Bhatara Kala (Wayang Sapuleger Dalam Mitology Bali)

Ogoh-ogoh “Wayang Sapuh Leger” garapan Sekaa Teruna Dharma Yowana Br. Anggarkasih Sanur Kecamatan Denpasar Selatan

Dalam kitab Kala Tattwa diceritakan, pada waktu Bhatara Guru (Dewa Siwa) sedang jalan-jalan dengan Dewi Uma di tepi laut, “air mani” Dewa Siwa menetes ke laut ketika melihat betis Dewi Uma karena angin berhembus menyingkap kain Sang Dewi. Dewa Siwa ingin mengajak Dewi Uma untuk berhubungan badan, namun Sang Dewi menolaknya karena prilaku Dewa Siwa yang tidak pantas dengan prilaku Dewa-Dewi di kahyangan. Akhirnya mereka berdua kembali ke kahyangan. Air mani Dewa Siwa menetes ke laut kemudian ditemukan oleh Dewa Brahma dan Wisnu. Benih tersebut kemudian diberi japa mantra. Dari benih seorang Dewa tersebut, lahirlah seorang rakshasa yang menggeram-geram menanyakan siapa orangtuanya. Atas petunjuk dari Dewa Brahma dan Dewa Wisnu, raksasa itu mengetahui bahwa Dewa Siwa dan Dewi Uma adalah orangtuanya.

Sebelum Dewa Siwa mengakui raksasa tersebut sebagai putranya, terlebih dahulu ia harus memotong taringnya yang panjang agar dapat melihat wujud orangtuanya seutuhnya. Akhirnya syarat tersebut dipenuhi. Sang raksasa dapat melihat wujud orangtuanya seutuhnya. Sang raksasa diberkati oleh Dewa Siwa dan diberi gelar Bhatara Kala. untuk menghormati hari kelahirannya, Dewa Siwa memberi anugerah bahwa Bhatara Kala boleh memakan orang yang lahir pada hari “Tumpek Wayang” dan memakan orang yang jalan-jalan di tengah hari pada hari “Tumpek Wayang”. Kebetulan adiknya, Dewa Kumara, juga lahir pada hari “Tumpek Wayang”. Sesuai anugerah Dewa Siwa, Bhatara Kala boleh memakannya. Namun atas permohonan Dewa Siwa, Bhatara Kala boleh memakan adiknya kalau adiknya sudah besar (berumur tujuh tahun).

Kesempatan itu digunakan oleh Dewa Siwa. Ia menganugerahi Dewa Kumara agar selamanya menjadi anak-anak (dewaning rare). Maksudnya, agar keadaan Rare Kumara yang tetap menjadi balita selamanya itu, akan membuat Batara Kala membatalkan niatnya dan merasa kasihan terhadap adiknya. Tetapi, tujuh tahun kemudian Batara Kala tetap hendak melaksanakan niatnya memangsa adiknya. Melihat keadaan Dewa Kumara yang masih kecil (rare), Bhatara Kala menjadi bingung. Lama-kelamaan akal-akalan ayahnya itu diketahui Bhatara Kala yang sudah lama ingin memakan adiknya.

Akhirnya ia tidak sabar lagi. Dewa Kumara dikejarnya. Batara Guru (Dewa Siwa) terpaksa mencari akal lagi untuk menyelamatkan Rare Kumara. Disuruhnya Rare Kumara turun ke dunia, mengungsi ke Kerajaan Kertanegara. Batara Kala juga tidak tinggal diam. Ia juga turun ke dunia memburu adiknya. Dengan menggunakan indra penciumannya yang amat peka, ia selalu dapat membuntuti adiknya. Di suatu senja (sandi kala — Bhs. Bali), Batara Kala menanti Rare Kumara yang diperkirakan akan lewat di situ. Ternyata yang ditunggu tidak juga muncul. Saat itu, Batara Kala melihat dua orang yang sedang bertengkar di tengah jalan. Karena kesal, Batara Kala memangsa kedua orang itu.

Pengejaran terus berlangsung. Tetapi, setiap kali kepergok, Rare Kumara selalu dapat meloloskan diri, dengan berbagai muslihat. Antara lain, Rare Kumara menyelinap dalam rumpun bambu, bersembunyi dalam timbunan kayu bakar yang tidak diikat, lolos melalui tungku perapian. Setiap kali Batara Kala kecewa dalam pengejaran Rare Kumara, ia mengutuk setiap orang yang ceroboh dan menyebabkan Rare Kumara bisa lolos. Kepada Maya Sura, raja di Kertanegara, Rare Kumara minta perlindungan. Raja itu menyanggupinya. Seluruh bala tentaranya dikerahkan untuk menghalangi Batara Kala, namun semua sia-sia. Akhirnya Rare Kumara terpojok, dan Batara Kala langsung menelannya.

Pada saat itu, Batara Guru (Dewa Siwa) dan Batari Uma, istrinya, datang. Mereka segera menyuruh Batara Kala memuntahkan adiknya. Batara Kala memuntahkan kembali adiknya, tetapi sesaat kemudian ia berubah pikiran, hendak memangsa lagi, sekaligus dengan kedua orang tuanya. Alasannya karena Dewa Siwa dan Dewi Uma datang tepat tengah hari. Mereka pun ingin dimakan oleh Bhatara Kala sesuai janjinya Dewa Siwa. Dewa Siwa tidak menentang kehendak Kala, tetapi sebelum Kala memangsanya, ia minta agar Kala menjawab dulu teka-tekinya: “Asta pada sad lungayan catur puto dwi purusa bagha eka egul trinabi sad karna dwi srenggi gopa-gopa sapta locanam ….” . Batas waktu menjawabnya hanya sampai matahari condong ke Barat. Teka-teki itu dimaksudkan untuk mengulur waktu.

Karena terlalu lama berpikir mencari jawaban atas teka-teki itu, matahari pun telah condong ke Barat. Karena itu, hilanglah hak Batara Kala untuk memangsa Batara Guru (Dewa Siwa) dan Batari Uma, karena waktu telah lewat tengah hari. Hal ini membuat Batara Kala kesal sekali. Kekesalan Batara Kala ditimpakan kepada pohon kelapa. Dikutuknya pohon itu, sehingga tidak ada pohon kelapa yang tegak lagi. Semua pohon kelapa akan selalu tumbuh melengkung.

Karena tidak bisa memakan mereka, Bhatara Kala melanjutkan pengejarannya mencari Rare Kumara. Pada malam hari, pelarian Rare Kumara sampai ke tempat pertunjukan wayang. Sang Amangku Dalang memberikan perlindungan Rare Kumara dengan menyembunyikannya di resonator (bungbung plawah) gender. Ketika Bhatara Kala datang, karena sudah terlalu haus dan lapar. Bhatara Kala memakan sesajen Dalang yang ada di situ. Sang Amangku Dalang menegurnya, Akhirnya terjadilah dialog antara Sang Amangku Dalang dengan Bhatara Kala, yang meminta agar segala sesajen yang dimakan dimuntahkan kembali. Bhatara Kala tidak bisa memenuhi permohonan tersebut. Sebagai gantinya, Bhatara Kala yang merasa bersalah, mengganti sesaji yang telah dimakannya itu dengan mantra Sakti yang dapat menangkal semua hal buruk yang akan menimpa makhluk hidup. Ia berjanji tidak akan memakan orang yang lahir pada hari Tumpek Wayang, jika sudah menghaturkan sesajen menggelar wayang sapu leger. Sang Amangku Dalang pun bersepakat dengan Batara Kala, akan mengganti anak yang lahir pada wuku Wayang yang seharusnya dimangsa Batara Kala, dengan sesaji khusus. Setelah bebas dari kejaran Batara Kala, Rare Kumara kembali ke kahyangan, berkumpul dengan ayah ibunya.

Sumber : disarikan dari wikipedia dan blvckshadow

1. ……… baca Kala Tattwa (Purwa Gama Sesana)

2. …….. baca Mitologi Bhatara Kala Dalam Pewayangan Jawa

Perihal blijul
Orang yang simpel dan sederhana. Suka tantangan dan suka menulis dari berbagi tulisan yang sekiranya menarik. Saya orang yang apa adanya. Lebih suka menggali diri sendiri dan keyakinan sendiri, tanpa bermaksud melukai orang lain. Jangan tersinggung dengan apa yang saya buat. Jika tak berkenan, jangan mampir ya.

4 Responses to Bhatara Kala (Wayang Sapuleger Dalam Mitology Bali)

  1. Ping-balik: KALA TATTWA (Purwa Gama Sesana) « _pandejuliana_

  2. Ping-balik: Mitologi Batara Kala Dalam Pewayangan Jawa « _pandejuliana_

  3. Mustafa Adnani mengatakan:

    Jujur saja, ketika saya mengangkat kajian mitology – yg sebenarnya harus menjadi ranah keagamaan – ternyata tidak banyak menarik perhatian para penyampai agama (a.l. ustad, penceramah agama, da’i dst.,). Namun bila yg diajukan itu dg menyebut kemusyrikan atau penyembahan berhala,nyamber banget. Padahal dg menyebut mitos atau mitologi,justru akan lebih luas dlm kita memahami kemusyrikan, yg justru bila kita berbicara tauhid, maka mitologi itulah yang akan banyak mengupas sejarah mengapa kemusyrikan itu begitu kental menyusp ke dlm tauhid.Pada gilirannya sayapun menyadari, disinilah keterbelakangan kaum agamawan dlm berinteraksi dengan
    sains. Penyembahan berhala di berbagai lapisan bangsa dan negara, akan lebih mudah diketengahkan bila kita mengkaji mitologi Mesir,Yunani,Romawi, Arab pokoknya bangsa dan negara di seantero jagat ini. Bila saja Allah dlm surah Al A’laa, menyatakan: Sesunguhnya ini (yg disamaikan oleh Muhammad), adalah telah termaktub dalam suhuf sebelumnya, yakini lembaran (pelajaran) Ibrahim dan Musa. (QS87:18-19). Sudahkah kaum muslimin mengeksplorasi siapa dan dimana Ibrahim dan Musa itu berkiprah? Dan apa yg diyakini oleh masyarakat dimana Ibrahim dan Musa ini berkiprah? Itulah perlunya kita memahami Mitology. Justru Alquran mengajak manusia agar berluas wawasan, negeri kelahiran Rasulullah (Arab) tidak cukup bahan untuk menyajikan agama tauhid. Artinya Hubal, Allata, Uzza dan Manah belum cukup untuk membicarakan tentang penyembahan berhala, masih perlu informasi-informasi yg lebih luas dalam memahami agama zaman sekarang, sekali lagi untuk zaman sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

Sang Widy

Just For Love In Your's Life

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

%d blogger menyukai ini: