ini hanya tinggal Pura dan beberapa orang tua yang masih Hindu, lalu kepada siapakah hal ini harus dituduhkan sebagai kesalahan ? Ada pula kasus beberapa guru agama Hindu, ketika dirumahnya malah tidak mengaku beragama Hindu malah kesehariannya memakai jilbab. Dan yang paling sering terjadi, ketika orang tua yang beragama Hindu meninggal ketika akan diupacarai malah dirubah agamanya oleh anaknya yang beragama berbeda. Di Klaten tentunya tidak ada desa Pakraman untuk dijadikan kambing hitam. Lalu kepada siapa kesalahan ini harus dialamatkan ? Arus pendatang dan pembangunan tempat suci oleh umat lain tentu tidak bisa kita halangi sebagai sebuah kenisbian, bahwa Bali adalah bagian dari NKRI. pada sisi inilah pentingnya sebuah sinergi antara desa Pakraman dan PHDI di Bali, untuk menjaga, menguatkan, dan melestarikan Agama Hindu dengan identitas budayanya.

Tuduhan kedua, bahwa desa Pakraman membuat pola beragama Hindu di Bali berada dalam bayang-bayang ketakutan dan cenderung mengharuskan umat mengadakan ritual yang besar tentunya. Benarkah demikian rendahnya spiritualitas orang Hindu di Bali, sehingga bersembahyang karena takut kesepekang?

Hal tersebut tentu sangat berbanding terbalik dengan realitas yang ada, selama penulis bekerja di Bali dan menjadi Tim Desa Pakraman, maka tidak pernah ada satupun wacana bahwa umat bersembahyang karena takut kesepekang dan desa Pakraman mengharuskan umat Hindu melaksanakan ritual yang harus besar. Tidak ada satupun awig-awig yang memberi sangsi kepada umat Hindu yang tidak pernah bersembahyang, atau mengharuskan umat Hindu melaksanakan ritual yang besar. Bersembahyang dan melaksanakan yadnya merupakan wilayah pribadi yang tidak diatur oleh awig-awig. Setiap orang berhak melaksanakan yadnya (nista, madya, utama) sesuai kemampuan yang dimiliki. Bukankah Hindu mengajarkan konsep ketulusan (lascarya) dalam beryadnya, ketimpangan cenderung terjadi bukan karena desa Pakraman, namun cenderung pada gengsi pribadi. Gengsi pribadi dalam beryadnya inilah yang patut diluruskan dalam umat Hindu. Desa pakraman dengan inovasinya telah memfasilitasi ngaben masal yang condong meringankan umat dalam melaksanakan yadnya, bukankah hal ini patut diapresiasi. Pasraman kilat adalah salah satu wujud pencerahan agama kepada generasi penerusnya.

Tuduhan ketiga bahwa sangsi adat yang diberikan oleh desa pakraman seperti kesepekang sangat tidak manusiawi. Hal ini tentu sulit untuk dibahas karena PHDI sudah mengeluarkan Bhisama untuk menghapusnya. Namun terlepas dari keputusan tersebut, kesepekang sebagai sebuah sangsi adat tentunya harus di pahami secara proporsional. Hindu mengenal teori sebab-akibat dalam (ajaran samkhya), dalam filsafat Hindu, alam semesta tunduk pada satu hukum yang disebut Rta, bahkan seluruh tata surya berjalan dengan orbitnya, apabila tidak tunduk pada Rta dan keluar dari orbitnya maka akan terjadi benturan yang menyebabkan kehancuran. Demikian pula dalam ketatanegaraan, ketundukan warga terhadap hukum yang berlaku adalah wajib, tidak tunduk pada hukum tentu akan membuatnya menjadi terhukum. Lebih-lebih terhadap ideologi negara (pancasila), siapa yang mencoba menentangnya maka harus siap untuk dianggap pemberontak. Dalam tata kehidupan, hukum baik tertulis maupun lisan selalu mengatur kehidupan manusia, yang melanggar pasti akan terkena sangsi sosial.

Jangankan dalam desa Pakraman, dalam keluargapun ada hukum yang mengatur, bagaimana setiap anggota keluarga seharusnya berinteraksi. Kesepekang dalam desa Pakraman hendaknya jangan dipandang secara pragmatis, apabila terkena sangsi kesepekang tentunya telah mengalami perjalanan panjang sehingga mendapat sangsi tersebut. Sangsi kesepekang yang diterapkan oleh desa Pakraman, tentunya sangat dilematis. Inilah yang patut direnungkan bersama, karena tanpa aturan dan penegakan sangsi sosial maka desa pakraman tidak akan mampu mengatur warganya dalam keteraturan. Apabila sangsi adat dihilangkan, mungkinkah mengatur warganya untuk ngayah dipura, seberapakah orang yang benar-benar siap untuk ngayah ditengah deraan semangat individualisme ? sekali-dua kali mungkin bisa terlaksana, namun kemudian?

Mungkin jawaban orang-orang yang menganut paham modernisasi dengan semangat individunya akan menjawab ‘Ngupahang’ atau berujung pada uang. Pada titik inilah sebenarnya yang terjadi adalah pergulatan antara paham kebersamaan dan individual, jika individualitas didukung maka dimana letak keunikan bali dengan semangat kebersamaan ‘segalak-segilik salunglung sabayantaka’ dan konsep ‘menyama braya’. Tidakkah kita sadar bahwa dari ratusan tahun perjalanan desa Pakraman dilandasi konsep ngayah, pernahkah ada gajih yang memadai atas pengabdian para prajuru desa Pakraman tersebut. Disinilah manusia seharusnya mengembalikan pada diri sendiri, mampukah atau bisakah kita melakoni rutinitas konsep ngayah yang telah mereka terapkan ? atau kita hanya mampu mengkritisi tanpa pernah berbuat apa-apa ? . Bagaikan dua kekuatan, desa Pakraman mendidik umat yang masih kanak-kanak dalam konsep bhakti dan pengabdian (ngayah) dengan aturan tegas, dan PHDI mendewasakannya hingga benar-benar muncul kesadaran ngayah di hati umat.

Hal yang paling menarik dalam beberapa statement di atas, ada yang sangat menggelitik. Usaha untuk melepaskan desa pakraman sebagai sistem adat dengan identitas kehinduannya. Eksperimen untuk mengindoktrin desa Pakraman dengan muatan agama lain tentunya sangat mustahil. Selain menggelikan tentunya bukan eksperimen yang cerdas. Sebagai perbandingan, keluarga merupakan sistem sosial terkecil, didalamnya ada aturan-aturan dan bisa saja dibarengi dengan sangsi-sangsi yang tegas (misalnya tidak diberi warisan). Kemudian orang tua bereksperimen dengan menyuruh anak-anaknya memeluk agama islam atau kristen dan bersekolah pada sekolah yang berasaskan agama tersebut. Siapa yang bisa menjamin anak-anak tersebut akan memilih mendapat warisan dan beragama Hindu dibandingkan memeluk agama sesuai dengan eksperimen.

Lebih lanjut, tidaklah mungkin melepaskan desa Pakraman dari identitas Hindunya. Semua orientasi kegiatan dalam desa Pakraman berlandaskan Hindu, keberadaan kahyangan Tiga, ngayah dipura, memungut peturunan untuk menjaga pura, menggerakkan ritual di desa, menunjukkan kelekatan desa Pakraman dengan identitas kehinduannya. Karena secara nyata dari historis hingga kini, desa pakraman dibangun atas pondasi kehinduannya.

Mengenai mengapa bentuk-bentuk Hindu seperti Sai Baba, Hare Krisna, Ananda Marga yang tidak berkembang dalam wilayah adat, tentunya banyak faktor yang mempengaruhi. Di Klaten, Jawa Tengah yang tidak ada desa pakraman dan mayoritas umat Hindu yang suku Jawapun, aliran-aliran tersebut tidak berkembang. Mengapa ? tentu harus dijawab oleh penganut sampradaya tersebut. Jawa-Bali-Kaharingan, merupakan komunitas yang mengidentifikasi dirinya sebagai Hindu, namun telah melekat dalam budayanya masing-masing. Esensi ajaran Hindu tentunya telah inklud dalam budaya masing-masing komunitas. Namun satu hal yang perlu direnungkan, benarkah desa pakraman tertutup kepada bentuk-bentuk Hindu lainnya ? dalam beberapa kasus, mereka yang mengklaim dirinya sebagai Hindu dengan wajah yang berbeda memulai konflik itu sendiri. Menghina ritual Hindu di Bali, Mempersembahkan bangkai, tidak sesuai dengan Weda, ritual yang foya-foya, merupakan tuduhan yang sering dituduhkan. Bagaimana mungkin hidup berdampingan, ketika yang ‘baru datang’ sudah mulai menghujat, seolah-olah konsep mereka adalah yang paling benar. Padahal di India sendiri sebagai rumah induk Hindu, memberi ruang terhadap berbagai jalan yang ditempuh umatnya. Kondisi ini tentunya harus dirubah, hidup berdampingan dalam harmonisasi warna-warni Hindu harus diperjuangkan bersama. Satu jalannya adalah menghentikan hujatan-hujatan yang tidak mencerminkan moralitas Hindu.

• Desa Pakraman : Tidak Anti Perubahan

Memahami eksistensi desa Pakraman, tentu tidak etis menilai tanpa kita pernah berada pada sistem tersebut. Desa Pakraman bukanlah seperti yang dianekdotkan sebagai ‘suku badui’ yang tertutup dan terisolir. Desa pakramanpun mengalami proses reformasi didalam dirinya, dalam setiap awig-awig sebenarnya memberi ruang untuk merubah adat yang mungkin tidak sesuai lagi. Setiap awig-awig pasti didalamnya ada tata cara untuk melakukan perubahan aturan ‘nguwah-uwuhin awig’. salah satu yang penulis tahu adalah perubahan awig bisa dilaksanakan pada saat ‘parum krama negak’ dimana seluruh masyarakat bisa menyampaikan aspirasinya. Namun perlu diingat, desa Pakraman dari dahulu menerapkan asas Demokrasi, sehingga perubahan bisa dilaksanakan apabila mayoritas masyarakat menyetujuinya. Jangan karena menganggap ide kita benar kemudian memaksakan kehendak, bila tidak bisa dipenuhi kemudian menghujat desa Pakraman hanya sebagai tempat ‘suryak siu’. Pemilihan Kelian Adat dan pengurus desa Pakramanpun bukan jatuh dari langit, tetapi juga melewati proses pemilihan dari suara terbanyak. Jadi tidak pantas menuduhkan feodalisme didalamnya.

Seperti misalnya di Desa Pakraman penulis (Desa Pakraman Banjar), tidak ada lagi pembelengguan masyarakat yang harus bekerja ke luar Bali, apalagi takut kesepekang. Dalam awig, mengijinkan masyarakatnya untuk bekerja di luar Bali dngan syarat membayar uang ‘pengampel’, jumlahnyapun sangat wajar dalam setahun, tidak lebih banyak dari biaya servis motor. Itu sebagai konvensasi karena kita tidak bisa ikut ngayah. Namun atas kesadaran pula, ketika kita pulang kampung menyempatkan diri untuk bisa ngayah bila desa ada kegiatan, bukan bersembunyi dibalik uang.

Jadi Desa Pakraman bukanlah organisasi yang yang tertutup dan terisolir, didalamnya terjadi gerak perubahan. Proses perubahan dimungkinkan ketika individu tersebut berada dalam sistem, bukan diluar sistem. Tidaklah mungkin orang yang berada diluar sistem merubah sistem berlaku.

• Desa Pakraman : Sekaa Teruna Sebagai Pewaris

Dalam rangka menjaga identitas budaya Hindu di Bali, nampaknya telah menjadi perhatian serius para leluhur-leluhur kita terdahulu dengan membentuk organisasi-organisasi tradisional religius yang mengakar pada tradisi dan agama. Desa pakraman menjadi media pengikat sosial yang benar-benar mengatur tata kehidupan yang berlandaskan pada ajaran Tri hita karana. Generasi muda tampaknya juga tidak luput dari perhatian para pendahulu, dengan dasar ajaran Hindu Tri semaya (‘atita, wartamana, nagata’ berarti masa lalu, sekarang, dan akan datang) maka keberlangsungan tradisi, budaya dan agama Hindu kedepan menjadi tanggung jawab para generasi muda sebagai pewarisnya, untuk tetap menjaga dan melestarikannya. Guna mempersiapkan generasi muda inilah maka dibentuk ‘Sekaa Teruna’ organisasi tradisional kepemudaan sebagai sub organisasi desa pekraman, sebagai tempat para pemuda Hindu digojlok dan dibentuk sebagai pewaris nilai-nilai Agama Hindu dan Budaya Bali yang tidak kehilangan identitasnya.

Sekaa Teruna merupakan organisasi yang terhimpun dari deha teruna yang berasaskan atas kebersamaan dan berbakti dalam mengemban dharma agama dan dharma negara. Dari dua konsep yang diemban dalam sekaa teruna tersebut secara tersirat menyatakan bahwa para generasi muda Hindu di Bali pada tahap brahmacari, melalui organisasi tradisional sekaa teruna berkewajiban untuk mendalami ajaran-ajaran agama dengan berbagai seni budayanya dan mengembangkan wawasan kebangsaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam tugas-tugasnya para sekaa teruna selalu membantu dan ikut serta mempersiapkan berbagai kegiatan keagamaan yang dilaksanakan oleh desa adat, sehingga secara perlahan-lahan dididik dan dibentuk dalam nuansa kehinduan, sekaligus dipersiapkan secara matang untuk mengambil tongkat estafet para tetua untuk menjadi krama adat kedepan. Mereka dibentuk dengan identitas yang kuat ditengah zaman globalisasi. Dengan sekaa teruna diharapkan melahirkan generasi yang mempunyai jati diri namun berwawasan global (think locally and act globally).

• Menatap Dengan Kejernihan

Berbagai wacana tentunya mempunya titik lemah masing-masing, menyadari kekurangan berarti memberi ruang terhadap usaha pembenahan. Lebih-lebih dalam menatap masa depan Bali dengan identitas kehinduannya. Demikian pula tulisan ini, tentu penuh dengan kekurangan sehingga ruang kritik sangat terbuka. Setidaknya kita semua mempunyai semangat yang sama untuk membesarkan Hindu dimanapun berada, dengan berbagai identitas budayanya. Membesarkan Hindu sekiranya dimulai dengan wacana kesejukan, tanpa mencari kesalahan satu sama lain. Biarlah di Bali Desa Pakraman menjadi tubuh dari jiwa Hindu. Tanpa tubuh, jiwa tidak akan pernah punya makna eksistensinya, demikian pula sebaliknya, jika tubuh tanpa jiwa, maka ia tidak lebih dari mayat.

Pembenahan internal harus dimulai, PHDI dan Desa Pakraman mempunyai kelemahan dan kekurangan masing-masing. Introspeksi dan Berbenah diri, kemudian bersinergi menuju Hindu dan Bali yang siap menghadapi tantangan jaman, gempuran globalisasi, dan usaha konversi terhadap umat Hindu, tetap berdiri kokoh dan anggun menjaga identitas agama dan budayanya.

Inilah sedikit wacana dari seorang umat Hindu Bali yang menatap Bali dari kejauhan, didalamnya ada kerinduan, didalamnya ada kebanggaan, didalamnya ada kegalauan. Dengan penuh kesadaran, kami menundukkan kepala, mencakupkan tangan menghormat kepada penjaga Budaya dan Tradisi Hindu di Bali. Semoga Hyang Widhi dan para leluhur bangga atas semua tetes keringat yang mengalir pada tubuh-tubuh para penjaga Hindu. Semoga spirit dari sloka Atharwa Weda meresap didalam setiap ruang keyakinan kita :

Samani Prapa Saha Vanobhagah,
Samane yoktre saha vo yunajmi,
Samyancognim saparyatara,
Na bhimi vabhitah.
Artinya :
Wahai manusia, minum dan makanlah bersama, bersembahyanglah bersama. Untuk itu aku menyatukan semua dalam satu ikatan. Seperti halnya jari-jari roda yang berkumpul menjadi satu ikatan. Demikian pula kalian tinggal dalam keharmonisan dan memujaNYA.

Perihal blijul
Orang yang simpel dan sederhana. Suka tantangan dan suka menulis dari berbagi tulisan yang sekiranya menarik. Saya orang yang apa adanya. Lebih suka menggali diri sendiri dan keyakinan sendiri, tanpa bermaksud melukai orang lain. Jangan tersinggung dengan apa yang saya buat. Jika tak berkenan, jangan mampir ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

Sang Widy

Just For Love In Your's Life

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

%d blogger menyukai ini: