BHAKTI SANG HANUMAN

(dikutip dari epos besar Ramayana)

Hanuman

Saat itu, setelah penobatan Vibhisana sebagai maharaja dan kota Lengka sudah diganti namanya menjadi Srilanka, semua pasukan Sri Rama telah kembali ke Ayodhya. Sri Rama bersama Dewi Sita dan Laksmana mengendarai kereta terbang bernama Manipuspaka, yang merupakan hadiah dari Dewa Kuvera.

Setibanya di kraton Ayodhya, segera itu dilaksanakan upacara Abhivandana, yakni upacara syukuran atas kejayaan Sri Rama berhasil menundukkan Rawana. Pada persidangan agung yang mulia dihadiri oleh seluruh petinggi kerajaan, Sri Rama membagi-bagikan berbagai hadiah kepada siapa saja yang pernah berjasa dalam memenangkan perang untuk merebut kembali Dewi Sita.

Setelah setiap pejabat tinggi mendapatkan hadiah, selanjutnya dipanggillah Hanuman untuk menerima hadiah dari Sri Rama. Saat itu Hanuman tampil berdatang sembah, dengan sangat hormat dia menyatakan tidak bersedia lagi menerima hadiah. Alasan Hanuman, dengan Sri Rama mengijinkan dirinya sebagai abdi sang Purna Avatara, dirinya sudah mendapat hadiah yang tiada taranya, sebab siapa saja yang dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa, para Dewa atau Avatara-Nya, seseorang menikmati kebahagiaan yang sejati. Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

DOA BERSAMA SAAT MENGHADIRI ACARA KEMATIAN

Mantra Pitra Puja

1. Asana               : Om prasada sthiti sarira siva suci nirmalaya namah svaha.

2. Pranayama        : Om ang namah, Om ung namah, Om mang namah.

3. Karasodhana     : tangan Kanan  (Om suddhamam svaha)

tangan Kiri (Om ati suddhamam svaha)

4. Pitra Puja               :

Om svargantu pitaro devah, Svargantu pitara ganam, Svargantu pitarah sarvaya, Namah svada.

“Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat tempat di surga, semoga semua atma suci mendapat tempat di surga, sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi dan hormat hamba kepada smua atma suci.”

Om moksantu pitaro devah, Moksantu pitara ganam, Moksantu pitarah sarvaya, Namah svada.

“Om Hyang Widhi semoga atmanya mencapai moksa, semoga semua atma suci mencapai moksa, sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi dan hormat hamba kepada smua atma suci.”

Om Sunyantu  pitaro devah, Sunyantu pitara ganam, Sunyantu pitarah sarvaya, Namah svada.

“Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat ketenangan, semoga semua atma suci mendapat ketenangan, sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi dan hormat hamba kepada smua atma suci.”

Om Bhagyantu  pitaro devah, Bhagyantu pitara ganam, Bhagyantu pitarah sarvaya, Namah svada. Baca pos ini lebih lanjut

MERIAHKAN HARI RAYA KUNINGAN DENGAN TRADISI “MASURYAK”

masuryak

Ritual unik di laksanakan setiap enam bulan (210 hari) sekali di Banjar Bongan Gede, Desa Bongan, Tabanan. Warga di sana memiliki tradisi berbeda dalam merayakan hari raya Kuningan. Mereka menggelar ritual masuryak usai persembahyangan bersama. Ritual ini adalah menyebarkan lembaran uang kepada warga di tengah jalan. Tradisi ini menjadi simbol suka cita melepas serta membekali para leluhur, dengan sarana uang dan sesajen. Selain itu tradisi ini juga untuk menghantarkan para leluhur kembali ke alam surga, setelah pada hari raya Galungan dan Kuningan turun ke bumi.

Ritual turun-temurun ini dimulai dengan bersembahyang di merajan keluarga masing-masing. Lalu dilanjutkan menghaturkan bebantenan di depan pintu gerbang rumah. Sekitar pukul 10.00 wita, ritual masuryak dimulai. Usai menghaturkan bebantenan, seluruh anggota keluarga melempar uang ke atas. Uang yang dilempar tesebut disisihkan dari hasil pekerjaan di masing-masing keluarga, kemudian pada tradisi ini, dilemparkan dan diperebutkan oleh masyarakat. Dalam tradisi masuryak, tidak ada batasan nominal uang yang akan dilemparkan, mulai dari uang ribuan, puluhan ribu bahkan ratusan ribu rupiah. Kegembiraan masyarakat pun terpancar, saat memperebutkan uang dalam tradisi mesuryak. Bagi mereka yang tidak mendapatkan uang pun, mengaku tidak kecewa, karena mengikuti tradisi ini dengan senang hati. Baca pos ini lebih lanjut

Tradisi “MAKOTEKAN” Menolak Bala

Menolak Bala dengan Upacara Makotekan

Warga Desa Munggu, Mengwi, Badung, memiliki tradisi unik untuk merayakan hari raya Kuningan. Kemarin mereka menggelar tradisi makotekan. Tradisi ini merupakan warisan leluhur dan warga selalu menggelar tradisi ini setiap enam bulan (210 hari) sekali, dipercaya tradisi ini sebagai penolak bala dan grubug. “Dan pernah suatu kali Mekotek tidak dilaksanakan muncul wabah penyakit misterius yang menyebabkan kematian warga secara beruntun”, ujar I Ketut Kormi, Bendesa Adat Desa Munggu.

Kormi juga mengatakan, bahwa tradisi makotek yang digelar setiap hari raya Kuningan itu merupakan tradisi untuk memperingati kemenangan Kerajaan Mengwi saat perang melawan Kerajaan Blambangan, Banyuwangi, zaman dulu. Tradisi ini disebut makotek lantaran berawal dari suara kayu-kayu yang saling bertabrakan ketika kayu-kayu tersebut disatukan menjadi bentuk gunung yang menyudut ke atas.

Kayu-kayu yang digabung menjadi satu itu kemudian menimbulkan bunyi, dan bunyinya “tek tek tek”, sehingga disebut makotek. Sebenarnya dulu tradisi ini bernama grebek yang artinya saling dorong. Pada zaman dulu, Mekotek dilakukan menggunakan tombak, tetapi karena berbahaya, tombak pun diganti dengan kayu jenis pulet yang banyak terdapat di desa. Mekotek yang biasa disebut perang kayu ini sebenarnya tak begitu sulit dilakukan. Baca pos ini lebih lanjut

PURA KAHYANGAN JAGAT

Umumnya, yang kita sebut dengan jagat, sesuai dengan pengertian leluhur kita adalah Bali. Padahal kini kebanyakan dari kita berpandangan jagat adalah dunia, bahkan ada yang langsung berasumsi bahwa jagat adalah kawasan semesta, lengkap dengan seluruh konstelasi bintang, nebula, komet sampai lubang hitam.

Marilah kita mulai berpikir lebih luas. Bayangkan bahwa Kahyangan Jagat dalam Hindu nanti akan mencakup pura Mandara Giri Semeru Agung di Senduro, Pura Luhur Poten di Bromo, Pura Jagatkerta Gunung Salak di Tamansari, juga Pura Payogan Agung Kutai di Kalimantan, bahkan pura agung Santi Buana di Belgia.

Mungkin tidak lama lagi kita akan punya pura Kahyangan Jagat di tiap benua, bahkan tiap negara, bahkan mungkin di antartika sekali pun. Sebenarnya leluhur kita juga sudah berpikir ke arah sana, karena itu Beliau tidak menamai konsep mereka dengan Kahyangan Bali atau Kahyangan Jawa atau lainnya. Kita inilah yang harus terus mengembangkan diri baik dari sisi sekala mau pun niskala. Baca pos ini lebih lanjut

STRUKTUR MANGGALA UPACARA BUTA YADNYA

PENDAHULUAN

  • Ajaran Buta Yadnya bersumber dari ajaran Tantrayama yang merupakan salah satu sakti-sakti atau Saktisme.
  • Sakti dilukiskan sebagai dewi sumber Kekuatan atau Tenaga.
  • Sakti adalah Simbul dari Bala atau Kekuatan dari sisi lain Sakti juga di samakan dengan Energi atau Kala.
  • Saktisme sama dengan Kalaisme di sebut juga kalamuka.
  • Di India aliran Sakti ini kebanyakan Asli India yang di sebut “Sudra Kapalikas”.
  • Pengikut Sakta ini selalu melaksanakan “Panca Ma” sebagai dari Ritual mereka:  Mamsa (makan daging), Matsya (makan ikan), Mada (minum minuman keras),  Mudra (Melakukan Gerak Tangan), Mituna (Mengadakan hubungan Cinta yang berlebih lebihan).
  • Aliran ini memuja Dewi sebagai Ibu,baik berawi,Ibu Durga atau kali dan Durga inilah melahirkan para Buta buti dengan kekuatan Yoganya.
  • Dalam Dharma Sastra para golongan Buta Kala ini termasuk golongan Sadya di ciptakan oleh Brahman.
  • Golongan Sadya ini terdiri dari berbagai jenis Daitya, Danawa, Raksasa, Yaksa,  Gandarwa.
  • Buta Buti yang di sebut dalam Sastra mempunyai sifat kroda.
  • Supaya para Buta Kala tidak mengganggu ketentraman hidup Manusia mereka harus di berikan kurban kebali (Caru).Hal ini di uraikan dalam manawa Dharma Sastra III.73.
  • Prahuta adalah upacara Bali yang di haturkan di atas Tanah kepada Para Buta.

Baca pos ini lebih lanjut

BELAJAR MEMAHAMI KATA SWASTYASTU

MEMAHAMI KATA SWASTYASTU

Oleh:  I Made Anom Sastrawan,S.S.

Pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta, ada banyak pengalaman yang saya rasakan, tapi ada satu hal yang sangat menggelitik dan membangkitkan rasa ingin tahu saya tentang hal tersebut. Suatu hal yang (bukan) tidak lazim tapi (mungkin) belum lazim terdengar di telinga sahabat Hindu di daerah lain, termasuk saya sendiri di Bali jarang mendengar penggunaan “kata” tersebut sebagai sebuah salam penutup. Ingin menunjukkan identitas, eksistensi ataukah hanya ikut gaya-gayaan saja bahwa agama kita juga punya hal-hal yang dimiliki oleh agama lain? Spirit seperti itu layak diacungi jempol, hanya saja diksi atau pemilihan katanya juga harus tepat. Jangan sampai memaksakan suatu yang jelas-jelas keliru tapi karna sudah banyak yang menggunakan jadi sesuatu yang dilazimkan. Melalui media ini saya ingin mengajak sahabat-sahabat untuk sekadar berbagi pengetahuan yang kiranya dapat meluruskan hal-hal yang keliru terkait penggunaan bahasa dan salam dalam agama Hindu. Ada satu hal yang ingin saya bahas pada kesempatan ini, yaitu penggunaan kata “Swastyastu”. Marilah kita bahas  kata demi kata. Baca pos ini lebih lanjut

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

Sang Widy

Just For Love In Your's Life

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian