Sejarah Hari Raya Nyepi di Indonesia

Om Swastyastu,

Nyepi merupakan Hari Raya Umat Hindu untuk memperingati perayaan Tahun Baru Saka. Yang perhitungannya berdasarkan sasih, atau bulan. Jaruh setiap 360 hari sekali.

Bagi masyarakat Hindu Bali Nyepi identik dengan hari di mana kita tidak keluar rumah seharian, hari di mana kita tidak melakukan pekerjaan apapun seharian, hari tanpa kebisingan, di mana malam harinya sepi dan gelap gulita karena tidak boleh menyalakan lampu, hari yang memberi kesempatan untuk “mulat sarira” (melakukan introspeksi atau kembali ke jati diri) dengan merenung atau meditasi, hari dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian.

Umat Sedharma yang berbahagia, kita merayakan Nyepi setiap tahun, namun apa semua tau bagaimana sejarahnya perayaan Nyepi bisa seperti saat ini? Sumber teksnya ada di kitab apa? Ini tentunya menjadi pertanyaan yang ada di pikiran banyak orang.

Maka dari itu, pada kesempatan ini saya akan mencoba berbagi informasi yang saya peroleh dari berbagai sumber, semoga bermanfaat, bisa menambah pengetahuan kita tentang Sejarah Hari Raya Nyepi di Indonesia.

Umat sedharma, kita semua tahu bahwa agama Hindu berasal dari India dengan kitab sucinya Weda. Di awal abad masehi bahkan sebelumnya, Negeri India dan wilayah sekitarnya digambarkan selalu mengalami krisis dan konflik sosial berkepanjangan.

Pertikaian antar suku-suku bangsa, al. (Yaitu Suku Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya) menang dan kalah silih berganti. Gelombang perebutan kekuasaan antar suku menyebabkan terombang-ambingnya kehidupan beragama itu. Pola pembinaan kehidupan beragama menjadi beragam, baik karena kepengikutan umat terhadap kelompok-kelompok suku bangsa, maupun karena adanya penafsiran yang saling berbeda terhadap ajaran yang diyakini.

Dan pertikaian yang panjang pada akhirnya suku Saka menjadi pemenang di bawah pimpinan Raja Kaniskha I yang dinobatkan menjadi Raja dan turunan Saka, tanggal 1 (satu hari sesudah tilem) bulan 1 (caitramasa) tahun 01 Saka, pada bulan Maret tahun 78 masehi.

Dari sini dapat diketahui bahwa peringatan pergantian tarikh saka adalah hari keberhasilan kepemimpinan Raja Kaniskha I menyatukan bangsa yang tadinya bertikai dengan paham keagamaan yang saling berbeda. Sejak tahun 78 Masehi itulah ditetapkan adanya tarikh atau perhitungan tahun Saka, yang satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut Caitramasa, bersamaan dengan bulan Maret tarikh Masehi dan Sasih Kesanga dalam tarikh Jawa dan Bali di Indonesia. Sejak itu pula kehidupan bernegara, bermasyarakat dan beragama di India ditata ulang.

Oleh karena itu peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional. Keberhasilan ini disebar-luaskan keseluruh daratan India dan Asia lainnya bahkan sampai ke Indonesia.

Pada abad ke-4 Masehi agama Hindu telah berkembang di Indonesia, sistem penanggalan Saka pun telah berkembang pula di Indonesia.

Itu dibawa oleh seorang pendeta bangsa Saka yang bergelar Aji Saka dari Kshatrapa Gujarat (India) yang mendarat di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 456 Masehi.

Dinyatakan Sang Aji Saka di samping telah berhasil mensosialisasikan peringatan pergantian tahun saka ini, juga berhasil mensosialisasikan aksara Jawa yang merupakan cikal bakal aksara Bali.

Demikianlah awal mula perkembangan Tahun Saka di Indonesia. Pada zaman Majapahit, Tahun Saka benar-benar telah eksis menjadi kalender kerajaan. Di Kerajaan Majapahit pada setiap bulan Caitra (Maret), Tahun Saka diperingati dengan upacara keagamaan. Di alun-alun Majapahit, berkumpul seluruh kepala desa, prajurit, para sarjana, Pendeta dan Sri Baginda Raja. Topik yang dibahas dalam pertemuan itu adalah tentang peningkatan moral masyarakat. Dan mensosialisasikan tentang Pada tahun 456 Masehi (atau Tahun 378 Saka), datang ke Indonesia seorang Pendeta penyebar Agama Hindu yang bernama Aji Saka asal dari Gujarat, India. Beliau mendarat di pantai Rembang (Jawa Tengah) dan mengembangkan Agama Hindu di Jawa.

Ketika Majapahit berkuasa, (abad ke-13 Masehi) Perayaan Tahun Saka pada bulan Caitra ini dijelaskan dalam Kitab Nagara Kartagama oleh Rakawi Prapanca pada Pupuh 8, 12, 85, 86 – 102. Sejak itu Tahun Saka resmi digunakan di Indonesia. Masuknya Agama Hindu ke Bali kemudian disusul oleh penaklukan Bali oleh Majapahit pada abad ke-14 dengan sendirinya membakukan sistem Tahun Saka di Bali hingga sekarang. Di Bali, perayaan Tahun Saka ini dirayakan dengan Hari Raya Nyepi berdasarkan petunjuk Lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala. Hari Raya Nyepi ini dirayakan pada Sasih Kesanga setiap tahun. Biasanya jatuh pada bulan Maret atau awal bulan April.

Perpaduan budaya (akulturasi) Hindu India dengan kearifan lokal budaya Hindu Indonesia (Bali) dalam perayaan Tahun Baru Saka inilah yang menjadi pelaksanaan Hari Raya Nyepi unik seperti saat ini.

Umat sedarma, demikianlah sejarah hari raya Nyepi yang dirayakan umat Hindu di Indonesia. Semoga bermanfaat.

Matur Suksma
Om Santi, Santi, Santi, Om.

Iklan

Apa Yang Diburu Lubdaka Di Zaman Kali?

Umat Hindu kemarin telah merayakan Hari Suci Siwalatri (26/1/17), banyak yang menjalankan ritual Siwalatri dengan melakukan bratha/pantangan dan semedi/meditasi, mapuasa. Baik dengan berpuasa tidak makan, tidak bicara, tidak bekerja, tidak tidur atau begadang/majagra, atau bahkan melakukan tirtha yatra, dengan melakukan persembahyangan ke Pura Pura di sekitar tempat tinggal. Bahkan yang kreatif membuat kegiatan pesantian, dharmatula, dharmawacana, dharmawidya, dll. di Pura atau Pasraman masing-masing. 

Siwalatri, malam pemujaan Siwa. Datangnya setahun sekali berdasarkan perhitungan sasih/bulan tahun Saka, yaitu Purwaning Tilem Kapitu. Hari ini yang dipuja adalah Siwa. Tokoh utama Protagonisnya ADALAH …SIWA! Maha suci, pelebur mala, maha pengampun, maha pelindung, maha segala-galanya. Beliulah yang mereka buru. Sang Penekun Kebahagiaan utama moksartham jagadhita. 

Hari Suci Siwalatri sangat identik dengan Cerita Lubdaka, dan umat sedarma pastilah tidak asing lagi dengan cerita ini. Lubdaka adalah tokoh yang tidak pernah berbuat baik tapi mampu menuju SIWALOKA…! Teka-teki Empu Tanakung (Penulis cerita Lubdaka) baru terpecahkan, ternyata Lubdaka tidak pernah berbuat baik, seorang pemburu, dan tidak sadar dan tidak sengaja memuja SIWA di malam Siwalatri, dan diterima di SIWA LOKA. Betapa mulia dan maha pemurahnya dan sangat, sangat pemaafnya,  Dewa Siwa kepada para umatnya yang pernah melakukan dosa. Di sinilah pesannya, maka Pujalah dan Muliakan Beliau. Om Nama Siwaya. Sedikitpun tidak ada kata terlambat menuju ajaran SIWA. Karena Beliau akan menganugrahkan Jagra/kesadaran.

*

Di jaman Kaliyuga ini, siapakah Lubdaka sang pemburu itu? Dan apa yang diburu olehnya? Hingga harus melakukan tapa Siwalatri ini juga?

Lubdaka masa kini (wartamana Lubdhaka).

Lubdaka itu tiada lain dan bukan adalah kita sendiri. Ya, kita! Kita! Kita! Kitalah lubdaka itu. Di mana kita setiap hari melakukan perburuan. Lalu, perburuan masa kini itu apa?

Yg diburu: Kekuasaan, Uang/harta benda/kekayaan, Wanita/pria, Ilmu pengetahuan, Judi, Prestise diri (seperti agar dianggap suci, wisesa, ngiring, dsb. Itulah yang diburu manusia pada kaliyuga ini. Anda merasakan diri anda berburu salah satu dari itu? Atau bahkan semuanya? Ingat, berburu jangan sampai lupa diri/tersesat.

Setiap usaha, daya upaya yang kita lakukan untuk mencapai yang diinginkan itu tidak akan luput akan dosa. Besar atau kecilnya. Disengaja atau tidaknya, bukanlah ukuran. Dosa, tetaplah dosa. Oleh karenanya, Kita umat Hindu selalu merayakan hari Siwalatri setiap tahunnya, untuk mengingatkan kita atas segala kesalahan dan perbuatan yang telah berlalu setahun terakhir. Waktu untuk kita introspeksi diri, mulat sarira.  Waktu untuk melakukan bratha, memohon maaf dan berserah diri pada manifestasi Tuhan, yaitu Siwa. Agar kita menjadi manusia dengan kualitas diri yang lebih baik ke depannya. 

Om Nama SiwayaOm Nawa Siwaya

Om Nama SiwayaOm Nawa Siwaya

-pkj-

Kisah Kelahiran Kartikeya

kartikeya

kartikeya

Kumar Kartikeya atau juga dikenal sebagai Murugan, Skanda, Subramanian, dan Kumara adalah dewa perang dlm agama Hindu. Kartikeya adalah dewa yang diakui dan disembah di Tamil Nadu dan di India selatan

Kelahiran Kartikeya memiliki banyak versi. Dalam Skanda Purana itu dikisahkankan bahwa Shiva pertama kali menikah dengan Sati/Dakshayani, putri Prajapati Daksa. Prajapati Daksa tdk pernah menyukai Dewa Shiva. Dia tidak menyukai Dewa Shiva karena Dewa Shiva memenggal satu kepala Dewa Brahma dan mengutuknya, dan juga tidak memiliki kekayaan, bahkan pakaian yang bagus untuk dirinya sendiri. Prajapati Daksa di depan umum menghina Dewa Shiva pada upacara yajna. Sati tidak bisa menerima penghinaan suaminya dan membakar dirinya sendiri di altar yajna ayahnya. Upacara tersebut dihancurkan oleh Veerbadhra. Lalu, Sati dilahirkan kembali sebagai Parvati , putri Raja Himavan dan kemudian menikah dengan Dewa Shiva . Baca pos ini lebih lanjut

Kisah Sudama dan Krisna

Sudama dan Krisna

Persahabatan Krishna & Sudama  sudah diketahui semua. Sudama adalah seorang Brahmana miskin.Dia bahkan tidak punya cukup uang untuk memberi makan anak-anaknya. Suatu saat dengan mata penuh air mata, istrinya berkata kepadanya, “Tidak masalah jika kita lapar tapi kita setidaknya harus mampu memberi makan untuk anak-anak.”
 
Mendengar hal itu, Sudama merasa sangat sedih dan berkata, “Apa yang bisa dilakukan? Kita tidak bisa meminta bantuan dari siapa pun.”

Istri Sudama menjawab, “Anda sering berbicara tentang Krishna. Anda telah mengatakan bahwa Anda memiliki ikatan  persahabatan yang mendalam dengan dia. Dia adalah Raja Dwarka, jadi mengapa Anda tidak pergi kepadanya? Tidak perlu meminta apa-apa di sana. “

Sudama menemukan kebijaksanaan dalam kata-kata istrinya. Dia memutuskan untuk pergi ke Dwarka & berkata, “Aku pasti akan pergi kepada Krishna tapi apa yang harus aku bawa untuk anak-anaknya?”
Istri Sudama meminjam beberapa makanan ringan dan beras dari tetangga mereka.Dia menaruh makanan dalam sepotong kain robek & Sudama mengambil bungkusan itu lalu berangkat ke Dwarka.

Sesampainya di Dwaraka dia sangat kagum. Seluruh kota dibangun dengan emas & rakyatnya sangat kaya. Dia meminta petunjuk untuk menuju istana Krishna & akhirnya sampai di sana. Ketika melihat Sudama yang tampak seperti seorang pertapa, para penjaga istana bertanya, “Mengapa kau datang ke sini?”
Sudama menjawab, “Saya ingin bertemu Krishna, Dia adalah teman ku. Pergi & katakan padanya bahwa Sudama telah datang untuk bertemu dengannya.”

Penjaga itu tertawa saat melihat pakaian Sudama. Namun, ia dengan ragu-ragu pergi & menyampaikan kepada Krishna tentang kedatangan Sudama. Mendengar nama Sudama ini, Krishna segera berdiri & berlari menyambutnya. Semua orang memandang dengan heran saat melihat seorang Raja besar berlari bertelanjang kaki untuk bertemu teman yang berpenampilan buruk dan kusut.

Krishna mengajak Sudama ke istana. Mereka ingat masa kanak-kanak mereka di sekolah Sandipani. Melihat kekayaan Krishna, Sudama merasa malu dengan makanan ringan dan beras yang ia bawa & mencoba untuk menyembunyikan bungkusan itu tapi Krishna menyambarnya dari dia. Sambil menikmati camilan, Krishna berkata, “aku tidak pernah merasakan makanan manisnya dan lezat seperti ini.”

Kemudian, mereka duduk sambil menyantap makan yang disajikan di piring emas.Sudama merasa sedih karena ia teringat dengan anak-anaknya yang kelaparan di rumah. Dia tinggal di istana selama dua hari tapi ia tidak bisa menikmati apa yang disajikan oleh Khrisna. Pada hari ketiga, ia bersiap-siap untuk kembali pulang.Krishna memeluk Sudama & mengantarnya saat ia mengucapkan selamat berpisah.
Dalam perjalanan kembali, Sudama bertanya-tanya, “Apa yang harus saya katakan ketika istriku bertanya apa yang aku bawa?”

Ketika Sudama dekat rumahnya, ia tidak menemukan gubuknya! Sebaliknya, istrinya keluar dari istana megah & mengenakan pakaian elegan. Lalu dia berkata kepada Sudama, “Lihatlah kekuatan Krishna, kami telah menyingkirkan kemiskinan kita.  Krishna telah menghilangkan semua penderitaan kita..” Sudama teringat dengan cinta kasih Krishna yang murni & matanya dipenuhi air mata sukacita. (sumbersumber) Baca pos ini lebih lanjut

Kisah Kelahiran Dewa Ganesha

dewa ganesha

dewa ganesha

Meski Ganesa terkenal sebagai putra dari Siwa dan Parwati, mitos-mitos dalam Purana memiliki ketidakpastian mengenai kelahirannya. Dia bisa saja diciptakan oleh Siwa, atau oleh Parwati, atau oleh Siwa dan Parwati, atau muncul secara misterius dan ditemukan oleh Siwa dan Parwati. Terdapat berbagai versi mengenai kelahiran Ganesa, namun kisah yang paling terkenal berasal dari kitab Siwapurana.

Dalam kitab Siwapurana dikisahkan, suatu ketika Parwati (istri Dewa Siwa) ingin mandi. Karena tidak ingin diganggu, ia menciptakan seorang anak laki-laki. Ia berpesan agar anak tersebut tidak mengizinkan siapapun masuk ke rumahnya selagi Dewi Parwati mandi dan hanya boleh melaksanakan perintah Dewi Parwati saja. Perintah itu dilaksanakan sang anak dengan baik. Baca pos ini lebih lanjut

Tikus Kendaraan Dewa Ganesha

Kisah dalam Purana
dewa ganeshaSuatu kisah ada Raksasa bernama Gajamugasuran. Dia adalah pemuja sejati dewa Shiva dan senang dengan pengabdiannya, Shiva memberikan kepadanya beberapa anugerah. Gajamugasuran menjadi sangat bangga dan kuat dan ia mulai mengganggu para dewa.  Para dewa meminta Siwa untuk menyelamatkan mereka dari Gajamugasaran. Shiva mengirim Ganesha untuk membantu para dewa. Ganesha pergi dengan beberapa senjata seperti busur dan anak panah, pedang, dan bahkan kapak untuk menghancurkan Gajamugasuran. Tapi Raksana itu telah diberi anugerah  tidak ada senjata yang bisa membahayakan jiwanya, sehingga upaya Ganesha untuk menghancurkan raksasa itu tidak berhasil. Akhirnya, Gajamugasuran merubah dirinya menjadi tikus kecil dan bergegas menuju Ganesha. Ganesha sangat pintar dan menduduki tikus kecil itu. Gajamugasuran akhirnya dikalahkan dan dipaksa untuk meminta maaf atas perbuatannya. Sejak itu, Ganesha selalu disertai dengan tikus sebagai kendaraannya.
Baca pos ini lebih lanjut

Hindu Aku Kembali (Sebuah Cerita)

Berikut saya ingin berbagi tentang sebuah cerita yang sangat menarik untuk dibaca, sebuah cerita perjalanan saudara kita yang kembali ke jalan Dharma. Cerita ini saya ambil dari sebuah web “Menjadi Hindu Yang Universal Berlandaskan Veda“, semoga dari cerita ini dapat membuka mata bhatin kita semua, bahwa menjalankan sebuah keyakinan tidak hanya cukup dengan mempercayai atau menjalankan dogma agama saja, namun perlu logika untuk memahami apa itu benar atau salah. Seperti kita memakan makanan, jangan lah langsung memakan makanan yang dihidangkan untuk kita, lihat dulu isi makanannya! Sehat gak? Buat kita kolesterol gak? Ada lalatnya gak? nasinya kutuan apa enggak? Sambelnya banyak gak? dan banyak hal yang perlu dipertimbangkan, jangan asal makan! Nah, seperti itu bayangannya. Baik langsung saja ke cerita dari Mbak Agustin Rike Yuani berikut kita simak, judulnya “Hindu Aku Kembali

Om Swastyastu

Masih terlintas ketidakpercayaanku akan keyakinan yang aku jalani sekarang ini (hindu). Karena sejak kecil aku sama sekali tidak dibekali ajaran leluhur (hindu) karena semua keluargaku beragama islam. 20 tahun perjalanan hidupku menjadi seorang muslim (Agama pemberian orang tuaku). Sampai memasuki umur 21 tahun akhirnya aku benar-benar mendapat suatu petunjuk untuk meyakini bahwa hindu adalah jalan hidupku.
Sejak kecil diriku sudah dikenalkan dengan lingkungan yang mayoritas muslim tepatnya di Desa Kandangan Kediri Jatim. Apalagi rumahku tepat bedampingan dengan mushola. Daerahku juga dekat dengan area religius, pondok pesantren aliran NU (Nadhatul Ulama). Jadi tanpa ada rasa janggal ataupun aneh, karena aku sudah terbiasa dengan lingkungan tersebut.

Aku dibesarkan dari 3 bersaudara. Kakakku perempuan sedangkan adikku laki-laki. Aku anak nomor 2 dari 3 bersaudara. Aku dan kakakku selisih 3 tahun sedangkan dengan adikku, aku selisih 4 tahun. Orang tuaku menganggap aku adalah anak yang paling manja dari saudaraku yang lain. Aku terbiasa hidup bersama kedua orang tuaku, memang sejak kecil aku yang paling dapat perhatian lebih di banding saudaraku yang lain. Mungkin bertepatan orang tuaku tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Kakakku lebih dekat dengan nenekku, sedangkan adikku terbiasa dekat dengan budhe ku. Jadi ke-2 saudaraku lebih bisa mandiri dibandingkan aku. Aku begitu sangat dekat dengan orang tuaku. Mungkin dari situlah kepribadianku sedikit demi sedikit terbentuk menjadi anak yang manja. Serasa ingin diperhatikan dan sangat sensitif. 
Dasar Bali

Balinese culture, tradition, tourism and book

ST Kawula Wisuda Banjar Kulub Tampaksiring

Sekaa Teruna-Teruni Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar-Bali.

WP SHOP COLLECTION

Belanja Murah Terjamin & Berkualitas, Disini Tempatnya!!!

desak14cemplok

Serasa hidup kembali

...blog nak belog...

...catatan harian seorang manusia biasa...

Nyoman Djinar Setiawina

Sakiti diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Pengenalan terhadap diri sendiri awal daripada pengembangan pengetahuan.

Dharmavada

Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

CORETAN

Luapan Pikiran Tertulis Dalam Kertas

Baliaga

menggali jati diri orang Bali

Wahana08's Journey Weblog

mari berbuat untuk kebaikan

INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

Puisi dan Cerpen Bali

Kumpulan-kumpulan puisi dan cerpen bahasa Bali karya I Wayan Kertayasa

perskanaka

LPM KANAKA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA

aryaoka blog

oka just oke...

IMBASADI

Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia

FACETRICK's MP3 BALI

BANYAK CARA DENGAN TRICK

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Media Kanak Dusun

Istiqomah Dalam Bekarya Menuju Kemandirian