Kesepakatan Bersama Konsultasi Pejabat Ditjen Bimas Hindu Dengan Pembimas Hindu Dan Parisada Tahun 2012 Di Semarang

Informasi berikut terkait Kegiatan Konsultasi Pejabat Ditjen Bimas Hindu dengan Pembimas Hindu dan Parisada Tahun 2012 Di Semarang, yang diselenggarakan di Hotel Grand Candi, Jl. Sisingamangaraja  No. 16, Semarang.

Kegiatan yang dilaksanakan dari hari Jumat-Senin, 18 s.d. 21 Mei 2012 ini diikuti oleh 90 (sembilan puluh) orang peserta dari unsur Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama R.I., Parisada Pusat, Pembimas Hindu Provinsi, Parisada Provinsi (33 provinsi), WHDI, Pinandita Sanggraha Nusantara dan Pemuda Hindu (peradah).

Berikut hasil sidang komisi yang telah di paripurnakan dengan pimpinan sidang prof. Dr. I Nyoman Sudyana, M.Sc. yang telah disepakati bersama dalam bentuk Kesepakatan Bersama yang isinya menekankan peran, tugas dan fungsi Pembimas Hindu dan Parisada dalam membina umat Hindu.

Iklan

Konsultasi Pejabat Ditjen Bimas Hindu Dengan Pembimas Hindu dan Parisada Tahun 2012 “Mempererat Simpul Kehinduan”

Dirjen Bimas Hindu (Prof. Dr. IBG. Yudha Triguna, MS.) menyematkan Tanda Peserta Konsultasi.

Dalam menciptakan kerukunan intern dan antar umat beragama terkandung aspek kerukunan antar lembaga/organisasi keagamaan. Kerukunan antar lembaga ini perlu dimantapkan sehingga pelayanan kepada umat dapat dioptimalkan. Sebab, Lembaga Keagamaan memegang peran yang sangat penting dalam pembinaan umatnya. Memahami hal tersebut dalam usaha untuk menciptakan kerukunan dan meningkatkan peran Kelembagaan Hindu dalam mengisi pembangunan serta mempererat tali simakrama antara pemerintah dan lembaga keagamaan Hindu, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama R.I. mengadakan Konsultasi Pejabat Ditjen Bimas Hindu Kemenag R.I. dengan pembimas Hindu dan Parisada Tahun 2012 di Semarang. Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperluas wawasan berorganisasi guna membangun persepsi yang sama terhadap Peran, Fungsi, Tugas, dan Tanggung Jawab dalam pembinaan umat. Baca pos ini lebih lanjut

Mitologi Batara Kala Dalam Pewayangan Jawa

BATARA KALA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Cirebon

Menurut cerita wayang Purwa. Ini terjadi ketika pada suatu saat Batara Guru bertamasya bersama istrinya, Dewi Uma, menunggang Lembu Andini mengarungi angkasa. Di atas Nusa Kambangan, dalam keindahan pemandangan senja hari, Batara Guru tergiur melihat betis istrinya. Ia lalu merayu Dewi Uma agar mau melayani hasratnya saat itu juga, di atas punggung Andini. Tetapi istrinya menolak. Selain karena malu, Dewi Uma menganggap perbuatan semacam itu tidak pantas dilakukan.

Karena gairah Batara Guru tak tertahankan lagi, akhirnya jatuhlah kama benihnya ke samudra. Seketika itu juga air laut bergolak hebat. Benih kama Batara Guru menjelma menjadi makhluk yang mengerikan. Dengan cepat makluk itu tumbuh menjadi besar. la menyerang apa saja, melahap apa saja. Untuk meredakan kekalutan yang terjadi, Batara Guru memerintahkan beberapa orang dewa membasmi makhluk itu. Namun dewa-dewa itu tak ada yang mampu menghadapi makhluk itu. Mereka akhirnya bahkan lari pulang ke kahyangan. Makhluk ganas itu segera mengejar para dewa sampai ke Kahyangan Suralaya, tempat kediaman Batara Guru. Setelah berhadapan dengan Batara Guru makhluk itu menuntut penjelasan, ia anak siapa, untuk kemudian minta nama dari ayahnya. Batara Guru yang maklum keadaannya, segera memberi tahu bahwa makhluk itu adalah anaknya yang terjadi karena kama salah. Batara Guru memberinya nama Kala, dan mengangkatnya sederajat dengan dewa, sama dengan anak-anaknya yang lain. Dengan demikian, ia bergelar Batara Kala. Baca pos ini lebih lanjut

Bhatara Kala (Wayang Sapuleger Dalam Mitology Bali)

Ogoh-ogoh “Wayang Sapuh Leger” garapan Sekaa Teruna Dharma Yowana Br. Anggarkasih Sanur Kecamatan Denpasar Selatan

Dalam kitab Kala Tattwa diceritakan, pada waktu Bhatara Guru (Dewa Siwa) sedang jalan-jalan dengan Dewi Uma di tepi laut, “air mani” Dewa Siwa menetes ke laut ketika melihat betis Dewi Uma karena angin berhembus menyingkap kain Sang Dewi. Dewa Siwa ingin mengajak Dewi Uma untuk berhubungan badan, namun Sang Dewi menolaknya karena prilaku Dewa Siwa yang tidak pantas dengan prilaku Dewa-Dewi di kahyangan. Akhirnya mereka berdua kembali ke kahyangan. Air mani Dewa Siwa menetes ke laut kemudian ditemukan oleh Dewa Brahma dan Wisnu. Benih tersebut kemudian diberi japa mantra. Dari benih seorang Dewa tersebut, lahirlah seorang rakshasa yang menggeram-geram menanyakan siapa orangtuanya. Atas petunjuk dari Dewa Brahma dan Dewa Wisnu, raksasa itu mengetahui bahwa Dewa Siwa dan Dewi Uma adalah orangtuanya. Baca pos ini lebih lanjut

KALA TATTWA (Purwa Gama Sesana)

BATARA KALA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa Bali

Ada cerita di Purwa Gama Sesana, Kala Tatwa namanya. Diceritakan keadaan Bhatara Kala yang tak pernah puas memakan binatang dan manusia. Hingga akhirnya keberadaan binatang dan manusia itu hampir punah dimakan oleh Bhatara Kala. Oleh karenanya, manusia pada berlarian terbirit-birit sambil memanggil-manggil Tuhan Yang Maha Esa. Nah, pada saat manusia itu berlari-lari, saat itulah banyak yang mati. Sehari bisa sepuluh orang, biasa juga seratus, bahkan ada sampai seribu yang meninggal dalam satu hari. Hal ini dikarenakan ada yang jatuh ke jurang, ditabrak lahar, tertimpa gunung, dan semua itu adalah ulah dari Bhatara Kala. Hal ini ada dalam Purwa Gama Sesana, inilah kutipannya “tan weruh ring patinia”, tidak ada yang tahu, tidak ada firasat apa-apa tiba-tiba mati, seperti terkena air bah, seperti kejadian di Sumatera. Terkena api, jatuh ke jurang, semua itu akibat dimakan Bhatara Kala.

Manusia yang selamat dan masih sibuk terus memanggil-manggil Tuhan Yang Maha Esa, dan saat itu juga muncul sesosok perempuan tua dengan perawakan tunggal. Ialah yang menghadang Bhatara Kala untuk memakan manusia. Karena kesalnya, Bhatara Kala pun marah dan menerkam perempuan tua itu, tetapi tiba-tiba saja menghilang dan muncul lagi. Kemudian diterkamnya lagi perempuan itu dan menghilang lagi, seperti orang yang hendak menangkap asap, begitu diambil lenyap begitu saja. Akhirnya Bhatara Kala pun menangis, karena merasa dikalahkan oleh sosok perempuan tua yang bernama Sang Hyang Tunggal itu. Karena Bhatara Kala menangis, para manusia yang tadinya berlarian pun berhenti dan  bertanya “”Kenapa Bhatara Kala menangis, dan kenapa Ia tidak bisa menangkap orang tua itu, padahal ia seorang perempuan?”. Baca pos ini lebih lanjut

JAWA TIMUR JUARAI PEMILIHAN KELUARGA SUKHINAH TELADAN TINGKAT NASIONAL TAHUN 2012

Dirjen Bimas Hindu, Prof. Dr. IBG. Yudha Triguna, MS. Menyematkan Tanda Peserta

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama R.I. melalui Subdit Penyuluhan Direktorat Urusan Agama Hindu, tanggal 11 s.d. 14 Oktober 2012 menyelenggarakan Pendidikan dan Pemilihan Keluarga Sukhinah Teladan Tingkat Nasional Tahun 2012. Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Kawanua Aerotel Jakarta, Jl. Cempaka Putih No. 120, Jakarta Pusat ini diikuti oleh 33 pasang peserta yang merupakan peserta terpilih, pasangan suami-istri perwakilan dari 33 provinsi di Indonesia.

Acara dibuka oleh Dirjen Bimas Hindu, Prof. Dr. IBG. Yudha Triguna, MS. pada hari Kamis, 11 Oktober 2012 dihadiri pula oleh Direktur Urusan Agama Hindu, I Ketut Lancar, SE.,M.Si. Bapak Dirjen mengungkapkan, Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama R.I. selalu berupaya semaksimal mungkin membuat berbagai terobosan/program kegiatan yang mengarah pada terciptanya kehidupan masyarakat Hindu yang lebih memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Hindu dalam kehidupan sehari-hari. Beliau juga berharap dengan diselenggarakannya acara ini, dapat terpilih keluarga sukhinah teladan, yang dapat dipakai contoh dan memberikan teladan di masyarakat nantinya dalam pembinaan Umat Hindu. Baca pos ini lebih lanjut

Mantram (Pengertian dan Fungsi)

Om Swastyastu

A.     Pengertian Mantram

Apakah setiap kita sembahyang mesti menggunakan mantram? Bagaimana bila kita tidak mengetahui tentang mantram? Apakah boleh menggunakan bahasa hati, bahasa yang paling kita pahami?

Berbagai pertanyaan muncul berhubungan dengan penggunaan mantram dalam acara persembahyangan. Dalam melaksanakan Tri Sandhya, sembahyang dan berdoa setiap umat Hindu sepatutnya menggunakan mantram, namun bila tidak memahami makna mantram, maka sebaiknya menggunakan bahasa hati atau bahasa ibu, bahasa yang paling dipahami oleh seseorang yang dalam tradisi Bali disebut “Sehe” atau “ujuk-ujuk” dalam bahasa Jawa. Baca pos ini lebih lanjut

Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

WP SHOP COLLECTION

Belanja Murah Terjamin & Berkualitas, Disini Tempatnya!!!

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian