Sejarah Hari Raya Nyepi di Indonesia

Om Swastyastu,

Nyepi merupakan Hari Raya Umat Hindu untuk memperingati perayaan Tahun Baru Saka. Yang perhitungannya berdasarkan sasih, atau bulan. Jaruh setiap 360 hari sekali.

Bagi masyarakat Hindu Bali Nyepi identik dengan hari di mana kita tidak keluar rumah seharian, hari di mana kita tidak melakukan pekerjaan apapun seharian, hari tanpa kebisingan, di mana malam harinya sepi dan gelap gulita karena tidak boleh menyalakan lampu, hari yang memberi kesempatan untuk “mulat sarira” (melakukan introspeksi atau kembali ke jati diri) dengan merenung atau meditasi, hari dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian.

Umat Sedharma yang berbahagia, kita merayakan Nyepi setiap tahun, namun apa semua tau bagaimana sejarahnya perayaan Nyepi bisa seperti saat ini? Sumber teksnya ada di kitab apa? Ini tentunya menjadi pertanyaan yang ada di pikiran banyak orang.

Maka dari itu, pada kesempatan ini saya akan mencoba berbagi informasi yang saya peroleh dari berbagai sumber, semoga bermanfaat, bisa menambah pengetahuan kita tentang Sejarah Hari Raya Nyepi di Indonesia.

Umat sedharma, kita semua tahu bahwa agama Hindu berasal dari India dengan kitab sucinya Weda. Di awal abad masehi bahkan sebelumnya, Negeri India dan wilayah sekitarnya digambarkan selalu mengalami krisis dan konflik sosial berkepanjangan.

Pertikaian antar suku-suku bangsa, al. (Yaitu Suku Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya) menang dan kalah silih berganti. Gelombang perebutan kekuasaan antar suku menyebabkan terombang-ambingnya kehidupan beragama itu. Pola pembinaan kehidupan beragama menjadi beragam, baik karena kepengikutan umat terhadap kelompok-kelompok suku bangsa, maupun karena adanya penafsiran yang saling berbeda terhadap ajaran yang diyakini.

Dan pertikaian yang panjang pada akhirnya suku Saka menjadi pemenang di bawah pimpinan Raja Kaniskha I yang dinobatkan menjadi Raja dan turunan Saka, tanggal 1 (satu hari sesudah tilem) bulan 1 (caitramasa) tahun 01 Saka, pada bulan Maret tahun 78 masehi.

Dari sini dapat diketahui bahwa peringatan pergantian tarikh saka adalah hari keberhasilan kepemimpinan Raja Kaniskha I menyatukan bangsa yang tadinya bertikai dengan paham keagamaan yang saling berbeda. Sejak tahun 78 Masehi itulah ditetapkan adanya tarikh atau perhitungan tahun Saka, yang satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut Caitramasa, bersamaan dengan bulan Maret tarikh Masehi dan Sasih Kesanga dalam tarikh Jawa dan Bali di Indonesia. Sejak itu pula kehidupan bernegara, bermasyarakat dan beragama di India ditata ulang.

Oleh karena itu peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional. Keberhasilan ini disebar-luaskan keseluruh daratan India dan Asia lainnya bahkan sampai ke Indonesia.

Pada abad ke-4 Masehi agama Hindu telah berkembang di Indonesia, sistem penanggalan Saka pun telah berkembang pula di Indonesia.

Itu dibawa oleh seorang pendeta bangsa Saka yang bergelar Aji Saka dari Kshatrapa Gujarat (India) yang mendarat di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 456 Masehi.

Dinyatakan Sang Aji Saka di samping telah berhasil mensosialisasikan peringatan pergantian tahun saka ini, juga berhasil mensosialisasikan aksara Jawa yang merupakan cikal bakal aksara Bali.

Demikianlah awal mula perkembangan Tahun Saka di Indonesia. Pada zaman Majapahit, Tahun Saka benar-benar telah eksis menjadi kalender kerajaan. Di Kerajaan Majapahit pada setiap bulan Caitra (Maret), Tahun Saka diperingati dengan upacara keagamaan. Di alun-alun Majapahit, berkumpul seluruh kepala desa, prajurit, para sarjana, Pendeta dan Sri Baginda Raja. Topik yang dibahas dalam pertemuan itu adalah tentang peningkatan moral masyarakat. Dan mensosialisasikan tentang Pada tahun 456 Masehi (atau Tahun 378 Saka), datang ke Indonesia seorang Pendeta penyebar Agama Hindu yang bernama Aji Saka asal dari Gujarat, India. Beliau mendarat di pantai Rembang (Jawa Tengah) dan mengembangkan Agama Hindu di Jawa.

Ketika Majapahit berkuasa, (abad ke-13 Masehi) Perayaan Tahun Saka pada bulan Caitra ini dijelaskan dalam Kitab Nagara Kartagama oleh Rakawi Prapanca pada Pupuh 8, 12, 85, 86 – 102. Sejak itu Tahun Saka resmi digunakan di Indonesia. Masuknya Agama Hindu ke Bali kemudian disusul oleh penaklukan Bali oleh Majapahit pada abad ke-14 dengan sendirinya membakukan sistem Tahun Saka di Bali hingga sekarang. Di Bali, perayaan Tahun Saka ini dirayakan dengan Hari Raya Nyepi berdasarkan petunjuk Lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala. Hari Raya Nyepi ini dirayakan pada Sasih Kesanga setiap tahun. Biasanya jatuh pada bulan Maret atau awal bulan April.

Perpaduan budaya (akulturasi) Hindu India dengan kearifan lokal budaya Hindu Indonesia (Bali) dalam perayaan Tahun Baru Saka inilah yang menjadi pelaksanaan Hari Raya Nyepi unik seperti saat ini.

Umat sedarma, demikianlah sejarah hari raya Nyepi yang dirayakan umat Hindu di Indonesia. Semoga bermanfaat.

Matur Suksma
Om Santi, Santi, Santi, Om.

Iklan

Makna Banten Saiban Dalam Tradisi Hindu Bali

PERLU DIKETAHUI, MAKNA BANTEN SAIBAN (MEJOTAN) DALAM TRADISI HINDU DI BALI
Om, Swastiastu, Om. Mohon dishare apabila bermanfaat.

Mesaiban / Mejotan biasanya dilakukan setelah selesai memasak atau sebelum menikmati makanan. Dan sebaiknya memang mesaiban dahulu, baru makan. Seperti yang dikutip Bhagawadgita(percakapan ke-3, sloka 13) yaitu :

“YAJNA SISHTASINAH SANTO, MUCHYANTE SARVA KILBISHAIH, BHUNJATE TE TV AGHAM PAPA, YE PACHANTY ATMA KARANAT”

Artinya :

“Yang baik makan setelah upacara bakti, akan terlepas dari segala dosa, tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi diri sendiri, mereka ini sesungguhnya makan dosa.”

***

Makna dan Tujuan Mesaiban

Yadnya sesa atau mebanten saiban merupakan penerapan dari ajaran kesusilaan Hindu, yang menuntut umat untuk selalu bersikap anersangsya yaitu tidak mementingkan diri sendiri dan ambeg para mertha yaitu mendahulukan kepentingan di luar diri. Pelaksanaan yadnya sesa juga bermakna bahwa manusia setelah selesai memasak wajib memberikan persembahan berupa makanan, karena makanan merupakan sumber kehidupan di dunia ini.
Tujuannya mesaiban yaitu sebagai wujud syukur atas apa yang di berikan Hyang Widhi kepada kita. Sebagaimana diketahui bahwa yadnya sebagai sarana untuk menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa untuk memperoleh kesucian jiwa. Tidak saja kita menghubungkan diri dengan Tuhan, juga dengan manifestasi-Nya dan makhluk ciptaan-Nya termasuk alam beserta dengan isinya.
***

Sarana Banten Saiban

Banten saiban adalah persembahan yang paling sederhana sehingga sarana-sarananya pun sederhana. Biasanya banten saiban dihaturkan menggunakan daun pisang yang diisi nasi , garam dan lauk pauk yang disajikan sesuai dengan apa yang dimasak hari itu, tidak ada keharusan untuk menghaturkan lauk tertentu.
Yadnya Sesa (Mesaiban) yang sempurna adalah dihaturkan lalu dipercikkan air bersih dan disertai dupa menyala sebagai saksi dari persembahan itu. Namun yang sederhana bisa dilakukan tanpa memercikkan air dan menyalakan dupa, karena wujud yadnya sesa itu sendiri dibuat sangat sederhana.
***

Tempat Menghaturkan Saiban

Ada 5 (lima) tempat penting yang dihaturkan Yadnya Sesa (Mesaiban), sebagai simbol dari Panca Maha Bhuta:
1. Pertiwi (tanah),biasanya ditempatkan pada pintu keluar rumah atau pintu halaman.

2. Apah (Air), ditempatkan pada sumur atau tempat air.

3. Teja (Api), ditempatkan di dapur, pada tempat memasak(tungku) atau kompor.

4. Bayu, ditempatkan pada beras,bisa juga ditempat nasi.

5. Akasa, ditempatkan pada tempat sembahyang(pelangkiran,pelinggih dll).
Tempat-tempat melakukan saiban jika menurut Manawa Dharmasastra adalah: Sanggah Pamerajan, dapur, jeding tempat air minum di dapur, batu asahan, lesung, dan sapu.
Kelima tempat terakhir ini disebut sebagai tempat di mana keluarga melakukan Himsa Karma setiap hari, karena secara tidak sengaja telah melakukan pembunuhan binatang dan tetumbuhan di tempat-tempat itu.
Didalam Kitab Manawa Dharma Sastra Adhyaya III 69 dan 75 dinyatakan: Dosa-dosa yang kita lakukan saat mempersiapkan hidangan sehari-hari itu bisa dihapuskan dengan melakukan nyadnya sesa.
***

Doa-doa dalam Yadnya Sesa (Doa Mesaiban)

Yadnya Sesa yang ditujukan kepada Hyang Widhi melalui Istadewata(ditempat air,dapur,beras/tempat nasi dan pelinggih/pelangkiran doanya adalah:
“OM ATMA TAT TWATMA SUDHAMAM SWAHA, SWASTI SWASTI SARWA DEWA SUKHA PRADHANA YA NAMAH SWAHA.”
Artinya:

“Om Hyang Widhi, sebagai paramatma daripada atma semoga berbahagia semua ciptaan-Mu yang berwujud Dewa.”
Yadnya Sesa yang ditujukan kepada simbol-simbol Hyang Widhi yang bersifat bhuta, Yaitu Yadnya Sesa yang ditempatkan pada pertiwi/tanah doanya:
“OM ATMA TAT TWATMA SUDHAMAM SWAHA, SWASTI SWASTI SARWA BHUTA,KALA,DURGHA SUKHA PRADANA YA NAMAH SWAHA.”
Artinya: 

“Om Sang Hyang Widhi, Engkaulah paramatma daripada atma, semoga berbahagia semua ciptaan-Mu yang berwujud bhuta,kala dan durgha.”
Jadi pada kesimpulannya sebuah tradisi Hindu di Bali yaitu mesaiban/mejotan merupakan sebuah tradisi yang menghaturkan atau membersembahkan apa yang dimasak atau disajikan untuk makan dipagi hari kepada Tuhan beserta manifestasi-Nya terlebih dahulu  dan barulah sisanya kita yang memakannya . Semua sebagai wujud syukur kita kepada Tuhan dan menebus dosa atas dosa membunuh hewan dan tumbuhan yang diolah menjadi makanan.

Om, Shanti, Shanti, Shanti, Om

dari berbagai sumber. CMIIW.

Menikahlah, Jangan Tunda Lagi! Kenapa?

​Tunjukan Rasa Cinta-Mu pada Keluarga dan Leluhurmu dengan segera menikah….!!

tetapi…ITU baru langkah awal saja…
kenapa Menikah tersebut sebagai BUKTI cinta-kasih kita kepada keluarga dan leluhur kita…???
ini cerita TATTWA Itihasa – Adiparwa

diceritakan ada sosok anak muda cerdas, sakti-siddhi…

dia orang yang sangat mendalami ajaran weda, dengan kecerdasan dan ke-sidhiannya, dia berkehendak untuk segera MOKSA, karena itu merupakan tujuan akhir dari ajaran weda… Moksa, kembai ke hyang pencipta, menyatu denganNYA… dia dikenal dengan nama #Jaratkaru
nah, untuk mengisi waktunya dlm bbrp menit sblm moksa…

dia iseng menggunakan apa yang dia pelajari, kesaktiannya untuk mengetahui isi alam ini, tidak hanya di dunia, sorga dan neraka-pun dikunjunginya…

betapa bahagianya dia saat berkeliling dunia menyaksikan ciptaan dari brahman, merasakan isi dunia ini milikNYA.. karena sebentar lg dia jua akan menyatu kembali dengan brahman… pergi dia kesorga… mendengarkan pujian dari para dewata kpd dirinya…

sampailah dia di tegal penangsaran (neraka)… di suasana panas tandusnya neraka, dia masih enjoy menikmati ciptaanNYA..

dalam perjalanan menyusuri neraka, saat melintasi “tiing petung berdaun keris”, ada sosok roh manusia yg menyapanya dengan ririh… roh tersebut kagum akan cahaya cinta kasih yg dipancarkan pengunjung tsb…

karena etika agama yg tinggi, jaratkaru-pun menyahut sapaan dari sang roh tersiksa tersebut…

melihat sosok roh manusia, yang tergantung di tiing petung berdaun keris… dimana kakinya berada diatas dengan posisi terikat,,.. setiap hembusan udara panasnya neraka mengakibatkan berjatuhan daun keris yang tua, hinggga ada salah satu daun menancap di sosok roh tersebut… erangan sakit, membuat iba sang tamu…
bertanyalah jaratkaru: 

tuan.. apakah salahmu hingga disiksa sprt ini?
roh tersiksa menjawab: 

dia mempunyai putra bernama jaratkaru, yang menjalankan suklabrahmacari, tidak menikah… dan akan segera moksa, krn itu saya yg belum bisa moksa tergantung disini, dibatas sorga menunggu putusnya tali gantungan shg masuk neraka… sy mohon, bila tuan kembali ke dunia, sampaikan pesan sy kepada anakku, agar sebelum moksa, sudi kiranya memberikan jalan kpd ayahnya ini untuk menjelma kedunia,agar bs memperbaiki diri…
jaratkarupun bersedih mendengar ucapat roh tersiksa tersebut yang ternyata adalah ayahnya sendiri… yang tidak bisa turun ke dunia menjadi manusia karena EGOnya yg ingin moksa tanpa meperdulikan leluhurnya… 

dan akhirnya, sblm MOKSA, jaratkarupun menikah dan menurunkan leluhurnya.. sbg putra kesayangannya..

_________________

so….

intinya…

bila kita org bali ingin mengurangi beban leluhur kita, sebagai bagian dari PITRA YADNYA… segeralah menikah… dan berikan mereka jalan untuk turun kedunia melalui jalan punarbhawa menjadi anak2 kita…

CATATAN….

sebagai tanda cinta kita pd leluhur (pitra yadnya)… tidak hanya asal menikah dan memiliki putra saja…. pilihlah JALAN terbaik untuk leluhur anda tsersebut… pilih pasangan yang dapat diajak membangun keluarga bahagia, pilihlah dewasa ayu terbaik untuk kehidupan keluarga yang lebih baik.. serta setelah leluhur anda menjadi putra anda… berikan yang terbaik buat mereka, karena anak anda adalah leluhur anda yg sedang memperbaiki karmanya…

salam #ajegBali rahayu sareng sami….
#gamabali #iLoveBali #AdiParwa #Itihasa #TattwaBali 

<Budi Mahend>

Jelekkah sifat SANGUT itu?

​S A N G U T**

Nyangut!!! Begitu biasanya orang Bali memberi istilah bagi mereka yang pikirannya bertentangan dengan tuannya. Dia seolah memihak musuh akibat pikirannya itu. Tidak ada yang tahu persis, entah apa ide dasarnya sehingga I Sangut justru ditempatkan di posisi “Wang Kebot”. Di posisi mana biasanya Ki Dalang menempatkan para pembuat onar macamnya Rahwana dalam serial Ramayana. Atau Korawa dalam ephos Mahabharata.

Sangut selalu bersungut jika tidak setuju atas segala prilaku buruk tuannya. Hanya saja dia tidak dengan segera membantah. Dia lebih memilih diam ketika tuannya merekayasa rencana jahat. Tetapi dia baru akan menggerutu dibelakang punggung tuannya atau saat sedang berdua saja bersama partnernya I Delem. Dia akan segera nyroscos, bicara kelemahan tuannya serta tantangan yang akan menghambat bila prilaku buruk tuannya tidak segera dihentikan. Dia akan tidak habis-habisnya menggerutu perihal seharusnya… seharusnya dan seharusnya.

…..

Sangut adalah salah satu dari punakawan. Dimana dalam setiap pementasan, para punakawan selalu dijadikan representasi dari karakter rakyat.

Barangkali suara I Sangut adalah memang suara rakyat, yang niatnya tidak pernah langsung digaungkan. Mereka hanya mengurai keluh kesahnya dalam diam. Yang hanya didengar oleh kedalaman hati mereka sendiri.

Ada berbagai alasan I Sangut banyak diam. Salah satunya adalah bisa jadi dia sedang menyimak secermatnya serta berhitung terhadap suasana yang akan berkembang setelahnya. Karena setiap kata dan kalimat para pemimpin akan menentukan kelanjutan hari-hari bersama sedulurnya yang juga rakyat kebanyakan.

Bagi rakyat tidak ada yang lebih penting dari kepastian tentang ‘ketiadaan’ masalah. Bagi mereka tidak penting benar berbagai selogan yang akhirnya menjadi sekedar pemicu harapan. Kalaupun harapan berperan dalam memotivasi, namun ada yang lebih penting dari itu. Yaitu kedamaian nyata yang memastikan bahwa mereka masih dapat menyusun rencana hidup dengan sukacita. Tidak ada yang lain dari itu dan hanya sederhana saja.

Karenanya para pemimpin mestinya memahami bahwa segala pernik ambisi mereka harusnya beranjak dari apa yang menjadi suasana hati rakyatnya. Rakyatlah yang seharusnya menjadi ikhwal. Mengingat keberadaan mereka sesungguhnya merupakan cermin dari bagaimana prilaku sebuah bangsa dalam memberi rasa hormat kepada kehidupan.

Rakyat yang lapar jelas tidak butuh sekedar harapan. Juga tidak butuh iming-iming untuk makan mewah. Rakyat hanya butuh perut yang kenyang bersama canda generasi penggantinya.

…..

I Sangut memang hanya bersungut. Tetapi amat sering sungutnya menjadi nyata di akhir pementasan. Tuan mereka sering terkapar tanpa sempat sekedar menyesali dan berucap “Selamat tinggal” bagi prilaku buruknya.  Dan Ki Dalang selalu menjadikan itu sebagai momentum. Yaitu buat ‘mapekeling’ tentang kebenaran sederhana yang mesti selalu ditegakkan oleh siapapun.

……

I Sangut barangkali gambaran dari “kebenaran yang salah mengambil tempatnya”. Dia adalah kebenaran yang menggigil menahan diri karena suara sangar keangkuhan lebih didengar akibat selalu dikedepankannya ambisi. Padahal hidup hanya butuh kebenaran sederhana. Hidup juga tidak butuh kemewahan di angan-angan. 

Ya…I Sangut memang representasi kebenaran yang salah memilih tempatnya***

  ~ olih Tut sumarya  ~

​DOA, MANTRA MEMOHON ANAK ATAU KETURUNAN

Dikutip dari shareing umat Hindu di facebook.
Tentang Mantra memohon anak keturunan, membuat hati saya tergugah untuk mencari-carinya. setelah lama mencari, akhirnya saya menemukan doa mantra, yang mungkin berguna untuk para semeton hindu bali.

Masalah kelahiran, kehidupan, dan kematian semuanya di tangan Hyang Widhi. Manusia hanya bisa memohon ke hadapan Hyang Widhi. Untuk itu perlu diketahui bahwa kelahiran dalam Agama Hindu berarti re-inkarnasi roh leluhur.

Roh leluhur bisa ber-reinkarnasi bila sudah suci, yaitu sudah di aben-nyekah dan mepaingkup. 

Cobalah ditanyakan apakah para leluhur sudah diaben atau belum atau masih banyak yang belum di-aben. Bila demikian halnya ini satu unsur penyebab. Saran ini tentu atas asumsi bahwa anda sudah berkonsultasi dengan dokter dan tidak ada masalah dengan kesehatan.

Lakukan Puja Trisandya dan Kramaning Sembah/persembahyangan terus menerus secara intensif untuk mohon dikaruniai putra. 

Mantra Memohon Putra – Anak Keturunan

berikut ini rekomendasi Ritual sembahyang yang disarankan untuk memohon anak keturunan

PERTAMA, Awali setiap sembahyang dengan Puja Trisandya

KEDUA, Ucapkan doa Mantram ini dapat diucapkan setelah Puja Trisandya:

Om Brhatsumnah Prasavita Nivesano

Jagatah Sthaturubhayasya Yo Vasi

Sa No Devah Savita Sarma Yacchatvasme

Ksayaya Trivarutham Amhasah
Om Ayu Werdi Yaso Werdi

Werdi Prajnyam Suka Sryam

Dharma Santana Werdisyat

Santute Sapta Werdayah
Om Dirgayur Astu Tat Astu Astu Swaha

Artinya:

Hyang Widhi yang memberi kehidupan kepada alam dan menegakkannya, yang mengatur baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, semoga memberikan karunianya kepada kami keturunan dan ketentraman hidup dan kemampuan untuk menghindari kekuatan jahat.

Hyang Widhi, berkatilah kami dengan kebahagian, usia panjang, kepandaian, kesenangan, jalan Dharma, dan keturunan. Semoga terkabul Oh, Hyang Widhi.

KETIGA, Lakukan Kramaning sembah seperti biasanya.

KEEMPAT, berusahalah selalu menolong/membantu orang tua, terutama ibu (baik ibu mertua maupun ibu kandung), berusaha selalu menyenangkan hatinya dan usahakan selalu “melakukan padasewanam” (menyentuh kakinya atau duduk dibawah kaki seorang ibu.

KELIMA, menjelang tidur lakukan japa Gayatri Mantram 9x, kemudian dilanjutkan dengan mantra: “Om Pitro Byo Namah Swada” (memohon keadaan yang layak serta untuk menyenangkan leluhur) sebanyak-banyaknya dan/atau semampunya.

KEENAM, lakukan hubungan seksual maksimal 3hari sekali, jangan terlalu sering dan perhatikan prihal “hari baik berhubungan badan”

KETUJUH, guna memperoleh keturunan yang suputra, perhatikan juga prihal “Cara Membuat Anak yang Suputra”

KEDELAPAN, berusaha untuk menyisakan nasi beserta lauknya di dapur, dengan asumsi bila ada pitra yang pulang, agar ada suguhan sekedarnya. (sisakan saja nasi ditempat nasi biasanya, tidak perlu ada persiapan khusus). serta berusaha untuk memasak dirumah (diusahakan masak sendiri) karena kesiapan anda untuk menunggu anugrah seorang putra dilihat dari kesiapan anda untuk berbuat lebih kepada yang akan hadir, minimal mau berkorban hanya sekedar memasakkan makanan untuk keluarga. karena pengalaman yang sering dijumpai, pasangan suami istri yang lebih sering makan diluar rumah atau tidak masak lebih sulit untuk mendapatkan keturunan yang suputra.

KESEMBILAN, sisihkan penghasilan anda untuk PUNIA, serta Lakukan puasa minimal setiap purnama/ tilem, berbuatlah kebajikan sebanyak-banyaknya, dan pasrahkan hidup anda kepada-Nya.

APABILA kesemua hal tersebut diatas sudah dilakukan rutin selama 1 tahun atau 2x odalan di pemerajan anda, maka yang mesti diperhatikan adalah

Dewasa Ayu Nganten anda. cobalah mengingat-ingat kembali hari pernikahan anda terutama hari dimana anda melakukan “Natab Banten Byakala atau Mekalan-kalan” karena hari tersebutlah anda dianggap sah secara sekala-niskala menjadi pasangan suami istri. silahkan cek di “Pemilihan Hari Baik Nganten”. 

DAKSINA

Daksina dapat diartikan sebagai kekuatan Brahman yang memiliki sifat Nirguna Brahman, dilihat dari kata daksina adalah selatan, selatan dalam pengideran disimbulkan sebagai agni dengan Prabhawanya sebagai kekuatan Brahma, memiliki fungsi sebagai pencipta sehingga dapat sebutan sebagai “Brahman”, kemudian Brahman bermanifestasi menjadi 13 (tiga belas) kekuatan sebagai pesaksi umat Hindu dalam beryadnya antara lain:

  1. Serobong daksina adalah sebagai simbul alam semesta dengan Prabhawanya sebagai Sang Hyang Ibu Pertiwi.
  2. Berisi tetampak adalah sebagai simbul adanya Hukum sebab akibat (RTA) dengan Prabhawanya sebagai Sang Hyang Ruwa Bhineda.
  3. Berisi beras adalahsebagai simbul adanya udara dengan Prabhawanya sebagai Sang Hyang Bayu.
  4. Berisi porosan silih asih adalah sebagai adanya kekuatan Kama dengan Prabhawanya sebagai Sang Hyang Semara.
  5. Berisi sebutir pangi adalah sebagai simbul samudra dengan Prabhawanya sebagi Sang Hyang Baruna.
  6. Berisi gebantusan adalah sebagai simbul adanya gaib di alam semesta ini dengan prabhawanya sebagai Sang Hyang Indra.
  7. Berisi pepeselan adalah sebagai simbul tumbuh-tumbuhan di alam semesta dengan prabhawanya sebagai Sang Hyang Sangkara.
  8. Berisi kelapa adalah simbul Matahari dengan prabhawanya sebagai Sang Hyang Surya.
  9. Berisi sebutir telur itik adalah sebagai simbul planet Bulan dengan prabhawanya sebagai Sang Hyang Wulan.
  10. Berisi sebutir buah kemiri adalah seabagi simbul bintang dengan prabhawnaya sebagai Sang Hyang Tranggana.
  11. Berisi seuntai benang putih adalah sebagai simbul awan dengan prabhawanya sebagai Sang Hyang Aji Akasa.
  12. Berisi wang kepeng bolong satu kepeng adalah sebagai simbul ruang angkasa dengan prabhawanya sebagai Sang Hyang Sunia Mertha.
  13. Berisi sebuah canang sari adalah sebagai simbul adanya kekuatan mata angin Timur, Selatan, Barat, Utara dan di tengah dengan prabhawanya sebagai Sang Hyang Panca Dewata (Lontar Pelutaning Yadnya).

Melihat dari penjelasan di atas, maka dapat dihubungkan dengan stavanya sang Hyang Siwa Raditya maka 13 (tiga belas) kekuatan tersebut mendapat sebutan sebagai Sang Hyang Triodasa Saksi sesuai dengan sahannya antara lain:

Baca pos ini lebih lanjut

CANANG

Upakara dengan kwantitas terkecil yang dikenal dengan istilah kanista atau inti dari Upakara disebut “Canang”, untuk dapat mengambil semerti dari canang dapat diambil dari kata canang, yang berasal dari suku kata “Ca” yang artinya indah, sedangkan suku kata “Nang”, artinya, tujuan yang dimaksud (kamus Kawi-Bali). Dengan demikian maksud dan tujuan canang adalah, sebagai sarana bahasa Weda untuk memohon keindahan (Sundharam) kehadapan Sang Hyang Widhi.

Mengenai bentuk dan fungsi canang menurut pandangan ajaran Agama Hindu di Bali memiliki beberapa bentuk dan fungsi sesuai dengan kegiatan upacara yang dilaksanakan. Canang dapat dikatakan sebagai penjabaran dari bahasa Weda melalui simbul-simbulnya yaitu : Baca pos ini lebih lanjut

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

WP SHOP COLLECTION

Belanja Murah Terjamin & Berkualitas, Disini Tempatnya!!!

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian