Untung Saya Seorang Hindu! Pemeluk Ajaran Sanatana Dharma

Belakangan ini, isu sara begitu kental membaur dibumbui kebencian, kedengkian dan di wadah dengan Mangkok politikus rakus bak virus. 

Namun dari banyaknya isu sara ini, dan perdebatan yang muncul, saya sangat bersyukur lahir pada orang beragama Hindu dan pemeluk ajaran Sanathana Dharma. Kenapa? Jawabannya saya temukan pada ketersenyuman saya ketika orang memperdebatkan agama, dan apalagi membandingkan agamanya dg agama saya. hemm.. Mungkin kutipan tulisan dari umat sedharma berikut bisa dijadikan refleksi dari ketersenyuman saya.

Ini ajaran Agama  Hindu

Sanatana Dharma Memberikan Kebebasan Berkeyakinan

Anda meyakini Tuhan disebutkan Aastika. Diterima. Anda tidak meyakini Tuhan disebutkan Nastika. Diterima juga. 

Anda ingin menyembah Arca (Patung Suci). Silahkan. Anda disebutkan Murti Pujak. Bila Anda tidak ingin menyembah Arca tidak masalah. Anda dapat fokus kepada Nirguna Brahman.

Anda ingin mengkritik sesuatu dalam ajaran Hindu? Silahkan Maju. Kita menerima kritik yang berdasarkan ilmu logika dan analisa filsafat dengan metodologi dari sastra Tarka dan Nyaya. 

Anda ingin menerima keyakinan dengan apa adanya. Silahkan. Anda ingin memulai perjalanan spiritual Anda dengan membaca Bhagvad Gita. Teruskan. Anda ingin memulai perjalanan spiritual Anda dengan pelajari Veda Samhitas, Upanishad atau Purana. Tidak ada halangan. 

Anda tidak suka pelajari Sastra Veda atau buku-buku spiritual lain. Tidak masalah Sahabatku. Lanjutkan saja dengan Bhakti Yoga. Anda tidak suka pendekatan Bhakti. Tidak masalah. Jalankan Karma (perbuatan, pikiran dan perkataan) yang Baik. Jadilah seorang Karma Yogi. 

Anda ingin menikmati hidup keduniawian. Silahkan. Ini adalah filsafat keduniawian, Charvaka. Anda ingin menjauhkan diri dari segala keduniawian dan menemukan Tuhan. Jadilah seorang pertapa, Sadhu. 

Anda tidak suka dengan konsep Tuhan. Anda hanya percaya pada Alam saja. Selamat Datang. Pohon merupakan teman kita dan Prakriti, Alam yang layak disembah. Anda percaya pada satu Tuhan atau Energi yang Maha-Agung. Ikuti filsafat Advaita. 

Anda ingin seorang Guru. Maju dan menerima kewajiban sebagai Sisya atau calon Guru. Anda tidak ingin seorang Guru. Bantulah dirimu sendiri dengan cara bermeditasi dan belajar. 

Anda meyakini energi Tuhan yang feminin. Silahkan menyembah, puja dan bhakti kepada Shakti. 

Anda percaya bahwa setiap manusia adalah sama dan sejajar. Betul! “Vasudhaiva Kutumbakam” (Dunia adalah Satu Keluarga). 

Anda tidak punya waktu untuk merayakan festival dan hari-hari suci. Jangan khawatir. Festival dan hari-hari suci yang lain akan datang! Anda adalah orang yang bekerja terus. Tidak punya waktu untuk berupacara atau puja. Tidak masalah. Anda masih seorang pemeluk ajaran Hindu. 

Anda ingin pergi ke kuil, pura atau candi untuk bersembahyang atau puja. Pengabdian dalam Bhakti dicintai kita semua. Anda tidak ingin pergi ke kuil, pura atau candi. Tidak masalah. Anda masih bisa melakukan puja dan bhakti dalam hati. 

Anda tahu bahwa Sanatana Dharma menyediakan berbagai cara hidup, dengan pilihan yang cukup signifikan. 

Anda percaya bahwa segala sesuatu berada dalam Tuhan, dan Tuhan berada di dalam segala sesuatu. Jadi Anda menyembah Ibu, Ayah, Guru, Batu, Pohon, Sungai, Matahari, Bulan, Bumi dan Alam Semesta. Jika Anda tidak percaya bahwa segala sesuatu ada Tuhan di dalamnya. Tidak ada masalah. Kita menghormati sudut pandang Anda. “Sarve Janah Sukhino Bhavantu” (Semoga semua orang hidup bahagia).

Dalam Rig Veda telah digambarkan sebuah petunjuk yang penting bagi kita semua di muka bumi ini, yaitu biarkan pengetahuan yang menginspirasi datang kepada kita dari segala arah, asalkan pengetahuan itu tidak destruktif dan tidak memecah belah.

Ini satu sudut pandang dari esensi Universal yang disediakan Sanatana Dharma, yang melengkapi dan meliputi segalanya. Itulah mengapa ajaran Hindu telah bertahan dalam ujian waktu meskipun diserang baik dari dalam dan luar berulang kali. Ajaran Hindu terbentuk dari segala kebaikan dari segala sudut pandang dari segala sesuatu. Itulah alasannya mengapa disebutkan Sanatana Dharma, atau Aturan yang Kekal Abadi.

Om santih  santih santih  Om

Diambil dari grup agama Hindu. (Bila Suka Silahkan Share)

Penting Itu, Pikiran Suci! Bukan Badan Suci!

Belakangan ini jika kita simak dengan baik, banyak sekali kita diganggu dengan isu-isu intoleransi di Indonesia. Utamanya jelang Pilkada serentak Pebruari 2017 nanti. 

Isu SARA secara masif dan terstruktur dihembuskan, tidak hanya di tempat tertentu, di media elektronik maupun media massa kita dipertontonkan setiap harinya intoleransi ini. Dengan balutan diskusi publik, mereka dengan gamblangnya memaki, dan lain-lain. Entah apa kerjaan KPI kita, hal begini dibiarkan saja. Mohon maaf ini ya, bukan maksud apa-apa. Coba kalau jaman pak Harto orang bicara memecah belah bangsa seperti ini? Ooo… lewat sudah!! Justru di jaman Reformasi ini, malah kebablasan.

Orang sok pintar semakin banyak. Orang sok suci pun semakin banyak. Berkedok ayat-ayat suci berkomentar angin ribut, sempoyongan! Hanya mengejar popularitas dan undangan TV-TV, serta dakwah kesana kemari yang ujung-ujungnya “UANG”. 

Banyak orang Indonesia kehilangan jati diri (nusantara)nya hanya karena agama. Ini pengaruh keyakinan import. Budayanya sendiri dilupakan demi tampilan luar yg ‘agamais’, nampak ‘suci’, yang sujatinya KOSONG. 

Orang Indonesia sibuk menghias badannya dengan atribut import sesuai agama masing-masing. Sarung diganti baju model daster, atau celana panjang di atas mata kaki, kamen diganti kain sari, udeng diganti kuncir, atau bahkan yang lainnya. Mana Indonesiamu? Mana Nusantaramu?

Tapi, tak pantas sepertinya saya membahas hal seperti ini, apalagi saya bukan orang yang pintar agama, hafal ayat-ayat atau yg lainnya. Kepercayaan nenek moyang saya hanya mengajarkan saya untuk selalu berfikir, berkata, dan berbuat yang baik. 3 hal inilah oleh leluhur saya menjadi ajaran kuat yang diwariskan oral, dari mulut ke mulut. Di mana sujatinya esensi orang beragama adalah membuat nyaman orang disekitarnya, tiada mengganggu, dan tiada menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain dan lingkungan/semesta. Simpel!!! Semua berasal dari PIKIRAN yang suci, Positif thinking,  bukan dari badan yg nampak suci dg hiasan-hiasan agama. Itu!

Mungkin sebagai gambaran, saya ada sebuah cerita yang mungkin bisa membuka sedikit pemahaman kita, penting mana? Pikiran suci atau Badan Suci? Cerita ini mungkin ada yang agak mitosnya, karena menceritakan setelah kematian, namun justru disitu letak kesadarannya. Yuk simak.

Pertapa dan Pelacur

Seorang pertapa tinggal diasramnya dan di seberang jalan tepat berhadapan dengan asramnya ada rumah bordil di mana tinggal seorang pelacur. Setiap hari ketika pertapa akan melakukan meditasi, dia melihat para lelaki datang dan pergi dari dan ke rumah pelacur itu. Dia melihat pelacur itu sendiri menyambut dan mengantar tamu-tamunya. Setiap hari pertapa itu membayangkan dan merenungkan perbuatan memalukan yang berlangsung di kamar pelacur itu, dan hatinya dipenuhi oleh kebencian akan kebobrokan moral dari pelacur itu.

Di lain pihak. Sang pelacur setiap hari melihat sang pertapa dalam praktek-praktek spiritualnya (sadhana). Dia berpikir betapa indahnya untuk menjadi demikian suci, untuk menggunakan waktu dalam doa dan meditasi. “Tapi” dia mengeluh, “Aku tak berdaya, nasibku memang menjadi pelacur. Ibuku dulu adalah seorang pelacur, dan putriku nanti juga akan menjadi pelacur. Demikianlah hukum negeri ini,” dengan pilunya dia meratap.

Tanpa diceritakan apa yang terjadi. Pertapa dan pelacur itu mati pada hari yang sama dan berdiri di depan Sang Hyang Yama bersama-sama. Tanpa diduga sama sekali, di depan meja keadilan Sang Hyang Yama (Hakim Akhirat) pertapa itu dicela karena kesalahannya.

“Tapi”, petapa ini memrotes, “hidupku adalah hidup yang suci. Aku telah menghabiskan hari-hariku untuk doa dan meditasi.”

“Ya,” kata Yama, “tapi sementara badanmu melakukan tindakan-tindakan suci itu, pikiran dan hatimu dipenuhi oleh penilaian jahat dan jiwamu dikotori oleh bayangan penuh nafsu.”

Beda dengan pelacur itu. Dia dipuji karena kebajikannya.
“Saya tidak mengerti wahai Yama? Selama hidupku aku telah menjual tubuhku kepada setiap lelaki yang memberikan harga pantas.”

Yama pun menjawab, “Lingkungan hidupmu menempatkan kamu dalam sebuah rumah bordil. Kamu lahir di sana, dan di luar kekuatanmu untuk melakukan selain dari hal itu. Tapi sementara badanmu melakukan tindakan-tindakan hina, pikiran dan hatimu selalu suci dan senatiasa dipusatkan dalam kontemplasi dan kesucian dari doa dan meditasi pertapa ini.”

———————

Dua kisah di atas mengajarkan kepada kita untuk tidak merasa paling benar sendiri, paling suci sendiri. Chin-Ning Chu memberi nasehat : “Kebajikan”, katanya “bukanlah jubah yang engkau kenakan, atau gelar-gelar mulia yang engkau berikan kepada dirimu untuk dipamerkan kepada umum!”.

Jadi? Apa yang bisa kita petik dari pelajaran hari ini? 

Mengapa Kita Tidak Boleh Berlaku Kasar?

Suatu hari, di sebuah stasiun kereta, seorang lelaki muda dg pakaian rapi nampak berjalan tergesa-gesa, kepalanya clingak clinguk, tangannya memegang handphone, dan tanpa sengaja menabrak seorang kakek yang sedang duduk santai minum kopi di emperan warung stasiun. Tanpa sebab yg jelas, lelaki muda ini memarahi kakek dg kata-kata kasar. Hanya karena sepatu dan celananya terkena kopi yg ditendangnya akibat dia berjalan tidak hati-hati. 

Sang Kakek mendengarkannya dg sabar, tenang, tidak berkata sepatah pun.
Hingga akhirnya lelaki itu berhenti memaki.
Setelah itu, Kakek bertanya kpdnya,

_”Mas, jika seseorang memberimu sesuatu tapi kamu tidak mau menerimanya, lalu menjadi milik siapakah pemberian itu ?”_
_“Tentu saja menjadi milik si pemberi.”_ Jawab lelaki itu ketus. 
_”Begitu pula dg kata2 kasarmu,”_ sambung Kakek.

_”Aku tidak mau menerimanya, jadi itu kembali menjadi milikmu. Kamu harus menelannya sendiri._

_Aku khawatir saja kalau nanti kamu harus menanggung akibatnya, karena kata2 kasar hanya akan membuahkan penderitaan bagi yg melontarkannya sendiri._

_Sama spt org yg ingin mengotori langit dg meludahinya,_

_Ludahnya pasti akan jatuh mengotori wajahnya sendiri…”_
*****

Saudaraku… 
Bila tak mungkin memberi, jangan mengambil…

Bila mampu mengasihi, jangan membenci… 

Bila tak bisa menghibur, jangan membuatnya sedih… 

Bila tak biasa memuji, jangan menghujat… 

Bila tak rela menghargai, jangan menghina… 

Bila tak suka bersahabat, jangan bermusuhan… 
Ingat… 

Bunga yg tak akan pernah layu dimuka bumi ini adalah _”kesantunan”… _
Selamat menggapai cita dan cinta, saudara-riku tercinta. (Nn)

Menikahlah, Jangan Tunda Lagi! Kenapa?

​Tunjukan Rasa Cinta-Mu pada Keluarga dan Leluhurmu dengan segera menikah….!!

tetapi…ITU baru langkah awal saja…
kenapa Menikah tersebut sebagai BUKTI cinta-kasih kita kepada keluarga dan leluhur kita…???
ini cerita TATTWA Itihasa – Adiparwa

diceritakan ada sosok anak muda cerdas, sakti-siddhi…

dia orang yang sangat mendalami ajaran weda, dengan kecerdasan dan ke-sidhiannya, dia berkehendak untuk segera MOKSA, karena itu merupakan tujuan akhir dari ajaran weda… Moksa, kembai ke hyang pencipta, menyatu denganNYA… dia dikenal dengan nama #Jaratkaru
nah, untuk mengisi waktunya dlm bbrp menit sblm moksa…

dia iseng menggunakan apa yang dia pelajari, kesaktiannya untuk mengetahui isi alam ini, tidak hanya di dunia, sorga dan neraka-pun dikunjunginya…

betapa bahagianya dia saat berkeliling dunia menyaksikan ciptaan dari brahman, merasakan isi dunia ini milikNYA.. karena sebentar lg dia jua akan menyatu kembali dengan brahman… pergi dia kesorga… mendengarkan pujian dari para dewata kpd dirinya…

sampailah dia di tegal penangsaran (neraka)… di suasana panas tandusnya neraka, dia masih enjoy menikmati ciptaanNYA..

dalam perjalanan menyusuri neraka, saat melintasi “tiing petung berdaun keris”, ada sosok roh manusia yg menyapanya dengan ririh… roh tersebut kagum akan cahaya cinta kasih yg dipancarkan pengunjung tsb…

karena etika agama yg tinggi, jaratkaru-pun menyahut sapaan dari sang roh tersiksa tersebut…

melihat sosok roh manusia, yang tergantung di tiing petung berdaun keris… dimana kakinya berada diatas dengan posisi terikat,,.. setiap hembusan udara panasnya neraka mengakibatkan berjatuhan daun keris yang tua, hinggga ada salah satu daun menancap di sosok roh tersebut… erangan sakit, membuat iba sang tamu…
bertanyalah jaratkaru: 

tuan.. apakah salahmu hingga disiksa sprt ini?
roh tersiksa menjawab: 

dia mempunyai putra bernama jaratkaru, yang menjalankan suklabrahmacari, tidak menikah… dan akan segera moksa, krn itu saya yg belum bisa moksa tergantung disini, dibatas sorga menunggu putusnya tali gantungan shg masuk neraka… sy mohon, bila tuan kembali ke dunia, sampaikan pesan sy kepada anakku, agar sebelum moksa, sudi kiranya memberikan jalan kpd ayahnya ini untuk menjelma kedunia,agar bs memperbaiki diri…
jaratkarupun bersedih mendengar ucapat roh tersiksa tersebut yang ternyata adalah ayahnya sendiri… yang tidak bisa turun ke dunia menjadi manusia karena EGOnya yg ingin moksa tanpa meperdulikan leluhurnya… 

dan akhirnya, sblm MOKSA, jaratkarupun menikah dan menurunkan leluhurnya.. sbg putra kesayangannya..

_________________

so….

intinya…

bila kita org bali ingin mengurangi beban leluhur kita, sebagai bagian dari PITRA YADNYA… segeralah menikah… dan berikan mereka jalan untuk turun kedunia melalui jalan punarbhawa menjadi anak2 kita…

CATATAN….

sebagai tanda cinta kita pd leluhur (pitra yadnya)… tidak hanya asal menikah dan memiliki putra saja…. pilihlah JALAN terbaik untuk leluhur anda tsersebut… pilih pasangan yang dapat diajak membangun keluarga bahagia, pilihlah dewasa ayu terbaik untuk kehidupan keluarga yang lebih baik.. serta setelah leluhur anda menjadi putra anda… berikan yang terbaik buat mereka, karena anak anda adalah leluhur anda yg sedang memperbaiki karmanya…

salam #ajegBali rahayu sareng sami….
#gamabali #iLoveBali #AdiParwa #Itihasa #TattwaBali 

<Budi Mahend>

Jelekkah sifat SANGUT itu?

​S A N G U T**

Nyangut!!! Begitu biasanya orang Bali memberi istilah bagi mereka yang pikirannya bertentangan dengan tuannya. Dia seolah memihak musuh akibat pikirannya itu. Tidak ada yang tahu persis, entah apa ide dasarnya sehingga I Sangut justru ditempatkan di posisi “Wang Kebot”. Di posisi mana biasanya Ki Dalang menempatkan para pembuat onar macamnya Rahwana dalam serial Ramayana. Atau Korawa dalam ephos Mahabharata.

Sangut selalu bersungut jika tidak setuju atas segala prilaku buruk tuannya. Hanya saja dia tidak dengan segera membantah. Dia lebih memilih diam ketika tuannya merekayasa rencana jahat. Tetapi dia baru akan menggerutu dibelakang punggung tuannya atau saat sedang berdua saja bersama partnernya I Delem. Dia akan segera nyroscos, bicara kelemahan tuannya serta tantangan yang akan menghambat bila prilaku buruk tuannya tidak segera dihentikan. Dia akan tidak habis-habisnya menggerutu perihal seharusnya… seharusnya dan seharusnya.

…..

Sangut adalah salah satu dari punakawan. Dimana dalam setiap pementasan, para punakawan selalu dijadikan representasi dari karakter rakyat.

Barangkali suara I Sangut adalah memang suara rakyat, yang niatnya tidak pernah langsung digaungkan. Mereka hanya mengurai keluh kesahnya dalam diam. Yang hanya didengar oleh kedalaman hati mereka sendiri.

Ada berbagai alasan I Sangut banyak diam. Salah satunya adalah bisa jadi dia sedang menyimak secermatnya serta berhitung terhadap suasana yang akan berkembang setelahnya. Karena setiap kata dan kalimat para pemimpin akan menentukan kelanjutan hari-hari bersama sedulurnya yang juga rakyat kebanyakan.

Bagi rakyat tidak ada yang lebih penting dari kepastian tentang ‘ketiadaan’ masalah. Bagi mereka tidak penting benar berbagai selogan yang akhirnya menjadi sekedar pemicu harapan. Kalaupun harapan berperan dalam memotivasi, namun ada yang lebih penting dari itu. Yaitu kedamaian nyata yang memastikan bahwa mereka masih dapat menyusun rencana hidup dengan sukacita. Tidak ada yang lain dari itu dan hanya sederhana saja.

Karenanya para pemimpin mestinya memahami bahwa segala pernik ambisi mereka harusnya beranjak dari apa yang menjadi suasana hati rakyatnya. Rakyatlah yang seharusnya menjadi ikhwal. Mengingat keberadaan mereka sesungguhnya merupakan cermin dari bagaimana prilaku sebuah bangsa dalam memberi rasa hormat kepada kehidupan.

Rakyat yang lapar jelas tidak butuh sekedar harapan. Juga tidak butuh iming-iming untuk makan mewah. Rakyat hanya butuh perut yang kenyang bersama canda generasi penggantinya.

…..

I Sangut memang hanya bersungut. Tetapi amat sering sungutnya menjadi nyata di akhir pementasan. Tuan mereka sering terkapar tanpa sempat sekedar menyesali dan berucap “Selamat tinggal” bagi prilaku buruknya.  Dan Ki Dalang selalu menjadikan itu sebagai momentum. Yaitu buat ‘mapekeling’ tentang kebenaran sederhana yang mesti selalu ditegakkan oleh siapapun.

……

I Sangut barangkali gambaran dari “kebenaran yang salah mengambil tempatnya”. Dia adalah kebenaran yang menggigil menahan diri karena suara sangar keangkuhan lebih didengar akibat selalu dikedepankannya ambisi. Padahal hidup hanya butuh kebenaran sederhana. Hidup juga tidak butuh kemewahan di angan-angan. 

Ya…I Sangut memang representasi kebenaran yang salah memilih tempatnya***

  ~ olih Tut sumarya  ~

​DOA, MANTRA MEMOHON ANAK ATAU KETURUNAN

Dikutip dari shareing umat Hindu di facebook.
Tentang Mantra memohon anak keturunan, membuat hati saya tergugah untuk mencari-carinya. setelah lama mencari, akhirnya saya menemukan doa mantra, yang mungkin berguna untuk para semeton hindu bali.

Masalah kelahiran, kehidupan, dan kematian semuanya di tangan Hyang Widhi. Manusia hanya bisa memohon ke hadapan Hyang Widhi. Untuk itu perlu diketahui bahwa kelahiran dalam Agama Hindu berarti re-inkarnasi roh leluhur.

Roh leluhur bisa ber-reinkarnasi bila sudah suci, yaitu sudah di aben-nyekah dan mepaingkup. 

Cobalah ditanyakan apakah para leluhur sudah diaben atau belum atau masih banyak yang belum di-aben. Bila demikian halnya ini satu unsur penyebab. Saran ini tentu atas asumsi bahwa anda sudah berkonsultasi dengan dokter dan tidak ada masalah dengan kesehatan.

Lakukan Puja Trisandya dan Kramaning Sembah/persembahyangan terus menerus secara intensif untuk mohon dikaruniai putra. 

Mantra Memohon Putra – Anak Keturunan

berikut ini rekomendasi Ritual sembahyang yang disarankan untuk memohon anak keturunan

PERTAMA, Awali setiap sembahyang dengan Puja Trisandya

KEDUA, Ucapkan doa Mantram ini dapat diucapkan setelah Puja Trisandya:

Om Brhatsumnah Prasavita Nivesano

Jagatah Sthaturubhayasya Yo Vasi

Sa No Devah Savita Sarma Yacchatvasme

Ksayaya Trivarutham Amhasah
Om Ayu Werdi Yaso Werdi

Werdi Prajnyam Suka Sryam

Dharma Santana Werdisyat

Santute Sapta Werdayah
Om Dirgayur Astu Tat Astu Astu Swaha

Artinya:

Hyang Widhi yang memberi kehidupan kepada alam dan menegakkannya, yang mengatur baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, semoga memberikan karunianya kepada kami keturunan dan ketentraman hidup dan kemampuan untuk menghindari kekuatan jahat.

Hyang Widhi, berkatilah kami dengan kebahagian, usia panjang, kepandaian, kesenangan, jalan Dharma, dan keturunan. Semoga terkabul Oh, Hyang Widhi.

KETIGA, Lakukan Kramaning sembah seperti biasanya.

KEEMPAT, berusahalah selalu menolong/membantu orang tua, terutama ibu (baik ibu mertua maupun ibu kandung), berusaha selalu menyenangkan hatinya dan usahakan selalu “melakukan padasewanam” (menyentuh kakinya atau duduk dibawah kaki seorang ibu.

KELIMA, menjelang tidur lakukan japa Gayatri Mantram 9x, kemudian dilanjutkan dengan mantra: “Om Pitro Byo Namah Swada” (memohon keadaan yang layak serta untuk menyenangkan leluhur) sebanyak-banyaknya dan/atau semampunya.

KEENAM, lakukan hubungan seksual maksimal 3hari sekali, jangan terlalu sering dan perhatikan prihal “hari baik berhubungan badan”

KETUJUH, guna memperoleh keturunan yang suputra, perhatikan juga prihal “Cara Membuat Anak yang Suputra”

KEDELAPAN, berusaha untuk menyisakan nasi beserta lauknya di dapur, dengan asumsi bila ada pitra yang pulang, agar ada suguhan sekedarnya. (sisakan saja nasi ditempat nasi biasanya, tidak perlu ada persiapan khusus). serta berusaha untuk memasak dirumah (diusahakan masak sendiri) karena kesiapan anda untuk menunggu anugrah seorang putra dilihat dari kesiapan anda untuk berbuat lebih kepada yang akan hadir, minimal mau berkorban hanya sekedar memasakkan makanan untuk keluarga. karena pengalaman yang sering dijumpai, pasangan suami istri yang lebih sering makan diluar rumah atau tidak masak lebih sulit untuk mendapatkan keturunan yang suputra.

KESEMBILAN, sisihkan penghasilan anda untuk PUNIA, serta Lakukan puasa minimal setiap purnama/ tilem, berbuatlah kebajikan sebanyak-banyaknya, dan pasrahkan hidup anda kepada-Nya.

APABILA kesemua hal tersebut diatas sudah dilakukan rutin selama 1 tahun atau 2x odalan di pemerajan anda, maka yang mesti diperhatikan adalah

Dewasa Ayu Nganten anda. cobalah mengingat-ingat kembali hari pernikahan anda terutama hari dimana anda melakukan “Natab Banten Byakala atau Mekalan-kalan” karena hari tersebutlah anda dianggap sah secara sekala-niskala menjadi pasangan suami istri. silahkan cek di “Pemilihan Hari Baik Nganten”. 

Kalimat Yang Nampak Biasa, Ternyata Berbahaya

Sebuah Sharering yang mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam berkata-kata, karena perkataan lebih tajam dari sebilah pedang. Yuk Simak…

Kasus 1 : Saudara laki mengunjungi adik perempuannya yang baru saja habis melahirkan. Saudaranya bertanya saat kunjungan seminggu setelah ia melahirkan

“Hadiah apa yang diberikan suamimu setelah engkau melahirkan?” – ” tidak ada ” jawabnya pendek ..

saudara laki2 nya berkata lagi : ” masa sih … apa engkau tidak berharga disisinya ??aku bahkan sering memberi hadiah istriku walau tanpa alasan yang istimewa ” ….

siang itu … ketika suaminya lelah pulang dari kantor menemukan istrinya merajuk dirumah … keduanya lalu terlibat pertengkaran …

sebulan kemudian … antara suami istri ini terjadi perceraian …

dari mana sumber masalah ???
kalimat sederhana yang diucapkan saudara laki2 sang istri ….

Kasus 2 : Saat arisan seorang ibu bertanya : ” rumahmu ini apa tidak terlalu sempit ?? bukankah anak2 mu banyak ?? ” …

rumah yang tadinya terasa lapang sejak saat itu mulai dirasa sempit oleh penghuninya …

ketenangan pun hilang saat keluarga ini mulai terbelit hutang kala mencoba membeli rumah besar dengan cara kredit ke bank .

Kasus 3 : Seorang teman bertanya : ” berapa gajimu sebulan kerja di toko si fulan ?? ”
ia menjawab : ” 1 juta rupiah ” …
” cuma 1 juta rupiah … sedikit sekali ia menghargai keringatmu .. apa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupmu ?? ” …

sejak saat itu ia jadi membenci pekerjaannya ..

ia lalu meminta kenaikan gaji pada pemilik toko …

pemilik toko menolak dan mem PHK nya ….

kini ia malah tidak berpenghasilan dan jadi pengangguran …

Kasus 4 : Seseorang bertanya pada kakek tua itu : ” berapa kali anakmu mengunjungimu dalam sebulan ?? ” …

si kakek menjawab : ” sebulan sekali ” ….

yang bertanya menimpali : ” wah keterlaluan sekali anak2 mu itu .. diusia senjamu ini seharusnya mereka mengunjungimu lebih sering ” …

Hati si kakek menjadi sempit padahal tadinya ia amat rela terhadap anak2 nya …

ia jadi sering menangis dan ini memperburuk kesehatan dan kondisi badannya ….

Apa sebenarnya keuntungan yang kita dapat ketika bertanya seperti pertanyaan2 di atas ???

Jagalah diri dari mencampuri kehidupan orang lain … mengecilkan dunia mereka … menanamkan rasa tak rela pada apa yang mereka miliki …. mengkritisi penghasilan dan keluarga mereka … dst dst ….

kita akan menjadi agen kerusakan dimuka bumi dengan cara ini …

bila ada bom yang meledak cobalah intropeksi diri ….

bisa jadi kitalah yang menyalakan sumbunya …..!!!???!!!

by : NN

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

Sang Widy

Just For Love In Your's Life

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian