Bhatara Kala (Wayang Sapuleger Dalam Mitology Bali)

Ogoh-ogoh “Wayang Sapuh Leger” garapan Sekaa Teruna Dharma Yowana Br. Anggarkasih Sanur Kecamatan Denpasar Selatan

Dalam kitab Kala Tattwa diceritakan, pada waktu Bhatara Guru (Dewa Siwa) sedang jalan-jalan dengan Dewi Uma di tepi laut, “air mani” Dewa Siwa menetes ke laut ketika melihat betis Dewi Uma karena angin berhembus menyingkap kain Sang Dewi. Dewa Siwa ingin mengajak Dewi Uma untuk berhubungan badan, namun Sang Dewi menolaknya karena prilaku Dewa Siwa yang tidak pantas dengan prilaku Dewa-Dewi di kahyangan. Akhirnya mereka berdua kembali ke kahyangan. Air mani Dewa Siwa menetes ke laut kemudian ditemukan oleh Dewa Brahma dan Wisnu. Benih tersebut kemudian diberi japa mantra. Dari benih seorang Dewa tersebut, lahirlah seorang rakshasa yang menggeram-geram menanyakan siapa orangtuanya. Atas petunjuk dari Dewa Brahma dan Dewa Wisnu, raksasa itu mengetahui bahwa Dewa Siwa dan Dewi Uma adalah orangtuanya. Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

KALA TATTWA (Purwa Gama Sesana)

BATARA KALA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa Bali

Ada cerita di Purwa Gama Sesana, Kala Tatwa namanya. Diceritakan keadaan Bhatara Kala yang tak pernah puas memakan binatang dan manusia. Hingga akhirnya keberadaan binatang dan manusia itu hampir punah dimakan oleh Bhatara Kala. Oleh karenanya, manusia pada berlarian terbirit-birit sambil memanggil-manggil Tuhan Yang Maha Esa. Nah, pada saat manusia itu berlari-lari, saat itulah banyak yang mati. Sehari bisa sepuluh orang, biasa juga seratus, bahkan ada sampai seribu yang meninggal dalam satu hari. Hal ini dikarenakan ada yang jatuh ke jurang, ditabrak lahar, tertimpa gunung, dan semua itu adalah ulah dari Bhatara Kala. Hal ini ada dalam Purwa Gama Sesana, inilah kutipannya “tan weruh ring patinia”, tidak ada yang tahu, tidak ada firasat apa-apa tiba-tiba mati, seperti terkena air bah, seperti kejadian di Sumatera. Terkena api, jatuh ke jurang, semua itu akibat dimakan Bhatara Kala.

Manusia yang selamat dan masih sibuk terus memanggil-manggil Tuhan Yang Maha Esa, dan saat itu juga muncul sesosok perempuan tua dengan perawakan tunggal. Ialah yang menghadang Bhatara Kala untuk memakan manusia. Karena kesalnya, Bhatara Kala pun marah dan menerkam perempuan tua itu, tetapi tiba-tiba saja menghilang dan muncul lagi. Kemudian diterkamnya lagi perempuan itu dan menghilang lagi, seperti orang yang hendak menangkap asap, begitu diambil lenyap begitu saja. Akhirnya Bhatara Kala pun menangis, karena merasa dikalahkan oleh sosok perempuan tua yang bernama Sang Hyang Tunggal itu. Karena Bhatara Kala menangis, para manusia yang tadinya berlarian pun berhenti dan  bertanya “”Kenapa Bhatara Kala menangis, dan kenapa Ia tidak bisa menangkap orang tua itu, padahal ia seorang perempuan?”. Baca pos ini lebih lanjut

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

WP SHOP COLLECTION

Belanja Murah Terjamin & Berkualitas, Disini Tempatnya!!!

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

Different kind of Mahabharata

Another stories behind the epic

nakbaliblog

Jadilah Apa Yang Kita Suka, Bikinlah Apa Yang Kita Suka, Jalanilah Apa Yang Kita Suka

Artikel Ajaran Agama Hindu

Artikel Agama Hindu, Ajaran atau Pelajaran Tentang Agama Hindu

svaramahardika

Tiada Kebebasan Abadi Tanpa Adanya Aturan Yang Mengikat