Tumpek Landep Kearifan Lokal Umat Hindu Etnis Bali “Memanfaatkan Teknologi Untuk Kemanusiaan”

Oleh : Ni Kadek P. Noviasih

(Staf Bimas Hindu Kemenag R.I. Sulawesi Utara)

Pada hari ini, umat Hindu (khususnya etnis Bali) membuat sesajen khusus yang dipersembahkan kepada Sang Hyang Pasupati, Dewa penguasa dan pencipta pengetahuan tentang teknologi. Tradisi ini merupakan wujud kearifan lokal umat Hindu dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi yang semakin canggih dengan penguatan nilai-nilai humaniora, membangun nilai kemanusiaan sehingga terjamin keberlangsungan hidup semua mahluk di alam semesta ini.

Hari Tumpek Landep merupakan momentum umat Hindu untuk membersihkan atau merawat kendaraan kemudian dilanjutkan dengan menghaturkan sesaji di tempat suci dan kendaraannya masing-masing. Hal ini menjadi cukup istimewa bagi sebagian orang. Keistimewaan itu bisa dilihat dari kendaraan baik motor maupun mobil tampil beda dengan hari-hari biasa. Selain tampak lebih bersih, di bagian depan mobil diberi sesajen dan hiasan khusus terbuat dari rangkaian janur yang disebut ceniga, sampian gantung, tamiang dan kolem. Tak hanya kendaraan, bahkan hampir semua benda-benda teknologipun diberi suguhan sesajen atau bebanten dan dihias sedemikian rupa dengan kain warna-warni atau diisi berbagai bentuk reringgitan (hiasan terbuat dari janur).

Kearifan Lokal Hindu

Upacara Tumpek Landep, hari spesial mengupacarai berbagai benda ini datangnya setiap 210 hari, jatuh pada hari Sabtu Kliwon wuku Landep ( wuku ke –2 dari 30 wuku ). Perhitungan kedatangan hari suci Tumpek Landep ini didasarkan pada wewaran dan wuku yang merupakan kearifan lokal orang Bali. Dengan demikian, perayaan Tumpek Landep merupakan model pengamalan ajaran agama Hindu sesuai kearifan lokal di Bali bahkan di Nusantara. Karena meskipun agama Hindu berasal dari India, namun di India sendiri kita tidak akan menemukan tradisi upacara Tumpek Landep karena ritual ini betul-betul merupakan ciri khas Hindu Bali dan merupakan pernik-pernik Hindu di Nusantara.

Sementara dari perspekif Tattwa (philosofis umat Hindu), upacara Tumpek Landep dilaksanakan untuk memohon keselamatan kehadapan Sang Hyang Pasupati, manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan) sebagai dewa pencipta dan pemilik peralatan yang terbuat dari besi, perak, emas dan lain sebagainya. Di samping itu, juga sebagai wujud atau simbol puji syukur umat Hindu ke hadapan Sang Hyang Widhi yang telah memberikan pengetahuan dan kemampuan merangcang teknologi canggih sehingga tercipta benda-benda yang dapat membantu sekaligus mempermudah kehidupan manusia.

Ritual ini sesungguhnya merupakan event yang penuh spirit kemanusiaan, membangun manusia yang arif dalam memanfaatkan teknologi.

Selain menghaturkan sesajen pada kendaraannya, umat Hindu juga menghaturkan sesajen itu di atas benda-benda teknologi yang mengandung unsur besi, sepeda motor, sepeda, mesin-mesin, komputer, televisi, radio, pisau, keris, tombak, cangkul, dan berbagai jenis senjata.

Semua benda atau teknologi canggih itu memang harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat positif, sesuai dengan konsep hidup orang Bali yang berlandaskan Tri Hita Karana (hidup harmonis dengan Yang Maha Kuasa, dengan alam lingkungan, dan dengan sesama manusia). Karena itu seluruh peralatan yang dipakai manusia untuk mengolah isi alam, harus tetap terjaga kesucianya, sehingga selalu dapat digunakan dengan baik tanpa merusak alam atau menyakiti mahluk lain.

Sebagai ilustrasi, orang yang berprofesi sebagai petani akan merawat dan menjaga peralatan pertaniannya dengan baik, seperti bajak, cangkul, sabit, pisau, kapak, dan berbagai bentuk senjata seperti keris, tombak, bedil atau panah. Orang yang berprofesi sebagai pande (tukang membuat berbagai peralatan dari besi, baja, emas, perak) juga memelihara dan menjaga peralatannya agar tidak disalahgunakan untuk membuat benda-benda yang membahayakan kehidupan di alam semesta ini. Para sopir akan selalu merawat kendaraannya dengan baik, para operator komputer atau peralatan teknologi canggih lainnya juga akan bekerja dengan baik. (Baca: Hasil Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu)

Secara teknis, prosesi upacara Tumpek Landep diuraikan dalam Lontar Sundarigama. Adapun sesajen yang dipersembahkan pada hari Tumpek Landep terdiri tumpeng putih kuning selengkapnya dengan lauk sate, terasi merah, daun dan buah-buahan 29 tanding (kelompok) dihaturkan di Sanggah/ Merajan (tempat suci). Persembahan kepada Sanghyang Pasupati berupa sebuah Sesayut Pasupati, sebuah Sesayut Jayeng Perang, sebuah Sesayut Kusumayudha, Banten Suci, Daksina, Peras, Ajuman, Canang Wangi, Reresik atau Pabersihan. Besar kecilnya upacara ini dilaksanakan sesuai kemampuan seseorang atau disesuaikan dengan desa, kala, patra.

Tumpek Landep dan Kesadaran Menangani Limbah Industri

Seirama dengan perkembangan ekonomi dan teknologi yang ditandai dengan meningkatnya taraf hidup manusia, maka kini manusia pun semakin banyak memiliki peralatan rumah tangga yang terbuat dari besi, termasuk mobil, sepeda motor, sepeda, televisi, radio, dan lain-lain. Ada kesan orang-orang akan sangat bangga jika semakin banyak memiliki benda-benda material berbau teknologi canggih. Pola hidup orang jaman sekarang pun tampak telah jauh berubah dari pola hidup agraris ke industri dan konsumtif. Tanah persawahan dan lading mulai tergusur oleh pembangunan pertokoan/mall, perumahan, hotel, dan tempat-tempat usaha industri yang mengoperasikan mesin-mesin canggih.

Ritual Tumpek Landep bukan sekadar prosesi membuat dan menghaturkan sesajen, tetapi mengandung suatu pengharapan agar ritual ini dapat membangun kesadaran manusia, bahwa semua benda teknologi atau mesin-mesin industri itu harus terpelihara kesuciannya, termasuk penanganan limbahnya supaya tidak menimbulkan masalah bagi kehidupan manusia dan alam semesta.

Penanganan limbah industri sampai saat ini memang belum bagus dan ada yang mencemari lingkungan. Contohnya jika kita kebetulan melihat air sungai di seputar perkotaan bahkan di pedesaan misalnya, tampak berwarna hitam atau coklat penuh busa, itulah akibat dari pencemaran limbah industri. Kesadaran menangani limbah inilah seharusnya mulai dibangkitkan ketika merayakan hari Tumpek Landep.

Makna dari pelaksanaan upacara Tumpek Landep ini adalah untuk mengasah dan meningkatkan ketajaman pikiran serta mohon kekuatan lahir bathin agar manusia selamat dalam mengarungi samudra kehidupan. Dalam kitab Sarasamuccaya mengajak umat Hindu agar terus meningkatkan ketajaman dan kecerdasan akal serta pikiran dengan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Sebab dari semua mahluk yang dilahirkan ke dunia, hanya manusia yang dibekali kecerdasan akal pikiran, dan kesadaran. Manfaatkanlah kesempatan hidup itu untuk membebaskan diri dari samsara atau penderitaan dan kelahiran berulang-ulang.

Kita semua tentu berharap agar makna universal Tumpek Landep ini bisa dihayati dan diamalkan oleh seluruh umat manusia di muka bumi, sehingga tidak akan terjadi berbagai kerusakan lingkungan, perlombaan senjata serta perperangan di berbagai belahan dunia. Tentu akan sangat bagus jika spirit perdamaian dari upacara Tumpek Landep yang dilaksanakan orang Bali kini terus didengungkan ke seluruh pelosok dunia untuk membangun kehidupan dunia global yang damai sejahtera.

Agama Hindu dan Kemajuan Teknologi

Buku Himpunan Hasil Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu dalam Konteks Kemajuan Teknologi seperti diterbitkan Pemerintah Daerah Provinsi Bali tahun 1999 (halaman 48-49), memberi tuntunan praktis bagi umat Hindu dalam menyikapi kemajuan teknologi. “Hasil kesatuan tafsir ini diharapkan dapat mengajak umat Hindu bertindak bijaksana, menjaga keseimbangan antara kebutuhan bidang material dengan bidang mental spiritual,” tulis I Wayan Surpha dalam kata pengantar buku tersebut.

Kemajuan teknologi juga bisa sejalan dengan tujuan agama Hindu yakni moksa dan jagathita, mencapai kesejahteraan niskala dan sekala. Agama Hindu menerima teknologi secara selektif dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama Hindu. Teknologi itu hanya sebagai sarana penopang untuk mencapai tujuan hidup, termasuk dalam pelaksanaan upacara agama.

Yang menjadi tolok ukur dalam menerima atau menolak teknologi dalam kehidupan adalah: (a) Tri Semaya yaitu, atita artinya penyesuaian dengan masa lampau, wartamana artinya penyesuaian dengan masa sekarang, dan nagata artinya penyesuaian dengan masa yang akan datang; (b) Tri Pramana yaitu pratyaksa artinya berdasarkan penglihatan langsung, anumana artinya berdasarkan kesimpulan logis, agama artinya berdasarkan pemberitahun orang yang dapat dipercaya; (c) Rasa, Utsaha, Lokika, Desa, Kala, Patra.

Perihal blijul
Orang yang simpel dan sederhana. Suka tantangan dan suka menulis dari berbagi tulisan yang sekiranya menarik. Saya orang yang apa adanya. Lebih suka menggali diri sendiri dan keyakinan sendiri, tanpa bermaksud melukai orang lain. Jangan tersinggung dengan apa yang saya buat. Jika tak berkenan, jangan mampir ya.

2 Responses to Tumpek Landep Kearifan Lokal Umat Hindu Etnis Bali “Memanfaatkan Teknologi Untuk Kemanusiaan”

  1. nakbalibelog mengatakan:

    Om Swastiastu
    Rahajeng Tumpek Landep,
    Warisan budaya musti selalu dipertahankan dan dilaksanakan dalam rangka melestarikannya. Semangat Pendirianm Pura tempat ibadah di indonesia cukup tinggi, harus semangat itu lebih tinggi dalam menjaganya, tidak hanya pada hari raya saja kita rame, namun setelah itu sepi … sepi itulah kesempatan yang lain untuk memanfaatkannya … ngiring tingkatkan kepedulian kita pada tempat ibadah
    suksma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

Sang Widy

Just For Love In Your's Life

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

%d blogger menyukai ini: