PANGANJALI, SWASTIKA DAN PARAMASANTI

AGNIH PURVEBHIR RSIBHIR,

IDYO NUTANAIR UTA,

SA DEVAM EHA VAKSATI. (RG VEDA. SUKTA 1.2)

“Semoga Tuhan yang senantiasa dipuja para bijak dimasa lalu dan sekarang, menjadi sumber inspirasi orang-orang bijaksana di segala jaman.”

Om Swastyastu,

Saudaraku Umat Hindu terkasih, pada kesempatan kali ini izinkan saya untuk memetik sebuah pengetahuan suci dari sebuah Pustaka Hindu yang mungkin sudah pernah saudaraku baca, namun alangkah baiknya apabila saudaraku kembali membaca tentang pengetahuan suci ini. Petikan kecil ini saya ambil dari sebuah buku yang berjudul “Upadesa, Tentang Ajaran-Ajaran Agama Hindu”. Buku ini menceritakan percakapan Rsi Dharmakirti dengan Sang Suyasa mengenai ajaran-ajaran suci agama Hindu, namun dalam tulisan ini saya hanya memetik satu ajaran yang sangat penting dan wajib diketahui oleh seluruh umat Hindu. Ajaran itu adalah pengetahuan suci mengenai salam Umat Hindu dan lambang suci Agama Hindu. Mari kita simak bersama-sama.

OM SWASTYASTU DAN SWASTIKA

Pada suatu hari datanglah Sang Suyasa, seorang sisya berkunjung ke asrama Jagadhita untuk mendapatkan pengetahuan suci dari Rsi Dharmakirti, sang guru suci yang telah terkenal pengetahuan dan laksananya dalam kebenaran yang tinggi yaitu pengetahuan suci dari Weda-Weda.

Sang Sisya dengan sikap yang amat tertib yaitu menundukkan kepala, dengan dua tangan tercakup di dada (cakuping kara kalih), mulai matur dengan panganjali, “Om Swastyastu”. Sang Guru yang mendengar menjawab dengan “Om Santi, Santi, Santi” dan mempersilahkan Sang Suyasa duduk bersila di hadapannya. Setelah keduanya duduk dan Rsi Dharmakirti menanyakan kedatangannya maka Sang Suyasa mulai umatur dengan cakupan tangan tetap di dada.

“Oh Guru suci, yang hamba muliakan, maafkan keberanian hamba yang datang kehadapan guru untuk memohon pengajaran-pengajaran suci dan berguna yang dapat memberikan sinar dan tuntunan pada jiwa hamba yang dalam kegelapan ini. Dengan cinta kasih dan kemurahan sang Guru, limpahkanlah ajaran suci yang dapat memberikan kebahagiaan abadi kepada semua mahkluk dalam alam semesta ini”

Berbahagialah ia yang sadar akan kehidupan ini dan mau mengetahui serta mendalami ajaran-ajaran suci  untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaian. Tetapi suatu ajaran suci ananda, baru akan dapat meresap jika diterima dengan sikap yang baik serta hati yang tenang dan tekun. Oleh karena itu, perbaikilah cara dudukmu ananda dan pusatkan pikiran serta perhatian ananda agar tidak sia-sialah apa yang Guru akan uraikan.

Setelah Sang Suyasa memperbaiki cara duduknya, Rsi Dharmakirti pun mulailah:

Anakku, tadi anakku mengucapkan panganjali: Om Swastyastu. Tahukah ananda apa artinya? Jika belum, dengarlah! OM adalah aksara suci untuk Sang Hyang Widhi. Kata Swastyastu terdiri dari kata-kata Sansekerta: Su + asti + astu, “su” artinya ‘baik’, “asti” artinya ‘adalah’, dan “astu” artinya ‘mudah-mudahan’. Jadi arti keseluruhan Om Swastyastu ialah “semoga ada dalam keadaan baik atas karunia Hyang Widhi”. Kata swastyastu ini berhubungan erat dengan simbol suci Agama kita ialah swastika yang merupakan dasar kekuatan dan kesejahteraan bhuwana agung dan bhuwana alit (macrocosmos dan microcosmos).

Bentuk Swastika ini dibuat sedemikian rupa sehingga mirip dengan galaxy atau kumpulan bintang-bintang di Cakrawala yang merupakan dasar kekuatan dari perputaran alam ini. Keadaan alam ini sudah diketahui oleh nenek moyang kita sejak dahulu kala dan lambang Swastika ini telah ada beribu-ribu tahun sebelum Masehi. Dan dengan ucapan panganjali Swastyastu itu anakku sebenarnya kita sudah memohon perlindungan kepada Sang Hyang Widhi yang menguasai seluruh alam semesta ini. Dan dari bentuk Swastika itu timmbullah bentuk Padma (teratai) yang berdaun bunga delapan (asta dala) yang kita pakai dasar keharmonisan alam, kesucian dan kedamaian abadi.

Sang Suyasa : “Oh, Gurunda, maafkan kalau hamba memotong. Hamba tidak mengira demikian luas maksud dari ucapan panganjali atau penghormatan hamba tadi itu. Betul-betul hamba tidak tau artinya. Hamba hanya dengar demikian, lalu hamba ikut-ikutan saja.”

Memanglah demikian tinggi nilai dari ajaran agama kita ananda. Guru gembira bahwa ananda senang mendengarnya. Ketahuilah bahwa kata swasti (su + asti) itulah menjadi kata swastika. Akhiran “-ka” adalah untuk membentuk kata sifat menjadi kata benda. Umpamanya: Jana lahir; janaka – ayah; pawa – membakar; pawaka – api dan lain-lainnya.

Ingatkah ananda apa yang Guru pakai untuk menjawab ucapan panganjali itu?

Sang Suyasa : “Ya, Gurunda, Gurunda bilang Om Santi, Santi, Santi. Tetapi apa artinya, hamba tidak tahu”.

Tidak apa ananda, Guru akan jelaskan bahwa arti kata “Om Santi, Santi, Santi”, itu ialah: Semoga damai atas karunia Hyang Widhi. Santih artinya ‘damai’. Jawaban ini hanya diberikan oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih muda, sedangkan jawaban atau sambutan terhadap panganjali “Om Swastyastu” dari orang yang sebaya atau dari orang yang lebih tua cukuplah dengan “Om Swastyastu” yaitu sama-sama mendoakan semoga selamat. Hanya yang lebihh tua patut memakai “Om Santi, Santi, Santi” terhadap yang lebih muda, atau dipakai juga untuk menutup suatu uraian atau tulisan.

Sang Suyasa: “Gurunda, maafkan atas kebodohan diri hamba. Akan sangat banyak yang hamba tanyakan supaya benar-benar sirnalah segala kegelapan yang melekat di jiwa hamba.”

Nah, demikianlah saudaraku, mengenai kata panganjali “Om Swastyastu” , “Swastika”, dan paramasanti “Om Santi, Santi, Santi”. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi saudara Hindu dan saudara lain yang akan dan ingin kembali ke jalan Dharma di mana pun berada.

YAD ANGA DASUSE TVAM,

AGNE BHADRAM KARISYASI,

TAVET TAT SATYAM ANGIRAH. (RG VEDA. SUKTA 1.6)

“Ya Tuhan, yang Mahaesa, Mahaperkasa, Mahakuasa, Mahaada, semoga Engkau menganugrahi para penyembah-Mu dengan segala sifat baik, yang sesungguhnya akan diabadikan pada pelayanan-Mu oleh mereka.”

Om Santi, Santi, Santi.

Perihal blijul
Orang yang simpel dan sederhana. Suka tantangan dan suka menulis dari berbagi tulisan yang sekiranya menarik. Saya orang yang apa adanya. Lebih suka menggali diri sendiri dan keyakinan sendiri, tanpa bermaksud melukai orang lain. Jangan tersinggung dengan apa yang saya buat. Jika tak berkenan, jangan mampir ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

Sang Widy

Just For Love In Your's Life

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

%d blogger menyukai ini: