Piodalan Pura Dharma Praja Bambu Apus

Drs. I Wayan Suastika, M.Ag. (Ketua piodalan-berdiri baju putih) menjalankan pedurmengalaan di pimpin Jero Mangku Cinere.

Senin, 29 Oktober 2012 lalu dilaksanakan piodalan di Pura Dharma Praja, Bambu Apus, Ciputat Tangerang Banten. Pura yang  terletak di rumah jabatan Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama R.I. ini piodalannya dilaksanakan setiap satu tahun sekali, yaitu pada Purnama Sasih Kalima.

Pura ini diamong oleh seluruh pegawai Ditjen Bimas Hindu dan umat Hindu sekitarnya. Pada piodalan kemarin hadir pula Sesditjen Bimas Hindu, I Wayan Suharta, S.Ag.,M.Si. dan Direktur Pendidikan Hindu, Drs. I.B. Gede Subawa, M.Si. yang didampingi pula oleh pejabat-pejabat eselon III dan IV Ditjen Bimas Hindu Kemenag R.I.

Sesditjen Bimas Hindu, I Wayan Suhartha, M.Si. (kanan) mengikuti prosesi piodalan di Pura Dharma Praja, Bambu Apus.

Ketua panitia upacara piodalan tahun ini adalah Drs. I Wayan Suastika, M.Ag. yang juga merupakan Kasubdit Pendidikan Dasar Direktorat Pendidikan Hindu mengatakan, “Rangkain upacara piodalan kali ini diawali dengan prosesi macaru dan dilanjutkan dengan aci piodalan yang dipimpin oleh Pinandita dari Pura Amertha Jati, Cinere”.

“Mengakhiri upacara piodalan, dilaksanakan dharma tula dan ramah tamah,” imbuhnya. (jul)

Iklan

MELASTI DALAM RANGKAIAN NYEPI TAHUN BARU SAKA 1934 DI JAKARTA

Dalam Rangakaian pelaksanaan hari Raya Nyepi, umat Hindu biasanya melaksanakan upacara melasti. Upacara melasti, mekiyis atau melis, intinya adalah penyucian Bhuana Alit (diri kita masing-masing) dan Bhuana Agung atau alam semesta ini. Dilakukan di sumber air suci kelebutan, campuan, patirtan dan segara.

Di Bali umat Hindu melaksanakan upacara Melasti dengan mengusung pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya dengan hati tulus ikhlas, tertib dan hidmat menuju samudra atau mata air lainnya yang dianggap suci. Upacara dilaksanakan dengan melakukan persembahyangan bersama menghadap laut. Setelah upacara Melasti usai dilakukan, pratima dan segala perlengkapannya diusung ke Balai Agung di Pura Desa.

Hal itu juga dilaksanakan oleh seluruh Umat Hindu di Jakarta. Kemarin Minggu (18/3/2012) Umat Hindu di Jakarta melaksanakan upacara Melasti secara serempak, yang dipusatkan di Pura Segara Cilincing Jakarta Utara. Baca pos ini lebih lanjut

PUJAWALI PURA AGUNG WIRA SATYA BHUANA PASPAMPRES TANAH ABANG JAKARTA PUSAT

Purnama Sasih Kasanga, bertepatan dengan Buda Kliwon Pahang (7/3/2012), dilangsungkan Upacara Piodalan/Pujawali dan pacaruan di Pura Agung Wira Satya Bhuana, Tanah Abang. Piodalan di sini memang dilakukan setahun sekali. Pura ini adalah satu-satunya pura yang ada di wilayah Jakarta Pusat, yang beralamat di Jl. Kesehatan, Komplek Paspampres, Tanah Abang.

Piodalan/Pujawali yang diawali dengan Upacara Pacaruan tersebut dimulai pukul 17.30 WIB, yang dipuput oleh Ida Padanda Gede Putra Sideman dari Gria Cileduk Banten. Piodalan kali ini merupakan piodalan yang ke-20, yang dihadiri juga oleh Dirjen Bimas Hindu, Ketua PHDI Pusat dan Pembimas Hindu Provinsi DKI Jakarta, Bapak I Gede Jaman, S.Ag.,M.Si. Baca pos ini lebih lanjut

PURA KAHYANGAN JAGAT

Umumnya, yang kita sebut dengan jagat, sesuai dengan pengertian leluhur kita adalah Bali. Padahal kini kebanyakan dari kita berpandangan jagat adalah dunia, bahkan ada yang langsung berasumsi bahwa jagat adalah kawasan semesta, lengkap dengan seluruh konstelasi bintang, nebula, komet sampai lubang hitam.

Marilah kita mulai berpikir lebih luas. Bayangkan bahwa Kahyangan Jagat dalam Hindu nanti akan mencakup pura Mandara Giri Semeru Agung di Senduro, Pura Luhur Poten di Bromo, Pura Jagatkerta Gunung Salak di Tamansari, juga Pura Payogan Agung Kutai di Kalimantan, bahkan pura agung Santi Buana di Belgia.

Mungkin tidak lama lagi kita akan punya pura Kahyangan Jagat di tiap benua, bahkan tiap negara, bahkan mungkin di antartika sekali pun. Sebenarnya leluhur kita juga sudah berpikir ke arah sana, karena itu Beliau tidak menamai konsep mereka dengan Kahyangan Bali atau Kahyangan Jawa atau lainnya. Kita inilah yang harus terus mengembangkan diri baik dari sisi sekala mau pun niskala. Baca pos ini lebih lanjut

DITJEN BIMAS HINDU KEMENAG R.I. MELAKSANAKAN BINTAL DI GUNUNG SALAK

Dirjen Bimas Hindu beserta Pejabat Eselon II dan Pengurus Pura

Bagi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) guna membangun citra positif di masyarakat harus mengedepankan kepentingan bersama dan bukan golongan atau perseorangan. Dengan berfikir, berkata, dan berbuat baik atau yang biasa disebut Tri Kaya Parisudha merupakan salah satu alternatif perwujudan PNS yang seutuhnya, yang berkarakter dan bertanggung jawab terhadap tugas dan fungsinya sebagai seorang abdi masyarakat.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, pada hari Jumat (23/12/11) lalu melaksanakan acara Pembinaan Mental (bintal) seluruh pegawai di Pura Parhyangan Agung Jagatkartha, Gunung Salak, Bogor. Yang dihadiri juga oleh seluruh unit eselon Ditjen Bimas Hindu.

Bintal dilaksanakan setiap tahun sekali. Acara ini terlaksana dari APBN DIPA Ditjen Bimas Hindu Tahun 2011. Yang diisi dengann kegiatan persembahyangan dan Dharma Wacana. Tujuan pelaksanaan bintal ini tidak lain adalah sebagai sarana pembinaan mental pegawai dan sekaligus  untuk peningkatan Sradha dan Bhakti sebagai umat Hindu. Baca pos ini lebih lanjut

TUTURAN BHATARI BATUR

Masyarakat Batur, Kintamani, Bangli, percaya bahwa penyembah Pura Ulun Danu Batur yang berjumlah 45 buah desa itu bermula dari tuturan yang berkembang secara turun tumurun. Di sampung itu, terdapat pula bukti arkeologis tentang tuturan tersebut yakni sebuah labu yang dipakai menjual air. Di Batur tuturan tersebut terkenal dengan nama Ida Bhatari Batur Madolan Toya. Secara singkat ceritanya seperti yang diceritakan oleh Jro Mangku Kridit, Ketut Samua, dan Nengah Tekek berikut ini.

Tersebutlah Batari Batur setelah menetap di Batur, dan memiliki air cukup besar, berupa sebuah danau. Beliau berkeinginan menjual atau menukar airnya ke desa-desa tetangganya. Karena merasa canggung sebagai putri, beliau merubah dirinya menjadi seorang laki-laki yang kudisan, berbau dengan pakaian compang-camping. Beliau memikul dua buah labu besar berisi air, menuju arah Timur Laut, melewati Pura Balingkang. Setibanya di perbatasan Desa Blandingan, beliau merasa kecapaian dan mengaso. Karena merasa terlalu berat maka sebagian airnya ditumpahkan di sana sehingga menjadi Manik Muncar, yang letaknya di sebelah Barat Laut Belandingan. Baca pos ini lebih lanjut

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

WP SHOP COLLECTION

Belanja Murah Terjamin & Berkualitas, Disini Tempatnya!!!

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian