Pemaknaan Hari Suci Saraswati

Oleh : Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Wijayananda, Giriya Kutuh, Kelurahan Kuta, Badung.

Ida Pandhita Mpu

OM, Swastyastu.
Saraswati adalah nama dari seorang Dewi, yang merupakan Sakti dari Bhatara Brahma. Dewi Saraswati diyakini oleh umat Hindu merupakan manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai Dewi-Nya ilmu pengetahuan. Di Bali, Beliau juga disebut dengan nama Sang Hyang Aji Saraswati sebagai Hyang-Hyanging Pangaweruh.

Dewi Saraswati diwujudkan sebagai sesosok Dewi yang amat cantik rupawan, bertangan empat masing-masing memegang Wina(rebab) , Pustaka (rontal), Genitri (tasbih/Japa mala), dan bunga teratai. Beliau dilukiskan sedang berdiri di atas seekor angsa, dan di sebelahnya ada burung merak. Oleh umat Hindu di India ,pemujaan terhadap Dewi Saraswati dilakukan dalam Murti Puja. Sedangkan di Bali dan di Indonesia pada umumnya, pemujaan terhadap Beliau dilakukan dalam bentuk rerainan atau hari raya. Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Mitologi Batara Kala Dalam Pewayangan Jawa

BATARA KALA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Cirebon

Menurut cerita wayang Purwa. Ini terjadi ketika pada suatu saat Batara Guru bertamasya bersama istrinya, Dewi Uma, menunggang Lembu Andini mengarungi angkasa. Di atas Nusa Kambangan, dalam keindahan pemandangan senja hari, Batara Guru tergiur melihat betis istrinya. Ia lalu merayu Dewi Uma agar mau melayani hasratnya saat itu juga, di atas punggung Andini. Tetapi istrinya menolak. Selain karena malu, Dewi Uma menganggap perbuatan semacam itu tidak pantas dilakukan.

Karena gairah Batara Guru tak tertahankan lagi, akhirnya jatuhlah kama benihnya ke samudra. Seketika itu juga air laut bergolak hebat. Benih kama Batara Guru menjelma menjadi makhluk yang mengerikan. Dengan cepat makluk itu tumbuh menjadi besar. la menyerang apa saja, melahap apa saja. Untuk meredakan kekalutan yang terjadi, Batara Guru memerintahkan beberapa orang dewa membasmi makhluk itu. Namun dewa-dewa itu tak ada yang mampu menghadapi makhluk itu. Mereka akhirnya bahkan lari pulang ke kahyangan. Makhluk ganas itu segera mengejar para dewa sampai ke Kahyangan Suralaya, tempat kediaman Batara Guru. Setelah berhadapan dengan Batara Guru makhluk itu menuntut penjelasan, ia anak siapa, untuk kemudian minta nama dari ayahnya. Batara Guru yang maklum keadaannya, segera memberi tahu bahwa makhluk itu adalah anaknya yang terjadi karena kama salah. Batara Guru memberinya nama Kala, dan mengangkatnya sederajat dengan dewa, sama dengan anak-anaknya yang lain. Dengan demikian, ia bergelar Batara Kala. Baca pos ini lebih lanjut

Bhatara Kala (Wayang Sapuleger Dalam Mitology Bali)

Ogoh-ogoh “Wayang Sapuh Leger” garapan Sekaa Teruna Dharma Yowana Br. Anggarkasih Sanur Kecamatan Denpasar Selatan

Dalam kitab Kala Tattwa diceritakan, pada waktu Bhatara Guru (Dewa Siwa) sedang jalan-jalan dengan Dewi Uma di tepi laut, “air mani” Dewa Siwa menetes ke laut ketika melihat betis Dewi Uma karena angin berhembus menyingkap kain Sang Dewi. Dewa Siwa ingin mengajak Dewi Uma untuk berhubungan badan, namun Sang Dewi menolaknya karena prilaku Dewa Siwa yang tidak pantas dengan prilaku Dewa-Dewi di kahyangan. Akhirnya mereka berdua kembali ke kahyangan. Air mani Dewa Siwa menetes ke laut kemudian ditemukan oleh Dewa Brahma dan Wisnu. Benih tersebut kemudian diberi japa mantra. Dari benih seorang Dewa tersebut, lahirlah seorang rakshasa yang menggeram-geram menanyakan siapa orangtuanya. Atas petunjuk dari Dewa Brahma dan Dewa Wisnu, raksasa itu mengetahui bahwa Dewa Siwa dan Dewi Uma adalah orangtuanya. Baca pos ini lebih lanjut

KALA TATTWA (Purwa Gama Sesana)

BATARA KALA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa Bali

Ada cerita di Purwa Gama Sesana, Kala Tatwa namanya. Diceritakan keadaan Bhatara Kala yang tak pernah puas memakan binatang dan manusia. Hingga akhirnya keberadaan binatang dan manusia itu hampir punah dimakan oleh Bhatara Kala. Oleh karenanya, manusia pada berlarian terbirit-birit sambil memanggil-manggil Tuhan Yang Maha Esa. Nah, pada saat manusia itu berlari-lari, saat itulah banyak yang mati. Sehari bisa sepuluh orang, biasa juga seratus, bahkan ada sampai seribu yang meninggal dalam satu hari. Hal ini dikarenakan ada yang jatuh ke jurang, ditabrak lahar, tertimpa gunung, dan semua itu adalah ulah dari Bhatara Kala. Hal ini ada dalam Purwa Gama Sesana, inilah kutipannya “tan weruh ring patinia”, tidak ada yang tahu, tidak ada firasat apa-apa tiba-tiba mati, seperti terkena air bah, seperti kejadian di Sumatera. Terkena api, jatuh ke jurang, semua itu akibat dimakan Bhatara Kala.

Manusia yang selamat dan masih sibuk terus memanggil-manggil Tuhan Yang Maha Esa, dan saat itu juga muncul sesosok perempuan tua dengan perawakan tunggal. Ialah yang menghadang Bhatara Kala untuk memakan manusia. Karena kesalnya, Bhatara Kala pun marah dan menerkam perempuan tua itu, tetapi tiba-tiba saja menghilang dan muncul lagi. Kemudian diterkamnya lagi perempuan itu dan menghilang lagi, seperti orang yang hendak menangkap asap, begitu diambil lenyap begitu saja. Akhirnya Bhatara Kala pun menangis, karena merasa dikalahkan oleh sosok perempuan tua yang bernama Sang Hyang Tunggal itu. Karena Bhatara Kala menangis, para manusia yang tadinya berlarian pun berhenti dan  bertanya “”Kenapa Bhatara Kala menangis, dan kenapa Ia tidak bisa menangkap orang tua itu, padahal ia seorang perempuan?”. Baca pos ini lebih lanjut

ASTA BRATHA (AJARAN KEPEMIMPINAN MENURUT HINDU) PART 2

A. PENGANTAR

Kepemimpinan adalah proses memimpin, memanage, mengatur, menggerakkan dan menjalankan suatu organisasi, lembaga, birokrasi, dan sebagainya. Kepemimpinan juga bermakna suatu values atau nilai yang sulit diukur karena berhubungan dengan  proses kejiwaan, hal ini berhubungan dengan kepemimpinan sebagai kewibawaan. Dalam kepemimpinan selalu ada pembagian kekuatan yang tidak seimbang antara pemimpin dengan yang dipimpin. Oleh karena itu seorang pemimpin harus memiliki sesuatu yang lebih daripada yang dipimpin, pemimpin adalah teladan, panutan, yang pantas dicontoh oleh anggotanya.

Hindu mengajarkan dalam Kautilya Arthasastra tentang tujuan proses kepemimpinan sebagai berikut. “apa yang membuat Raja senang  bukanlah kesejahteraan, tetapi yang membuat rakyat sejahtera itulah kesenangan seorang Raja”. Implikasi dari pernyataan ini bahwa tujuan dan makna kesuksesan sebuah proses kepemimpinan adalah apabila tercipta kesejahteraan bagi seluruh anggota organisasi, bahkan lebih luas adalah kebahagiaan dunia (sukanikang rat).

Sejarah kepemimpinan Hindu selalu menampilkan sosok seorang pemimpin sebagai keturunan dari Dewa. Hal ini menggambarkan bahwa seorang pemimpin selayaknya memiliki sifat-sifat kedewataan. Sifat-sifat kedewataan adalah menerangi (dev = sinar), melindungi (bhatara: pelindung), pemelihara (visnu: pemelihara). Oleh sebab itu tidak mengherankan jika para Raja terdahulu di Jawa misalnya, Sri Airlangga digambarkan sebagai perwujudan Wisnu yang menaiki burung Garuda (Garuda Wisnu Kencana). Garuda adalah simbol pembebasan, simbol kemerdekaan, bahwa seorang pemimpin harus dapat membebaskan rakyatnya dari segala ke-papa-an dan ke-duka-anWisnu adalah simbol pelindung, pemelihara Maha Agung, yang mampu melindungi seluruh rakyat dari segala ancaman dan gangguan, menciptakan rasa aman dan tenteram bagi masyarakat. Sementara itu, Kencana adalah simbol kewibawaan, kemegahan, kekayaan, inilah kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang Raja, yaitu bala (kekuatan), kosa (kekayaan) dan wahana (fasilitas), jika seorang pemimpin tidak memiliki ini semua maka dia akan ditinggalkan oleh rakyatnya. Untuk itu dalam makalah singkat ini akan dibahas sifat-sifat dewa, Asta Brata yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin sebagai etika kepemimpinan.

B. ASTA BRATHA

Kepemimpinan menurut Hindu sangat banyak dibahas dalam cerita-cerita Hindu salah satunya dalam Manawadharmasastra dijelaskan bahwa seorang pemimpin harus menanamkan delapan sifat dewa di dalam dirinya yang disebut Asta Brata. Di samping itu ajaran Asta Brata juga terdapat dalam Itihasa Ramayana, yaitu pelajaran Sri Rama kepada Wibhisana pasca kekalahan Alengka dalam perang Rama-Rahwana. Kedelapan sifat Dewa dapat dijelaskan sebagai berikut: Baca pos ini lebih lanjut

KELUARGA SUKINAH DARI PERSPEKTIF HINDU

Prajanartha striyah srstah

Samtanartham ca manawah

Tasmat sadharano dharmah

ςrutau patnya sahaditah

Vedasmrti. IX.96

Untuk menjadi ibu, wanita itu diciptakan dan

untuk menjadi ayah , laki-laki itu diciptakan

Upacara keagamaan karena itu ditetapkan di dalam Veda

Untuk dilakukan oleh suami beserta dengan istrinya.

A. Pendahuluan

Sejak awal kehidupan manusia , ternyata bersatunya antara seorang wanita dengan seorang laki-laki yang disimbulkan akasa dan pertiwi sebagai cakal bakal sebuah kehidupan baru yang diawali dengan lembaga perkawinan. Hendaknya laki-laki dan perempuan yang telah terikatdalam ikatan perkawinan selalu berusaha agar tidak bercerai dan selalu menyintai dan setia sampai hayat hidupnya, jadikanlah hal ini sebagi hukum yang tertinggi dalam ikatan suami-istri (G.Pudja MA, 2002 :561). Keluarga yang dibentuk hanya berlangsung sekali dalam hidup manusia, keluarga atau rumah tangga bukanlah semata-mata tempat berkumpulnya laki dan wanita sebagai pasangan suami istri dalam satu rumah, makan-minum bersama. Namun mengupayakan terbunanya keperibadian dan ketenangan lahir dan bathin, hidup rukun dan damai, tentram, bahagia dalam upaya menurunkan tunas muda yang suputra (Jaman, 195 :3).

Menurut Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 Bab I

pasal 1:

menyebutkan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir dan bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga bahagia dan kekal berdasarkan Ketuahanan Yang maha Esa.

pasal 2 :

Menyebutkan bahwa perkawinan adalah sah apabila dilaksanakan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.

Dengan demikian perkawinan menurut pandangan Hindu bukanlah sekedar legalitas hubungan biologis semata tetapi merupakan suatu peningkatan nilai berdasarkan hukum Agama, karena Wiwaha samkara adalah merupakan upacara sacral atau skralisasi peristiwa kemanusiaan yang bersifat wajib ( G. Pudja,MA,2002 :80).

Keluarga bahagia yang menjadi tujuan wiwaha samkara dalam terminology Hindu disebut keluarga Sukhinah merupakan unsur yang sangat menentukan terbentuknya masyarakat sehat (sane society). Baca pos ini lebih lanjut

BANTEN PEJATI

PENGERTIAN BANTEN

banten pajati

Secara sederhana, banten adalah persembahan dan sarana bagi umat Hindu mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sang Pencipta. Merupakan wujud rasa terima kasih, cinta dan bakti pada beliau karna telah dilimpahi wara nugrahaNya. Namun, secara mendasar banten dalam agama Hindu juga adalah bahasa agama.

Ajaran suci Veda sabda suci Tuhan itu disampaikan kepada umat dalam berbagai bahasa. Ada yang meggunakan bahasa tulis seperti dalam kitab Veda Samhita disampaikan dengan bahasa Sanskerta, ada disampaikan dengan bahasa lisan. Bahasa lisan ini sesuai dengan bahasa tulisnya. Setelah di Indonesia disampaikan dengan bahasa Jawa Kuno dan di Bali disampaikan dengan bahasa Bali. Disamping itu Veda juga disampaikan dengan bahasa Mona. Mona artinya diam namun banyak mengandung informasi tentang kebenaran Veda dan bahasa Mona itu adalah banten.

Dalam “Lontar Yajña PrakrtI” disebutkan:

“Sahananing bebanten pinaka raganta tuwi, pinaka warna rupaning Ida Bhatara, pinaka anda bhuana

artinya:

Semua jenis banten (upakara) adalah merupakan simbol diri kita, lambang kemahakuasaan Hyang Widhi dan sebagai lambang Bhuana Agung (alam semesta).

Dalam “Lontar Tegesing Sarwa Banten”, dinyatakan:

“Banten mapiteges pakahyunan, nga; pakahyunane sane jangkep galang”

Artinya:

Banten itu adalah buah pemikiran artinya pemikiran yang lengkap dan bersih.

Bila dihayati secara mendalam, banten merupakan wujud dari pemikiran yang lengkap yang didasari dengan hati yang tulus dan suci. Mewujudkan banten yang akan dapat disaksikan berwujud indah, rapi, meriah dan unik mengandung simbol, diawali dari pemikiran yang bersih, tulus dan suci. Bentuk banten itu mempunyai makna dan nilai yang tinggi mengandung simbolis filosofis yang mendalam. Banten itu kemudian dipakai untuk menyampaikan rasa cinta, bhakti dan kasih. Baca pos ini lebih lanjut

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

WP SHOP COLLECTION

Belanja Murah Terjamin & Berkualitas, Disini Tempatnya!!!

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

Different kind of Mahabharata

Another stories behind the epic

nakbaliblog

Jadilah Apa Yang Kita Suka, Bikinlah Apa Yang Kita Suka, Jalanilah Apa Yang Kita Suka

Artikel Ajaran Agama Hindu

Artikel Agama Hindu, Ajaran atau Pelajaran Tentang Agama Hindu

svaramahardika

Tiada Kebebasan Abadi Tanpa Adanya Aturan Yang Mengikat