STRUKTUR MANGGALA UPACARA BUTA YADNYA

PENDAHULUAN

  • Ajaran Buta Yadnya bersumber dari ajaran Tantrayama yang merupakan salah satu sakti-sakti atau Saktisme.
  • Sakti dilukiskan sebagai dewi sumber Kekuatan atau Tenaga.
  • Sakti adalah Simbul dari Bala atau Kekuatan dari sisi lain Sakti juga di samakan dengan Energi atau Kala.
  • Saktisme sama dengan Kalaisme di sebut juga kalamuka.
  • Di India aliran Sakti ini kebanyakan Asli India yang di sebut “Sudra Kapalikas”.
  • Pengikut Sakta ini selalu melaksanakan “Panca Ma” sebagai dari Ritual mereka:  Mamsa (makan daging), Matsya (makan ikan), Mada (minum minuman keras),  Mudra (Melakukan Gerak Tangan), Mituna (Mengadakan hubungan Cinta yang berlebih lebihan).
  • Aliran ini memuja Dewi sebagai Ibu,baik berawi,Ibu Durga atau kali dan Durga inilah melahirkan para Buta buti dengan kekuatan Yoganya.
  • Dalam Dharma Sastra para golongan Buta Kala ini termasuk golongan Sadya di ciptakan oleh Brahman.
  • Golongan Sadya ini terdiri dari berbagai jenis Daitya, Danawa, Raksasa, Yaksa,  Gandarwa.
  • Buta Buti yang di sebut dalam Sastra mempunyai sifat kroda.
  • Supaya para Buta Kala tidak mengganggu ketentraman hidup Manusia mereka harus di berikan kurban kebali (Caru).Hal ini di uraikan dalam manawa Dharma Sastra III.73.
  • Prahuta adalah upacara Bali yang di haturkan di atas Tanah kepada Para Buta.

Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Sasana Kepemangkuan

SASANA: ETIKA DAN TUGAS PEMANGKU

Pendahuluan

Bila kita perhatikan kegiatan keagamaan di Bali tidak lepas di dalamnya terkandung suatu ajaran mengenai etika, susila, upakara dan tampaknya aktivitas upakara dan upacara yang sangat mendominasi aktivitas kegiatan sehari-hari oleh umat Hindu di Bali. Dalam kegiatan tersebut diperlukan seorang yang diyakini mampu untuk memimpin upacara tersebut sesuai dengan tingkat upacara, untuk kegiatan tingkat upacara kecil dan menengah diperlukan seorang pemangku untuk mengantar pelaksanaan suatu upacara.

Dibalik hal tersebut di atas sebenarnya pemangku juga sangat berperan penting di dalam menuntun umat dalam memahami ajaran agama Hindu, dimana di jaman global dan informasi, seorang pemangku dituntut untuk bisa mampu membina umat terutama kepada generasi muda yang merupakan generasi penerus dalam pengemban ajaran agama Hindu, sehingga para generasi muda betul-betul memahami agamanya sendiri dan tidak terjerumus terhadap hal-hal yang negatif. Seorang pemangku diharapkan dapat meningkatkan kualitas penghayatan serta pengamalan ajaran agama sehingga diperlukan pembekalan yang cukup bari para pemangku maupun calon pemangku. Baca pos ini lebih lanjut

Doa Sehari-Hari Menurut Hindu

MARI BERSEMBAHYANG

Pada umumnya, sebelum melakukan persembahyangan –baik dengan Puja Trisandya maupun Panca Sembah– didahului dengan penyucian badan dan sarana persembahyangan. Urutannya sebagai berikut:

1. Duduk dengan tenang. Lakukan Pranayama dan setelah suasananya tenang ucapkan mantram ini:

OM PRASADA STHITI SARIRA SIWA SUCI NIRMALAYA NAMAH SWAHA

Artinya: Ya Tuhan, dalam wujud Hyang Siwa, hamba-Mu telah duduk tenang, suci, dan tiada noda.

2. Kalau tersedia air bersihkan tangan pakai air. Kalau tidak ada ambil bunga dan gosokkan pada kedua tangan. Lalu telapak tangan kanan ditengadahkan di atas tangan kiri dan ucapkan mantram:

OM SUDDHA MAM SWAHA

Artinya: Ya Tuhan, bersihkanlah tangan hamba (bisa juga pengertiannya untuk membersihkan tangan kanan). Baca pos ini lebih lanjut

Puja Tri Sandhya (Sumber Teks, Terjemahan dan Pemahamannya)

Sumber Teks, Terjemahan dan Pemahamannya.

Ada beberapa saudara kita yang belum tau, menanyakan sumber teks mantram Tri Sandhya, apakah karangan dari tokoh agama kita atau memang ada di dalam kitab suci Weda? Seperti yang diketahui bahwa mantram Tri Sandhya yang tersusun sdemikian rupa ini hanya ada di Indonesia, sedangkan di India tidak ada. Dalam mantram Tri Sandhya (6 bait) yang banyak orang kenal adalah bait pertama yaitu mantram Gayatri yang bersumber dari kitab suci Rg.Weda III.62.10. Lalu, bagaimana dengan 5 bait yang lainnya? Seperti halnya bait pertama, bait ke-2 sampai dengan bait ke-6 juga bersumber dari kitab suci Weda. Bait ke-2 bersumber dari Narayana Upanisad 2, bait ke-3 berasal dari Sivastava 3, dan bait ke 4-6 adalah sama yaitu bersumber dari Ksamamahadevastuti 2-5. Mari kita bahas satu persatu.

Puja Tri Sandhya merupakan ibu mantra dan intisari dari seluruh mantra-mantra Weda yang mampu membawa umat manusia menuju ke arah kehidupan yang harmonis (moka). Mantra Puja Tri Sandhya merupakan media yang paling sesuai digunakan pada zaman Kali, di mana manusia dalam waktu hidup yang singkat harus berlomba dengan waktu demi memenuhi kebutuhan jasmaninya sehingga manusia tak punya banyak waktu untuk memenuhi kebutuhan rohani seperti yang dilakukan oleh Mahārṣi terdahulu sebagai contoh melakukan tapa yang cukup lama. Dalam sastra suci Weda disebutkan bahwa melakukan ‘Japa’ atau menyebut nama suci Tuhan berulang-ulang merupakan salah satu cara yang paling baik untuk meningkatkan spritualitas seseorang di zaman Kali ini dan dengan melakukan puja Tri Sandhya berarti Japapun sudah kita lakukan. Baca pos ini lebih lanjut

Puja Trisandhya (Tempat, Saat yang Tepat dan Sarana yang Digunakan)

Tempat, Saat yang Tepat dan Sarana yang Digunakan

Melaksanakan puja Tri Sandhya sangat baik dilaksanakan di tempat-tempat yang dipandang suci seperti pura, pamarajan, candi, puncak gunung atau bukit, mata air, tepi pantai dan pertemuan dua atau tiga buah sungai yang diyakini oleh umat Hindu sebagai tempat yang memancarkan gelombang kesucian. Bila kita melaksanakan Gayatri, mengucapkan Tri Sandhya di tempat-tempat yang dipandang suci, tentu pahalanya akan berlipat ganda. Mengapa hal itu bisa terjadi? Sebab tempat-tempat yang diyakini suci itu merupakan pusat-pusat ananda (kebahagiaan sejati), pancaran spiritual, yang tidak saja senang dikunjungi oleh orang yang mekar spiritualitasnya juga disenangi oleh roh-roh baik roh-roh suci maupun roh-roh yang karena karmanya menikmati penderitaan. Sampai areal telajakan (di sekitar areal suci), roh-roh tertentu tidak dapat memasuki areal yang suci itu. Umumnya bila kita menuju tempat-tempat yang diyakini suci atau memancarkan getaran kesucian, sebelum sampai ke tempat yang dituju, kadang-kadang bulu roma berdiri. Mengapa hal ini terjadi? Jawabannya secara sederhana, karena kita melewati pembatas antara lokasi roh-roh yang tidak dapat menuju tempat yang dipandang suci itu, akibatnya beberapa saat bulu roma berdiri tegak. Hal ini sangat berbeda rasanya bila kita menuju tempat atau jeroan (bagian dalam) yang diyakini suci. Pada area ini rasa gembira, senang, damai dan bahagia dapat dirasakan. Baca pos ini lebih lanjut

Puja Tri Sandhya (Pengertian dan Sikap Tri Sandhya)

Pengertian dan Sikap Tri Sandhya

Mengapakah kita wajib melaksanakan puja Tri Sandhya, apakah sumber ajaran ini dan bagaimana kita bila tidak mampu melaksanakan hal tersebut? Apakah harus melaksanakan puja Tri Sandhya itu di tempat-tempat yang di pandang suci, bagaimanakah apa boleh dilaksanakan di kantor atau tempat-tempat pertemuan dan lain-lain? Muncul pertanyaan sebagai akibat belum memasyarakatnya Tri Sandhya secara baik.

Tri Sandhya adalah sembahyang yang wajib dilakukan oleh setiap umat Hindu tiga kali dalam sehari. Sembahyang rutin ini diamanatkan dalam kitab suci Weda dan sudah dilaksanakan sejak ribuan tahun yang lalu. Bila kita tidak tekun melaksanakan Tri Sandhya berarti kita tidak secara sungguh-sungguh mengamalkan ajaran yang terkandung dalam kitab suci Weda. Banyak hambatan yang dialami mengapa seseorang tidak tekun melaksanakan puja atau sembahyang Tri Sandhya, beberapa hambatan tersebut di antaranya: karena kurang memahami makna yang terkandung dalam melaksanakan puja Tri Sandhya, karena enggan, sebab belum dibiasakan (abhyasa), bahasanya tidak atau kurang dipahami dan sebagainya. Baca pos ini lebih lanjut

Mantram (Pengertian dan Fungsi)

Om Swastyastu

A.     Pengertian Mantram

Apakah setiap kita sembahyang mesti menggunakan mantram? Bagaimana bila kita tidak mengetahui tentang mantram? Apakah boleh menggunakan bahasa hati, bahasa yang paling kita pahami?

Berbagai pertanyaan muncul berhubungan dengan penggunaan mantram dalam acara persembahyangan. Dalam melaksanakan Tri Sandhya, sembahyang dan berdoa setiap umat Hindu sepatutnya menggunakan mantram, namun bila tidak memahami makna mantram, maka sebaiknya menggunakan bahasa hati atau bahasa ibu, bahasa yang paling dipahami oleh seseorang yang dalam tradisi Bali disebut “Sehe” atau “ujuk-ujuk” dalam bahasa Jawa. Baca pos ini lebih lanjut

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

WP SHOP COLLECTION

Belanja Murah Terjamin & Berkualitas, Disini Tempatnya!!!

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian