ARAH KEBIJAKSANAAN PARISADA TENTANG PEMBINAAN UMAT HINDU DI INDONESIA

Berikut arah kebijakan Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat

Iklan

Tumpek Kandang – Kasih Sayang Pada Binatang

Perayaan Tumpek Kandang

Tumpek Uye disebut juga Tumpek Wewalungan/Oton Wewalungan atau Tumpek Kandang, yaitu hari selamatan binatang-binatang piaraan (binatang yang dikandangkan) atau binatang ternak (wewalungan).

Di dalam hari-hari suci agama Hindu di Bali terdapat enam jenis hari suci Tumpek, yaitu Tumpek Uye (Tumpek Kandang) yaitu upacara selamatan untuk binatang; Tumpek Bubuh atau Tumpek Wariga yakni upacara selamatan untuk tumbuh-tumbuhan; Tumpek Landep yakni selamatan untuk senjata (yang terkait dengan piranti yang tajam); Tumpek Kuningan, selamatan untuk gamelan; Tumpek Wayang selamatan untuk wayang; dan Tumpek Krulut selamatan untuk unggas. Umumnya upacara selamatan untuk unggas ini digabungkan pada hari Tumpak Uye. Baca pos ini lebih lanjut

Gubernur Sarundajang Buka Mahasabha IX Peradah Indonesia Di Manado

Gubernur Sulawesi Utara Membuka Mahasabha IX Peradah Indonesia di Dampingi Direktur Urusan Agama Hindu (baju batik sebelah kiri)

Gubernur Sulawesi Utara Dr. (HC) Sinyo Harry Sarundajang membuka Mahasabha (musyawarah nasional) IX Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) di Bapelkes Malalayang, Jumat, 2 November 2012.

Mengawali sambutannya, Sarundajang menyambut ratusan peserta Mahasabha yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia. “Selamat datang di Bumi Nyiur Melambai,” katanya.  Gubernur berterima kasih kepada Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan Peradah yang memilih Sulut sebagai tempat Mahasabha IX Peradah tahun ini. Mahasabha kali ini, kata Sarundajang, terasa spesial karena dilaksanakan masih dalam euforia peringatan Sumpah Pemuda, 28 Oktober lalu.

Ia berharap Mahasabha bisa menghasilkan buah pemikiran bersama atau sebuah rekomendasi untuk bangsa negara. Secara khusus, Gubernur minta perhatian pada aksi menangkal terorisme, narkoba, seks bebas dan ancaman disintegrasi bangsa. “Mari kita rawat kerukunan Indonesia sebagai sebuah keunggulan,” tukasnya. Baca pos ini lebih lanjut

Kesepakatan Bersama Konsultasi Pejabat Ditjen Bimas Hindu Dengan Pembimas Hindu Dan Parisada Tahun 2012 Di Semarang

Informasi berikut terkait Kegiatan Konsultasi Pejabat Ditjen Bimas Hindu dengan Pembimas Hindu dan Parisada Tahun 2012 Di Semarang, yang diselenggarakan di Hotel Grand Candi, Jl. Sisingamangaraja  No. 16, Semarang.

Kegiatan yang dilaksanakan dari hari Jumat-Senin, 18 s.d. 21 Mei 2012 ini diikuti oleh 90 (sembilan puluh) orang peserta dari unsur Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama R.I., Parisada Pusat, Pembimas Hindu Provinsi, Parisada Provinsi (33 provinsi), WHDI, Pinandita Sanggraha Nusantara dan Pemuda Hindu (peradah).

Berikut hasil sidang komisi yang telah di paripurnakan dengan pimpinan sidang prof. Dr. I Nyoman Sudyana, M.Sc. yang telah disepakati bersama dalam bentuk Kesepakatan Bersama yang isinya menekankan peran, tugas dan fungsi Pembimas Hindu dan Parisada dalam membina umat Hindu.

Konsultasi Pejabat Ditjen Bimas Hindu Dengan Pembimas Hindu dan Parisada Tahun 2012 “Mempererat Simpul Kehinduan”

Dirjen Bimas Hindu (Prof. Dr. IBG. Yudha Triguna, MS.) menyematkan Tanda Peserta Konsultasi.

Dalam menciptakan kerukunan intern dan antar umat beragama terkandung aspek kerukunan antar lembaga/organisasi keagamaan. Kerukunan antar lembaga ini perlu dimantapkan sehingga pelayanan kepada umat dapat dioptimalkan. Sebab, Lembaga Keagamaan memegang peran yang sangat penting dalam pembinaan umatnya. Memahami hal tersebut dalam usaha untuk menciptakan kerukunan dan meningkatkan peran Kelembagaan Hindu dalam mengisi pembangunan serta mempererat tali simakrama antara pemerintah dan lembaga keagamaan Hindu, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama R.I. mengadakan Konsultasi Pejabat Ditjen Bimas Hindu Kemenag R.I. dengan pembimas Hindu dan Parisada Tahun 2012 di Semarang. Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperluas wawasan berorganisasi guna membangun persepsi yang sama terhadap Peran, Fungsi, Tugas, dan Tanggung Jawab dalam pembinaan umat. Baca pos ini lebih lanjut

REFLEKSI PLURALISME HINDU DALAM UTSAWA DHARMA GITA (UDG)

REFLEKSI PLURALISME HINDU

 DALAM UTSAWA DHARMA GITA (UDG)[1]

Oleh :

Dr. Made Widiada Gunakaya. SA, SH, MH.[2]

 

A.          Pendahuluan

Dharma gita relevansinya sangat signifikan dalam rangka pembinaan umat Hindu secara semultan menjadi tanggungjawab bersama, terutama para pengurus Parisada Pusat maupun daerah serta Pemerintah dalam hal ini Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI. Oleh karena itu Dharma Gita memang sudah seharusnya terus menerus diprogramkan dan disosialisasikan untuk tujuan peningkatan sradha-bhakti umat dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Salah satu modus operandi untuk mensosialisasikan Dharma Gita adalah dengan menyelenggarakan kegiatan Utsawa Dharma Gita (UDG).

Namun perlu disadari, bahwa UDG bukanlah menjadi tujuan utama agama Hindu maupun manusia (umat) Hindu. UDG hanyalah sebagai sarana sosialisasi kepada umat Hindu maupun non Hindu, bahwa di dalam agama Hindu terdapat dharma gita yang setiap saat dapat dilantunkan sebagai tanda bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Di dalam Bhagavata Purana (VII.5.23) disebutkan ada 9 bentuk bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, satu di antaranya adalah Kirtanam, yakni mengucapkan atau menyanyikan sloka-sloka suci atau nama-nama Tuhan YME.

Disamping berfungsi sebagai sarana sosialsisasi, UDG juga diharapkan akan dapat menimbulkan spirit bagi umat Hindu, khususnya yang mengikuti UDG tersebut agar lebih memahami, menghayati dengan sebenar-benarnya, dan pada akhirnya akan dapat mengamalkan sebaik-baiknya ajaran-ajaran yang terdapat di dalam dharma gita tersebut yang bersumber dari sloka Veda maupun dari susastra Veda. Jika semua itu telah ter-internalized dan teraplikasi dengan baik, maka catur purusa artha sebagai tujuan manusia Hindu serta moksartam jagad hita ya ca ithi dharma sebagai tujuan agama Hindu akan dapat direalisasikan. Baca pos ini lebih lanjut

MENCARI SOLUSI IDIAL DALAM MENYIKAPI KONFLIK AGAMA DAN ETNIS DI INDONESIA

Oleh :

Drs I Ketut Wiana.M.Ag.

(Ketua Pengurus Harian PHDI Pusat, Bidang Agama dan Antar Iman)

“Pemeluk agama yang bersikap exclusive itu mempromosikan agamanya pada masyarakat luas  bagaikan para pengusaha mempromosikan produknya  sebagai produk  unggul yang paling wah dalam segala hal. Sikap yang demikian itu menimbulkan upaya beragama lebih banyak diexpresikan keluar diri dari pada  kedalam diri sendiri. Karena sibuk memperomosikan Agama untuk orang lain lalu lupa mengexpresikan ajaran Agama itu pada diri”.

PENDAHULUAN

Agama mendapat kedudukan yang amat penting,terhormat dan  suci di  Negara Kesatuan  Republik Indonesia ini. Karena itu para penganutnya terutama para pemuka Agama di Indonesia ini mampu mendaya gunakan Agama yang dianutnya sebagai kekuatan untuk hidup terhormat. Agama seyogianya dapat dijadikan pendorong paling utama untuk mengeksistensikan nilai-nilai kemanusiaan yang ada pada diri manusia itu sendiri, bahkan  aspek kemanusiaan itulah unsur yang terpenting dalam diri manusia. Bung Karno sering menyatakan bahwa  “Homo homini sosius”. Artinya manusia adalah sahabatnya manusia. Bukan ”Homo homini lupus”, Artinya: Manusia  bukan srigala bagi manusia”. Dalam Subha  Sita  Weda  ada  dinyatakan: “Wasu dewa kutumbakam” Artinya  : semua umat manusia  penghuni bumi  ini adalah bersaudara. Karena kita bersaudara seyogianya  juga bersahabat. Dewasa ini memang ada  yang berkembang suatu kenyataan  bahawa bersaudara tetapi tidak bersahabat.

Manusia adalah makhluk hidup  yang memiliki persamaan dan sekaligus perbedaan. Alam semesta dengan segala isinya adalah ciptaan Tuhan. Karena itu semua manusia apapun agamanya adalah ciptaan Tuhan. Meskipun berbeda Agama yang dianut lahir dalam  suku yang berbeda, ras yang berbeda, tetapi  tetap sama-sama manusia. Janganlah karena alasan berbeda agama, manusia tidak diperlakukan sebagai  manusia. Justru sebaliknya karena alasan agamalah  manusia  harus diperlakukan lebih  manusiawi. Karena agama berasal dari  sabda Tuhan Yang Maha Pengasih  dan Maha Penyayang. Baca pos ini lebih lanjut

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

WP SHOP COLLECTION

Belanja Murah Terjamin & Berkualitas, Disini Tempatnya!!!

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

Different kind of Mahabharata

Another stories behind the epic

nakbaliblog

Jadilah Apa Yang Kita Suka, Bikinlah Apa Yang Kita Suka, Jalanilah Apa Yang Kita Suka

Artikel Ajaran Agama Hindu

Artikel Agama Hindu, Ajaran atau Pelajaran Tentang Agama Hindu

svaramahardika

Tiada Kebebasan Abadi Tanpa Adanya Aturan Yang Mengikat