Tradisi “Perang Api” Di Jasri dan Saren, Karangasem

perang apiAda sejumlah tradisi budaya khas di Kabupaten Karangasem, Bali yang unik dan menarik bercirikan “perang” bernafaskan”heroisme”, hingga kini masih hidup dilakoni masyarakatnya. Tradisi “Perang” apa saja itu? diantaranya “Perang Rotan” atau yang oleh masyarakat setempat disebut Gebug Ende, terdapat di Desa Seraya (Kec. Karangasem), “Perang Api” (Terteran) di Desa Jasri (Kec. Karangasem), “Perang Jempana” dan “Perang Pelepah Pisang” (Tetabahan) di Desa Bugbug (Kec. Karangasem), “Perang Buah Pisang”, Masabat-Sabatan Biyu  di Desa Tenganan Dauh Tukad, dan “Perang Pandan Berduri” yang dikenal dengan Mekare-Kare terdapat di Desa Tenganan Pegeringsingan (Kec. Manggis) salah satu desa penduduk Bali Aga (Bali asli).

Salahsatunya yang akan kita bahas kali ini adalah “Perang Api” atau yang disebut dengan Terteran oleh masyarakat di Desa Jasri, Kelurahan Subagan, Kec./Kab. Karangasem, sekitar 4 km dari kota Amlapura menuju jalur arah jalan Amlapura–Denpasar. Terteran sama artinya dengan lempar-lemparan.

Tradisi Terteran yang digelar setiap dua tahun sekali pada tahun bilangan genap ini, terkait dengan digelarnya upacara desaAci Muu-Muu yang diselenggarakansetiapPengerupukan hariTilem Kasanga, sehari sebelum hari Nyepi. Tradisi ini bertujuan untuk menetralisir roh jahat yang mengganggu kehidupan manusia. Baca pos ini lebih lanjut

TRADISI PERANG TIPAT-BANTAL DI MENGWI

tradisi perang tipat-bantal seru, di Desa Kapal, Mengwi.

Perang Tipat-Bantal adalah sebuah tradisi tahunan yang digelar sejak tahun 1337 oleh masyarakat lokal di Desa Adat Kapal, Mengwi,  Kabupaten Badung, Bali. Perang yang tergolong unik itu setiap tahun sekali wajib dilakukan masyarakat Desa Kapal, sesuai perintah (bhisama) Ki Kebo Iwa sejak tahun 1263 atau tahun 1341 masehi yang merupakan ungkapan syukur warga kepada Tuhan, atas rezeki dan nikmat yang telah diberikan. Kepercayaan tersebut dilakukan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga kini masih tetap lestari. Ritual perang tipat-bantal tahun ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 09 Oktober 2012 pukul 15.00 Wita yang berlokasi di Pura Desa Kapal.

Perang ketupat ini ditujukan kepada masyarakat Desa Kapal untuk melakukan “Tajen pengangon” untuk mohon keselamatan dan kesejahteraan umat manusia. Tradisi ini sering juga disebut Aci Rah Pengangon oleh masyarakat setempat. Baca pos ini lebih lanjut

TRADISI SIAT SAMPIAN

TRADISI SIAT SAMPIAN

Berlokasi di Pura Samuan Tiga, Bedulu Gianyar, setiap tahun rutin dilaksanakan tradisi/upacara Siat Sampian yang merupakan rentetan upakara karya di pura tersebut. Tradisi yang dilaksanakan setiap tahun sekali ini juga menarik perhatiann wisatawan asing.  Moment Perang Siat Sampian ini juga diabadikan puluhan photographer baik asing maupun lokal.

Sebelum tradisi ini dimulai, dilakukan upacara Nampiog, Ngober dan Meguak-guakan. Dalam upacara ini, ratusan warga mengelilingi areal pura sambil menggerak-gerakkan tangan mereka seperti burung gagak (goak).

Prosesi ini diikuti oleh para permas atau ibu-ibu yang sudah disucikan. Selain ibu-ibu, para pemangku pura setempat juga ikut mengelingi areal Pura. Setelah prosesi ini selesai dilanjutkan dengan upacara Ngombak. Pada upacara ini para wanita yang berjumlah 46 orang, serta laki-laki atau sameton parekan yang juga sudah disucikan berjumlah 309 orang melakukan upacara Ngombak (melakukann gerakan seperti ombak). Baca pos ini lebih lanjut

TRADISI “MBED-MBEDAN” DI SEMATE

Warga Desa Adat Semate antusias melaksanakan tradisi mbed-mbedan.

Setiap Ngembak Geni, sehari setelah Hari Raya Nyepi, masyarakat dapat menyaksikan gelaran tradisi unik di Desa Adat Semate, Kelurahan Abianbase, Kecamatan Mengwi-Badung. Upacara/tradisi menarik itu dinamakan Mbéd-Mbédan. Seperti yang diberitakan Bali Post, Tradisi warisan leluhur itu sempat vakum selama hampir 40 tahun, namun belakangan ini dibangkitkan kembali. Seperti apa tradisi tersebut?

RAJA PURANA MENYEBUTKAN

Mbed-mbedan tak terlepas dari keberadaan Desa Adat Semate. Dalam Raja Purana itu dikisahkan, Rsi Mpu Bantas melakukan perjalan suci ke sebuah hutan yang ditumbuhi kayu putih. Di situ beliau bertemu dengan sanak keturunan Mpu Gnijaya. Beliau sempat bertanya kepada warga, kenapa berada di wilayah hutan itu. Warga kemudian menjawab alasannya, karena tidak sependapat dengan tindakan raja. Karena hutan itu angker, Rsi Mpu Bantas menyarankan warga membuat tempat pemujaan agar selamat. Baca pos ini lebih lanjut

MELIRIK OGOH-OGOH DI JAKARTA SAAT NGERUPUK 2012 (Part 3 End)

Swastyastu sahabat bloger. Okay… saatnya menyelesaikan berbagi cerita lirik-melirik Ogoh-Ogoh di Jakarta kali ini. Setelah cerita dan gambar Melirik Ogoh-Ogoh Part 1 dan Part 2 yang lalu, sekarang giliran part 3 end. Ini semua adalah foto Ogoh-Ogoh yang pertama kali saya ambil di Jakarta. Walau dalam perayaan Nyewi 1934 Saka ini saya gak bisa menikmatinya bersama keluarga di Bali, ternyata hikmah perayaan Nyepi bisa saya rasakan juga di Jakarta. Wahhh.. ini benar-benar “sesuatu banged…!!”.

Baik sahabat bloger semuanya, kita lirik lagi gambar-gambar terakhir yuk……..!! Cekidot gan… ^_^ Baca pos ini lebih lanjut

MELIRIK OGOH-OGOH DI JAKARTA SAAT NGERUPUK 2012 (Part 2)

Wah lama gak ngepost lanjutan dari lirikan mata masyarakat Jakarta saat Ngerupuk (Acara Taur Kasanga) di Monas. Oke,, hari ini akan saya lanjutkan cerita Melirik Ogoh-Ogoh di Jakarta saat Ngerupuk 2012 (part 1) setelah Taur Kasanga  kemarin.

Oh iyaaa, Parade Ogoh-Ogoh tahun 2012 di Monas ini didukung sepenuhnya oleh Gubernur DKI Jakarta, Bapak Fauzi Bowo yang akrab disapa Foke. Bahkan Bapak Gubernur sendiri  yang membuka acara Parade Ogoh-Ogoh ini. Salut deh buat Pak Foke. Semoga acara Taur Kasanga, Ngrupuk dan Parade Ogoh-Ogoh  ini bisa dilaksanakan terus di Monas setiap tahun sekali.

Yuk kita lanjut untuk larak-lirik kreasi pemuda Hindu di Jakarta melalui Parade Ogoh-Ogoh 2012 se-Jabodetabek Kamis (22/3/2012) lalu. Ikuti saya yukz…., ngintil ya, gak usah pake teropong ngintipnya.. ^_^ Baca pos ini lebih lanjut

MELIRIK OGOH-OGOH DI JAKARTA SAAT NGERUPUK 2012 (Part 1)

Bicara Masalah Nyaga atau Ngrupuk sebagai salah satu rentetan upacara Nyepi, pasti identik dengan Ogoh-Ogoh. Ogoh-Ogoh merupakan sebuah apresiasi budaya, pengembangan daya kreatifitas pemuda di Bali pada awalnya, yang dianggap sebagai perwujudan nyata Sang Kala yang di somya saat itu. Di Bali setiap tahun Ogoh-Ogoh selalu menghiasi perayaan Nyaga/Ngrupuk/Tawur Agung, bahkan Ogoh-Ogoh juga dilombakan.

Pertanyaannya sekarang, “Apakah hanya di Bali saat Pangrupukan (Taur Agung sasih Kasanga) membuat Ogoh-Ogoh?

Eitt.. eiitz.. jangan salah lho..!! Di Jakarta ternyata pemuda Hindu juga membuat Ogoh-Ogoh untuk dipentaskan saat upacara Pangrupukan dan dipentaskan bersamaan di Silang Monas. Nahh, seperti apa rupa Ogoh-Ogohnya? Kita lirik sama-sama yukz…………!!

Gambar 1.

Cakra Mukti, Madu Sudana Angruat Buta Bakasura. Ogoh-Ogoh karya Kesatuan Pemuda Suka Duka Hindu Dharma (KPSDHD) Rawamangun, Penyungsung Pura Aditya Jaya Rawamangun Jakarta Timur ini bercerita tentang turunnya Dewa Wisnu menjadi Madu Sudana guna membunuh raksasa Bakasura yang terkenal kejam dan bengis.

Gambar 2.

Mahakala, karya pemuda Hindu Banjar Jakarta Pusat, penyungsung Pura Agung Wira Satya Bhuana Paspampres Tanah Abang. Pemuda di sini kebanyakan adalah TNI dan dari Pasukan Pengaman Presiden. Ogoh-ogoh ini bercerita tentang penciptaan alam semesta dan penjelmaan Dewi Uma, sakti dewa Siwa menjadi Dewi Durga.

Gambar 3.

Narasinga Wijaya, karya pemuda Hindu Banjar Suka Duka Depok, sebuah cerita tentang turunnya Wisnu ke dunia untuk mendamaikan suasana di bumi melawan raja raksasa Hiranyakasipu yang kejam karena kelalimannya merasa mendapatkan berkah dari Brahma untuk tidak mati oleh manusia, dewa, ataupun kala, tidak di darat, air, ataupun di udara. Hiranyakasipu adalah raja yang menyengsarakan rakyat, menebar benih ketakutan.

Gambar 4.

Kala Tara, Karya Pemuda Hindu (KPSHD) di Lenteng Agung Jakarta Selatan. Ogoh-Ogoh ini bercerita tentang sifat manusia di jaman sekarang yang dipengaruhi oleh Kala Tara yang mengendalikan keserakahan manusia, manusia tidak pernah puas dengan apa yang dicapainya. Tanpa melihat saudara, kawan, atau lawan, demi ambisi dan keinginannya menghalalkan segala cara untuk menggapainya. Hal itu disimbulkan dengan raksasa yang menggendong Bumi dan ingin menguasainya sendiri.

Gambar 5.

Raksasa Alengka - Bercerita tentang sifat-sifat kerakusan, kekejaman dan kejahatan para raksasa di Negeri Alengka yang dipimpin oleh Rahwana Raja. Ogoh-Ogoh ini karya Pemuda Hindu banjar Ciangsana.

bersambung….. Part 2

MELASTI DALAM RANGKAIAN NYEPI TAHUN BARU SAKA 1934 DI JAKARTA

Dalam Rangakaian pelaksanaan hari Raya Nyepi, umat Hindu biasanya melaksanakan upacara melasti. Upacara melasti, mekiyis atau melis, intinya adalah penyucian Bhuana Alit (diri kita masing-masing) dan Bhuana Agung atau alam semesta ini. Dilakukan di sumber air suci kelebutan, campuan, patirtan dan segara.

Di Bali umat Hindu melaksanakan upacara Melasti dengan mengusung pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya dengan hati tulus ikhlas, tertib dan hidmat menuju samudra atau mata air lainnya yang dianggap suci. Upacara dilaksanakan dengan melakukan persembahyangan bersama menghadap laut. Setelah upacara Melasti usai dilakukan, pratima dan segala perlengkapannya diusung ke Balai Agung di Pura Desa.

Hal itu juga dilaksanakan oleh seluruh Umat Hindu di Jakarta. Kemarin Minggu (18/3/2012) Umat Hindu di Jakarta melaksanakan upacara Melasti secara serempak, yang dipusatkan di Pura Segara Cilincing Jakarta Utara. Baca pos ini lebih lanjut

NYAAGANG MERUPAKAN PENGHORMATAN KEPADA LELUHUR

Tradisi Nyaagang dilakasanakan bertepatan dengan perayaan Hari Raya Suci Kuningan yang jatuh pada Saniscara (Sabtu) Kliwon wuku Kuningan, sebagian besar masyarakat Klungkung menggelar Tradisi ini. Upacara (tradisi) Nyaagang ini dilaksanakan di depan angkul-angkul rumah masing-masing sebelum tengah hari. Kata nyaagang berasal dari kata saag mendapatkan awalan N- (nasal ny-) dan akhiran -ang sehingga menjadi nyaagang.

Upacara Nyaagang oleh sebagian besar umat Hindu di Klungkung, dimaknai sebagai wujud kembalinya roh leluhur ke alam Nirwana (surga). Roh leluhur diyakini datang berkunjung ke alam marcapada selama Galungan hingga Kuningan.

Menurut Jero Mangku Mujana, mantan Klian Gede Pura Dalem Bugbungan, Gelgel, Klungkung, roh leluhur diyakini datang pada Penampahan Galungan menengok keturunannya yang masih hidup. “Penampahan Galungan dimaknai sebagai Nampe, yang artinya menerima kedatangan roh leluhur”, ujar Jero Mangku Mujana. Baca pos ini lebih lanjut

OMED-OMEDAN SEBUAH TRADISI UNIK SAAT NGEMBAK GENI

Omed-omedan atau juga disebut Med-medan rutin digelar setiap tahun, sehari setelah hari raya Nyepi atau yang disebut sebagai hari Ngembak Geni. Konon, acara ini sudah diwariskan sejak tahun 1900-an dan hanya bisa ditemukan di Banjar Kaja Sesetan. Warga setempat meyakini, bila acara ini tak diselenggarakan, dalam satu tahun mendatang berkah Sang Dewata sulit diharapkan dan berbagai peristiwa buruk akan datang menimpa. Pernah pada 1970-an ditiadakan, tiba-tiba di pelataran Pura terjadi perkelahian dua ekor babi. Mereka terluka dan berdarah-darah, lalu menghilang begitu saja. Peristiwa itu dianggap sebagai pertanda buruk bagi semua warga Banjar.

SEJARAH OMED-OMEDAN

Wayan Sunarya tokoh masyarakat di Banjar Kaja Sesetan menceritakan, tradisi omed-omedan itu merupakan tradisi leluhur yang sudah dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda. Awalnya ritual ciuman massal itu dilakukan di Puri Oka. Puri Oka merupakan sebuah kerajaan kecil pada zaman penjajahan Belanda.

Ceritanya, pada suatu saat konon raja Puri Oka mengalami sakit keras. Sang raja sudah mencoba berobat ke berbagai tabib tapi tak kunjung sembuh. Sehari setelah Hari Raya Nyepi (saat Ngembak Geni), masyarakat Puri Oka menggelar permainan omed-omedan. Saking antusiasnya, suasana jadi gaduh akibat acara saling rangkul para muda-mudi. Raja Puri Oka yang saat itu sedang sakit pun marah besar karena keriuhan dan keributan yang diakibatkan oleh suara Muda-Mudi yang mengikuti acara Omed-Omedan tersebut. Dengan berjalan terhuyung-huyung raja keluar dan melihat warganya yang sedang rangkul-rangkulan. Anehnya, ketika  melihat adegan yang panas itu, tiba-tiba raja tak lagi merasakan sakitnya. Ajaibnya lagi raja kembali sehat seperti sediakala.

Raja lalu mengeluarkan titah agar omed-omedan harus dilaksanakan tiap tahun sekali, yaitu sehari setelah Hari Raya Nyepi (pada saat Ngembak Geni). Namun pemerintah Belanda yang waktu itu menjajah gerah dengan upacara itu. Belanda pun melarang ritual permainan muda-mudi tersebut. Warga akhirnya tidak menggelar omed-omedan. Namun, setelah omed-omedan tidak dilaksanakan lagi, tiba-tiba ada 2 ekor babi besar berkelahi di tempat omed-omedan biasa digelar. “Akhirnya raja dan rakyat meminta petunjuk kepada leluhur. Setelah itu omed-omedan dilaksanakan kembali sehari setelah Hari Raya Nyepi”, kata Wayan Sunarya. Baca pos ini lebih lanjut

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

WP SHOP COLLECTION

Belanja Murah Terjamin & Berkualitas, Disini Tempatnya!!!

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

Different kind of Mahabharata

Another stories behind the epic

nakbaliblog

Jadilah Apa Yang Kita Suka, Bikinlah Apa Yang Kita Suka, Jalanilah Apa Yang Kita Suka

Artikel Ajaran Agama Hindu

Artikel Agama Hindu, Ajaran atau Pelajaran Tentang Agama Hindu