TRADISI “MBED-MBEDAN” DI SEMATE

Warga Desa Adat Semate antusias melaksanakan tradisi mbed-mbedan.

Setiap Ngembak Geni, sehari setelah Hari Raya Nyepi, masyarakat dapat menyaksikan gelaran tradisi unik di Desa Adat Semate, Kelurahan Abianbase, Kecamatan Mengwi-Badung. Upacara/tradisi menarik itu dinamakan Mbéd-Mbédan. Seperti yang diberitakan Bali Post, Tradisi warisan leluhur itu sempat vakum selama hampir 40 tahun, namun belakangan ini dibangkitkan kembali. Seperti apa tradisi tersebut?

RAJA PURANA MENYEBUTKAN

Mbed-mbedan tak terlepas dari keberadaan Desa Adat Semate. Dalam Raja Purana itu dikisahkan, Rsi Mpu Bantas melakukan perjalan suci ke sebuah hutan yang ditumbuhi kayu putih. Di situ beliau bertemu dengan sanak keturunan Mpu Gnijaya. Beliau sempat bertanya kepada warga, kenapa berada di wilayah hutan itu. Warga kemudian menjawab alasannya, karena tidak sependapat dengan tindakan raja. Karena hutan itu angker, Rsi Mpu Bantas menyarankan warga membuat tempat pemujaan agar selamat.

Setelah tempat pemujaan dibuat, warga melakukan pertemuan untuk menentukan nama pura tersebut, tetapi terus terjadi tarik ulur. Lama tidak menemukan titik temu, Rsi Mpu Bantas memberikan nama kahyangan tersebut Putih Semate, karena wilayah ini ditumbuhi kayu putih. Dinamakan Semate karena warga telah bersatu dalam pikiran dan tidak mau tunduk dengan orang lain dan berketetapan tinggal di wilayah ini, sehidup semati. Setelah itu pura dan desa itu dibuatkan upacara pada tahun Çaka 1396 atau 1474 Masehi. Sebelum meninggalkan Desa Semate menuju perjalanan ke arah utara, Rsi Mpu Bantas sempat mengucapkan bhisama: ”Hai anak-anaku sekalian. Karena kalian dalam mengadakan musyawarah terjadi pembicaraan tarik ulur dalam mengambil suatu keputusan, sebagai tanda peringatan, wajib kalian melakukan upacara Mbed-mbedan setiap tahun yaitu pada sasih kedasa tanggal pisan (sehari setelah Nyepi) mohon keselamatan dan anugerah Tuhan/Hyang Batara dengan mengaturkan upakara daksina suci pada pura yang menjadi sungsungan kalian lengkap dengan segehan. Demikian harus diingat, jangan sampai dilupakan.”

PELAKSANAAN MBED-EMBEDAN

MERIAH-kemeriahan warga semate melaksanakan mbed-mbedan

Mohon Anugerah, Gelorakan Spirit Kebersamaan. Bertepatan pada hari Ngembak Geni, krama Desa Adat Semate setiap tahun menggelar Tradisi Mbed-Mbedan. Mengawali pelaksanaan mbed-mbedan, krama desa yang terdiri atas 65 KK tersebut menuju Pura Desa/Puseh setempat, guna melakukan persembahyangan. Masing-masing krama membawa sarana upakara berupa tipat bantal dipersembahkan kepada Ida Batara yang berstana di Pura tersebut. Selanjutnya, krama menuju depan Pura Desa/Puseh menggelar mbed-mbedan, tepatnya di jalan jurusan Kapal-Abianbase.

Mbed-Mbedan di Desa Adat Semate mirip olahraga tarik tambang. Namun, tali yang digunakan spesial dari batang pohon menjalar, yang oleh masyarakat Semate disebut bun kalot yang tumbuh di kuburan Desa Semate. Pohon itu sudah ada sejak ratusan tahun, menjalar di sebuah pohon kroya. Bun yang digunakan sebagai sarana mbed-mbedan itu sudah disiapkan saat Ngerupuk.

Menariknya, peserta mbed-mbedan tersebut tak hanya teruna-teruni, tetapi juga kalangan dewasa, laki-laki perempuan. Bahkan, para prajuru dan tokoh masyarakat juga ikut menjadi peserta, menyemarakkan suasana.

Bendesa Adat Semate I Gede Suryadi, S.H. kemarin mengatakan, mbed-mbedan ini sudah ada sejak lama di Desa Adat Semate. Tradisi atau upacara ini sempat vakum beberapa lama. Baru sejak beberapa tahun lalu digelar kembali. Tradisi warisan leluhur ini ”mungguh” dalam Raja Purana Desa Adat Semate.

Dikatakannya, dalam mbed-mbedan ini peserta tak mementingkan unsur menang-kalah. Peserta laki-laki berhadapan dengan lawan laki-laki, peserta perempuan berhadapan dengan lawan perempuan. Tali dari bun kalot dipegang masing-masing lawan dengan jumlah peserta dan kekuatan yang sama. Setelah aba-aba dimulai, masing-masing peserta menunjukkan kekuatannya. Tali ditarik dengan sekuat tenaga. Pada saat peserta saling menunjukkan kekuatannya, ada krama yang ”bertugas” menggelitik tubuh peserta. Peserta yang tak tahan gelitikan, akan melepas pegangannya, sehingga kekuatannya menjadi melemah. Permainan dinyatakan selesai manakala peserta berhasil menarik tali yang dipegang lawan.

Lanjut Suryadi, setelah mbed-mbedan selesai, krama kembali berkumpul di pura, menikmati lungsuran tipat bantal bersama-sama. Suana kekeluargaan dan kebersamaan betul-betul tampak dalam upacara itu. Boleh dikatakan, krama Desa Adat Semate membuka lembaran hari pertama pasca-Nyepi Tahun Baru Çaka (ngembak geni) dengan spirit kebersamaan. Diawali dengan persembahyangan bersama, terlibat dalam pelaksanaan tradisi atau upacara warisan leluhur secara bersama-sama, kemudian menikmati lungsuran paican Ida Batara (berupa tipat bantal) secara bersama-sama pula. Setelah upacara, diisi simakrama dan dengan saling memaafkan.

Perihal blijul
Orang yang simpel dan sederhana. Suka tantangan dan suka menulis dari berbagi tulisan yang sekiranya menarik. Saya orang yang apa adanya. Lebih suka menggali diri sendiri dan keyakinan sendiri, tanpa bermaksud melukai orang lain. Jangan tersinggung dengan apa yang saya buat. Jika tak berkenan, jangan mampir ya.

2 Responses to TRADISI “MBED-MBEDAN” DI SEMATE

  1. I Wayan Adi Sudiatmika mengatakan:

    Cerita ini baru saya tahu…. padahal saya dari badung…. satu kecamatan lagi.. he… he… ternyata banyak tradisi yang musti digali… mantap…

    • pande juliana mengatakan:

      Ngihh Bli Wayan,, tradisi ini dri sumber yang saya peroleh, baru dari tahun 2010 mulai dilaksanakan lagi di semate, setelah 40 tahunan vacum,, jadi wajar belum banyak yang tau…..

      Di Bali memang banyak tradisi2 yang sangat unik untuk diketahui,,, ayooo kita gali sama2,, saling berbegii……… ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

Sang Widy

Just For Love In Your's Life

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

%d blogger menyukai ini: