Dirjen Bimas Hindu: Meneladani Yudistira sebagai Pemimpin Adil

pemimpin adil

YUDISTIRA

YUDISTIRA alias Dharmawangsa adalah salah satu tokoh protagonis dalam kisah Mahabharata.

Ia merupakan seorang raja yang memerintah Kerajaan Kuru, dengan pusat pemerintahan di Hastinapura. Ia merupakan anak tertua di antara lima Pandawa, atau para putra Pandu.

Nama Yudistira dalam bahasa Sanskerta bermakna “teguh atau kokoh dalam peperangan”. Sifatnya yang paling menonjol adalah adil, sabar, jujur, taat terhadap ajaran agama, dan penuh percaya diri.

“Kisah Yudistira yang memilih untuk menghidupkan kembali semua saudaranya ketika meninggal di telaga ketimbang hanya memilih satu orang mencerminkan seorang pemimpin yang adil dan bijaksana,” kata Dirjen Bimas Hindu Kementeria Agama Ida Bagus Yudha Triguna kepada wartawan usai menjadi pembicara pada Sarasehan Binroh TNI di Mabes TN Cilangkap, Jakarta, Rabu (8/5).
Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

KARNA SEBAGAI KSATRIA DAN DERMAWAN (3)

KEAGUNGAN KARNA SEBAGAI KSATRIA

Pada hari ke-17 perang besar Bharathayudha (Mahabharatha) mendekati usai, dengan kalahnya/robohnya Karna, Panglima Perang Astinapura saat itu di medan perang. Para Pandawa bergembira merayakan kemenangan besar tersebut. Sebaliknya, Kaurawa merasa kehilangan harapan sama sekali, sebab Karna adalah ksatria utama andalan mereka. Para Pandawa bersuka-cita atas kalahnya lawan berat mereka. Tetapi Krisna duduk terpisah dan tampak tenggelam dalam kesedihan. Arjuna datang  mendekatinya dan bertanya, kenapa beliau merasa sedih pada hari yang seyogyanya mereka patut bersuka-cita dalam menyambut  kemenangan. Krisna memberitahu Arjuna bahwa negara Bharatha telah kehilangan prajurit/ksatrianya yang sangat utama pada hari itu. Pahlawan yang telah membawa kejayaan dan nama baik Negara Bharatha, telah roboh menyedihkan.

“Aku merasa sedih karena negara telah kehilangan seorang pahlawannya yang begitu besar”. Mendengar kata-kata ini, Arjuna memandang Krisna dengan perasaan terkejut. Dia berkata, “Wahai Krisna, untuk memberi jaminan kemenangan pada Pandawa, tuanku telah memilih peran sebagai sais/kusir. Oleh karena itu, Pandawa memperoleh kemenangan. Bukannya bersuka-cita atas kemenangan ini, tetapi kenapa malah tuanku merasa sedih atas kekalahan musuh kita?”. Krisna menjawab, “Karna adalah perwujudan dari pengorbanan. Pengorbanan adalah identik dengan Karna. Di seluruh dunia engkau tidak bisa menemukan orang lain yang memiliki semangat pengorbanan seperti Karna. Dalam kegembiraan maupun duka-cita, kemenangan atau kekalahan, dia selalu siap untuk berkorban. Apakah engkau memiliki semangat berkorban seperti itu? Tidak!”. Lalu Krisna meminta Arjuna untuk mengikutinya. Baca pos ini lebih lanjut

KARNA SEBAGAI KSATRIA DAN DERMAWAN (2)

Keistimewaan sang Basusena (lanjutan dari part 1…)

Adipati Karna dengan segala kompleksitasnya sebenarnya merefleksikan manusia pada umumnya. Ada nilai-nilai dualisme yang terkandung dalam kompleksitasnya itu. Nilai-nilai itulah yang selalu hadir dalam sosok manusia pada umumnya. Adipati Karna menunjukkan kepada kita bahwa dalam kehidupannya, orang baik tidak selalu melakukan kebaikan, ada kalanya orang itu pun melakukan kejahatan. Sebaliknya, manusia yang dinilai jahat ada kalanya pernah berbuat kebaikan. Sosok Basusena memang penuh dengan dualisme, dari silsilahnya saja dapat dilihat bahwa ia merupakan perpaduan antara manusia dengan dewa. Ia berasal dari golongan ksatria namun dibesarkan oleh rakyat biasa. Ia ikhlas serta dermawan, namun dikenal pula sebagai ksatria yang angkuh dan sombong. Di samping itu, Adipati Karna pun merefleksian sifat-sifat ambisius manusia. Untuk memuaskan hasratnya, terkadang ia dapat melakukan segala cara, termasuk manuver-manuvernya yang penuh tipu muslihat.

Selain dualisme yang direfleksikannya, Karna pun menunjukkan sebuah arti pengorbanan serta pengabdian kepada kebenaran. Sejak kecil ia sudah diminta untuk berkorban, ia dibuang ke sungai Aswa, dijauhkan dari status kebangsawanannya dan akhirnya hampir sebagian hidupnya dilalui tanpa pernah mengenal orangtua kandungnya sendiri. Semua pengorbannya tersebut harus ia jalani demi terjaganya kehormatan dewi Kunti, ibundanya. Beranjak dewasa, menjelang perang Bharatayudha, ia pun harus berjiwa besar memaafkan kesalahan ibunya, mengikhlaskan masa lalunya serta mengorbankan ambisinya untuk mengungguli Arjuna dalam perang Bharatayudha. Meskipun pengorbanan yang ia lakukan sudah sedemikan banyak, ternyata Karna pun harus mengorbankan dirinya pada perang di padang Kurusetra. Dengan menolak berpihak kepada Pandawa, ia secara tidak langsung telah mengorbankan kejayaan, kehormatan, kemenangan serta tahta yang ia akan miliki. Sebaliknya ia memilih kekalahan dan kematian yang sudah menjadi takdirnya dengan memilih memihak kepada Kurawa. Baca pos ini lebih lanjut

KARNA SEBAGAI KSATRIA DAN DERMAWAN (1)

Dalam perjalanan hidupnya, Karna sebenarnya melewati cobaan yang sangat sulit. Kehadiran Karna di dunia pada dasarnya dapat dikatakan percobaan dewi Kunti terhadap mantera Adithyahrehdaya yang dianugerahkan kepadanya. Setelah akhirnya berhasil, kemudian jabang bayi Karna dibuang begitu saja ke sungai Aswa. Latar belakang kelahiran Adipati Karna tersebut dapat dianggap sedikit banyak mempengaruhi kepribadiannya kelak. Di samping itu, stastusnya yang hanya sebagai anak kusir Adirata membuat Karna dewasa mengalami banyak cobaan dalam hidupnya, berbagai penolakan serta penghinaan kerap datang kepadanya, terutama dari para Pandawa. Sebagai seorang demi god – putera dewa yang juga mengalir darah ksatria di dalam dirinya, Karna ternyata dapat melewati semua cobaan tersebut dengan tabah, hingga akhirnya derajatnya sebagai seorang ksatria ”dikembalikan” oleh Duryudana.

Dalam kehidupannya sebagai seorang Adipati di Awangga, Karna dikenal sebagai seorang bangsawan yang angkuh dan sombong. Jika ditelaah lebih dalam, pada dasarnya wajar-wajar saja ia bersikap seperti itu. Keangkuhan dan kesombongannya dapat dikatakan sebagai salah satu defense mekanisme yang ia tunjukkan, mengingat pada masa lalunya ia selalu direndahkan dan dihina. Namun di balik keangkuhan dan kesombongannya tersebut, ia pun dikenal sebagai seorang ksatria yang sangat dermawan. Bahkan menurut salah satu versi Mahabharata, kedermawanannya tersebut mendapat pengakuan dari sang rajadewa, bhatara Indra. Sebagai apresiasi atas keagungan sifatnya tersebut Karna dipinjamkan senjata Kontawijayadanu oleh sang rajadewa. Baca pos ini lebih lanjut

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

WP SHOP COLLECTION

Belanja Murah Terjamin & Berkualitas, Disini Tempatnya!!!

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

Different kind of Mahabharata

Another stories behind the epic

nakbaliblog

Jadilah Apa Yang Kita Suka, Bikinlah Apa Yang Kita Suka, Jalanilah Apa Yang Kita Suka

Artikel Ajaran Agama Hindu

Artikel Agama Hindu, Ajaran atau Pelajaran Tentang Agama Hindu

svaramahardika

Tiada Kebebasan Abadi Tanpa Adanya Aturan Yang Mengikat