Tumpek Landep: Makna dan Tujuannya

Om Swastyastu, 

Tumpěk Landěp dirayakan setiap Saniścara Kliwon Wuku Landěp. Tumpěk Landěp adalah tumpek yang pertama dalam satu siklus pawukon dirayakan setiap 210 hari sekali. Pada Tumpek Landěp adalah pemujaan Sang Hyang Pasupati, dan juga sebagai pujawali Batara Siwa. 

Dalam lontar Sundarigama disebutkan: 

“…Kunang ring wara landěp, saniścara kliwon pūjawalin bhatara śiwa, miwah yoganira Sanghyang Paśupati….kalinganya rikang wwang, apaśupati landěp ing iděp, samangkana lěkasakna  sarwa mantra wiśesa, danurdhara, uncarakna ring bhusananing papěrangan kunang, minta kasidhyan ring Sanghyang Paśupati…”. (artinya pada wuku landěp yaitu Saniscara Kliwon wuku Landěp  merupakan hari suci bhatara Śiwa dan Sanghyang Paśupati…adapun untuk manusia selalu mengasah pikiran menjadi tajam, demikian juga merapalkan mantra-mantra mujarab, untuk senjata panah, pada bhusana perang, mohon anugrah keberhasilan kepada Sanghyang Paśupati)

Tumpěk Landěp memuliakan Teknologi.

Tumpěk Landěp merupakan hari peringatan untuk memohon keselamatan kehadapan Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sanghyang Paśupati.  Tumpěk Landěp merupakan momentum umat Hindu di Bali sebagai pernyataan syukur dan menghargai keberadaan teknologi (terbuat dari besi, logam, perak, emas dan sejenisnya), karena telah membantu manusia dalam menjalani hidup dan penghidupannya. Teknologi membuat manusia bisa menaklukkan berbagai kesulitan-kesulitan dalam hidup dan menempatkan manusia meningkatkan taraf kehidupannya.

Tumpěk Landěp juga sebagai wujud puji syukur umat Hindu kehadapan Sang Hyang Widhi yang telah memberikan pengetahuan dan kemampuan merancang teknologi canggih sehingga tercipta benda-benda yang dapat membantu sekaligus mempermudah kehidupan manusia. Ungkapan terima kasih dan pengharapan umat Hindu agar segala benda yang telah membantu aktivitas manusia diberkahi sehingga dapat memberikan manfaat bagi kebahagiaan umat manusia. 

Makna Perayaan Tumpěk Landěp

Kata landěp memiliki pengertian lancip, runcing, tajam atau ketajaman. Secara harfiah diartikan senjata tajam seperti tombak dan keris. Benda-benda tersebut berfungsi sebagai senjata untuk menegakkan kebenaran. Oleh karena itu benda-benda tersebut diupacarai. Namun dalam konteks kekinian dan kedisinian, senjata lancip itu telah meluas, tak hanya keris dan tombak, juga benda-benda hasil cipta karsa manusia yang dapat mempermudah hidup seperti sepeda motor, mobil, mesin, computer, laptop dan sebagainya. Benda-benda itulah yang diupacarai, namun umat Hindu bukanlah menyembah benda-benda teknologi tersebut, tetapi memohon kepada Sanghyang Paśupati yang telah menganugerahkan kekuatan pada benda tersebut sehingga dapat bermanfaat dan mempermudah hidup.

Makna ke dalam Tumpěk Landěp merupakan tonggak penajaman pikiran (landeping idep). Penyadaran kepada manusia mengenai instrumen terpenting dalam kehidupan ini adalah idep (daya pikir). Kemampuan berpikir (idep) inilah yang menjadikan manusia sebagai makhluk termulia dibandingkan tumbuhan dan hewan. Sepatutnya manusia tiada henti-hentinya mengasah ketajaman pikirannya sehingga tercapai kecemerlangan budhi. Dengan kecemerlangan budhi akan mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Perayaan Tumpěk Landěp adalah mengucapkan puji syukur kepada Sanghyang Paśupati yang telah menganugrahi kecerdasan dan ketajaman pikiran kepada manusia. Senjata yang paling utama dalam kehidupan ini adalah pikiran, karena pikiranlah yang mengendalikan semuanya yang ada. Semua yang baik dan yang buruk dimulai dari pikiran. Pikiran  melahirkan daya cipta rasa dan karsa manusia dalam menciptakan sesuatu yang dapat mempermudah kehidupannya untuk mencapai kebahagiaan. 

Tumpěk Landěp tak berdiri sendiri-hampir semua hari-hari suci umat Hindu saling berkaitan. Tumpěk Landěp merupakan rentetan setelah hari raya Saraswati. Hari suci Saraswati dimaknai sebagai hari pemuliaan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan membuat manusia bisa mencapai kecerdasan, ketajaman logika juga kebijaksanaan. Selanjutnya Pagěrwěsi bermakna membentengi diri dari pengaruh negatif agar ilmu pengetahuan bermanfaat dalam mensejahtrakan diri sendiri dan masyarakat.

Tumpěk Landěp sepuluh hari setelah Saraswati adalah simbol untuk pemantapan ilmu pengetahuan untuk memperbaiki kwalitas diri maupun pengamalan diri. Ilmu Pengetahuan itu harus dikukuhkan, dipasupati, agar runcing sehingga bisa dimanfaatkan untuk menuntun dan membedah segala masalah manusia dalam kehidupan di dunia. 

Begitu tingginya filosofi umat Hindu di Bali dalam memaknai segala sesuatu yang ada di dalam kehidupannya. Ini juga yang membuat Bali dikenal sangat unik dan eksotis bagi orang-orang yang pernah mengunjunginya. Hendaknya teologi dan budaya nusantara seperti inilah yang sepatutnya di lestarikan sebagai bentuk warisan para leluhur, yang menunujukkan jati diri dan karakter Bali di tanah Nusantara. 

Om ā no bhadrah kratavo yantu viśvatah (Semoga segala pikiran yang baik datang dari segala penjuru).

Om śāntih śāntih śāntih Om. (Made Surada- Dosen IHSAN Denpasar)

Iklan

Tumpek Landep

Pada hari suci Tumpek Landep di Bali kita akan melihat semua peralatan yang terbuat dari besi dan tembaga termasuk  senjata bedil, pistol, mobil dan sepeda motor yang lalu-lalang di jalan raya  diisi sesajen dan hiasan khusus dari janur yang disebut “ceniga”, “sampian gantung”, dan “tamiang”.

Kegiatan ritual menggunakan kelengkapan sarana banten, rangkaian janur kombinasi bunga dan buah-buahan dipersembahkan untuk berbagai jenis alat produksi dan aset dari bahan besi, tembaga dan emas. Upacara itu umumnya dilakukan di masing-masing rumah tangga dengan skala besar dan kecil sesuai kemampuan dari keluarga bersangkutan. Semua itu bermakna untuk memohon keselamatan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pasupati.

Semua itu merupakan wujud puji syukur orang Bali ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena telah memberikan pengetahuan dan kemampuan merancang teknologi canggih, hingga tercipta benda-benda yang dapat mempermudah manusia dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi canggih harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat positif, sesuai dengan konsep hidup orang Bali yaitu “Tri Hita Karana”, hubungan yang harmonis dan serasi sesama umat manusia, lingkungan dan Tuhan Yang Maha Esa. Kegiatan ritual berkaitan dengan Tumpek Landep di masing-masing keluarga maupun perusahaan dan kantor berlangsung sejak pagi, sore hingga malam hari.  Baca pos ini lebih lanjut

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

Sang Widy

Just For Love In Your's Life

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian