Standar Pelayanan Minimal Penyuluh Agama Hindu Non PNS

Berikut kami lampirkan file Standar Pelayanan Minimal Penyuluh Agama Hindu Non PNS di lingkup Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama R.I. agar bisa dipedomani.

Iklan

Dirjen Bimas Hindu: Meneladani Yudistira sebagai Pemimpin Adil

pemimpin adil

YUDISTIRA

YUDISTIRA alias Dharmawangsa adalah salah satu tokoh protagonis dalam kisah Mahabharata.

Ia merupakan seorang raja yang memerintah Kerajaan Kuru, dengan pusat pemerintahan di Hastinapura. Ia merupakan anak tertua di antara lima Pandawa, atau para putra Pandu.

Nama Yudistira dalam bahasa Sanskerta bermakna “teguh atau kokoh dalam peperangan”. Sifatnya yang paling menonjol adalah adil, sabar, jujur, taat terhadap ajaran agama, dan penuh percaya diri.

“Kisah Yudistira yang memilih untuk menghidupkan kembali semua saudaranya ketika meninggal di telaga ketimbang hanya memilih satu orang mencerminkan seorang pemimpin yang adil dan bijaksana,” kata Dirjen Bimas Hindu Kementeria Agama Ida Bagus Yudha Triguna kepada wartawan usai menjadi pembicara pada Sarasehan Binroh TNI di Mabes TN Cilangkap, Jakarta, Rabu (8/5).
Baca pos ini lebih lanjut

Pemberdayaan Ekonomi Umat Hindu : “Tingkatkan Kreativitas dan Karya Untuk Mendorong Terciptanya Pembangunan Ekonomi Di Masyarakat”

Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama R.I. melalui Subdit Pemberdayaan Umat Direktorat Urusan Agama Hindu tanggal 29 Oktober s.d. 1 Nopember 2012 lalu menyelenggarakan kegiatan Orientasi Pemberdayaan Ekonomi Umat Hindu. Kegiatan yang dibuka oleh Dirjen Bimas Hindu ini dilaksanakan di hotel Soechi, Jl. Cirebon No. 76 A, Medan-Sumatera Utara.

Bapak Dirjen Bimas Hindu, Prof. Dr. IBG. Yudha Triguna, MS. membuka kegiatan ini, Senin 29 Oktober 2012 didampingi oleh Kakanwil Kemenag Prov. Sumatra Utara, Drs. H. Abd. Rahim, M.Hum. dan Direktur Urusan Agama Hindu, I Ketut Lancar, S.E.,M.Si. Dalam sambutannya, Dirjen Bimas Hindu mengharapkan maksud dan tujuan diselenggarakannya kegiatan ini agar betul-betul tercapai. “Peserta dan narasumber menggali dan menghimpun perumusan sehingga kegiatan ini dapat bermanfaat bagi para Pengelola tempat ibadah, Pura, Kuil, Sanggara dan Umat Hindu pada umumnya,” katanya. Baca pos ini lebih lanjut

Piodalan Pura Dharma Praja Bambu Apus

Drs. I Wayan Suastika, M.Ag. (Ketua piodalan-berdiri baju putih) menjalankan pedurmengalaan di pimpin Jero Mangku Cinere.

Senin, 29 Oktober 2012 lalu dilaksanakan piodalan di Pura Dharma Praja, Bambu Apus, Ciputat Tangerang Banten. Pura yang  terletak di rumah jabatan Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama R.I. ini piodalannya dilaksanakan setiap satu tahun sekali, yaitu pada Purnama Sasih Kalima.

Pura ini diamong oleh seluruh pegawai Ditjen Bimas Hindu dan umat Hindu sekitarnya. Pada piodalan kemarin hadir pula Sesditjen Bimas Hindu, I Wayan Suharta, S.Ag.,M.Si. dan Direktur Pendidikan Hindu, Drs. I.B. Gede Subawa, M.Si. yang didampingi pula oleh pejabat-pejabat eselon III dan IV Ditjen Bimas Hindu Kemenag R.I.

Sesditjen Bimas Hindu, I Wayan Suhartha, M.Si. (kanan) mengikuti prosesi piodalan di Pura Dharma Praja, Bambu Apus.

Ketua panitia upacara piodalan tahun ini adalah Drs. I Wayan Suastika, M.Ag. yang juga merupakan Kasubdit Pendidikan Dasar Direktorat Pendidikan Hindu mengatakan, “Rangkain upacara piodalan kali ini diawali dengan prosesi macaru dan dilanjutkan dengan aci piodalan yang dipimpin oleh Pinandita dari Pura Amertha Jati, Cinere”.

“Mengakhiri upacara piodalan, dilaksanakan dharma tula dan ramah tamah,” imbuhnya. (jul)

Kesepakatan Bersama Konsultasi Pejabat Ditjen Bimas Hindu Dengan Pembimas Hindu Dan Parisada Tahun 2012 Di Semarang

Informasi berikut terkait Kegiatan Konsultasi Pejabat Ditjen Bimas Hindu dengan Pembimas Hindu dan Parisada Tahun 2012 Di Semarang, yang diselenggarakan di Hotel Grand Candi, Jl. Sisingamangaraja  No. 16, Semarang.

Kegiatan yang dilaksanakan dari hari Jumat-Senin, 18 s.d. 21 Mei 2012 ini diikuti oleh 90 (sembilan puluh) orang peserta dari unsur Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama R.I., Parisada Pusat, Pembimas Hindu Provinsi, Parisada Provinsi (33 provinsi), WHDI, Pinandita Sanggraha Nusantara dan Pemuda Hindu (peradah).

Berikut hasil sidang komisi yang telah di paripurnakan dengan pimpinan sidang prof. Dr. I Nyoman Sudyana, M.Sc. yang telah disepakati bersama dalam bentuk Kesepakatan Bersama yang isinya menekankan peran, tugas dan fungsi Pembimas Hindu dan Parisada dalam membina umat Hindu.

REFLEKSI PLURALISME HINDU DALAM UTSAWA DHARMA GITA (UDG)

REFLEKSI PLURALISME HINDU

 DALAM UTSAWA DHARMA GITA (UDG)[1]

Oleh :

Dr. Made Widiada Gunakaya. SA, SH, MH.[2]

 

A.          Pendahuluan

Dharma gita relevansinya sangat signifikan dalam rangka pembinaan umat Hindu secara semultan menjadi tanggungjawab bersama, terutama para pengurus Parisada Pusat maupun daerah serta Pemerintah dalam hal ini Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI. Oleh karena itu Dharma Gita memang sudah seharusnya terus menerus diprogramkan dan disosialisasikan untuk tujuan peningkatan sradha-bhakti umat dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Salah satu modus operandi untuk mensosialisasikan Dharma Gita adalah dengan menyelenggarakan kegiatan Utsawa Dharma Gita (UDG).

Namun perlu disadari, bahwa UDG bukanlah menjadi tujuan utama agama Hindu maupun manusia (umat) Hindu. UDG hanyalah sebagai sarana sosialisasi kepada umat Hindu maupun non Hindu, bahwa di dalam agama Hindu terdapat dharma gita yang setiap saat dapat dilantunkan sebagai tanda bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Di dalam Bhagavata Purana (VII.5.23) disebutkan ada 9 bentuk bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, satu di antaranya adalah Kirtanam, yakni mengucapkan atau menyanyikan sloka-sloka suci atau nama-nama Tuhan YME.

Disamping berfungsi sebagai sarana sosialsisasi, UDG juga diharapkan akan dapat menimbulkan spirit bagi umat Hindu, khususnya yang mengikuti UDG tersebut agar lebih memahami, menghayati dengan sebenar-benarnya, dan pada akhirnya akan dapat mengamalkan sebaik-baiknya ajaran-ajaran yang terdapat di dalam dharma gita tersebut yang bersumber dari sloka Veda maupun dari susastra Veda. Jika semua itu telah ter-internalized dan teraplikasi dengan baik, maka catur purusa artha sebagai tujuan manusia Hindu serta moksartam jagad hita ya ca ithi dharma sebagai tujuan agama Hindu akan dapat direalisasikan. Baca pos ini lebih lanjut

KELUARGA SUKINAH DARI PERSPEKTIF HINDU

Prajanartha striyah srstah

Samtanartham ca manawah

Tasmat sadharano dharmah

ςrutau patnya sahaditah

Vedasmrti. IX.96

Untuk menjadi ibu, wanita itu diciptakan dan

untuk menjadi ayah , laki-laki itu diciptakan

Upacara keagamaan karena itu ditetapkan di dalam Veda

Untuk dilakukan oleh suami beserta dengan istrinya.

A. Pendahuluan

Sejak awal kehidupan manusia , ternyata bersatunya antara seorang wanita dengan seorang laki-laki yang disimbulkan akasa dan pertiwi sebagai cakal bakal sebuah kehidupan baru yang diawali dengan lembaga perkawinan. Hendaknya laki-laki dan perempuan yang telah terikatdalam ikatan perkawinan selalu berusaha agar tidak bercerai dan selalu menyintai dan setia sampai hayat hidupnya, jadikanlah hal ini sebagi hukum yang tertinggi dalam ikatan suami-istri (G.Pudja MA, 2002 :561). Keluarga yang dibentuk hanya berlangsung sekali dalam hidup manusia, keluarga atau rumah tangga bukanlah semata-mata tempat berkumpulnya laki dan wanita sebagai pasangan suami istri dalam satu rumah, makan-minum bersama. Namun mengupayakan terbunanya keperibadian dan ketenangan lahir dan bathin, hidup rukun dan damai, tentram, bahagia dalam upaya menurunkan tunas muda yang suputra (Jaman, 195 :3).

Menurut Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 Bab I

pasal 1:

menyebutkan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir dan bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga bahagia dan kekal berdasarkan Ketuahanan Yang maha Esa.

pasal 2 :

Menyebutkan bahwa perkawinan adalah sah apabila dilaksanakan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.

Dengan demikian perkawinan menurut pandangan Hindu bukanlah sekedar legalitas hubungan biologis semata tetapi merupakan suatu peningkatan nilai berdasarkan hukum Agama, karena Wiwaha samkara adalah merupakan upacara sacral atau skralisasi peristiwa kemanusiaan yang bersifat wajib ( G. Pudja,MA,2002 :80).

Keluarga bahagia yang menjadi tujuan wiwaha samkara dalam terminology Hindu disebut keluarga Sukhinah merupakan unsur yang sangat menentukan terbentuknya masyarakat sehat (sane society). Baca pos ini lebih lanjut

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

WP SHOP COLLECTION

Belanja Murah Terjamin & Berkualitas, Disini Tempatnya!!!

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

Different kind of Mahabharata

Another stories behind the epic

nakbaliblog

Jadilah Apa Yang Kita Suka, Bikinlah Apa Yang Kita Suka, Jalanilah Apa Yang Kita Suka

Artikel Ajaran Agama Hindu

Artikel Agama Hindu, Ajaran atau Pelajaran Tentang Agama Hindu

svaramahardika

Tiada Kebebasan Abadi Tanpa Adanya Aturan Yang Mengikat