REFLEKSI PLURALISME HINDU DALAM UTSAWA DHARMA GITA (UDG)

REFLEKSI PLURALISME HINDU

 DALAM UTSAWA DHARMA GITA (UDG)[1]

Oleh :

Dr. Made Widiada Gunakaya. SA, SH, MH.[2]

 

A.          Pendahuluan

Dharma gita relevansinya sangat signifikan dalam rangka pembinaan umat Hindu secara semultan menjadi tanggungjawab bersama, terutama para pengurus Parisada Pusat maupun daerah serta Pemerintah dalam hal ini Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI. Oleh karena itu Dharma Gita memang sudah seharusnya terus menerus diprogramkan dan disosialisasikan untuk tujuan peningkatan sradha-bhakti umat dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Salah satu modus operandi untuk mensosialisasikan Dharma Gita adalah dengan menyelenggarakan kegiatan Utsawa Dharma Gita (UDG).

Namun perlu disadari, bahwa UDG bukanlah menjadi tujuan utama agama Hindu maupun manusia (umat) Hindu. UDG hanyalah sebagai sarana sosialisasi kepada umat Hindu maupun non Hindu, bahwa di dalam agama Hindu terdapat dharma gita yang setiap saat dapat dilantunkan sebagai tanda bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Di dalam Bhagavata Purana (VII.5.23) disebutkan ada 9 bentuk bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, satu di antaranya adalah Kirtanam, yakni mengucapkan atau menyanyikan sloka-sloka suci atau nama-nama Tuhan YME.

Disamping berfungsi sebagai sarana sosialsisasi, UDG juga diharapkan akan dapat menimbulkan spirit bagi umat Hindu, khususnya yang mengikuti UDG tersebut agar lebih memahami, menghayati dengan sebenar-benarnya, dan pada akhirnya akan dapat mengamalkan sebaik-baiknya ajaran-ajaran yang terdapat di dalam dharma gita tersebut yang bersumber dari sloka Veda maupun dari susastra Veda. Jika semua itu telah ter-internalized dan teraplikasi dengan baik, maka catur purusa artha sebagai tujuan manusia Hindu serta moksartam jagad hita ya ca ithi dharma sebagai tujuan agama Hindu akan dapat direalisasikan.

Dikatakan demikian, karena dharma gita yang bersumber dari sloka Veda atau susastra Veda itu mengandung ajaran-ajaran yang memiliki nilai-nilai spiritual, etika (dan estetika) serta tatwa yang sangat tinggi, sehingga dapat memberi pemahaman dan tuntunan kepada umat, mulai dari aspek tatwa, susila dan upacara. Salah satu media pelatihan dan sekaligus pelestariannya adalah melalui penyelenggaraan UDG.

Bagi generasi muda Hindu, UDG yang melombakan seni baca sloka, kidung, kekawin atau nyanyian-nyanyian daerah lainnya yang bersubstansikan ajaran-ajaran Hindu, dan di dalam pengembangannya termasuk yoga asanas atau lainnya yang terkait, adalah merupakan pembinaan kebudayaan nasional dalam rangka menangkal pengaruh negatif arus globalisasi yang dapat menyeret generasi muda Hindu pada dunia materi yang sesungguhnya bersifat maya.

Sedangkan dalam tataran nasional, keberadaan dharma gita adalah sebagai salah satu faktor substantif dalam memperkaya khasanah budaya nasional. Karena dharma gita memiliki keragaman dalam bahasa, irama lagu, gerak tubuh maupun cara-cara melakukannya. Semua ini telah mengantarkan umat Hindu pada kekayaan budaya di bidang seni yang tak terbatas, yang dapat mendukung dan membangkitkan rasa keagamaan dalam beragama Hindu, sesuai dengan budaya daerah masing-masing.

Bagi umat Hindu secara pribadi, aktivitas dharma gita melalui pembacaan sloka Veda yang secara simultan disertai lantunan, akan dapat menimbulkan vibrasi dan enerji spiritual yang berpengaruh positif pada ketenangan pikiran, ketentraman, dan kedamaian. Sedangkan pengaruh sucinya, akan sangat terasa sekali pada getaran rohani (sang Atman). Getaran suci inilah yang dapat menguasai pikiran yang suci, dan pikiran yang suci akan dapat mengarahkan umat Hindu untuk senantiasa bertutur kata yang baik. Pikiran yang suci juga akan dapat mengendalikan indria dengan baik. Bila indria telah terkendali dengan baik, akan dapat pula diarahkan untuk melakukan perbuatan yang baik sesuai ajaran dharma. Jadi dengan melakukan dharma gita, sejatinya kita disadarkan untuk selalu ingat pada ajaran TRI KAYA PARI SUDHA.

Menyadari relevansi dharma gita memiliki jangkauan begitu luas, tidak hanya bagi eksistensi agama Hindu, dan umat Hindu dalam melaksanakan ajaran tri kaya pari sudha, tetapi juga relevan untuk pelestarian budaya, dalam rangka menangkal pengaruh negatif arus modernisasi dan globalisasi, maka hal ini perlu disadari serta dijadikan orientasi sepenuhnya oleh pengurus LPDG dalam UDG, karena dharma gita sesungguhnya merupakan budaya leluhur yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, yang memiliki nilai luhur yang sangat tinggi sehingga patut dilestarikan, bahkan dikembangkan lebih luas lagi, baik dari aspek substansi dharma gitanya maupun dari aspek pelantunnya, yang meliputi semua kalangan, baik anak-anak, generasi muda maupun generasi tua.

Di samping itu perlu pula diketahui, bahwa dharma gita di kalangan umat Hindu secara keseluruhan di semua ranah di bumi Indonesia ini, memiliki keragaman dalam jenis irama lagu, bahasa teksnya maupun cara-cara melagukannya. Namun demikian, hal-hal tersebut sesungguhnya menghantarkan umat Hindu pada kekayaan budaya yang dapat memberi dukungan spiritualitas dalam membantu rasa keagamaan umat Hindu sesuai dengan budaya daerah masing-masing dalam rangka meningkatkan penghayatan dan pengamalan ajaran-ajaran agama Hindu.

Mengingat relevansi dharma gita sangat begitu signifikan bagi agama dan umat Hindu dalam berkehidupan, baik dalam kehidupan beragama maupun bersosial-budaya, maka UDG oleh Pengurus LPDG harus sudah berorientasi dan diorientasikan pada relevansi dharma gita sebagaimana telah dideskripsikan di atas. Dengan klausula, para pengurus LPDG secara imperatif sudah harus mendesain dan mem-planning sedemikian rupa pluralisme Hindu, termasuk sloka-sloka yang sering dilagukan pada saat bajan oleh sampradaya-sampradaya Hindu. Demikian juga nyanyian-nyanyian suci yang sudah menjadi budaya Hindu dari semua suku bangsa yang menganut agama Hindu di Indonesia harus pula terefleksi dan direfleksikan dalam penyelenggaraan UDG.

Memperkuat rasionalisasi pola pikir di atas (berpikir HINDUNESIA) dalam penyelenggaraan UDG, langkah pertama yang perlu dielaborasi adalah : “Apakah maknawi refleksi pluralisme Hindu dalam UDG” ? Setelah rasionalisasi ditemukan dan mendapat pembenaran secara intersubyektif, langkah selanjutnya yang perlu dieksplorasi adalah “Bagaimanakah pluralisme Hindu dalam UDG seharusnya direfleksikan” ? Kedua permasalahan inilah yang perlu mendapat kupasan.

 

B.       Maknawi Refleksi Pluralisme Hindu Dalam UDG.

Menyimak judul tulisan di atas dan jika didekonstruksikan, terdiri atas beberapa variabel judul yang maknawinya signifikan untuk dieksplanasikan guna memperoleh pemahaman komprehensivitas dari substansi tulisan ini. Pertama ”refleksi”, kedua pluralisme”, ketiga Hindu, keempat ”utsawa”, dan kelima ”dharma gita”.

Refleksi” secara etimologikal berarti ”pantulan”, sesungguhnya merupakan kegiatan berpikir dalam arti teknis, yakni :

”Kegiatan akal budi yang dilakukan dalam kerangka bertanya dan berusaha untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang berkaitan dengan suatu problema”.

Problemanya adalah, bahwa secara emperikal dharma gita yang diutsawakan selama ini hanya dimonopoli oleh nyanian-nyanyian dharma yang sudah membudaya yang berasal hanya dari satu suku bangsa penganut/pemeluk agama Hindu saja, yakni suku bangsa BALI. Problema demikian itu tentu dinilai tidak kondusif dan berimplikasi negatif terhdap eksistensi agama dan umat Hindu di Indonesia. Oleh karena itu harus dicarikan solusinya, dengan cara mengajukan pertanyaan : ”apakah secara emperikal agama Hindu hanya dianut dan dipeluk oleh satu suku bangsa saja di Indonesia” ? Jika dalam kegiatan berpikir itu diperoleh jawaban ”tidak”, dalam arti bahwa agama Hindu dianut dan dipeluk oleh banyak suku bangsa di Indonesia, sehingga dapat disebut HINDUNESIA, maka solusi yang dapat diberikan terhadap problema tadi adalah, bahwa : ”dalam setiap penyelenggaraan UDG, secara imperatif harus mengakomodasi, dan mengapresiasi serta merefleksikan budaya-budaya dari suku-suku bangsa serta sampradaya-sampradaya yang ada di Indonesia yang ajaran-ajarannya berlandaskan agama Hindu”.

”Pluralisme” adalah suatu paham yang mengajarkan keanekaragaman maknawi dalam memahami suatu realitas, dan menerima keanekaragaman tersebut juga sebagai suatu realitas. Jika pluralisme ini direlasitaskan dengan ”Hindu” sebagai suatu realitas agama dan keagamaan berbasis Veda yang memiliki ajaran-ajaran kebenaran yang sangat universal, yang boleh dipelajari dari berbagai perspektif oleh setiap orang dari suku bangsa mana pun, maka dikatakan penganut agama Hindu itu sangat bersifat pluralisme. Dan realitas demikian itu sangat diterima oleh penganut agama Hindu yang lainnya. Berdasarkan pola pikir demikian itu, pemeluk agama Hindu tidak hanya beraneka ragam dalam tataran suku bangsa yang menimbulkan budaya-budaya tersendiri, tetapi juga menimbulkan keranekaragaman dalam memahami ajaran agama Hindu itu sendiri, sehingga menimbulkan banyak sampradaya. Dalam konteks demikian inilah pluralisme Hinduharus dipahami oleh pengurus LPDG dan diorientasikan dalam kegiatan penyelenggaraan UDG. Oleh karena itu, sloka-sloka yang sering dilagukan pada saat bajan oleh sampradaya-sampradaya Hindu, dan nyanyian-nyayian suci yang sudah menjadi budaya Hindu dari semua suku bangsa yang menganut agama Hindu di Indonesia juga harus terefleksi dalam penyelenggaraan UDG.

”Utsawa” berati festival atau perlombaan, sedangkan ”Dharma Gita” berarti nyanyian yang bersubstansikan kebenaran yang terformulasikan dalam sloka-sloka Veda dan susastra Veda. Dengan demikian, ”Utsawa Dharma Gita” adalah perlombaan tentang nyanyian yang bersubstansikan ajaran-ajaran kebenaran yang terformulasikan dalam sloka-sloka Veda baik yang terdapat dalam Veda Sruti maupun yang ada di dalam kitab susastra Veda lainnya.

Bertitik tolak dari maknawi variabel-variabel disebutkan di atas, jika diinduksikan maka terhadap judul ”Refleksi Pluralisme Hindu Dalam UDG” secara integral diperoleh pemahaman, bahwa :

Dalam penyelenggaraan UDG, pengurus LPDG secara imperatif sudah harus merefleksikan keanekaragaman suku bangsa dan sampradaya sebagai pemeluk agama Hindu dalam melombakan nyanyian yang bersubstansikan ajaran-ajaran kebenaran yang telah terformulasikan dalam sloka-sloka Veda maupun dalam susastra Veda”.

Pemahaman integral terhadap maknawi dari ”Refleksi Pluralisme Hindu Dalam UDG” di atas, justifikasinya dapat pula dideskripsikan seperti berikut ini.

Variabel-variabel judul sebagaimana telah disebutkan di atas, bila di-preposisi-kan, sejatinya terdiri atas 2 (dua) preposisi, yakni ”refleksi pluralisme Hindu” dan ”utsawa dharma gita”. Sedangkan kata ”dalam” hanya menunjukan keterangan tempat di mana ”refleksi plurasime Hindu” secara imperatif harus diaktualisasikan dan diejawantahkan. Dan jika kedua preposisi tersebut dianalogkan sebagai variabel, maka sesungguhnya terdapat 2 (dua) variabel judul yang masing-masing memiliki kedudukan sangat ”berpengaruh” (independent) dan sangat ”terpengaruh” (dependent). Berkedudukan sebagai variabel independent adalah variabel ”refleksi pluralisme Hindu”, sedangkan ”utsawa dharma gita” berkedudukan sebagai variabel dependent.

Dalam konteks demikian itu, jika direlasitaskan dengan kondisi riil bahwa di satu pihak agama Hindu di Indonesia tidaklah dianut dan dipeluk oleh hanya satu suku bangsa (BALI) dan satu sampradaya Hindu (SIWAISTIS) saja, tetapi oleh banyak suku bangsa dan sampradaya Hindu (HINDUNESIA), dan di pihak lain di manapun agama Hindu itu berkembang dan suku bangsa serta sampradaya apapun yang menganutnya, maka sudah dapat dipastikan bahwa agama Hindu akan kohesif dengan budaya dari suku bangsa dan ajaran sampradaya Hindu itu sendiri. Dalam hal inilah secara das sollenpluralisme Hindu” harus diakomodasi, diapresiasi serta harus direfleksikan serta diorientasikan dalam setiap kegiatan penyelenggaraan UDG oleh pengurus LPDG. Itulah sebabnya mengapa dikatakan ”refleksi pluralisme Hindu” berkedudukan sebagai variabel ”berpengaruh” terhadap UDG. Pemetaan variabel demikian ini sengaja dieksplisitaskan untuk diketahui dan disadari dalam pelaksanaan kegiatan Orientasi Pengurus LPDG, bahwa sesungguhnya  ”refleksi pluralisme Hindu” memiliki sifat normativitas sekaligus sebagai conditio sine quanon dalam setiap kegiatan penyelenggaraan UDG.

C.     Bagaimanakah Pluralisme Hindu Seharusnya Direfleksikan Dalam UDG ?

         Jika disimak kembali maknawi dharma gita sebagaimana dideskripsikan di atas, dan apa bila hal tersebut direlasitaskan dengan pluralisme Hindu sebagai emperical phenomenon, maka konsekuensi yang ditimbulkannya adalah bahwa : ”mau tidak mau Pengurus LPDG harus mengakui setiap nyanyian suci berbasis Veda dan atau susastra Veda yang sering dilantunkan pada saat upacara agama dan keagamaan dilangsungkan oleh umat Hindu, tanpa memandang apapun sampradayanya dan dari suku bangsa manapun ia berasal”. Dalam konteks demikian inilah UDG HINDUNESIA menjadi relevan dan oleh Pengurus LPDG seharusnya diorientasikan. Jika tidak dilakukan, ”ketidakmerekatan”, dan ”keretakan”, yang berimplikasi pada ”ketidaksatuan” umat Hindu tidak mustahil menjadi sebuah keniscayaan. Oleh karena itu lakukanlah UDG HINDUNESIA mulai dari sekarang. Janganlah tatwam asi, vasu deva kutum bakam, bhineka tunggal Ika  hanya dijadikan jargon-jargon kosong tanpa makna.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh Pengurus LPDG dalam rangka menuju pluralisme Hindu dalam penyelenggaraan UDG (UDG HINDUNESIA) di antaranya adalah :

  1. Menginventarisasi dan mengidentifikasi komunitas umat Hindu yang berasal dari berbagai suku bangsa, termasuk sampradaya-sampradaya Hindu yang ada di Indonesia, tidak terkecuali komunitas Hindu India.
  2. Menginventarisasi dan mengidentifikasi nyanyian-nyanyian atau kidung-kidung suci berbasis Veda atau susastra Veda yang sudah biasa dilantunkan dalam setiap upacara agama dan keagamaan oleh sampradaya Hindu dan komunitas Hindu dari berbagai suku bangsa di Indonesia.
  1. Berkaitan dengan angka 2 di atas, di samping ada dharma gita yang sifatnya wajib untuk dinyanyikan dalam UDG, ada juga bersifat pilihan wajib. Artinya peserta diberikan kebebasan untuk memilih satu di antara beberapa dharma gita yang diwajibkan, dan Dharma gita yang dijadikan pilihan wajib tersebut harus disesuaikan dengan nyanyian suci yang sudah menjadi budaya dari suku bangsa dan sampradaya dari mana peserta yang bersangkutan berasal.
  2. Sehubungan dengan angka 3 di atas, para peserta dari masng-masing provinsi yang akan diundang untuk mengikuti UDG, diwajibkan untuk membacakan dan atau menyanyikan sebuah atau lebih kidung suci berbasis Veda atau susastra Veda yang asli berasal dan sudah membudaya di daerahnya masing-masing.
  3. Sinergi dengan angka 4 di atas, pembacaan atau pelantunan kidung (lagu) suci dimaksud diwajibkan dibawakan oleh umat Hindu yang asli berasal dari daerah yang bersangkutan dalam satu kelompok peserta dalam setiap tingkatan usia dan jenis kelamin. Dengan demikian, para peserta dari masing-masing provinsi yang akan diundang untuk mengikuti UDG tidak dimonopoli oleh umat Hindu dari Bali.

(Ketentuan di atas tidak berlaku untuk peserta dari Provinsi Bali).

  1. Semata-mata untuk tujuan penghayatan bagi para peserta UDG sehingga menimbulkan kesakralan dan kekhidmatan suasana pada saat pembacaan atau pada saat melantunkan dharma gita, dapat diiringi dengan alat musik atau tetabuhan daerah untuk menimbulkan suasana dimaksud.
  2. Guna mencerminkan keragaman dan atau kebinekaan, para peserta UDG diwajibkan mengenakan pakaian (uniform) menurut sampradayanya masing-masing, dan pakaian adat atau pakaian upacara keagamaan menurut daerahnya masing-masing.

Langkah-langkah sebagaimana dimaksud di atas tentu membawa konsekuensi berupa permasalahan ikutan yang harus segera dicarikan solusinya. Permasalahan ikutannya di antaranya adalah : ”masalah pendanaan”, masalah inventarisasi kidung-kidung suci Hindu yang bersifat kedaerahan, dan ayat-ayat suci yang biasa dilantunkan oleh masing-masing smapradaya”, ”masalah penjurian”, ”masalah tempat penyelenggaraan yang seringkali tidak mendapat dukungan pro-aktif dari Pemerintah Daerah setempat”, ”masalah kepanitiaan” serta masalah-masalah lain yang terkait.

D.     Penutup

Penyelenggaraan UDG selain mempunyai tujuan beradresat internal juga beradresat eksternal. Beradresat internal adalah dalam rangka pembinaan umat Hindu di bidang Dharma Gita, di antaranya adalah untuk meningkatkan kajian terhadap kitab suci Veda, meningkatkan rasa keagamaan sebagai wujud pemahaman ajaran agama, meningkatkan sradha bhakti sebagai landasan pembentukan akhlak mulia, melestarikan budaya Hindu sebagai penangkal pengaruh negatif arus modernisme dan globalisasi, dan memantapkan kemerekatan serta kerukunan hidup intern umat yang harmonis dalam rangka menuju persatuan dan kesatuan umat Hindu Indonesia (HINDUNESIA).  Beradresat eksternal lebih pada tujuan bernuansa politis, yang pada intinya menunjukan bahwa : ”agama Hindu sampai dengan saat sekarang masih eksis, dan dianut serta dipeluk oleh berbagai suku bangsa di Indonesia. Dan interaksi serta interelasi di antara umatnya dan dengan umat non-Hindu lainnya tetap rukun serta terjaga secara harmonis”.

Mendeduksi premis mayor dari UDG bersubstansikan adresat-adresat demikian itu, maka Pengurus LPDG sudah seharusnya mengejawantahkan adresat-adresat tersebut secara deduktif dalam bentuk fenomena nyata berupa UDG yang dalam penyelenggaraannya mampu merefleksikan pluralisme Hindu sebagai agama universal, yang dapat dipelajari dari berbagai perspektif oleh komunitas apapun (sampradaya) dan dari suku bangsa manapun, sehingga produk budaya yang dihasilkannya pun menunjukkan keragaman local genius, tetapi tetap berbasis Veda. Penyelenggaraan UDG dengan mengemas pluralisme Hindu demikian itu dapat disebut dengan istilah UDG HINDUNESIA. Ini berarti Pengurus LPDG sudah harus berani membuang paradigma lamanya dengan mengganti yang baru, bahwa agama Hindu tidak hanya Siwaistis, dan orang Hindu tidak hanya orang Bali.

—————


[1] Makalah disajikan pada Orientasi Pengurus Lembaga Pengembangan Dharma Gita (LPDG), tgl. 12 s/d 15 Juni 2012 di Bandung. Diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Bimas Hindu Kementerian Agama RI.

[2] Sekretaris Parisada Prov. Jawa Barat.

Perihal blijul
Orang yang simpel dan sederhana. Suka tantangan dan suka menulis dari berbagi tulisan yang sekiranya menarik. Saya orang yang apa adanya. Lebih suka menggali diri sendiri dan keyakinan sendiri, tanpa bermaksud melukai orang lain. Jangan tersinggung dengan apa yang saya buat. Jika tak berkenan, jangan mampir ya.

One Response to REFLEKSI PLURALISME HINDU DALAM UTSAWA DHARMA GITA (UDG)

  1. Ping-balik: Persamaan Hindu Dan Islam (2) - Catatan Perjalanan Spiritual, Pengembangan Diri, Ide, Informasi, Hobi, Ilmu, wisdom, Filosofi, idealism dan Pemikiran .To Reach Highest Human Potentiality. - FajarNurzaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

Sang Widy

Just For Love In Your's Life

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

%d blogger menyukai ini: