KARNA SEBAGAI KSATRIA DAN DERMAWAN (2)

Keistimewaan sang Basusena (lanjutan dari part 1…)

Adipati Karna dengan segala kompleksitasnya sebenarnya merefleksikan manusia pada umumnya. Ada nilai-nilai dualisme yang terkandung dalam kompleksitasnya itu. Nilai-nilai itulah yang selalu hadir dalam sosok manusia pada umumnya. Adipati Karna menunjukkan kepada kita bahwa dalam kehidupannya, orang baik tidak selalu melakukan kebaikan, ada kalanya orang itu pun melakukan kejahatan. Sebaliknya, manusia yang dinilai jahat ada kalanya pernah berbuat kebaikan. Sosok Basusena memang penuh dengan dualisme, dari silsilahnya saja dapat dilihat bahwa ia merupakan perpaduan antara manusia dengan dewa. Ia berasal dari golongan ksatria namun dibesarkan oleh rakyat biasa. Ia ikhlas serta dermawan, namun dikenal pula sebagai ksatria yang angkuh dan sombong. Di samping itu, Adipati Karna pun merefleksian sifat-sifat ambisius manusia. Untuk memuaskan hasratnya, terkadang ia dapat melakukan segala cara, termasuk manuver-manuvernya yang penuh tipu muslihat.

Selain dualisme yang direfleksikannya, Karna pun menunjukkan sebuah arti pengorbanan serta pengabdian kepada kebenaran. Sejak kecil ia sudah diminta untuk berkorban, ia dibuang ke sungai Aswa, dijauhkan dari status kebangsawanannya dan akhirnya hampir sebagian hidupnya dilalui tanpa pernah mengenal orangtua kandungnya sendiri. Semua pengorbannya tersebut harus ia jalani demi terjaganya kehormatan dewi Kunti, ibundanya. Beranjak dewasa, menjelang perang Bharatayudha, ia pun harus berjiwa besar memaafkan kesalahan ibunya, mengikhlaskan masa lalunya serta mengorbankan ambisinya untuk mengungguli Arjuna dalam perang Bharatayudha. Meskipun pengorbanan yang ia lakukan sudah sedemikan banyak, ternyata Karna pun harus mengorbankan dirinya pada perang di padang Kurusetra. Dengan menolak berpihak kepada Pandawa, ia secara tidak langsung telah mengorbankan kejayaan, kehormatan, kemenangan serta tahta yang ia akan miliki. Sebaliknya ia memilih kekalahan dan kematian yang sudah menjadi takdirnya dengan memilih memihak kepada Kurawa.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, pengorbanan Karna sebenarnya merupakan pengabdiannya pada kebenaran, tentunya dalam konteks yang luas. Ia mengabdi pada sebuah ”karmapala” tentang kejahatan yang selalu dihancurkan oleh kebenaran. Dalam hal ini, kita dapat mengatakan bahwa sebenarnya dalam dirinya, Karna sudah mengetahui peranannya dalam dunia dan roda dharma. Ia sadar bahwa ia dilahirkan untuk membantu keseimbangan dalam dunia. Keinsyafan itulah yang sempat dia ucapkan dua kali, yaitu kepada Bhatara Kresna sebagai titisan Wisnu dan Ibundanya, dewi Kunti.

Pemaparan tadi tentunya sedikit banyak dapat menjadi titik terang dalam menjawab keraguan akan penasbihan Adipati Karna sebagai ksatria agung. Pada akhirnya, penasbihannya tersebut harus dilihat dalam konteks yang luas. Dalam hal ini kita tidak dapat menilai Adipati Karna secara pragmatis. Jika ditelaah lebih jauh dapat kita lihat bahwa sang Basusena justru melepaskan dirinya dari nilai-nilai pragmatis. Dalam hidupnya ia merupakan sosok yang dermawan, ikhlas serta berani berkorban. Tindakan-tindakan seperti itu tentu saja memunculkan berbagai penilaian positif terhadap dirinya, namun di sisi lain, ia pun menunjukkan kelicikkan, keangkuhan serta kesombongan. Dapat dikatakan bahwa sepanjang hidupnya ia selalu melakukan hal-hal yang paradoksal – bertentangan. Bukankan hal tersebut justru menandakan bahwa Karna adalah sosok yang munafik? Meskipun demikian, harus dilihat pula bahwa keangkuhan serta kesombongan yang selalu ia tunjukkan, justru ditunjukkannya kepada para kaum bangsawan dan ksatria. Sementara hal-hal baik justru ia tunjukkan kepada rakyat jelata yang memang seharusnya menjadi ayoman para bangsawan dan ksatria. Dari perilakunya tersebut dapat dilihat bahwa pada dasarnya Adipati Karna melakukan berbagai hal-hal baik hanya demi kebenaran yang ia percaya, bukan demi penilaian-penilaian baik dari manusia terhadap dirinya.

Dengan keistimewaan sang Basusena yang sudah dipaparkan di atas, tentunya kita paham jika pada akhirnya, sosok Adipati Karna yang erat dengan keikhlasan dan pengorbanan tersebut memiliki posisi istimewa di kalangan masyarakat Jawa, bahkan Sunda. Keistimewaan sosok Karna dapat kita lihat pula dalam dunia pewayangan, untuk pertunjukkan dramatari wayang wong Priangan, tokoh Adipati Karna memakai aksesoris mahkota Ketu Topong. Makhota itu pula yang dipakai oleh tokoh Bhatara Guru, selain kedua tokoh tersebut, tidak ada lagi yang memakainya. Tentu saja ada alasan tertentu mengapa Karna mendapat keistimewaan untuk memakai mahkota seperti Bhatara Guru. Padahal jika dilihat dari status kebangsawanannya, Karna hanyalah raja bawahan di Awangga.

……….nyambung ke postingan selanjutnya part 3………….

Perihal blijul
Orang yang simpel dan sederhana. Suka tantangan dan suka menulis dari berbagi tulisan yang sekiranya menarik. Saya orang yang apa adanya. Lebih suka menggali diri sendiri dan keyakinan sendiri, tanpa bermaksud melukai orang lain. Jangan tersinggung dengan apa yang saya buat. Jika tak berkenan, jangan mampir ya.

2 Responses to KARNA SEBAGAI KSATRIA DAN DERMAWAN (2)

  1. Ping-balik: KARNA SEBAGAI KSATRIA DAN DERMAWAN (1) | pandejuliana

  2. Ping-balik: KARNA SEBAGAI KSATRIA DAN DERMAWAN (4) | pandejuliana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

Sang Widy

Just For Love In Your's Life

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

%d blogger menyukai ini: