MENCOCOKAN BUDAYA HIDUP PALING SULIT (Renungan)

pedanda gunung

Ida Pedanda Gede Made Gunung

OM SWASTIASTU, OM AWIGNAMASTU.

Cerita ini adalah sebuah fakta di lapangan, walaupun yang dimaksud dengan fakta di sini tidak merupakan hasil dari penelitian, namun hanya berdasarkan pengamatan saja. Sekalipun demikian kenyataannya hal seperti ini sering terjadi. Bila hal ini tidak di ketahui secara dini, kemungkinan besar bisa akan terjadi hal-hal yang sangat kita tidak harapkan di dalam menjaga keharmonisan berumah tangga. Untuk itulah harapan saya semoga apa yang mampu saya tuwangkan di dalam tulisan ini semoga dapat membantu didalam mewujudkan rumah tangga yang harmonis dan rumah tangga yang bahagia seukuran manusia. Maka dari itu Tulisan ini didahului dengan sebuah cerita nyata namun tanpa menuliskan identitas yang sebenarnya.

Cerita;
Pada suatu hari ada sepasang remaja sedang memaduh kasih, disaat itu bayangan yang ada di hati mereka berdua tidak lain adalah gambaran kebahagiaan, keindahan, bermanja-manja. Bila si Pemudi kakinya tersandung sedikit, maka si pemuda akan bertanya dengan kalimat yang indah dan intonasi bahasa yang amat sopan: ” Bagaimana sayaaaang……!!!! Sakit sayaaaaang…! Hati-hati sayaaaaang….!!!. Sambil mengusap-ngusap kaki si perempuan yang dikatakan tersandung “. Disaat itu kelihatan mereka berdua tak ubahnya berperilaku seperti Dewa dan Dewi.

Si Pemuda setiap hari menawarkan diri untuk mengantar pacarnya kemana saja maunya, dengan tulus dan ikhlas. Siapapun melihat peristiwa itu pasti turut merasakan kebahagiaan yang mereka sedang lakukan, dan turut mendoakan agar situasi dan kondisi seperti itu bisa dipertahankan sampai mereka menyusun rumah tangga nantinya.

Namun sangat berbeda kondisinya setelah mereka melakoni perkawinan, kadang-kadang berubah 180 derajat. Bila istrinya yang nota bena mantan pancarnya itu lagi kesandung kakinya, kalimat yang keluar dari bibir suaminya, Rasa bahasanya dan intonasinya sangat berubah; keras, kadang-kadang bernada marah. Tidak lagi mau atau jarang-jarang mau mengantar istrinya ke pasar membeli bahan makanan untuk keperluan mereka. Pokoknya ada perubahan.

Kalau kita lihat secara nyata, yang pacaran dulu adalah mereka, yang kawin juga mereka, dan secara fisik tidak ada perubahan, kenapa sikap bisa terjadi perubahan???? Perlu saya tekankan disini, memang tidak semua pasangan suami istri yang seperti itu, masih banyak pula yang sadar dapat memelihara hubungan harmonis mereka seperti saat mereka pacaran. Namun dalam tulisan ini yang disorot adalah mereka yang kurang mampu mempertahankan keharmonisan itu. Disamping itu untuk menghindari terjadinya rumah tangga yang berantakan. Tolong renungkan hal ini bagi saudara yang belum berumah tangga maupun saudara yang telah berumah tangga.

Masing-masing punya kelemahan;
Kaum laki dan kaum perempuan masing-masing punya kelemahan, maka dari itu didalam berumah tangga hal ini perlu diketahui dan pun bisa digunakan sebagai alat untuk menuju hal-hal yang positif (keluarga yang harmonis). Kaum laki kelemahannya di mata, dan kaum perempuan kelemahannya di telinga. Walaupun hal ini tidak berdasarkan penelitian maka kenyataannya dilapangan sudah seperti itu.

Misalnya;
Kalau kita bersuami istri, bila si suami sedang marah atau sedikit tersinggung, bila kita berpegang pada teori diatas, “Laki punya kelemahan di mata”. Istri jangan ikut berbicara (melawan), kalau ikut melawan akan terjadi hal yang lebih rumit lagi. Lalu berprilakulah yang dapat menarik perhatiannya, misalnya; masuk ke kamar hias, berhiaslah yang dengan sempurna dan pakain sedikit menarik perhatiannnya (yang disenangi oleh mereka), setelah itu berjalanlah, usahakan dapat melintas minimal 2X lewat didepannya. Sudah pasti marahnya sedikit turun bahkan seketika mereda. Sebaliknya bila si istri marah atau ngomel, si laki jangan ikut melawan dengan bahasa yang keras, jangan digertak sebab disaat seperti itu si Istri akan tidak mau mundur (hindari KDRT ). lalu si laki harus menurunkan nada bahasanya, menghaluskan intonasi bahasanya saat menyaut, sebab kelemahan perempuan ada di telinga. Pasti marah istri itu akan mereda.

Mencocokan budaya hidup.
Yang paling sulit di dalam perkawinan adalah mencocokan budaya hidup, sebab budaya seseorang sangat sulit untuk dirubah, walaupun bisa akan memakan waktu sangat lama.

Misalnya:
Pada waktu pacaran sebelum nikah semua gambaran hidup yang bahagia, gembira, indah yang keluar, namun kebiasaan yang kurang baik jarang diutarakan bahkan tidak pernah dimunculkan, seperti misalnya salah satu dari mereka setiap tidur mendengkur, atau setiap tidur ngorok, lalu pasangannya tidak bisa tidur lelap bila tidur bersama dengan orang yang biasa mendengkur/biasa ngorok. ini akan menjadi masalah yang kemungkinan akan terjadi hal yang tidak diharapkan. Itu salah satu contoh, mungkin banyak lagi contoh yang bisa diambil.

Lalu bagaimana caranya supaya hal seperti itu tidak menjadi latar blakang pertengkaran. Solusinya begini;

1. Syukurilah apa yang kita dapati memang itu merupakan bagian dari hidup kita, sebab kitalah yang memilihnya sehingga terjadi pernikahan.

2. Disaat pacaran bila perlu utarakan hal-hal atau kebiasaan yang kita miliki, agar lawan jenis (calon pasangan) kita atau calon kita jauh sebelumnya sudah menyadarinya.

Demikianlah sekilas tulisan ini semoga ada manfaatnya demi keutuhan keluarga kita. Bila ada hal-hal yang tidak atau kurang berkenan di dalam tulisan ini mari kita mohonkan ampun kehadapan yang Maha Kuasa dengan ucapan parama santi;

OM SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM.

-Ida Pedanda Gede Made Gunung-

Iklan

JAWA TIMUR JUARAI PEMILIHAN KELUARGA SUKHINAH TELADAN TINGKAT NASIONAL TAHUN 2012

Dirjen Bimas Hindu, Prof. Dr. IBG. Yudha Triguna, MS. Menyematkan Tanda Peserta

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama R.I. melalui Subdit Penyuluhan Direktorat Urusan Agama Hindu, tanggal 11 s.d. 14 Oktober 2012 menyelenggarakan Pendidikan dan Pemilihan Keluarga Sukhinah Teladan Tingkat Nasional Tahun 2012. Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Kawanua Aerotel Jakarta, Jl. Cempaka Putih No. 120, Jakarta Pusat ini diikuti oleh 33 pasang peserta yang merupakan peserta terpilih, pasangan suami-istri perwakilan dari 33 provinsi di Indonesia.

Acara dibuka oleh Dirjen Bimas Hindu, Prof. Dr. IBG. Yudha Triguna, MS. pada hari Kamis, 11 Oktober 2012 dihadiri pula oleh Direktur Urusan Agama Hindu, I Ketut Lancar, SE.,M.Si. Bapak Dirjen mengungkapkan, Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama R.I. selalu berupaya semaksimal mungkin membuat berbagai terobosan/program kegiatan yang mengarah pada terciptanya kehidupan masyarakat Hindu yang lebih memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Hindu dalam kehidupan sehari-hari. Beliau juga berharap dengan diselenggarakannya acara ini, dapat terpilih keluarga sukhinah teladan, yang dapat dipakai contoh dan memberikan teladan di masyarakat nantinya dalam pembinaan Umat Hindu. Baca pos ini lebih lanjut

KELUARGA SUKINAH DARI PERSPEKTIF HINDU

Prajanartha striyah srstah

Samtanartham ca manawah

Tasmat sadharano dharmah

ςrutau patnya sahaditah

Vedasmrti. IX.96

Untuk menjadi ibu, wanita itu diciptakan dan

untuk menjadi ayah , laki-laki itu diciptakan

Upacara keagamaan karena itu ditetapkan di dalam Veda

Untuk dilakukan oleh suami beserta dengan istrinya.

A. Pendahuluan

Sejak awal kehidupan manusia , ternyata bersatunya antara seorang wanita dengan seorang laki-laki yang disimbulkan akasa dan pertiwi sebagai cakal bakal sebuah kehidupan baru yang diawali dengan lembaga perkawinan. Hendaknya laki-laki dan perempuan yang telah terikatdalam ikatan perkawinan selalu berusaha agar tidak bercerai dan selalu menyintai dan setia sampai hayat hidupnya, jadikanlah hal ini sebagi hukum yang tertinggi dalam ikatan suami-istri (G.Pudja MA, 2002 :561). Keluarga yang dibentuk hanya berlangsung sekali dalam hidup manusia, keluarga atau rumah tangga bukanlah semata-mata tempat berkumpulnya laki dan wanita sebagai pasangan suami istri dalam satu rumah, makan-minum bersama. Namun mengupayakan terbunanya keperibadian dan ketenangan lahir dan bathin, hidup rukun dan damai, tentram, bahagia dalam upaya menurunkan tunas muda yang suputra (Jaman, 195 :3).

Menurut Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 Bab I

pasal 1:

menyebutkan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir dan bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga bahagia dan kekal berdasarkan Ketuahanan Yang maha Esa.

pasal 2 :

Menyebutkan bahwa perkawinan adalah sah apabila dilaksanakan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.

Dengan demikian perkawinan menurut pandangan Hindu bukanlah sekedar legalitas hubungan biologis semata tetapi merupakan suatu peningkatan nilai berdasarkan hukum Agama, karena Wiwaha samkara adalah merupakan upacara sacral atau skralisasi peristiwa kemanusiaan yang bersifat wajib ( G. Pudja,MA,2002 :80).

Keluarga bahagia yang menjadi tujuan wiwaha samkara dalam terminology Hindu disebut keluarga Sukhinah merupakan unsur yang sangat menentukan terbentuknya masyarakat sehat (sane society). Baca pos ini lebih lanjut

WANITA MADUNYA MANTRA DAN YADNYA

Merupakan kesia-siaan seorang suami melakukan upacara agama tanpa keikutsertaan istri tercinta disampingnya. Sehingga, suami yang bijaksana tidak akan melakukan upacara tanpa kehadiran istrinya.

Kutipan Markandya purana diatas, tentunya, akan dapat termaknai, bahwa tidak hanya masalah kehadiran wanita yang menjadi fokus perhatian, namun ada makna yang lebih dalam, artinya “wanita harus dilindungi oleh suami agar senantiasa berada didalam lindungannya”. Hanya dengan prilaku demikian, puncak kebahagiaan, atau candi niknmatnya suami – istri, akan tercapai. Upacara yang merupakan tali pengikat dari pada purusa (suami) dengan prakreti (istri), keberadaannya harus menyatu, sehingga upacara itu dapat terlaksana.

Kutara Manawa, menjelaskan bahwa, suami istri merupakan cikal bakal terbentuknya hukum kehidupan, baik sebagai panutan, dibidang spiritual, ia juga sebagai panutan tata kehidupan bermasyaraklat maupun bernegara, disamping merupakan dasar utama, terjadinya tata hubungan pewarisan bagi anak – anaknya. Lebih Lanjut Kutara Manawa, buku kesembilan, Atha Nawano’Dhyayah sloka 1 menguraikan sebagai berikut : Baca pos ini lebih lanjut

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

WP SHOP COLLECTION

Belanja Murah Terjamin & Berkualitas, Disini Tempatnya!!!

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian

Different kind of Mahabharata

Another stories behind the epic

nakbaliblog

Jadilah Apa Yang Kita Suka, Bikinlah Apa Yang Kita Suka, Jalanilah Apa Yang Kita Suka

Artikel Ajaran Agama Hindu

Artikel Agama Hindu, Ajaran atau Pelajaran Tentang Agama Hindu