Untung Saya Seorang Hindu! Pemeluk Ajaran Sanatana Dharma

Belakangan ini, isu sara begitu kental membaur dibumbui kebencian, kedengkian dan di wadah dengan Mangkok politikus rakus bak virus. 

Namun dari banyaknya isu sara ini, dan perdebatan yang muncul, saya sangat bersyukur lahir pada orang beragama Hindu dan pemeluk ajaran Sanathana Dharma. Kenapa? Jawabannya saya temukan pada ketersenyuman saya ketika orang memperdebatkan agama, dan apalagi membandingkan agamanya dg agama saya. hemm.. Mungkin kutipan tulisan dari umat sedharma berikut bisa dijadikan refleksi dari ketersenyuman saya.

Ini ajaran Agama  Hindu

Sanatana Dharma Memberikan Kebebasan Berkeyakinan

Anda meyakini Tuhan disebutkan Aastika. Diterima. Anda tidak meyakini Tuhan disebutkan Nastika. Diterima juga. 

Anda ingin menyembah Arca (Patung Suci). Silahkan. Anda disebutkan Murti Pujak. Bila Anda tidak ingin menyembah Arca tidak masalah. Anda dapat fokus kepada Nirguna Brahman.

Anda ingin mengkritik sesuatu dalam ajaran Hindu? Silahkan Maju. Kita menerima kritik yang berdasarkan ilmu logika dan analisa filsafat dengan metodologi dari sastra Tarka dan Nyaya. 

Anda ingin menerima keyakinan dengan apa adanya. Silahkan. Anda ingin memulai perjalanan spiritual Anda dengan membaca Bhagvad Gita. Teruskan. Anda ingin memulai perjalanan spiritual Anda dengan pelajari Veda Samhitas, Upanishad atau Purana. Tidak ada halangan. 

Anda tidak suka pelajari Sastra Veda atau buku-buku spiritual lain. Tidak masalah Sahabatku. Lanjutkan saja dengan Bhakti Yoga. Anda tidak suka pendekatan Bhakti. Tidak masalah. Jalankan Karma (perbuatan, pikiran dan perkataan) yang Baik. Jadilah seorang Karma Yogi. 

Anda ingin menikmati hidup keduniawian. Silahkan. Ini adalah filsafat keduniawian, Charvaka. Anda ingin menjauhkan diri dari segala keduniawian dan menemukan Tuhan. Jadilah seorang pertapa, Sadhu. 

Anda tidak suka dengan konsep Tuhan. Anda hanya percaya pada Alam saja. Selamat Datang. Pohon merupakan teman kita dan Prakriti, Alam yang layak disembah. Anda percaya pada satu Tuhan atau Energi yang Maha-Agung. Ikuti filsafat Advaita. 

Anda ingin seorang Guru. Maju dan menerima kewajiban sebagai Sisya atau calon Guru. Anda tidak ingin seorang Guru. Bantulah dirimu sendiri dengan cara bermeditasi dan belajar. 

Anda meyakini energi Tuhan yang feminin. Silahkan menyembah, puja dan bhakti kepada Shakti. 

Anda percaya bahwa setiap manusia adalah sama dan sejajar. Betul! “Vasudhaiva Kutumbakam” (Dunia adalah Satu Keluarga). 

Anda tidak punya waktu untuk merayakan festival dan hari-hari suci. Jangan khawatir. Festival dan hari-hari suci yang lain akan datang! Anda adalah orang yang bekerja terus. Tidak punya waktu untuk berupacara atau puja. Tidak masalah. Anda masih seorang pemeluk ajaran Hindu. 

Anda ingin pergi ke kuil, pura atau candi untuk bersembahyang atau puja. Pengabdian dalam Bhakti dicintai kita semua. Anda tidak ingin pergi ke kuil, pura atau candi. Tidak masalah. Anda masih bisa melakukan puja dan bhakti dalam hati. 

Anda tahu bahwa Sanatana Dharma menyediakan berbagai cara hidup, dengan pilihan yang cukup signifikan. 

Anda percaya bahwa segala sesuatu berada dalam Tuhan, dan Tuhan berada di dalam segala sesuatu. Jadi Anda menyembah Ibu, Ayah, Guru, Batu, Pohon, Sungai, Matahari, Bulan, Bumi dan Alam Semesta. Jika Anda tidak percaya bahwa segala sesuatu ada Tuhan di dalamnya. Tidak ada masalah. Kita menghormati sudut pandang Anda. “Sarve Janah Sukhino Bhavantu” (Semoga semua orang hidup bahagia).

Dalam Rig Veda telah digambarkan sebuah petunjuk yang penting bagi kita semua di muka bumi ini, yaitu biarkan pengetahuan yang menginspirasi datang kepada kita dari segala arah, asalkan pengetahuan itu tidak destruktif dan tidak memecah belah.

Ini satu sudut pandang dari esensi Universal yang disediakan Sanatana Dharma, yang melengkapi dan meliputi segalanya. Itulah mengapa ajaran Hindu telah bertahan dalam ujian waktu meskipun diserang baik dari dalam dan luar berulang kali. Ajaran Hindu terbentuk dari segala kebaikan dari segala sudut pandang dari segala sesuatu. Itulah alasannya mengapa disebutkan Sanatana Dharma, atau Aturan yang Kekal Abadi.

Om santih  santih santih  Om

Diambil dari grup agama Hindu. (Bila Suka Silahkan Share)

Penting Itu, Pikiran Suci! Bukan Badan Suci!

Belakangan ini jika kita simak dengan baik, banyak sekali kita diganggu dengan isu-isu intoleransi di Indonesia. Utamanya jelang Pilkada serentak Pebruari 2017 nanti. 

Isu SARA secara masif dan terstruktur dihembuskan, tidak hanya di tempat tertentu, di media elektronik maupun media massa kita dipertontonkan setiap harinya intoleransi ini. Dengan balutan diskusi publik, mereka dengan gamblangnya memaki, dan lain-lain. Entah apa kerjaan KPI kita, hal begini dibiarkan saja. Mohon maaf ini ya, bukan maksud apa-apa. Coba kalau jaman pak Harto orang bicara memecah belah bangsa seperti ini? Ooo… lewat sudah!! Justru di jaman Reformasi ini, malah kebablasan.

Orang sok pintar semakin banyak. Orang sok suci pun semakin banyak. Berkedok ayat-ayat suci berkomentar angin ribut, sempoyongan! Hanya mengejar popularitas dan undangan TV-TV, serta dakwah kesana kemari yang ujung-ujungnya “UANG”. 

Banyak orang Indonesia kehilangan jati diri (nusantara)nya hanya karena agama. Ini pengaruh keyakinan import. Budayanya sendiri dilupakan demi tampilan luar yg ‘agamais’, nampak ‘suci’, yang sujatinya KOSONG. 

Orang Indonesia sibuk menghias badannya dengan atribut import sesuai agama masing-masing. Sarung diganti baju model daster, atau celana panjang di atas mata kaki, kamen diganti kain sari, udeng diganti kuncir, atau bahkan yang lainnya. Mana Indonesiamu? Mana Nusantaramu?

Tapi, tak pantas sepertinya saya membahas hal seperti ini, apalagi saya bukan orang yang pintar agama, hafal ayat-ayat atau yg lainnya. Kepercayaan nenek moyang saya hanya mengajarkan saya untuk selalu berfikir, berkata, dan berbuat yang baik. 3 hal inilah oleh leluhur saya menjadi ajaran kuat yang diwariskan oral, dari mulut ke mulut. Di mana sujatinya esensi orang beragama adalah membuat nyaman orang disekitarnya, tiada mengganggu, dan tiada menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain dan lingkungan/semesta. Simpel!!! Semua berasal dari PIKIRAN yang suci, Positif thinking,  bukan dari badan yg nampak suci dg hiasan-hiasan agama. Itu!

Mungkin sebagai gambaran, saya ada sebuah cerita yang mungkin bisa membuka sedikit pemahaman kita, penting mana? Pikiran suci atau Badan Suci? Cerita ini mungkin ada yang agak mitosnya, karena menceritakan setelah kematian, namun justru disitu letak kesadarannya. Yuk simak.

Pertapa dan Pelacur

Seorang pertapa tinggal diasramnya dan di seberang jalan tepat berhadapan dengan asramnya ada rumah bordil di mana tinggal seorang pelacur. Setiap hari ketika pertapa akan melakukan meditasi, dia melihat para lelaki datang dan pergi dari dan ke rumah pelacur itu. Dia melihat pelacur itu sendiri menyambut dan mengantar tamu-tamunya. Setiap hari pertapa itu membayangkan dan merenungkan perbuatan memalukan yang berlangsung di kamar pelacur itu, dan hatinya dipenuhi oleh kebencian akan kebobrokan moral dari pelacur itu.

Di lain pihak. Sang pelacur setiap hari melihat sang pertapa dalam praktek-praktek spiritualnya (sadhana). Dia berpikir betapa indahnya untuk menjadi demikian suci, untuk menggunakan waktu dalam doa dan meditasi. “Tapi” dia mengeluh, “Aku tak berdaya, nasibku memang menjadi pelacur. Ibuku dulu adalah seorang pelacur, dan putriku nanti juga akan menjadi pelacur. Demikianlah hukum negeri ini,” dengan pilunya dia meratap.

Tanpa diceritakan apa yang terjadi. Pertapa dan pelacur itu mati pada hari yang sama dan berdiri di depan Sang Hyang Yama bersama-sama. Tanpa diduga sama sekali, di depan meja keadilan Sang Hyang Yama (Hakim Akhirat) pertapa itu dicela karena kesalahannya.

“Tapi”, petapa ini memrotes, “hidupku adalah hidup yang suci. Aku telah menghabiskan hari-hariku untuk doa dan meditasi.”

“Ya,” kata Yama, “tapi sementara badanmu melakukan tindakan-tindakan suci itu, pikiran dan hatimu dipenuhi oleh penilaian jahat dan jiwamu dikotori oleh bayangan penuh nafsu.”

Beda dengan pelacur itu. Dia dipuji karena kebajikannya.
“Saya tidak mengerti wahai Yama? Selama hidupku aku telah menjual tubuhku kepada setiap lelaki yang memberikan harga pantas.”

Yama pun menjawab, “Lingkungan hidupmu menempatkan kamu dalam sebuah rumah bordil. Kamu lahir di sana, dan di luar kekuatanmu untuk melakukan selain dari hal itu. Tapi sementara badanmu melakukan tindakan-tindakan hina, pikiran dan hatimu selalu suci dan senatiasa dipusatkan dalam kontemplasi dan kesucian dari doa dan meditasi pertapa ini.”

———————

Dua kisah di atas mengajarkan kepada kita untuk tidak merasa paling benar sendiri, paling suci sendiri. Chin-Ning Chu memberi nasehat : “Kebajikan”, katanya “bukanlah jubah yang engkau kenakan, atau gelar-gelar mulia yang engkau berikan kepada dirimu untuk dipamerkan kepada umum!”.

Jadi? Apa yang bisa kita petik dari pelajaran hari ini? 

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

Sang Widy

Just For Love In Your's Life

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian