Makna Banten Saiban Dalam Tradisi Hindu Bali

PERLU DIKETAHUI, MAKNA BANTEN SAIBAN (MEJOTAN) DALAM TRADISI HINDU DI BALI
Om, Swastiastu, Om. Mohon dishare apabila bermanfaat.

Mesaiban / Mejotan biasanya dilakukan setelah selesai memasak atau sebelum menikmati makanan. Dan sebaiknya memang mesaiban dahulu, baru makan. Seperti yang dikutip Bhagawadgita(percakapan ke-3, sloka 13) yaitu :

“YAJNA SISHTASINAH SANTO, MUCHYANTE SARVA KILBISHAIH, BHUNJATE TE TV AGHAM PAPA, YE PACHANTY ATMA KARANAT”

Artinya :

“Yang baik makan setelah upacara bakti, akan terlepas dari segala dosa, tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi diri sendiri, mereka ini sesungguhnya makan dosa.”

***

Makna dan Tujuan Mesaiban

Yadnya sesa atau mebanten saiban merupakan penerapan dari ajaran kesusilaan Hindu, yang menuntut umat untuk selalu bersikap anersangsya yaitu tidak mementingkan diri sendiri dan ambeg para mertha yaitu mendahulukan kepentingan di luar diri. Pelaksanaan yadnya sesa juga bermakna bahwa manusia setelah selesai memasak wajib memberikan persembahan berupa makanan, karena makanan merupakan sumber kehidupan di dunia ini.
Tujuannya mesaiban yaitu sebagai wujud syukur atas apa yang di berikan Hyang Widhi kepada kita. Sebagaimana diketahui bahwa yadnya sebagai sarana untuk menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa untuk memperoleh kesucian jiwa. Tidak saja kita menghubungkan diri dengan Tuhan, juga dengan manifestasi-Nya dan makhluk ciptaan-Nya termasuk alam beserta dengan isinya.
***

Sarana Banten Saiban

Banten saiban adalah persembahan yang paling sederhana sehingga sarana-sarananya pun sederhana. Biasanya banten saiban dihaturkan menggunakan daun pisang yang diisi nasi , garam dan lauk pauk yang disajikan sesuai dengan apa yang dimasak hari itu, tidak ada keharusan untuk menghaturkan lauk tertentu.
Yadnya Sesa (Mesaiban) yang sempurna adalah dihaturkan lalu dipercikkan air bersih dan disertai dupa menyala sebagai saksi dari persembahan itu. Namun yang sederhana bisa dilakukan tanpa memercikkan air dan menyalakan dupa, karena wujud yadnya sesa itu sendiri dibuat sangat sederhana.
***

Tempat Menghaturkan Saiban

Ada 5 (lima) tempat penting yang dihaturkan Yadnya Sesa (Mesaiban), sebagai simbol dari Panca Maha Bhuta:
1. Pertiwi (tanah),biasanya ditempatkan pada pintu keluar rumah atau pintu halaman.

2. Apah (Air), ditempatkan pada sumur atau tempat air.

3. Teja (Api), ditempatkan di dapur, pada tempat memasak(tungku) atau kompor.

4. Bayu, ditempatkan pada beras,bisa juga ditempat nasi.

5. Akasa, ditempatkan pada tempat sembahyang(pelangkiran,pelinggih dll).
Tempat-tempat melakukan saiban jika menurut Manawa Dharmasastra adalah: Sanggah Pamerajan, dapur, jeding tempat air minum di dapur, batu asahan, lesung, dan sapu.
Kelima tempat terakhir ini disebut sebagai tempat di mana keluarga melakukan Himsa Karma setiap hari, karena secara tidak sengaja telah melakukan pembunuhan binatang dan tetumbuhan di tempat-tempat itu.
Didalam Kitab Manawa Dharma Sastra Adhyaya III 69 dan 75 dinyatakan: Dosa-dosa yang kita lakukan saat mempersiapkan hidangan sehari-hari itu bisa dihapuskan dengan melakukan nyadnya sesa.
***

Doa-doa dalam Yadnya Sesa (Doa Mesaiban)

Yadnya Sesa yang ditujukan kepada Hyang Widhi melalui Istadewata(ditempat air,dapur,beras/tempat nasi dan pelinggih/pelangkiran doanya adalah:
“OM ATMA TAT TWATMA SUDHAMAM SWAHA, SWASTI SWASTI SARWA DEWA SUKHA PRADHANA YA NAMAH SWAHA.”
Artinya:

“Om Hyang Widhi, sebagai paramatma daripada atma semoga berbahagia semua ciptaan-Mu yang berwujud Dewa.”
Yadnya Sesa yang ditujukan kepada simbol-simbol Hyang Widhi yang bersifat bhuta, Yaitu Yadnya Sesa yang ditempatkan pada pertiwi/tanah doanya:
“OM ATMA TAT TWATMA SUDHAMAM SWAHA, SWASTI SWASTI SARWA BHUTA,KALA,DURGHA SUKHA PRADANA YA NAMAH SWAHA.”
Artinya: 

“Om Sang Hyang Widhi, Engkaulah paramatma daripada atma, semoga berbahagia semua ciptaan-Mu yang berwujud bhuta,kala dan durgha.”
Jadi pada kesimpulannya sebuah tradisi Hindu di Bali yaitu mesaiban/mejotan merupakan sebuah tradisi yang menghaturkan atau membersembahkan apa yang dimasak atau disajikan untuk makan dipagi hari kepada Tuhan beserta manifestasi-Nya terlebih dahulu  dan barulah sisanya kita yang memakannya . Semua sebagai wujud syukur kita kepada Tuhan dan menebus dosa atas dosa membunuh hewan dan tumbuhan yang diolah menjadi makanan.

Om, Shanti, Shanti, Shanti, Om

dari berbagai sumber. CMIIW.

Iklan

Tumpek Landep: Makna dan Tujuannya

Om Swastyastu, 

Tumpěk Landěp dirayakan setiap Saniścara Kliwon Wuku Landěp. Tumpěk Landěp adalah tumpek yang pertama dalam satu siklus pawukon dirayakan setiap 210 hari sekali. Pada Tumpek Landěp adalah pemujaan Sang Hyang Pasupati, dan juga sebagai pujawali Batara Siwa. 

Dalam lontar Sundarigama disebutkan: 

“…Kunang ring wara landěp, saniścara kliwon pūjawalin bhatara śiwa, miwah yoganira Sanghyang Paśupati….kalinganya rikang wwang, apaśupati landěp ing iděp, samangkana lěkasakna  sarwa mantra wiśesa, danurdhara, uncarakna ring bhusananing papěrangan kunang, minta kasidhyan ring Sanghyang Paśupati…”. (artinya pada wuku landěp yaitu Saniscara Kliwon wuku Landěp  merupakan hari suci bhatara Śiwa dan Sanghyang Paśupati…adapun untuk manusia selalu mengasah pikiran menjadi tajam, demikian juga merapalkan mantra-mantra mujarab, untuk senjata panah, pada bhusana perang, mohon anugrah keberhasilan kepada Sanghyang Paśupati)

Tumpěk Landěp memuliakan Teknologi.

Tumpěk Landěp merupakan hari peringatan untuk memohon keselamatan kehadapan Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sanghyang Paśupati.  Tumpěk Landěp merupakan momentum umat Hindu di Bali sebagai pernyataan syukur dan menghargai keberadaan teknologi (terbuat dari besi, logam, perak, emas dan sejenisnya), karena telah membantu manusia dalam menjalani hidup dan penghidupannya. Teknologi membuat manusia bisa menaklukkan berbagai kesulitan-kesulitan dalam hidup dan menempatkan manusia meningkatkan taraf kehidupannya.

Tumpěk Landěp juga sebagai wujud puji syukur umat Hindu kehadapan Sang Hyang Widhi yang telah memberikan pengetahuan dan kemampuan merancang teknologi canggih sehingga tercipta benda-benda yang dapat membantu sekaligus mempermudah kehidupan manusia. Ungkapan terima kasih dan pengharapan umat Hindu agar segala benda yang telah membantu aktivitas manusia diberkahi sehingga dapat memberikan manfaat bagi kebahagiaan umat manusia. 

Makna Perayaan Tumpěk Landěp

Kata landěp memiliki pengertian lancip, runcing, tajam atau ketajaman. Secara harfiah diartikan senjata tajam seperti tombak dan keris. Benda-benda tersebut berfungsi sebagai senjata untuk menegakkan kebenaran. Oleh karena itu benda-benda tersebut diupacarai. Namun dalam konteks kekinian dan kedisinian, senjata lancip itu telah meluas, tak hanya keris dan tombak, juga benda-benda hasil cipta karsa manusia yang dapat mempermudah hidup seperti sepeda motor, mobil, mesin, computer, laptop dan sebagainya. Benda-benda itulah yang diupacarai, namun umat Hindu bukanlah menyembah benda-benda teknologi tersebut, tetapi memohon kepada Sanghyang Paśupati yang telah menganugerahkan kekuatan pada benda tersebut sehingga dapat bermanfaat dan mempermudah hidup.

Makna ke dalam Tumpěk Landěp merupakan tonggak penajaman pikiran (landeping idep). Penyadaran kepada manusia mengenai instrumen terpenting dalam kehidupan ini adalah idep (daya pikir). Kemampuan berpikir (idep) inilah yang menjadikan manusia sebagai makhluk termulia dibandingkan tumbuhan dan hewan. Sepatutnya manusia tiada henti-hentinya mengasah ketajaman pikirannya sehingga tercapai kecemerlangan budhi. Dengan kecemerlangan budhi akan mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Perayaan Tumpěk Landěp adalah mengucapkan puji syukur kepada Sanghyang Paśupati yang telah menganugrahi kecerdasan dan ketajaman pikiran kepada manusia. Senjata yang paling utama dalam kehidupan ini adalah pikiran, karena pikiranlah yang mengendalikan semuanya yang ada. Semua yang baik dan yang buruk dimulai dari pikiran. Pikiran  melahirkan daya cipta rasa dan karsa manusia dalam menciptakan sesuatu yang dapat mempermudah kehidupannya untuk mencapai kebahagiaan. 

Tumpěk Landěp tak berdiri sendiri-hampir semua hari-hari suci umat Hindu saling berkaitan. Tumpěk Landěp merupakan rentetan setelah hari raya Saraswati. Hari suci Saraswati dimaknai sebagai hari pemuliaan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan membuat manusia bisa mencapai kecerdasan, ketajaman logika juga kebijaksanaan. Selanjutnya Pagěrwěsi bermakna membentengi diri dari pengaruh negatif agar ilmu pengetahuan bermanfaat dalam mensejahtrakan diri sendiri dan masyarakat.

Tumpěk Landěp sepuluh hari setelah Saraswati adalah simbol untuk pemantapan ilmu pengetahuan untuk memperbaiki kwalitas diri maupun pengamalan diri. Ilmu Pengetahuan itu harus dikukuhkan, dipasupati, agar runcing sehingga bisa dimanfaatkan untuk menuntun dan membedah segala masalah manusia dalam kehidupan di dunia. 

Begitu tingginya filosofi umat Hindu di Bali dalam memaknai segala sesuatu yang ada di dalam kehidupannya. Ini juga yang membuat Bali dikenal sangat unik dan eksotis bagi orang-orang yang pernah mengunjunginya. Hendaknya teologi dan budaya nusantara seperti inilah yang sepatutnya di lestarikan sebagai bentuk warisan para leluhur, yang menunujukkan jati diri dan karakter Bali di tanah Nusantara. 

Om ā no bhadrah kratavo yantu viśvatah (Semoga segala pikiran yang baik datang dari segala penjuru).

Om śāntih śāntih śāntih Om. (Made Surada- Dosen IHSAN Denpasar)

Apa Yang Diburu Lubdaka Di Zaman Kali?

Umat Hindu kemarin telah merayakan Hari Suci Siwalatri (26/1/17), banyak yang menjalankan ritual Siwalatri dengan melakukan bratha/pantangan dan semedi/meditasi, mapuasa. Baik dengan berpuasa tidak makan, tidak bicara, tidak bekerja, tidak tidur atau begadang/majagra, atau bahkan melakukan tirtha yatra, dengan melakukan persembahyangan ke Pura Pura di sekitar tempat tinggal. Bahkan yang kreatif membuat kegiatan pesantian, dharmatula, dharmawacana, dharmawidya, dll. di Pura atau Pasraman masing-masing. 

Siwalatri, malam pemujaan Siwa. Datangnya setahun sekali berdasarkan perhitungan sasih/bulan tahun Saka, yaitu Purwaning Tilem Kapitu. Hari ini yang dipuja adalah Siwa. Tokoh utama Protagonisnya ADALAH …SIWA! Maha suci, pelebur mala, maha pengampun, maha pelindung, maha segala-galanya. Beliulah yang mereka buru. Sang Penekun Kebahagiaan utama moksartham jagadhita. 

Hari Suci Siwalatri sangat identik dengan Cerita Lubdaka, dan umat sedarma pastilah tidak asing lagi dengan cerita ini. Lubdaka adalah tokoh yang tidak pernah berbuat baik tapi mampu menuju SIWALOKA…! Teka-teki Empu Tanakung (Penulis cerita Lubdaka) baru terpecahkan, ternyata Lubdaka tidak pernah berbuat baik, seorang pemburu, dan tidak sadar dan tidak sengaja memuja SIWA di malam Siwalatri, dan diterima di SIWA LOKA. Betapa mulia dan maha pemurahnya dan sangat, sangat pemaafnya,  Dewa Siwa kepada para umatnya yang pernah melakukan dosa. Di sinilah pesannya, maka Pujalah dan Muliakan Beliau. Om Nama Siwaya. Sedikitpun tidak ada kata terlambat menuju ajaran SIWA. Karena Beliau akan menganugrahkan Jagra/kesadaran.

*

Di jaman Kaliyuga ini, siapakah Lubdaka sang pemburu itu? Dan apa yang diburu olehnya? Hingga harus melakukan tapa Siwalatri ini juga?

Lubdaka masa kini (wartamana Lubdhaka).

Lubdaka itu tiada lain dan bukan adalah kita sendiri. Ya, kita! Kita! Kita! Kitalah lubdaka itu. Di mana kita setiap hari melakukan perburuan. Lalu, perburuan masa kini itu apa?

Yg diburu: Kekuasaan, Uang/harta benda/kekayaan, Wanita/pria, Ilmu pengetahuan, Judi, Prestise diri (seperti agar dianggap suci, wisesa, ngiring, dsb. Itulah yang diburu manusia pada kaliyuga ini. Anda merasakan diri anda berburu salah satu dari itu? Atau bahkan semuanya? Ingat, berburu jangan sampai lupa diri/tersesat.

Setiap usaha, daya upaya yang kita lakukan untuk mencapai yang diinginkan itu tidak akan luput akan dosa. Besar atau kecilnya. Disengaja atau tidaknya, bukanlah ukuran. Dosa, tetaplah dosa. Oleh karenanya, Kita umat Hindu selalu merayakan hari Siwalatri setiap tahunnya, untuk mengingatkan kita atas segala kesalahan dan perbuatan yang telah berlalu setahun terakhir. Waktu untuk kita introspeksi diri, mulat sarira.  Waktu untuk melakukan bratha, memohon maaf dan berserah diri pada manifestasi Tuhan, yaitu Siwa. Agar kita menjadi manusia dengan kualitas diri yang lebih baik ke depannya. 

Om Nama SiwayaOm Nawa Siwaya

Om Nama SiwayaOm Nawa Siwaya

-pkj-

Menemukan Tuhan

Belakangan, banyak sekali orang mengaku-ngaku membela agama, membela Tuhan. Ini begini, itu begitu. Dengan pongah, Pangkah, Corah memukul dada bak paling suci dan benar akan pemikiran dan ucapannya. 

Lalu, hati saya pun tergugat akan kecongkakan orang yang mengaku-ngaku ini. Apa benar orang dengan kualitas seperti ini bisa menemukan surga kelak? Apa benar orang seperti ini bisa dekat dengan Tuhan? 

Ah, pikiran itu membuat saya kadang merasa iri dengan keyakinan orang-orang ini. Begitu mudahnya ia berceloteh mengatasnamakan agama, Tuhan dan lain-lain. Tapi, kembali hati ini memancing pikiran saya untuk introspeksi diri. Benarkah Tuhan memperlihatkan diri, mengasihi, menyenangi kualitas manusia yang seperti itu? Yang bisanya koar-koar membela dirinya dan kelompok tertentu? benarkah Tuhan hanya sayang dengan manusia seperti ini?

Lalu hati saya menjawab, Ya itu baginya! Ya begitulah keyakinannya. Tapi itu hanya baru sampai pada keyakinannya sendiri. Belum tentu Tuhan sepaham dengannya. Ahh sudahlah!

Untuk diri saya sendiri, yang saya yakini atas dasar kepercayaan saya sendiri sebagai seorang Hindu untuk bisa menghadirkan Tuhan pada diri, saya teringat akan sebuah bait Kekawin wirama Totaka. Seperti ini.

“Sasi wimba haneng gata, mesi banyu.

“Seperti bayangan bulan yang terlihat pada jun ( tempat air ), yang berisi air”.

Ndanasing suci nirmala, mesi Wulan.

“Tetapi hanya pada air yang bersih tanpa kotoran saja bayangan bulan itu akan nampak”.

Iwa mangkana, rakwa kiteng kadadin.

“ Seperti itulah Tuhan dalam kehidupan ini”.

Ringangambeki yoga, kiteng sekala.

“ Hanya pada manusia yang taat melaksanakan yoga Tuhan itu akan menunjukkan diriNya secara nyata.

Ya, dengan memahami ini, mungkin kamu yang baca juga akan mengerti arah pikiran saya. Kualitas orang seperti apa yang bisa menemukan Tuhan, Selamat merenung. Tabik.

Untung Saya Seorang Hindu! Pemeluk Ajaran Sanatana Dharma

Belakangan ini, isu sara begitu kental membaur dibumbui kebencian, kedengkian dan di wadah dengan Mangkok politikus rakus bak virus. 

Namun dari banyaknya isu sara ini, dan perdebatan yang muncul, saya sangat bersyukur lahir pada orang beragama Hindu dan pemeluk ajaran Sanathana Dharma. Kenapa? Jawabannya saya temukan pada ketersenyuman saya ketika orang memperdebatkan agama, dan apalagi membandingkan agamanya dg agama saya. hemm.. Mungkin kutipan tulisan dari umat sedharma berikut bisa dijadikan refleksi dari ketersenyuman saya.

Ini ajaran Agama  Hindu

Sanatana Dharma Memberikan Kebebasan Berkeyakinan

Anda meyakini Tuhan disebutkan Aastika. Diterima. Anda tidak meyakini Tuhan disebutkan Nastika. Diterima juga. 

Anda ingin menyembah Arca (Patung Suci). Silahkan. Anda disebutkan Murti Pujak. Bila Anda tidak ingin menyembah Arca tidak masalah. Anda dapat fokus kepada Nirguna Brahman.

Anda ingin mengkritik sesuatu dalam ajaran Hindu? Silahkan Maju. Kita menerima kritik yang berdasarkan ilmu logika dan analisa filsafat dengan metodologi dari sastra Tarka dan Nyaya. 

Anda ingin menerima keyakinan dengan apa adanya. Silahkan. Anda ingin memulai perjalanan spiritual Anda dengan membaca Bhagvad Gita. Teruskan. Anda ingin memulai perjalanan spiritual Anda dengan pelajari Veda Samhitas, Upanishad atau Purana. Tidak ada halangan. 

Anda tidak suka pelajari Sastra Veda atau buku-buku spiritual lain. Tidak masalah Sahabatku. Lanjutkan saja dengan Bhakti Yoga. Anda tidak suka pendekatan Bhakti. Tidak masalah. Jalankan Karma (perbuatan, pikiran dan perkataan) yang Baik. Jadilah seorang Karma Yogi. 

Anda ingin menikmati hidup keduniawian. Silahkan. Ini adalah filsafat keduniawian, Charvaka. Anda ingin menjauhkan diri dari segala keduniawian dan menemukan Tuhan. Jadilah seorang pertapa, Sadhu. 

Anda tidak suka dengan konsep Tuhan. Anda hanya percaya pada Alam saja. Selamat Datang. Pohon merupakan teman kita dan Prakriti, Alam yang layak disembah. Anda percaya pada satu Tuhan atau Energi yang Maha-Agung. Ikuti filsafat Advaita. 

Anda ingin seorang Guru. Maju dan menerima kewajiban sebagai Sisya atau calon Guru. Anda tidak ingin seorang Guru. Bantulah dirimu sendiri dengan cara bermeditasi dan belajar. 

Anda meyakini energi Tuhan yang feminin. Silahkan menyembah, puja dan bhakti kepada Shakti. 

Anda percaya bahwa setiap manusia adalah sama dan sejajar. Betul! “Vasudhaiva Kutumbakam” (Dunia adalah Satu Keluarga). 

Anda tidak punya waktu untuk merayakan festival dan hari-hari suci. Jangan khawatir. Festival dan hari-hari suci yang lain akan datang! Anda adalah orang yang bekerja terus. Tidak punya waktu untuk berupacara atau puja. Tidak masalah. Anda masih seorang pemeluk ajaran Hindu. 

Anda ingin pergi ke kuil, pura atau candi untuk bersembahyang atau puja. Pengabdian dalam Bhakti dicintai kita semua. Anda tidak ingin pergi ke kuil, pura atau candi. Tidak masalah. Anda masih bisa melakukan puja dan bhakti dalam hati. 

Anda tahu bahwa Sanatana Dharma menyediakan berbagai cara hidup, dengan pilihan yang cukup signifikan. 

Anda percaya bahwa segala sesuatu berada dalam Tuhan, dan Tuhan berada di dalam segala sesuatu. Jadi Anda menyembah Ibu, Ayah, Guru, Batu, Pohon, Sungai, Matahari, Bulan, Bumi dan Alam Semesta. Jika Anda tidak percaya bahwa segala sesuatu ada Tuhan di dalamnya. Tidak ada masalah. Kita menghormati sudut pandang Anda. “Sarve Janah Sukhino Bhavantu” (Semoga semua orang hidup bahagia).

Dalam Rig Veda telah digambarkan sebuah petunjuk yang penting bagi kita semua di muka bumi ini, yaitu biarkan pengetahuan yang menginspirasi datang kepada kita dari segala arah, asalkan pengetahuan itu tidak destruktif dan tidak memecah belah.

Ini satu sudut pandang dari esensi Universal yang disediakan Sanatana Dharma, yang melengkapi dan meliputi segalanya. Itulah mengapa ajaran Hindu telah bertahan dalam ujian waktu meskipun diserang baik dari dalam dan luar berulang kali. Ajaran Hindu terbentuk dari segala kebaikan dari segala sudut pandang dari segala sesuatu. Itulah alasannya mengapa disebutkan Sanatana Dharma, atau Aturan yang Kekal Abadi.

Om santih  santih santih  Om

Diambil dari grup agama Hindu. (Bila Suka Silahkan Share)

Penting Itu, Pikiran Suci! Bukan Badan Suci!

Belakangan ini jika kita simak dengan baik, banyak sekali kita diganggu dengan isu-isu intoleransi di Indonesia. Utamanya jelang Pilkada serentak Pebruari 2017 nanti. 

Isu SARA secara masif dan terstruktur dihembuskan, tidak hanya di tempat tertentu, di media elektronik maupun media massa kita dipertontonkan setiap harinya intoleransi ini. Dengan balutan diskusi publik, mereka dengan gamblangnya memaki, dan lain-lain. Entah apa kerjaan KPI kita, hal begini dibiarkan saja. Mohon maaf ini ya, bukan maksud apa-apa. Coba kalau jaman pak Harto orang bicara memecah belah bangsa seperti ini? Ooo… lewat sudah!! Justru di jaman Reformasi ini, malah kebablasan.

Orang sok pintar semakin banyak. Orang sok suci pun semakin banyak. Berkedok ayat-ayat suci berkomentar angin ribut, sempoyongan! Hanya mengejar popularitas dan undangan TV-TV, serta dakwah kesana kemari yang ujung-ujungnya “UANG”. 

Banyak orang Indonesia kehilangan jati diri (nusantara)nya hanya karena agama. Ini pengaruh keyakinan import. Budayanya sendiri dilupakan demi tampilan luar yg ‘agamais’, nampak ‘suci’, yang sujatinya KOSONG. 

Orang Indonesia sibuk menghias badannya dengan atribut import sesuai agama masing-masing. Sarung diganti baju model daster, atau celana panjang di atas mata kaki, kamen diganti kain sari, udeng diganti kuncir, atau bahkan yang lainnya. Mana Indonesiamu? Mana Nusantaramu?

Tapi, tak pantas sepertinya saya membahas hal seperti ini, apalagi saya bukan orang yang pintar agama, hafal ayat-ayat atau yg lainnya. Kepercayaan nenek moyang saya hanya mengajarkan saya untuk selalu berfikir, berkata, dan berbuat yang baik. 3 hal inilah oleh leluhur saya menjadi ajaran kuat yang diwariskan oral, dari mulut ke mulut. Di mana sujatinya esensi orang beragama adalah membuat nyaman orang disekitarnya, tiada mengganggu, dan tiada menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain dan lingkungan/semesta. Simpel!!! Semua berasal dari PIKIRAN yang suci, Positif thinking,  bukan dari badan yg nampak suci dg hiasan-hiasan agama. Itu!

Mungkin sebagai gambaran, saya ada sebuah cerita yang mungkin bisa membuka sedikit pemahaman kita, penting mana? Pikiran suci atau Badan Suci? Cerita ini mungkin ada yang agak mitosnya, karena menceritakan setelah kematian, namun justru disitu letak kesadarannya. Yuk simak.

Pertapa dan Pelacur

Seorang pertapa tinggal diasramnya dan di seberang jalan tepat berhadapan dengan asramnya ada rumah bordil di mana tinggal seorang pelacur. Setiap hari ketika pertapa akan melakukan meditasi, dia melihat para lelaki datang dan pergi dari dan ke rumah pelacur itu. Dia melihat pelacur itu sendiri menyambut dan mengantar tamu-tamunya. Setiap hari pertapa itu membayangkan dan merenungkan perbuatan memalukan yang berlangsung di kamar pelacur itu, dan hatinya dipenuhi oleh kebencian akan kebobrokan moral dari pelacur itu.

Di lain pihak. Sang pelacur setiap hari melihat sang pertapa dalam praktek-praktek spiritualnya (sadhana). Dia berpikir betapa indahnya untuk menjadi demikian suci, untuk menggunakan waktu dalam doa dan meditasi. “Tapi” dia mengeluh, “Aku tak berdaya, nasibku memang menjadi pelacur. Ibuku dulu adalah seorang pelacur, dan putriku nanti juga akan menjadi pelacur. Demikianlah hukum negeri ini,” dengan pilunya dia meratap.

Tanpa diceritakan apa yang terjadi. Pertapa dan pelacur itu mati pada hari yang sama dan berdiri di depan Sang Hyang Yama bersama-sama. Tanpa diduga sama sekali, di depan meja keadilan Sang Hyang Yama (Hakim Akhirat) pertapa itu dicela karena kesalahannya.

“Tapi”, petapa ini memrotes, “hidupku adalah hidup yang suci. Aku telah menghabiskan hari-hariku untuk doa dan meditasi.”

“Ya,” kata Yama, “tapi sementara badanmu melakukan tindakan-tindakan suci itu, pikiran dan hatimu dipenuhi oleh penilaian jahat dan jiwamu dikotori oleh bayangan penuh nafsu.”

Beda dengan pelacur itu. Dia dipuji karena kebajikannya.
“Saya tidak mengerti wahai Yama? Selama hidupku aku telah menjual tubuhku kepada setiap lelaki yang memberikan harga pantas.”

Yama pun menjawab, “Lingkungan hidupmu menempatkan kamu dalam sebuah rumah bordil. Kamu lahir di sana, dan di luar kekuatanmu untuk melakukan selain dari hal itu. Tapi sementara badanmu melakukan tindakan-tindakan hina, pikiran dan hatimu selalu suci dan senatiasa dipusatkan dalam kontemplasi dan kesucian dari doa dan meditasi pertapa ini.”

———————

Dua kisah di atas mengajarkan kepada kita untuk tidak merasa paling benar sendiri, paling suci sendiri. Chin-Ning Chu memberi nasehat : “Kebajikan”, katanya “bukanlah jubah yang engkau kenakan, atau gelar-gelar mulia yang engkau berikan kepada dirimu untuk dipamerkan kepada umum!”.

Jadi? Apa yang bisa kita petik dari pelajaran hari ini? 

Mengapa Kita Tidak Boleh Berlaku Kasar?

Suatu hari, di sebuah stasiun kereta, seorang lelaki muda dg pakaian rapi nampak berjalan tergesa-gesa, kepalanya clingak clinguk, tangannya memegang handphone, dan tanpa sengaja menabrak seorang kakek yang sedang duduk santai minum kopi di emperan warung stasiun. Tanpa sebab yg jelas, lelaki muda ini memarahi kakek dg kata-kata kasar. Hanya karena sepatu dan celananya terkena kopi yg ditendangnya akibat dia berjalan tidak hati-hati. 

Sang Kakek mendengarkannya dg sabar, tenang, tidak berkata sepatah pun.
Hingga akhirnya lelaki itu berhenti memaki.
Setelah itu, Kakek bertanya kpdnya,

_”Mas, jika seseorang memberimu sesuatu tapi kamu tidak mau menerimanya, lalu menjadi milik siapakah pemberian itu ?”_
_“Tentu saja menjadi milik si pemberi.”_ Jawab lelaki itu ketus. 
_”Begitu pula dg kata2 kasarmu,”_ sambung Kakek.

_”Aku tidak mau menerimanya, jadi itu kembali menjadi milikmu. Kamu harus menelannya sendiri._

_Aku khawatir saja kalau nanti kamu harus menanggung akibatnya, karena kata2 kasar hanya akan membuahkan penderitaan bagi yg melontarkannya sendiri._

_Sama spt org yg ingin mengotori langit dg meludahinya,_

_Ludahnya pasti akan jatuh mengotori wajahnya sendiri…”_
*****

Saudaraku… 
Bila tak mungkin memberi, jangan mengambil…

Bila mampu mengasihi, jangan membenci… 

Bila tak bisa menghibur, jangan membuatnya sedih… 

Bila tak biasa memuji, jangan menghujat… 

Bila tak rela menghargai, jangan menghina… 

Bila tak suka bersahabat, jangan bermusuhan… 
Ingat… 

Bunga yg tak akan pernah layu dimuka bumi ini adalah _”kesantunan”… _
Selamat menggapai cita dan cinta, saudara-riku tercinta. (Nn)

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

Sang Widy

Just For Love In Your's Life

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian