KARNA SEBAGAI KSATRIA DAN DERMAWAN (4)

lanjutan……. part 3

KARNA MEMPERSEMBAHKAN HATINYA SENDIRI KEPADA KRISNA

Segera Karna mengambil sebuah batu di dekatnya dan memukulkan pada giginya dan kemudian menyerahkannya kepada Brahmin tersebut. Krisna yang menyamar sebagai Brahmin ingin menguji lebih jauh, “Apa engkau memberiku gigi emas yang berlumuran darah sebagai derma (pemberian)? Maaf, aku tidak bisa menerima ini, aku akan pergi sekarang”, katanya.

Karna memohon pada Brahmin tersebut. “Swami, tunggu sebentar”. Meski pun dalam keadaan sulit bergerak, Karna dengan susah payah mengeluarkan panahnya dan membidikkan ke angkasa. Segera hujan tercurah dari awan. Setelah membersihkan gigi tersebut dengan air hujan, Karna menyerahkannya dengan kedua tangannya.

Melihat hal tersebut, Brahmin yang merupakan penyamaran dari Krisna kembali ke wujud aslinya sebagai Krisna. Karna terperangah; “Tuan, anda sesungguhnya siapa?”, Krisna berkata, “Aku Krisna, aku sungguh kagum dengan semangatmu dalam berkorban. Dalam keadaan/kondisi apa pun, semangat berkorbanmu tidak pernah pudar/mengendor. Mintalah kepadaku apa yang engkau inginkan!”. Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

KARNA SEBAGAI KSATRIA DAN DERMAWAN (3)

KEAGUNGAN KARNA SEBAGAI KSATRIA

Pada hari ke-17 perang besar Bharathayudha (Mahabharatha) mendekati usai, dengan kalahnya/robohnya Karna, Panglima Perang Astinapura saat itu di medan perang. Para Pandawa bergembira merayakan kemenangan besar tersebut. Sebaliknya, Kaurawa merasa kehilangan harapan sama sekali, sebab Karna adalah ksatria utama andalan mereka. Para Pandawa bersuka-cita atas kalahnya lawan berat mereka. Tetapi Krisna duduk terpisah dan tampak tenggelam dalam kesedihan. Arjuna datang  mendekatinya dan bertanya, kenapa beliau merasa sedih pada hari yang seyogyanya mereka patut bersuka-cita dalam menyambut  kemenangan. Krisna memberitahu Arjuna bahwa negara Bharatha telah kehilangan prajurit/ksatrianya yang sangat utama pada hari itu. Pahlawan yang telah membawa kejayaan dan nama baik Negara Bharatha, telah roboh menyedihkan.

“Aku merasa sedih karena negara telah kehilangan seorang pahlawannya yang begitu besar”. Mendengar kata-kata ini, Arjuna memandang Krisna dengan perasaan terkejut. Dia berkata, “Wahai Krisna, untuk memberi jaminan kemenangan pada Pandawa, tuanku telah memilih peran sebagai sais/kusir. Oleh karena itu, Pandawa memperoleh kemenangan. Bukannya bersuka-cita atas kemenangan ini, tetapi kenapa malah tuanku merasa sedih atas kekalahan musuh kita?”. Krisna menjawab, “Karna adalah perwujudan dari pengorbanan. Pengorbanan adalah identik dengan Karna. Di seluruh dunia engkau tidak bisa menemukan orang lain yang memiliki semangat pengorbanan seperti Karna. Dalam kegembiraan maupun duka-cita, kemenangan atau kekalahan, dia selalu siap untuk berkorban. Apakah engkau memiliki semangat berkorban seperti itu? Tidak!”. Lalu Krisna meminta Arjuna untuk mengikutinya. Baca pos ini lebih lanjut

KARNA SEBAGAI KSATRIA DAN DERMAWAN (2)

Keistimewaan sang Basusena (lanjutan dari part 1…)

Adipati Karna dengan segala kompleksitasnya sebenarnya merefleksikan manusia pada umumnya. Ada nilai-nilai dualisme yang terkandung dalam kompleksitasnya itu. Nilai-nilai itulah yang selalu hadir dalam sosok manusia pada umumnya. Adipati Karna menunjukkan kepada kita bahwa dalam kehidupannya, orang baik tidak selalu melakukan kebaikan, ada kalanya orang itu pun melakukan kejahatan. Sebaliknya, manusia yang dinilai jahat ada kalanya pernah berbuat kebaikan. Sosok Basusena memang penuh dengan dualisme, dari silsilahnya saja dapat dilihat bahwa ia merupakan perpaduan antara manusia dengan dewa. Ia berasal dari golongan ksatria namun dibesarkan oleh rakyat biasa. Ia ikhlas serta dermawan, namun dikenal pula sebagai ksatria yang angkuh dan sombong. Di samping itu, Adipati Karna pun merefleksian sifat-sifat ambisius manusia. Untuk memuaskan hasratnya, terkadang ia dapat melakukan segala cara, termasuk manuver-manuvernya yang penuh tipu muslihat.

Selain dualisme yang direfleksikannya, Karna pun menunjukkan sebuah arti pengorbanan serta pengabdian kepada kebenaran. Sejak kecil ia sudah diminta untuk berkorban, ia dibuang ke sungai Aswa, dijauhkan dari status kebangsawanannya dan akhirnya hampir sebagian hidupnya dilalui tanpa pernah mengenal orangtua kandungnya sendiri. Semua pengorbannya tersebut harus ia jalani demi terjaganya kehormatan dewi Kunti, ibundanya. Beranjak dewasa, menjelang perang Bharatayudha, ia pun harus berjiwa besar memaafkan kesalahan ibunya, mengikhlaskan masa lalunya serta mengorbankan ambisinya untuk mengungguli Arjuna dalam perang Bharatayudha. Meskipun pengorbanan yang ia lakukan sudah sedemikan banyak, ternyata Karna pun harus mengorbankan dirinya pada perang di padang Kurusetra. Dengan menolak berpihak kepada Pandawa, ia secara tidak langsung telah mengorbankan kejayaan, kehormatan, kemenangan serta tahta yang ia akan miliki. Sebaliknya ia memilih kekalahan dan kematian yang sudah menjadi takdirnya dengan memilih memihak kepada Kurawa. Baca pos ini lebih lanjut

KARNA SEBAGAI KSATRIA DAN DERMAWAN (1)

Dalam perjalanan hidupnya, Karna sebenarnya melewati cobaan yang sangat sulit. Kehadiran Karna di dunia pada dasarnya dapat dikatakan percobaan dewi Kunti terhadap mantera Adithyahrehdaya yang dianugerahkan kepadanya. Setelah akhirnya berhasil, kemudian jabang bayi Karna dibuang begitu saja ke sungai Aswa. Latar belakang kelahiran Adipati Karna tersebut dapat dianggap sedikit banyak mempengaruhi kepribadiannya kelak. Di samping itu, stastusnya yang hanya sebagai anak kusir Adirata membuat Karna dewasa mengalami banyak cobaan dalam hidupnya, berbagai penolakan serta penghinaan kerap datang kepadanya, terutama dari para Pandawa. Sebagai seorang demi god – putera dewa yang juga mengalir darah ksatria di dalam dirinya, Karna ternyata dapat melewati semua cobaan tersebut dengan tabah, hingga akhirnya derajatnya sebagai seorang ksatria ”dikembalikan” oleh Duryudana.

Dalam kehidupannya sebagai seorang Adipati di Awangga, Karna dikenal sebagai seorang bangsawan yang angkuh dan sombong. Jika ditelaah lebih dalam, pada dasarnya wajar-wajar saja ia bersikap seperti itu. Keangkuhan dan kesombongannya dapat dikatakan sebagai salah satu defense mekanisme yang ia tunjukkan, mengingat pada masa lalunya ia selalu direndahkan dan dihina. Namun di balik keangkuhan dan kesombongannya tersebut, ia pun dikenal sebagai seorang ksatria yang sangat dermawan. Bahkan menurut salah satu versi Mahabharata, kedermawanannya tersebut mendapat pengakuan dari sang rajadewa, bhatara Indra. Sebagai apresiasi atas keagungan sifatnya tersebut Karna dipinjamkan senjata Kontawijayadanu oleh sang rajadewa. Baca pos ini lebih lanjut

ARJUNA PRAMADA (2)

Lanjutan …………. (Arjuna Pramada (1))

Tiba-tiba saja kera kecil itu melompat, demikian satu kali injakan, ternyata jembatan itu roboh. “Maaf tuan Sang Arjuna, saya kera yang bengil begini saja membuat jembatan anda hancur, apalagi ribuan bala tentara Sugriwa yang akan menyerang Alengka, bisakah mereka menyebrangi jembatan tuan!”

Muka Arjuna merah padam dan sangat malu kepada Sri Krisna, ternyata seekor kera bengil mampu merobohkan karyanya yang hebat itu. Arjunapun bertindak kesatriya dan bertanya: “Maaf, saya bertanya siapakah anda? Saya yakin anda bukan seekor kera biasa, saya mengagumi anda”.

Kera kecil itupun menunjukkan jati dirinya. “Ya tuan Sang Arjuna, aku ini…. aku ini adalah Hanuman, abdi setia Sri Rama”. “Maaf, tuan Hanuman, saya dengar anda sangat besar, hebat dan mampu terbang kemana-mana. Kini mengapa anda kelihatan kecil, tua renta dan seperti tidak berdaya? Ijinkanlah saya menghormati anda”. Demikian kata-kata Arjuna terbata-bata dengan penuh penyesalan. Baca pos ini lebih lanjut

ARJUNA PRAMADA (1)

Begitu banyak terdapat cerita-cerita tentang epos kepahlawanan dan ajaran-ajaran suci Hindu seperti yang sudah pernah saya post dalam blog ini, yaitu tentang Bhakti Sang Hanuman. Nah pada kesempatan ini saya akan menyajikan cerita Hindu “Arjuna Pramada”. Cerita ini merupakan petikan kecil dari epos besar Mahabarata, yang menceritakan tentang keangkuhan/kecongkahan Arjuna karena tau akan dirinya sakti mandraguna. Semoga kisah ini dapat menginspirasi kita dan memberikan manfaat, berikut kisahnya.

**********

Sekali waktu Sri Krisna berjalan-jalan diikuti oleh Arjuna di pinggir pantai Kanyakumari yang dikenal pula dengan nama Tanjung Komorin di ujung Selatan anak benua India atau Bharatawarsa. Sri Krisna mengagumi kemegahan pura Rameswaram yang nampak berdiri agung bagaikan sebuah gunung putih berkilauan. Arjunapun menyaksikannya dengan penuh ketakjuban. Perhatian mereka beralih menyaksikan puing-puing jembatan Setubandha, jembatan yang menghubungkan India dengan Srilanka. Sri Krisna menunjukkan betapa mega proyek dikerjakan oleh ribuan wanara bala tentara Sugriwa untuk mensukseskan perang merebut kembali Dewi Sita dari tangan raja angkara murka Rawana.

“Lihatlah Arjuna, batu yang demikian besarnya mampu diangkat oleh bala tentara kera, sungguh mengagumkan!”, demikian antara lain ucapan Sri Krisna kepada Arjuna. Arjunapun menjawabnya dengan penuh kekaguman. Namun yang terjadi saat itu sesungguhnya dalam diri Arjuna muncul keangkuhan. “Membuat jembatan demikian saja kok mengerahkan ribuan bala tentara kera. Kalau aku, sendirian dengan sebatang panahku aku mampu membikin jembatan yang jauh lebih besar dari mega proyeknya Sri Rama itu”, demikian keangkuhan Arjuna. Walaupun tidak diucapkan, namun Sri Krisna dengan detektor gaib yang dimilikinya mampu mengetahui pikiran Arjuna sekalipun belum terucapkan. Baca pos ini lebih lanjut

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

Sang Widy

Just For Love In Your's Life

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian